
"kemana dia? kenapa lama sekali" guman sosok yang terus mondar mandir di kamar hotel itu.
sosok itu tak lain dan tak bukan adalah bram. tadi siang bram telah menelfon dan mengirimkan alamat untuk pertemuan dirinya dan maya. bram begitu yakin jika rencananya kali ini pasti berhasil membuat maya kembali padanya lagi.
"huh aku sudah tidak sabar bertemu dengannya. saking tidak sabarnya aku sampai menjadi gugup di buatnya." kata bram.
tok
tok
"ah itu pasti tari" pekik bram.
bram kembali bercermin membenahi kembali penampilannya. memastikan jika pakaiannya tidak lusuh dan sekali lagi menyemprotkan parfum.
"sempurna"
dengan langkah lebar bram berjalan mendekati pintu. membukanya lebar-lebar dengan senyum lebar di bibirnya.
ceklek
"tari sayang....."
bugh
aah
berharap mendapatkan pelukan malah langsung diberi sambutan bogem mentah.
"sialan siapa....."
"kamu yang sialan b******n berani sekali kamu menjebak istriku" teriak dirga murka yang langsung menutup pintu dengan keras.
"sial kenapa malah pria ini yang datang di mana tari?" batin bram yang bertanya-tanya menoleh ke arah belakang dirga.
"mencari siapa? istriku? tidak akan aku biarkan istriku menemui b******* sepertimu" kata dirga datar.
"sayang aku tahu kamu sudah di buang oleh pria brengsek itu maka kembalilah padaku temui aku di hotel xn malam ini. aku menunggumu disana lestari sayang"
masih terekam jelas di ingatan dirga bagaimana pria b******* di depannya itu menelpon dan mengajak istrinya untuk bertemu di tempat laknat itu.
dirga merutuki kebodohannya yang begitu mudah percaya dengan jebakan bram. begitu mudah percaya dengan sebuah foto bahkan berakibat fatal sampai sekarang. dirga menyesal kenapa tidak mempunyai pikiran panjang tentang maya dan pria b******* di depannya itu.
wanita bodoh mana yang mau kembali dengan pria yang telah menghianatinya secara terang-terangan dan pria yang memberi dan menorehkan luka saling dalam kehidupan sang wanita.
rasanya jika bisa dirga ingin menghukum dirinya sendiri. karena meragukan kesetiaan dari wanita yang di cintainya.
"kenapa kamu yang ke sini? di mana lestari? harusnya dia yang datang bukan kamu!" ucap bram yang menatap tajam ke arah dirga.
__ADS_1
dirga dengan kemarahan yang berada di ubun-ubun langsung menyerang dengan membabi buta.
bugh
bugh
bugh
dirga tak memberi kesempatan kepada bram sekedar untuk bernapas. hingga beberapa menit kemudian terlihat bram sudah terkapar tak berdaya dengan luka dimana-mana. wajah yang babak belur, kepala yang berdarah, dan tangan yang patah karena ulah dari dirga.
"ssssh" bram hanya bisa meringis kesakitan saat merasakan kepalanya berdenyut dan tangannya yang terasa ngilu.
"aku ingatkan padamu sekali lagi. pergi jauh menjauh sejauh-jauhnya dari kehidupanku dan kehidupan istriku. jika di masa depan aku masih melihatmu berada di sekitar istriku atau bahkan mendekati istriku. maka aku tak segan-segan hari itu adalah hari terakhir kamu menghirup udara segar dan melihat matahari di dunia ini." ucap dirga yang penuh akan penekanan.
setelah berkata seperti itu tanpa beban sedikitpun dirga langsung melenggang pergi meninggalkan bram yang tengah terkapar dengan darah di mana-mana.
bram hanya bisa meringis dan menahan sakit tanpa bisa melakukan apa-apa. kamar hotel dengan suasana romantis kini telah berubah dengan kamar yang seperti kapal pecah dan pecahan botol anggur di mana-mana. itu semua merupakan akibat dari kemarahan dirga selain melampiaskan kepada bram, dear god tak segan-segan menghancurkan kamar hotel itu.
sedangkan di tempat lain ramos dengan senantiasa terus menemani clarissa yang belum sadarkan diri. sejak tadi malam selesai melakukan operasi pengangkatan tumor di kepalanya.
ramos tidak pernah sedikitpun meninggalkan clarissa bahkan hanya untuk mandi dan mengganti pakaian ramos lakukan di kamar mandi dalam ruangan clarissa.
