
Hari terus berjalan hingga hari ini telah tiba yakni hari pernikahan Maya dan Dirga. Walau hanya menikah di Catatan sipil namun keduanya begitu terlihat bahagia karena mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Di samping keduanya insan yang baru menikah itu terdapat sahabat dan rekan-rekan mereka masing-masing yang menjadi saksi pernikahan keduanya.
Maya dan Dirga berjalan keluar di ikuti rombongannya.
"Maaf karena pernikahan kita hanya seperti ini" kata Dirga yang mengecup kening Maya di depan yang lain.
Sebenarnya Dirga merasa bersalah karena tidak bisa mengadakan resepsi pernikahan mereka dalam waktu dekat karena adanya masalah yang harus di selesaikan terlebih dahulu.
"Aku ingin menikah" Guman Kris yang dapat di dengar semuanya membuat mereka menatap ke arah Kris dengan wajah yang menahan tawa.
"Memang kamu punya calon he?" Ejek Alvaro yang menatap remeh ke arah Kris.
"Jelaslah. Bahkan kami saling mencintai" Kata Kris yang penuh penekanan pada kata saling mencintai.
"Mana? Bahwa dia kehadapanku Aku ingin melihat gadis mana yang begitu sial mencintai pria seperti dirimu yang petakilan ini" kata Alvaro dengan santai.
"Aku harap kamu tidak menangis saat mengetahuinya" balas Kris yang tersenyum aneh.
"Huh sampai kapan kami harus main petak umpet seperti ini? Aku ingin menunjukkan dia milikku, Aku ingin memeluknya secara bebas di depan mereka semua bukan menjadi orang asing seperti ini. Kenapa juga harus memikirkan perasaan kanebo kering bodoh ini? salahnya sendiri yang tak berani mengucapkan perasaannya" Gerutu Kris dalam hati menatap kesal Alvaro lalu menatap sosok di depannya.
"Maafkan aku Namun aku belum siap Jika dia mengetahui hubungan kita"
"Selamat Maya akhirnya kamu menikah juga" Kata Alisya yang memeluk erat sang sahabat.
"Terima kasih karena sudah menjadi saksi pernikahanku" Balas Maya yang mengelus kepala Alisya.
"Sekarang kita jemput ke kebahagiaan kita sendiri-sendiri" Kata Alisya yang di balas anggukan oleh Maya.
"Selamat bro akhirnya kamu menemukan kebahagiaan kamu."
Satu persatu teman Dirga mengucapkan selamat padanya termasuk Kenzo yang langsung memberi kotak persegi yang berukuran kecil kepada Dirga.
"Ini apa Tuan? Tanya Dirga yang menatap aneh kotak persegi dalam tangannya.
"Bukalah!" Kata kata Kenzo datar.
Dirga menganggukkan kepala lalu membuka kotak persegi itu hingga matanya melotot saat melihat isinya yang berupa sebuah kunci mobil.
"Ini......?"
"Itu untuk istrimu, kado yang lain berada dalam apartemen milikmu" Kata Kenzo lagi.
"Terima kasih Tuan" ungkap Dirga.
Jika Dirga dan Maya dalam keadaan yang bahagia maka di sisi lain ada sosok lain yang tengah meradang melihat wanita yang di cintainya tertawa bahagia bersama orang lain. Sosok itu tak lain dan taklukan adalah Bram.
"Tidak akan aku biarkan Tari bersama pria lain. Tari hanya milikku dan akan tetap seperti itu" Desis Bram yang membuka pintu mobil lalu turun berjalan cepat menuju ke arah Maya yang sedang dipeluk oleh Alisya.
Sret
Aaa
Bruk
Manya yang tak siap akan tarikan itu langsung menubruk dada tegap di depannya.
"Kau....."
"Lepaskan sahabatku!" Bentak Alisya yang menetap tajam Bram.
"Tidak akan! Tari hanya milik ku beraninya kalian menikahkan-nya dengan orang lain" Bentak Bram yang memeluk Maya dengan erat.
__ADS_1
"Lepaskan istriku!" Ucap Dirga yang penuh penekanan.
"Dia bukan istrimu bukan milikmu tapi dia milikku! Dia hanya akan menjadi milikku" balas Bram yang penuh penekanan.
"Sialan,"
Bugh
Belum sempat Dirga bergerak Alisya telah bergerak lebih dulu memberi bogan mentah ke arah Bram hingga pelukannya pada Maya terlepas.
"Kau... Dasar anak buangan kau....."
Bugh
Kalimat Bram langsung terputus saat bersamaan dengan tendangan maut yang di berikan Alisya mendarat sempurna di rahangnya.
"Berhenti menyebutku dengan panggilan yang menyedihkan itu sialan "
Bugh
"Kau tahu aku sudah lama ingin menghajar mu. Namun sahabatku yang bodoh bin tolol itu terus membelamu" ucap Alisya dengan wajah yang penuh akan kesalahan yang teramat kesal.
"Cih dia bahkan masih saja menyebutku bodoh walau aku memang bodoh sih" Guman Maya yang ada dalam pelukan Dirga selaku sang suami yang senantiasa memeluknya. Sedangkan Alisya dengan gila melepaskan heels-nya.
