
"Kali ini kita tidak hanya berdua melainkan berkelompok" kata Alisya dengan senyum misterius
"Maksud kamu apa" Maya bertanya dengan mengangkat alisnya satu.
"Nanti kamu juga akan tahu" balas ambigu Alisya dengan senyum yang entah apa artinya.
"Terserah kamu deh. terus masalah Leon bagaimna kan dia nggak sepenuhnya salah?" tanya Maya menatap dalam Alisya.
"Setiap yang menyakitiku mereka akan tetap aku balas tak peduli dia salah atau tidak" jawab Alisya tegas.
"Aku tau dia tak sepenuhnya salah tapi tetap saja dia salah satu orang yang menorehkan luka yang terdalam untukku" lanjut Alisya dalam hati.
"Aku pulang dulu" kata Alisya beranjak berdiri.
"Pulang kemana?" tanya Maya.
"Ke apartemen kamu lah! kan kamu tau, aku sudah di usir sama keluarga sampah itu" jawab Alisya ketus sambil berlalu pergi dari ruangan Maya.
"Itu lebih baik daripada kamu tinggal disana kamu terus di siksa secara fisik dan batin" guman Maya menatap sendu punggung Alisya yang sudah hilang di balik pintu.
Alisya segera keluar dari restoran lalu naik taksi dan pergi ke apartemen Maya. hanya butuh 20 menit Alisya akhirnya sampai di depan apartemen Maya lalu segera masuk.
"Akhirnya sampai juga" kata Alisya mendudukkan dirinya di sofa ruang Tv dengan santai.
"Apa aku mulai saja ya rencananya hitung-hitung menyicil mereka satu persatu bukan?" Alisya menyeringai licik lalu mengotak Atik ponsel canggih miliknya.
"Hallo Nona" sapa di sebrang telfon.
"Jalankan Rencana satu!" perintah Alisya dingin.
"Baik Nona" jawab patuh orang itu.
"Pastikan pasangan tua itu menerima langsung. Mengerti!" kata Alisya menatap tajam.
"Baik Nona" jawab orang itu lagi.
"Jangan lupa kirimkan aku rekaman mereka" kata Alisya dengan seringaian keji lalu mematikan sepihak panggilannya.
"Tunggu sebentar lagi kehancuran kalian akan segera datang MANTAN KELUARGA" kata Alisya tersenyum miring dengan menekan kata mantan keluarga.
Kini kepribadian Alisya yang lembut telah hilang berganti dengan Alisya yang penuh dengan aura dendam dan kebencian yang membara.
Sedangkan di tempat lain Kenzo tengah fokus terhadap Leptop dan berkas di depannya. Kenzo dengan semangat 45 memfokuskan pikirannya hanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menjemput Alisya.
"Tuan..."
"Simpan saja lalu keluar" usir Kenzo tanpa melihat Dirga.
"Itu....Tuan ini tentang markas kita" kata Dirga.
Kenzo yang sedang fokus pada leptop di depannya sontak langsung menatap Dirga dengan tajam.
"Barang yang kita kirim di gagalkan dan beberapa anggota kita tewas di tempat" kata Dirga.
BRAK
"Bagaimana bisa?" teriak Kenzo murka menatap Nyalang Dirga yang hanya bisa diam dengan kepala yang senantiasa menundukkan kepala menghindari tatapan mata tajam Kenzo saat ini.
"Keluar!" Usir Kenzo dengan suara rendah menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Tanpa di perintah dua kali Dirga langsung bergerak cepat keluar dari ruangan Kenzo Ia tidak ingin menjadi samsak tinju Kenzo.
"Baru saja aku senang karna bertemu Alisya Malah sekarang ada lagi masalah" Guman Kenzo memijit pelipisnya.
Kenzo memilih mengesampingkan dulu masalah Mafianya karna dia tahu Ramos pasti bisa mengatasi masalah itu. Kenzo kembali melanjutkan memeriksa dan membubuhi tanda tangan miliknya di berkas-berkas itu.
Waktu terus berjalan begitu pula Kenzo yang dengan fokus mengerjakan semua pekerjaannya bahkan sampai lupa makan.
