Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Pengertian Dirga


__ADS_3

"Astaga Alisya....!'' Pekik Maya yang baru masuk ke dalam kamar Alisya.


Maya yang melihat sang sahabat menangis hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya. Maya tidak tahu harus berbuat apalagi karna kondisi mereka benar-benar tidak bisa apa-apa.


Mereka semua telah berusaha mencari keberadaan Kenzo namun sampai detik ini mereka belum juga menemukan keberadaan pria itu. Jika Kenzo kecelakaan atau menghilang di tempat keramaian dan tempat umum Maya dan yang lain bisa dengan mudah mendeteksi keberadaan Kenzo. Namun, Kenzo menghilang di sebuah hutan yang tempat sepi bahkan tak punya CCTV jalanan karna jalan itu merupakan jalan rahasia menuju markas Kevin.


Berbicara soal Kevin, setelah markasnya di obrak Abrik dan di bumi hanguskan Alisya. Kini pria itu bagaikan kacung yang terus di perintah oleh Alisya. Sebenarnya bisa saja Kevin pergi. Tapi entah kenapa dia tidak tega saat melihat wanita yang dengan begitu berani datang menyerang markasnya beberapa hari lalu kini terlihat menyedihkan. Apalagi saat tahu jika wanita itu hamil bahkan Kevin dengan percaya dirinya datang di mension Alisya dan tinggal disana.


Alisya yang memiliki mension bahkan sudah mengusir mentah-mentah pria itu. Tapi dengan keras kepalanya Kevin justru tetap tinggal bahkan pria itu tidak keberatan sama sekali walau tidur di kamar pelayan.


Karna Kevin tidak mau keluar terpaksa mereka membiarkan pria itu tinggal di mension. Walau begitu mereka tidak mengurangi rasa waspada dan siaga terhadap Kevin.


Di mension yang dulunya di tempati Alisya dan Kenzo kini mension itu telah ramai dengan penghuni baru seperti Ramos dan Clarissa, Dirga dan Maya yang ikut pindah, bahkan Alya juga tinggal disana karna mempunyai tugas untuk menjaga Alisya.


Sedangkan Ariana dia berada di rumah sakit walau sudah sadar gadis itu butuh waktu untuk pemulihan.


Setelah beberapa menit Maya yang sedang memeluk Alisya tidak lagi mendengar suara tangisan Alisya. Di jauhkannya wajahnya hingga bisa melihat jika kini Alisya tengah tertidur.


"Ternyata tidur." Guman Maya yang membaringkan Alisya di ranjang.


"Aku tau ini berat tapi kamu juga harus memikirkan bayi kamu. Semua akan berlalu aku yakin Tuan Kenzo baik-baik saja di luar sana. Dia akan segera kembali." Bisik Maya yang entah di dengar oleh Alisya atau tidak.


Di selimutnya tubuh sahabat rasa saudara itu. Setelah memastikan Alisya nyaman pada posisi tidurnya Maya segera beranjak keluar dari kamar Alisya.


"Sayang..."


Maya yang baru keluar dari kamar Alisya langsung di kagetkan oleh suaminya yang berada di belakangnya.


"Astaga.... Kamu membuatku kaget yank!" Ucap Maya yang menatap tajam Dirga.


Cup


"Maaf" bisik Dirga setelah mengecup kening Maya.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur?" Tanya Dirga yang melirik jam tangannya yang menunjukan waktu pukul 11 malam.


"Aku sudah tertidur tapi aku mendengar suara tangisan Alisya jadi aku datang melihatnya sebentar." Jawab Maya.


"Kamu juga harus perbanyak istrahat ingat kamu juga sedang mengandung." Nasehat Dirga yang terdengar lembut.


Dirga tak melarang Maya untuk memberi perhatian pada Alisya. Dirga tahu istrinya itu begitu menyayangi Alisya dan Clarissa wanita-wanita yang sudah di anggap adik oleh Maya. Dari awal Dirga sudah tahu jika Maya tidak akan pernah menelantarkan sahabatnya itu.


Selain itu, Dirga juga tahu dan paham saat ini Alisya memang benar-benar butuh orang yang memberinya support.


"Aku baik-baik saja lagipula aku tidak bekerja." Balas Maya.


"Hm yang penting seperti itu."


"Mau aku siapkan makan malam?"


"Tidak perlu sayang. Aku sudah makan malam di kantor tadi. Ayo kita kembali ke kamar" Dirga segera merangkul pinggang Maya membawanya masuk kembali ke dalam kamar mereka yang berdampingan dengan kamar Alisya selaku kamar utama.