"Baby....."
"Apa?" Potong Alisya ketus.
"Itu kenapa sandal kamu malah kamu lepaskan?" Tanya Kenzo dengan gugup.
Kenzo benar-benar takut jika Alisya marah dan menyuruhnya untuk tidur di luar kamar malam nanti.
"Ya lepas lah! Kamu nggak lihat kalau aku akan menghajar pria b******* ini? Kalau aku nggak lepas ya nggak seru " Kata Alisya santai yang menatap tajam drum.
"Jika aku menang, Kamu harus membiarkan aku membawa Maya pergi" Kata Br sinis yang penuh penekanan.
"Kau..."
"Sut diamlah suamiku! Lihat apa yang akan di lakukan sahabat aku yang barbar itu" Potong Maya yang menempelkan jari telunjuknya pada bibir sang suami.
"Jika kamu mampu" ejek Alisya
"Hahaha aku sudah kuat aku sudah sabuk hitam taekwondo" ucap Bram dengan sombong.
"Akan aku patahkan semangatmu itu b*******" kata Alisya yang langsung menerjang dengan brutal.
Bruk
Bugh
Krek
Baru saja 5 menit berlalu namun kini keadaan Bram terbaring lemah di atas aspal depan Catatan sipil. Tidak ada yang berani menegur apalagi menghentikan Apa yang di lakukan oleh Alisya. Mereka semua tahu jika yang sedang mengamuk itu adalah istri dari orang yang berkuasa. oleh karena itu, mereka tidak berani mendekat mereka masih sayang nyawa di banding menolong orang yang jelas-jelas bersalah. Apalagi adanya dengan seorang Kenzo secara langsung di sana membuat mereka ketat-ketir ketakutan.
"Hahaha segitu saja kemampuanmu" Ejek Alisya yang mengelilingi Bram yang terkapar tak berdaya.
Bugh
"Kau tahu? Sudah lama aku memendam rasa,"
Bugh
"Rasa ingin memukulmu"
__ADS_1
Bugh
"Dan sekarang aku baru kesampaian untuk melampiaskan semua itu"
Bugh
Bugh
Uhukkk uhuukkk
Setelah memberi dua tendangan super keras pada Bram pria itu langsung terbatuk batuk mengeluarkan darah.
"Wanita ini dari dulu selalu menjadi penghalang bagiku untuk mendapatkan Maya" Umpat Bram dalam hati yang menetap tajam punggung Alisya saat.
Dengan menahan sakit di seluruh badannya Bram berusaha berdiri tegak menantang Alisya.
"Heh hanya anak buangan sepertimu bisa apa?"
"Kau...."
BRUKK
AAAAA
Semua orang langsung berteriak nyaring terutama pria. Mereka bahkan dengan serentak melindungi masa depan mereka dengan kedua tangan mereka. Kenzo di ikuti yang lain menatap ngeri Alisya yang kini tengah tersenyum puas.
Mata Bram julid dengan keringat dingin membasahi keningnya saat merasakan rasa sakit dan nyeri pada pangkal pahanya.
Bruk
Tak tahan menahan rasa sakit yang luar biasa dari burungnya Bram langsung ambruk pingsan di atas aspal dengan tidak elitnya.
"Cih malah tidur di sini padahal aku masih mau bermain. Semoga saja telur burungnya nggak pecah ya" kata Alisya dengan suara agak keras
Glek
"Telur pecah?"
Dan yang lain langsung menelan ludah mendengar penuturan Alisya yang tampak sangat santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bahkan dengan acuhnya Alisya meninggalkan Bram yang sudah tergeletak di aspal antara masih hidup atau sudah mati Alisya tidak peduli akan hal itu.
"Woy! Kamu kenapa tendang itunya?" Teriak Maya yang rada kesal akan sifat bar-bar dari sang sahabat itu.
"Lah aku salah apa?" Tanya Alisya dengan memasang wajah polos.
"Itu anak orang bisa mati Alisya!" Ucap Maya yang geregetan sendiri akan entah kepolosan atau kebodohan dari Alisya itu.
Namun yang sebenarnya adalah Alisya terlalu bodoh amat pada orang yang sudah dia daftar hitamkan dalam garisnya.
"Kalau sampai dia tidak punya keturunan bagaimana?" Tanya Maya yang melototi Alisya.
"Apa peduli ku" jawab Alisya Acuh.
"Ada apa dengan kalian? "
Deg
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Gimana kabarnya sekarang? Otor harap baik-baik saja ya semua😄
Oh ya Author mau ingatin buat beri dukungan sebanyak-banyaknya pada Karya Aothor karna sebentar lagi sudah pertengahan bulan😆.
Jangan lupa lho🤭 Give away akan di umumkan pada tgl akhir bulan ini dan akan di kirimkan hadiahnya tgl 1 bulan September 😲
__ADS_1
Tok beri Like banyak-banyak biar Otot makin sayang cinta sama Kalian🤣 biar rajin Up Kenzo dan Alisya gitu🤭🤭**