"Akhirnya pekerjaan menyebalkan ini selesai juga" Guman Kenzo merenggangkan Otot-ototnya hingga terdengar suara tulang yang seperti di patahkan.
"Saatnya menjemput Wanitaku" monolog Kenzo lalu berdiri namun dia mematung saat melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 22:00 waktu di tempat.
"$**t kenapa aku tidak sadar. lebih baik aku telfon Alisya" monolog Kenzo mulai mengotak atik ponselnya namun tidak kunjung menemukan nama yang ia cari.
"Kekasih apa aku ini nomornya saja nggak punya" monolog Kenzo frutasi lalu berjalan keluar.
Ceklek
"Tuan"
__ADS_1
Kenzo yang baru saja membuka pintu langsung di sambut Dirga yang sudah berada di depan pintu. Kenzo hanya acuh berjalan melewati Dirga begitu saja dengan wajah datarnya.
"Gini amat nasib bawahan di Cuekin mulu" batin Dirga mengikuti Tuannya dari belakang.
"Dirga cari nomor ponsel Alisya" perintah Kenzo saat sudah di mobil.
"Baik Tuan" jawab patuh Dirga.
"Untuk apalagi Tuan mencari nomor ponsel Nona Alisya bukankah tadi siang Tuan memeluk gadis lain bahkan terlihat posesif" batin Dirga penuh tanda tanya.
"Tuan masalah pengiriman barang yang di gagalkan sudah di temukan pelakunya dan pelaku sekarang berada di markas" kata Dirga.
Kenzo yang memang moodnya buruk langsung menyeringai mendengar kabar itu.
"Markas" ucap singkat Kenzo.
Dirga langsung menambah kecepatan untuk menuju markas karna ia tahu Tuanya itu ingin bermain.
Sampai di markas seperti biasa Kenzo langsung di sambut penuh hormat akan anggotanya namun Kenzo hanya bersikap acuh melewati mereka.
BRAK.....
"Tuan" seru Alvaro Ramos dan Kris yang sedang berkumpul.
"Dimana"
"Di ruangan biasa Tuan" jawab Ramos.
Tanpa banyak bicara lagi Kenzo langsung menuju ruangan yang sudah biasa ia datangi Sedangkan Dirga hanya mengikuti dari belakang saja.
"Hoho ternyata ini orang yang sudah berani mengusikku" Kenzo menyeringai melihat beberapa orang yang terikat di sebuah kursi.
"Bangunkan mereka dengan air panas" perintah Kenzo yang langsung di jalankan oleh anggotanya yang kocar kacir mengambil air panas.
BYURRR
AAAAAAAAAA
"PANAS PANAS"
Begitulah teriakan mereka yang membuat seringaian Kenzo semakin lebar.
"Sudah bangun?" Kenzo menatap mereka satu persatu lalu tersenyum miring membuat mereka langsung gemetar.
"Tuan maafkan kami" seru mereka serentak dengan tubuh semakin gematar melihat Kenzo berjalan ke arah mereka.
"Tuan ampuni saya....saya terpaksa melakukan ini jika tidak maka...."
"Berisik! saya tidak ingin mendengar curhatanmu itu" sentak Kenzo merasa kupingnya panas karna mendengar suara yang menurutnya seperti ocehan burung beo.
"Sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian" Kenzo bertanya dengan nada rendah yang menusuk tulang.
Ke enam orang itu semakin bergetar akan tetapi tidak satu orang pun yang membuka suara.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian sialan" bentak Kenzo lalu menendang kepala pria di depannya hingga terjungkal.
BUGH
BRAK
"AAAAAA" Teriak orang itu membuat ke lima teman lainnya semakin gemetar ketakutan.
"Katakan"
"Tidak ingin bicara baiklah"
"Buka baju mereka lalu cambuk dengan besi panas" perintah Kenzo membuat ke enam tawanan itu membulatkan mata.
"Tuan...."
"Tuan ampuni kami"
"Kami mohon ampun Tuan"
"Tu..... AAAAAAA"
Teriakan demi teriakan mereka keluarkan memohon ampunan Kenzo namun Kenzo hanya acuh menikmati teriakan mereka yang saling bersahutan layaknya melodi yang begitu merdu di telinga Kenzo.
