Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"Siapa yang menyuruhmu untuk berhenti? HABISKAN...! sentak Kenzo


Mendengar itu Kenzo hanya mengangguk namun satu yang dapat dia pahami istrinya itu sengaja mengerjai pelayannya itu.


"Tuan Apa saya boleh pergi sekarang?" tanya Amara yang meminta izin.


"Hm" Kenzo hanya berdehem dan menggerakkan tangannya tanda mengusir.


Amara segera berdiri lalu berlari cepat menuju dapur untuk mencari minuman karena lidahnya benar-benar seperti terbakar.


"Kau puas baby" ujar Kenzo lembut kepada Alisya.


"Lumayan bisa mengobati rasa bosan" jawab Alisya santai tanpa dosa.


Mendengar itu Kenzo hanya bisa geleng-geleng kepala ternyata istrinya jahil juga.


"Sudah waktunya tidur" kata Kenzo yang langsung menggendong Alisya bridal style lalu membawanya ke dalam lift untuk menuju lantai atas karena kamar mereka terletak di lantai atas.


Sampai di kamar Kenzo langsung membaringkan sama istri dengan lembut di atas ranjang setelah memastikan posisi Alisya nyaman kerja segera naik ke ranjang lalu memeluk Alisya.


Beberapa menit kemudian Kenzo yang tidak merasakan adanya pergerakan dari sang istri langsung menunduk melihat Alisya yang ternyata Sudah terlelap melihat itu lagi-lagi Kenzo hanya bisa tersenyum bahagia.


Sedangkan di dapur Amara that henti-hentinya meneguk air dingin dengan harapan rasa pedas yang dirasakan akan berkurang namun sampai sekarang rasa pedas itu masih ada terus terasa di lidahnya membuat mulutnya terbakar.


"Si4lan semua ini hah.. gara-gara wanita mur4h4n itu, tau gini tadi aku nggak kasih cabai banyak-banyak sekarang bagaimana? Ini benar-benar pedas" gerutu Amara yang terus meneguk bahkan memasukkan es batu dalam mulutnya dengan air mata yang terus jatuh mengalir karena tak tahan dengan rasa pedas yang dia rasakan.


Beberapa menit kemudian rasa pedas mulai berkurang Amara meminum susu namun baru saja bernafas lega tiba-tiba perutnya sakit seperti ditusuk-tusuk membuatnya langsung ke kamar mandi.


"Si4l apalagi ini" umpat Amara dalam kamar mandi.


Amara terus mondar-mandir kamar mandi namun tidak ada pelayan yang mendekatinya karena mereka semua takut akan terkena hukuman seperti dirinya hanya karena menolong Amara.

__ADS_1


"Ada apa dengan perut ku ini sangat sakit" ucap Amara pelan dengan bersandar di dinding kamar mandi bahkan mukanya pucat pasi menahan sakit perut yang semakin menjadi-jadi.


"Tolong" Teriak Amara pelan yang memanggil-manggil salah satu rekannya yang sesama pelayan.


"Amara... ada apa dengan mu?" tanya rekan pelayan Amara dengan wajah panik.


"Perut ku sakit tolong bawa aku ke rumah sakit" pinta Amara yang meminta tolong kepada rekan pelayan di depannya itu.


"Astaga... ayo aku bantu" ucap pelayan itu yang ikutan panik.


"Mau kemana kalian?" tanya kepala pelayan yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua.


"Amara sakit perut kepala pelayan saya ingin membawanya ke rumah sakit sekarang" jawab pelayan yang sedang memapah tubuh lemah Amara.


kepala pelayan yang mendengar jawaban dari pelayan yang memapah Amara langsung menoleh ke arah Amara yang ternyata sudah pucat tapi dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"Pergilah! Tapi setelah mengantarnya langsung pulang jika tidak ingin mendapat hukuman" kata kepala pelayan dengan santai tak terlihat sedikitpun Jika dia khawatir dengan keadaan Amara.


