
Tanpa keduanya ketahui mereka tengah diperhatikan pasangan paruh baya pemilik kedai makan itu.
"Ujian cinta mereka terus berdatangan namun mereka akan mampu menghadapi semuanya"kata wanita paruh baya itu menatap Alisya dan Kenzo.
"Takdir telah mengikat mereka berdua. Tetap akan bersama di jarak apapun mereka berpisah. keduanya akan tetap bertemu dan di persatukan lagi oleh takdir"sahut pria paruh baya itu.
"Eh pembayarannya bagaimana?" Kata Alisya yang bingung karena wanita paruh baya tadi tidak muncul kembali.
"Kamu tunggu saja di mobil biar aku yang menyelesaikan ini" kata Kenzo yang hanya dibalas angkutan kepala oleh Alisya.
Alisya segera berdiri lalu berjalan keluar dari kedai menuju mobil menunggu Kenzo di dalam mobil.
"Mau bayar anak muda?"
Tiba-tiba ada pria paruh baya yang muncul di hadapan kanzo.
"Wanita tadi ke mana Saya ingin membayar" tanya Kenzo datar namun masih terdengar sopan.
"Istriku sedang istirahat karena kelelahan" perang pria tua itu.
"Ini bayarannya" bukan itu menyudurkan beberapa ribu dolar yang sangat jauh dari harga makanan yang mereka makan.
"Ini terlalu banyak" tolak sang pria paruh baya.
"Tidak apa-apa" potong Kenzo yang beranjak pergi namun di hentikan oleh pria tua itu.
"Tunggu!" Mencegah pria paruh baya itu yang mencekal tangan Kenzo.
"Ada apa?" Katanya Kenzo.
Pria paruh baya itu tidak menjawab melainkan hanya menatap Kenzo dengan pandangan yang entahlah Apa artinya membuat Kenzo sedikit merinding. Baru saja Kenzo membuka mulut ucapan pria itu kembali membungkam mulutnya.
"jagalah istrimu, bahaya semakin mendekat. bahaya tidak hanya datang dari musuh namun juga dari saudara bahkan orang tua sekalipun. tetaplah waspada, kebahagiaan kalian sudah mendekat namun bahaya lebih dekat dengan kalian lewati dan jangan pernah goyah pada pendirian mu maka kebahagiaan itu akan segera tiba kamu hancur maka dia akan lebih hancur jaga apa yang kamu miliki sekarang Jangan pernah berbalik arah belakang lagi"
Pesan pria paruh baya itu yang langsung pergi setelah mengatakan apa yang dalam penglihatannya. Sedangkan Kenzo hanya mampu terdiam dengan pikiran yang berkelana entah ke mana.
Tak mau membuat istrinya menunggu lebih lama lagi Kenzo segera keluar dari kedai itu menuju mobil.
"Apakah lama?" kata Kenzo yang mengelus kepala sang istri.
"Tidak kok"
Mendengar itu Kenzo hanya tersenyum lalu kening sang istri. Tanpa orang lain minta Kenzo akan melindungi Alisya semampunya.
Kembali pada bank yang masih terbaring tak berdaya di aspal tidak ada orang yang mau menolong pria itu. Mereka sebenarnya merasa kasihan namun takut berurusan dengan Kenzo jadi mereka hanya bisa membiarkan Bram tergeletak di aspal. Hingga beberapa menit kemudian ada pengendara motor yang berhenti di dekat Bram lalu di susul sebuah taksi.
"Cih andaikan kamu bukan kakak kandungku sudah aku bunuh dari dulu" gerutu itu sosok itu yang mengangkat tubuh besar Bram lalu di masukkan dalam taksi.
"Ke rumah sakit terdekat ya Pak. Saya akan mengikuti Bapak dari belakang" kata pengendara motor itu.
__ADS_1
"Baik nona"
Sopir taksi itu segera menuju Rumah Sakit di ikuti sosok pengendara motor di belakang. Sampai di rumah sakit Bram langsung dipindahkan ke brankar lalu dimasukkan dalam ruangan UGD karena luka Bram cukup parah walau hanya luka luar saja.
Pengendara motor itu duduk di kursi tunggu depan ruangan drum yang diperiksa. Sosok pengendara motor itu tak lain dan tak bukan adalah Clarissa. Clarissa yang sedang mengawasi pergerakan Alisya malah dikagetkan dengan hadirnya Bram di sana yang merupakan kakak kandung dari Clarissa satu ayah.
"Gara-gara ngurusin ini aku tidak bisa pantau pergerakan Nona itu. Mudah-mudahan kedua wanita ular itu belum bertindak jauh" monolog Clarissa penuh harap.
Clarissa membenci Bram namun dia juga masih menyayangi kakaknya itu walau tidak yakin apakah kakaknya itu akan selamat atau tidak karena orang yang dia usik adalah orang yang memiliki kuasa tinggi. Namun Clarissa juga tidak ingin menunjukkan diri di hadapan pria itu. Terlalu besar rasa kecewa Clarissa pada Kakak laki-lakinya itu.
Jika kakaknya saja sudah dia benci gimana dengan ayahnya maka jawabannya bukan hanya kecewa namun Clarissa benar-benar membenci pria yang berstatus sebagai ayahnya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya dokter keluar dari ruangan sang kakak. Clarissa yang melihat itu segera berdiri menghampiri dokter.