"Cukup" perintah Kenzo lalu beranjak berjalan lalu berdiri di depan mereka yang hanya bisa tengkurap dengan luka cambuk yang menganga di punggung masing-masing.
__ADS_1
"Masih tidak mau bicara" Ucap Sinis Kenzo.
"Tuan ampuni kami" kata mereka lagi tanpa menjawab pertanyaan Kenzo membuat Kenzo semakin meradang.
"Rupanya begitu," Guman Kenzo lalu berjalan kembali di kursinya dan memberi kode kepada anggotanya untuk melanjutkan cambukan mereka.
Crash
"AAAAAAA"
Crash
"Ampun Tuan....saya akan mengatakannya" kata pria yang di tendang Kenzo tadi.
"APA YANG KAMU LAKUKAN HA....."
"KAMU MENGKHIANATI KETUA"
"LALU AKU HARUS APA AKU TIDAK INGIN MATI"
"Diam" desis Kenzo menatap Nyalang mereka semua.
"Sekarang katakan" Kata Kenzo
"Black Rose" jawab pria itu cepat dan tegas.
Kenzo langsung tersenyum miring mendengar lagi lagi Black Rose selalu mencari perkara. Kenzo segera pergi setelah mendapatkan apa yang ia cari.
"Tuan....keluarkan saya dari sini. Tuan....." teriak pria itu yang di abaikan oleh Kenzo.
Ceklek
"Tuan"
"Berapa Anggota kita yang tewas" tanya Kenzo datar.
"Sekitar 15 orang Tuan" jawab Ramos.
"Bunuh 15 orang anggota Black Rose dengan cara yang sama" kata Kenzo berlalu pergi.
"Mereka lagi. mereka selalu mencari perkara kenapa Tuan tidak langsung membinasakan para kumpulan hama itu" ucap mereka dalam hati.
******
"Tuan....Nyonya" seorang pelayan berjalan cepat ke arah ketiga orang yang berada di ruang tamu.
"Ada apa sih Bi nggak lihat apa, Alexa lagi bicara sama Mommy dan Daddy" kata Alexa ketus menatap tajam pelayan itu.
"Ini ada paket Non" pelayan itu meletakkan box persen itu di atas meja.
Mata Alexa langsung berbinar menatap kotak persegi di depannya yang di hiasi begitu indah. Alexa dapat pastikan isi di dalamnya pasti barang yang berharga.
"Jangan-jangan ini dari Kenzo sebagai tanda permintaan maaf karna tadi siang dia Cuekin aku" Batin Alexa percaya diri.
"Mom Dad biar aku yang buka" kata Alexa dengan semangat Alexa membuka satu persatu hiasan kotak itu lalu membukanya.
"AAAAAAA" teriak histeris Alexa berhambur memeluk Reva.
"Ada apa sayang?" Reva bertanya dengan panik.
"Itu Mom ada tikus di dalam kotak itu" kata Alexa yang masih memeluk Reva.
Edric segera mengambil kotak itu lalu melihat isinya, kedua mata Edric langsung membulat melihat bangkai tikus dan foto mereka bertiga yang berlumuran darah serta di beri tanda silang (X).
"Siapa yang mengirim paket ini" bentak Edric kepada pelayan di depannya.
"Saya tidak tahu Tuan. paket itu hanya di simpan depan pintu dengan alamat dan Nama Tuan Nyonya dan Non Exa sebagai penerima" kata Pelayan itu.
"Sama pergi" Usir Edric lalu memijit pelipisnya.
"Ada apa Mas" tanya Reva setelah menenangkan Alexa.
Edric hanya diam lalu memberikan kotak itu kepada istrinya. hal yang terjadi pada Edric pun terjadi pada Reva bedanya Reva berteriak histeris.
AAAAAAA
"Siapa yang mengirim itu Dad" kata Reva dengan gemetar.
"Ada suratnya Mom" kata Alexa menunjuk surat yang berada di penutup kotak itu.
__ADS_1
Edric dan Reva langsung melihat ke arah yang di tunjuk Alexa lalu Edric mengambil kertas itu.
Bersiaplah permainan akan segera di mulai