"Sebenarnya ada apa dengan para pelayan dan penjaga dalam mension hari ini pesan-pesannya tidak ada yang menolongmu bahkan kepala pelayan yang biasanya memperhatikan pelayan lain malah terlihat acuh kepada kamu yang sudah sekarat begini" gerutu pelayan itu yang terus memapah Amara.


Pelayan itu tidak tahu apa yang baru saja terjadi karena dia baru masuk setelah mengambil cuti selama seminggu.


Pelayan itu membawa Amara di depan mansion untuk mencari taksi setelah dapat keduanya segera naik lalu meluncur menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Amara langsung di tangani sedangkan pelayan yang mengantarnya segera pulang karena tak ingin mendapatkan hukuman dari kepala pelayan meninggalkan Amara yang sedang di tangani.


Setelah perut perut Amara di tangani dengan memasangkan infus beberapa menit kemudian perut Amara sudah mulai membaik.


"Semua ini karena Wanita si4l4n itu, jika saja dia memakan nasi goreng itu maka aku tidak akan masuk ke rumah sakit seperti ini" Amara dengan memendam amarah yang sudah berada di ubun-ubun.


"Aku harus bertindak, aku tidak bisa berdiam diri terus seperti ini. wanita itu harus segera disingkirkan dari kehidupan ku dan kehidupan Kenzo tentunya" Guman Amara dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

__ADS_1


Terlalu sibuk menyusun rencananya Amara tak menyadari Jika ada yang masuk ke dalam ruangannya.


"Amara sayang"


Seorang pria paruh baya mendekat lalu memeluk Amara.


"Daddy"


Amara mendengar melihat pria paruh baya itu yang ternyata adalah Daddy-nya.


"Kamu kenapa bisa seperti ini nak?" tanya pria paruh baya itu kepada Amara.


"Semua ini karena wanita buangan itu datang dia yang membuat aku masuk rumah sakit seperti ini" ucap Amara dengan menggebu-gebu mengadu kepada Daddy-nya.


"Katakan, kepada daddy siapa wanita itu akan Daddy bereskan untuk mu" balas pria paruh baya itu mengeluh kepala Amara dengan sayang.


"Namanya Alisya dia hanya anak buangan orang tuanya, dia berani merebut Kenzo ku Dad" ucap Amara yang mengadu kepada pria itu.


Pria paruh baya itu terlihat menggeram marah karena ada yang menghalangi apa yang di inginkan oleh putrinya dan tentunya pria paruh baya itu tidak akan membiarkan wanita manapun memiliki sesuatu yang di inginkan putrinya dari dulu.


"Kamu tenang saja, nanti jadi pikirkan untuk menyingkirkan orang yang merebut Tuan Kenzo dari putri cantik dadi ini" terang pria paruh baya itu memeluk Amara.


Amara jelas langsung tersenyum senang karena ayahnya yang akan turun tangan untuk menyingkirkan saingannya dan tentunya itu akan sangat baik untuk Amara karena tak akan di curigai.


"Sepertinya kali ini aku harus mengeluarkan dana yang cukup besar karena yang aku hadapi adalah tuan Kenzo dan ada baiknya aku penyebab pembunuh bayaran atau meminta jasa dari mafia" batin Daddy Amara.


Tanpa Amara sadari dia telah mendorong ayahnya sendiri untuk segera menemui kehancurannya begitu pula dirinya sendiri.


"Lebih baik Daddy pulang dulu takutnya nanti ada yang lihat bisa, bahaya kalau ada yang tahu identitas Amara yang sebenarnya" papar Amara dengan sedikit khawatir akan hal itu.


"Baiklah. kalau begitu udah di pulang dulu, kamu jaga kesehatan dan terus hubungi Daddy nantinya" pesan pria paruh baya itu sebelum keluar dari ruangan Amara.

__ADS_1


"Wanita si4l4n, nikmatilah sisa hidup mu mulai dari sekarang karena stok waktumu sudah mulai berkurang. salahkan saja dirimu sendiri dia mengusikku lebih dulu" batin Amara tersenyum licik


__ADS_2