"Bagaimana dengan keadaan kakak saya dok?" Tanya Clarissa dengan wajah panik.
"Huuh Saya mencari keluarga pasien" jawab sang dokter.
"Saya adiknya Dok adik kandungnya!" Kata Clarissa penuh penekanan.
Secara luar kakak anda baik-baik saja hanya luka memar r biasa hanya saja....."
Dokter itu menghentikan penjelasannya dengan menatap hibah kepada gadis di depannya itu lalu melirit pada pasiennya.
"Hanya saja apa Dok?" Desa klarisa yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan Dokter.
"Ma...mandul bagaimana bisa Dok" pekik Clarissa.
"Bisa karna sepertinya hantaman itu keras. mohon setelah sadar Nona memberi pengertian secara pelan-pelan agar kakak anda tidak sok saat mendengarnya nanti." terang sang Dokter.
namun Clarissa yang sedang memikirkan nasib Bram tidak mendengar penjelasan dari dokter.
"terima kasih Dok" ucap Clarissa yang langsung terduduk di kursi dengan lemas.
"mungkin ini akibat perbuatan kamu selama ini Bram. Hingga kamu diberi hukuman karena seperti ini" Guman Clarissa yang segera beranjak pergi.
"Masih Ada hal penting yang harus aku selesaikan selain mengurus kamu toh kamu juga tidak apa-apa. mengenai kemandulan aku rasa itu adalah akibat dari perbuatan selama ini" batin Clarissa yang berlalu pergi.
Di tempat lain terlihat Yoona yang sedang menatap wajahnya di cermin kecil yang berada di tangannya.
"Bi ini bagaimana? lihat bekas luka ini belum juga menghilang dari wajahku" rengek Yoona pada Melinda sang bibi.
"Sabar sayang nanti juga hilang" Kata Melinda.
"tapi sampai kapan ini sudah 3 hari Bi?"
"Itu akan hilang dalam waktu 1 minggu lagi jadi kamu sabar saja oke" hibur Melinda.
"Sialan, wajah cantikku menjadi rusak gara-gara hanya foto wanita itu. lihat saja jika aku bertemu dengannya akan aku cakar habis wajah sok cantiknya itu" kata Yoona dalam hati.
__ADS_1
"Sudah. kamu siap-siap sana kita akan bertemu dengan Kenzo" ucap Melinda.
mendengar nama Kenzo wajah Yoona langsung bersemangat dengan cepat berdiri namun kembali duduk saat mengingat kondisi wajahnya yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Ada apa lagi?" tanya Melinda yang melihat Yoona kembali duduk.
"Bibi tidak lihat wajah aku rusak gini gimana mau menemui Kenzo yang ada dia akan mengusirku" kata Yoona dengan kesal dan cemberut.
"Kamu hanya perlu menutupinya dengan make up itu juga hanya luka kecil pasti mudah untuk menutupinya" terus terang Melinda.
"Astaga aku lupa. baiklah aku bersiap-siap dulu Bi" ucap Yona yang langsung pergi menuju kamarnya.
melihat itu Melinda hanya tersenyum miring lalu mengambil ponselnya.
"Hallo"
"kamu yakin Kenzo sudah ada dalam perusahaan?" tanya Melinda pada orang yang berada di seberang sana.
"sudah nyonya. Tuan Kenzo baru masuk sekitar 30 menit yang lalu"
"baiklah tetap pantau Aku akan segera meluncur" Kata Melinda yang langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
"aku harus memberi kabar kepada Nona" Guman pria itu yang menjadi mata-mata Melinda namun yang sebenarnya adalah dia bekerja atas perintah dari Alisya.
"Nona"
"Nyonya Melinda akan ke perusahaan Tuan sekarang juga"
"baik nona"
"heran aku hanya karena sebuah harta orang tua bahkan rela memisahkan kebahagiaan anak mereka sendiri. lagi pula apa yang kurang dari Nona Alisya? Cantik iya, pintar iya, Ayah juga iya. apa coba yang Nyonya Melinda cari?" ucap pria itu yang geleng-geleng kepala akan kelakuan Melinda.
putranya sudah mendapatkan pendamping yang begitu sempurna tapi masih saja mau di pisahkan.
Sedangkan di sisi lain Alisya yang baru sampai di mansion bahkan belum keluar dari mobil tiba-tiba ponselnya bergetar.
Melihat nama itu Alisya langsung mengangkatnya dan betapa kagetnya dia saat mendengar apa yang di katakan orang di seberang sana.
"Sialan, aku baru sampai tapi wanita tua dan pelakor sialan itu membuatku harus putar balik lagi ke sana" kesal Alisya.
dengan memendam kekesalan yang luar biasa Alisya langsung putar balik menuju perusahaan Kenzo dengan kecepatan tinggi. bahkan lampu merah pun saja Alisya terobos.
apa Alisya peduli? jawabannya sama sekali tidak.
Jika ada yang menghentikan dapat ditebak akan dijadikan Samsak tinju oleh Alisya. mengingat sifat barbar yang di miliki wanita itu maka dapat di pastikan Alisya benar-benar akan melakukan itu.
Ceklek
"Sialan!"
__ADS_1