"Sayang apa belum ada juga perkembangan tentang pencarian Tuan Kenzo?" Maya bertanya pada sang suami saat Dirga sudah berbaring di sampingnya.


"Rasanya aku tidak tega melihat Alisya terpuruk seperti itu. Dulu walau dia terpuruk karna tak di anggap oleh keluarganya ia tidak terpuruk seperti saat ini. Saat ini aku bahkan tak menemukan adanya binar kehidupan di mata Alisya." Terang Maya yang menatap langit-langit kamar miliknya dan Dirga.


Huh...


Dirga yang mendengar penuturan dari sang istri hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Jujur saat ini dia juga merasa prihatin terhadap Alisya yang merupakan istri dari Tuannya itu. Tapi mau bagaimana lagi ini sudah takdirnya seperti ini.


"Tidurlah sayang. Kita pikirkan lainnya besok sekarang saatnya tidur. Kamu tidak boleh terus begadang kamu sedang hamil"


Maya yang mendengar penuturan dari sang suami hanya bisa menurut menyamping dan masuk ke dalam pelukan hangat Dirga.


Sebelum tidur Dirga mengecup lembut kening Maya. Tak lupa mengelus perut Maya yang masih rata karna kandungannya masih 1 bulan.


Di tempat lain Alisya membuka matanya tidak ada tatapan hangat ataupun binar kehidupan di mata yang terlihat indah itu. Tatapan mata Alisya hanya terdapat kekosongan dan wajah yang berekspresi datar.

__ADS_1


Masih dengan wajah datarnya Alisya turun dari ranjang berjalan menuju walk in close. Mengganti piyama tidurnya dengan pakaian yang serba hitam mengeluarkan sebuah kotak hitam dari lemari penyimpanan perhiasaan.


"Saatnya kita bermain" bisik Alisya yang tersenyum menyeringai.


Dengan bersiul-siul Alisya berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sampai disana Alisya langsung menggeser sebuah cermin. Hingga terlihat sebuah tombol disana. Tanpa berlama-lama Alisya langsung menekan tombol itu hingga dinding yang ada di kamar mandi itu segera bergeser hingga menunjukan sebuah lorong yang menjadi ruangan rahasia.


Alisya mengangkat bibirnya membentuk sebuah smirk yang sangat menakutkan dengan tatapan mata yang berkilat licik dan tajam secara bersamaan.


Dengan bersenandung kecil Alisya masuk ke dalam lorong itu bersamaan dengan pintu yang kembali menutup secara otomatis. Suara siulan terdengar di lorong-lorong rahasia itu. Bukannya terdengar indah justru siulan itu terdengar seperti melodi kematian dari sang Dewi kematian.


Ceklek


"Selamat datang Nona!" Ucap serentak 11 orang yang langsung berlutut dengan pakaian yang serba putih.


"Dimana mainan ku?" Alisya bertanya dengan tampang polos dan senyum manis di bibirnya Namun, Ke 11 orang yang berlutut di depannya itu malah bergetar hebat.


Ke 11 orang itu tentu sangat mengenal bagaimana tabiet dari sang Nona ketua mereka itu. Jika bisa memilih mereka lebih memilih melihat wajah datar dari sang Nona di banding harus melihat senyum manis dan tampang polos yang menutupi iblis yang sesungguhnya.


Ke 11 orang itu adalah anggota dari Dark Devil tapi yang mengajar dan melatih mereka adalah Alisya sendiri. 11 orang itu mempunyai julukan sendiri yaitu White Shadow. Alisya sendiri yang memberi mereka julukan itu bahkan ke 11 orang itu adalah orang-orang yang senantiasa mengikuti Alisya kemana pun. Walau begitu mereka tidak akan keluar tanpa kode dari sang Nona ketua.


"Melihat Nona tersenyum seperti itu lebih baik aku melihat wajah datar saja. Walau datar setidaknya tidak akan membuatku semerinding dan semenakutkan ini." Batin mereka semua.


"Ma......mainan No...na ada di...disana." Tunjuk salah satu orang itu.


"Bicara yang lancar jika tidak......."


"Mainan nona ada di dalam ruangan itu." Ulang pria itu dengan ucapan lancar walau nyatanya badannya bergetar.


"Baiklah mari kita bermain...." Pekik Alisya yang berjalan santai menuju ruangan itu.


Lalalalala


Alisya berjalan santai dengan senandung kecil di mulutnya hingga sampai di depan pintu yang di duga di dalamnya ada mainan. Mainan yang di maksud adalah mainan tanda kutip.

__ADS_1


Sreng......


"Selamat malah ibu mertua hihihi."


__ADS_2