"hah kapan kamu sadar sweet" guman ramos yang menarik napas gusar.
"bangunlah. aku ingin melihat kelopak indahmu ini terbuka" ucap ramos yang nyaris tak terdengar.
"ssst"
baru saja ramos masuk ke dalam toilet tiba-tiba jari tangan clarissa bergerak di susul dengan kelopak matanya yang terbuka secara pelan-pelan hingga beberapa detik berikutnya terbuka sendiri.
"aku di rumah sakit? aku masih hidup?" guman clarissa.
sedangkan ramos yang baru keluar dari toilet langsung terpaku. saat melihat jika wanita yang dia tunggu-tunggu akhirnya sadar. tapi senyum ramos langsung berubah saat mendengar kalimat clarissa berikutnya.
"kenapa omma tidak menjemputmu? padahal aku ingin berkumpul dengannya"
"berhenti berpikir untuk mati sweet. karna aku tidak akan membiarkan itu terjadi" ucap ramos datar yang mendekati clarissa.
"kamu....."
"kenapa? kamu pikir aku akan membiarkan kamu mati setelah mencuri sesuatu berharga dariku?"
"cih aku tidak mencuri apapun"
"kamu yakin?" ramos mendekat dan menundukan wajahnya hingga wajahnya berjarak beberapa senti dengan wajah clarissa.
"me....memang a.....apa yang a..aku cu...curi?" ucap clarissa dengan gugup memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
wajah clarissa memerah dengan degup jantung yang berdebar dengan kencang. sedangkan ramos yang mendengar degup jantung clarissa hanya tersenyum misterius.
"kamu mau tahu kamu mencuri apa?" ramos semakin mendekatkan wajahnya ke wajah clarissa. " kamu mencuri hatiku" bisik ramos ke telinga clarissa.
cup
deg
belum cukup rasa terkejut clarissa karna bisikan ramos. tiba-tiba saja pria itu dengan seenak jidatnya mencium bibirnya.
"kau....dasar mesum!" pekik clarissa yang menatap tajam ramos.
"aku hanya mesum padamu sweet" balas ramos yang lagi-lagi mengecup bibir ranum clarissa.
"dasar mesum"
"nama ku ramos sweet"
"aku tau!"
"kalau begitu panggil namaku"
"tidak mau,!"
"jika ramos tidak mau kau bisa memanggilku dengan sebutan habby, sayang, baby, honey atau suamiku juga boleh" goda ramos yang semakin menjadi-jadi.
"sialan!"
sret
clarissa yang kesal langsung menarik rambut ramos. namun ramos yang sedang menatap wajah clarissa tidak siap menerima tarikan clarissa langsung tertunduk. hingga tak sengaja ramos mencium bibir clarissa.
ceklek
"sialan...! jika ingin sangean jangan di rumah sakit!" pekik seseorang yang baru masuk dalam ruangan itu yang tak lain dan tak bukan adalah kris.
kris berencana untuk mengecek keadaan clarissa karna ini sudah jamnya. tapi kris tidak menyangka matanya langsung di suguhkan pemandangan yang tidak menyenangkan di depannya itu.
bukan hanya tidak menyenangkan tapi langsung membuatnya berdecak kesal. bagaimana tidak kedua manusia di depannya membuatnya iri sekaligus merindukan kekasih rahasianya itu.
tak
kris yang kesal langsung menjitak kepala ramos dengan keras. sampai membuat sang empu meringis kesakitan.
"kenapa kamu memukul kepalaku sialan!" sentak ramos dengan suara tertahan. tidak mungkin dia marah-marah di depan clarissa yang ada citranya malah buruk di depan sang gadis di cintainya.
"kamu bodoh atau bagaimana ha....? kamu lupa dia baru saja selesai operasi bahkan jahitannya masih belum kering tapi kamu malah main nyosor saja seperti bebek"
__ADS_1