Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Shock


__ADS_3

"APAAA" teriak Marissa bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk.


"Nyo..... Astaga Nyonya.....!" teriak seorang pelayan melihat sang Nyonya tergelatak tak sadarkan diri di lantai.


Pelayan itu berlari keluar memanggil satpam lalu kembali masuk dan menghopong tubuh Marissa lalu membawanya ke kamar.


Leon yang sedang sibuk memikirkan jalan mencari investor baru kini di ganggu dengan dering ponsel miliknya yang terus berdering hingga tak henti membuat Leon kesal.


"Ada apa" bentak Leon.


"Nyonya Tuan muda, Nyonya pingsan" jawab orang di sebrang sana yang tak lain adalah pelayan di kediaman Sward.


"Bagaimana bisa Haaa?" teriak Leon.


"Saya Ti....dak tau Tuan muda" jawab pelayan itu.


Leon langsung mematikan sepihak panggilan telfon lalu menyambar kunci mobil berlari keluar.


Sampai di mobil Leon segera menghidupkan mobil lalu menjalannya di atas rata-rata membuat pengendara yang lain mengumpat dan memakinya.


Ckitt


Tak


Tak


Tak


"Bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Leon kepada pelayan di rumah.


"Nyonya belum sadar Tuan ini saya mau kasih minyak kayu putih agar segera sadar" jawab pelayan itu.


"Lakukan segera..!" kata Leon.


Pelayan itu hanya bisa menunduk lalu berjalan mendekat ke arah Marissa yang masih belum sadar dari pingsannya.


Engeuhh


"MOMMY" panggil Leon yang segera mendekat ke arah Marissa.


"Le...leon"

__ADS_1


"Iya my. Leon ada disini"


"Kita harus segera ke rumah sakit" kata Marissa yang berusaha untuk bangun.


"Untuk apa Mi" tanya Leon.


"Daddy kamu kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit"


Deg


"Ayo jangan bengon Mulu" sentak Marissa membuat Leon sadar lalu bergegas menyusul Marissa.


Sampai di rumah sakit Leon dan Marissa langsung berlari lalu menanyakan atas nama Wijaya namun jawaban suster malah membuat Marissa berteriak histeris.


"TIDAK MUNGKIN......! COBA SUSTER CEK LAGI TIDAK MUNGKIN SUAMI SAYA BERADA DI RUANG JENAZAH SUS" teriak Marissa histeris.


"Tapi memang nama Wijaya Sward korban kecelakaan mobil meninggal di tempat dan jasadnya ada di ruang jenazah Bu" kata Suster itu lagi.


"NGGAK... NGGAK.. KAMU PASTI BOHONG'KAN? KAMU BOHONG'KAN?" Marissa mencoba menyerang suster itu tapi di tahan oleh Leon.


"Tenang Mom... sekarang kita ke ruang jenazah kita pastikan sendiri" kata Leon yang menyeret sang Mommy menuju ruang jenazah.


Sampai disana Leon dan Marissa langsung masuk mencari nama Wijaya di Banjar para jenazah. Leon dan Marissa memutuskan untuk berpencar agar cepat menemukan nama yang mereka cari.


"TIDAK......! WINAYAAAAAA"


"Mom apa yang.... Daddy....!" pertanyaan Leon langsung terganti dengan teriakan saat melihat sang Ayah telah terbujur kaku di atas brankar.


"WIJAYA HIKS HIKS BANGUN WIJAYA... INI TIDAK MUNGKIN BAGAIMANA BISA KAMU PERGI SEPERTI INI WIJAYA......!" teriak Marissa yang mengguncang-guncangjan tubuh kaku Wijaya.


"Daddy Kenap Daddy pergi begitu cepat meninggalkan Mommy dan aku disini. Dad perusahaan lagi kacau dan Daddy malah pergi begitu saja Daddy egois tau nggak" kata Leon dalam hati menatap dalam wajah pucat sang Ayah.


Leon hanya berdiri mematung menatap Marissa yang menangis meraung-raung mengguncang tubuh kaku sang Daddy. Kakinya terasa berat untuk melangkah lebih dekat kepada pria yang dia sebut Daddy itu.


"Apa kalian keluarga bapak Wijaya?"


Tiba-tiba saja masuk seorang pria yang berpakaian serba putih membuat Leon tersadar dari lamunannya.


"Ah ya saya anaknya dan dia Mommy saya" kata Leon menunjuk diri sendiri lalu menunjuk Marissa yang terus menangis histeris sambil memeluk jasad Wijaya.


"Baiklah ada baiknya jika Tuan dan Nyonya segera membawa jasad Tuan Wijaya ke rumah agar segera di makamkan karna keadaan tubuh Tuan Wijaya tidak baik-baik saja." kata Pria itu lagi.

__ADS_1


"Apa maksud ucapan Tuan?" tanya Leon dengan dahi yang mengkerut dalam.


"Seluruh tubuh Tuan Wijaya terbuka kecuali wajah dan parahnya Kakinya satu sudah tidak utuh lagi bahkan Kaki Tuan Wijaya terputus di lokasi kejadian" terang pria itu.


Nyes


"Apa katamu. suami ku tidak mungkin seperti itu" teriak Marissa menatap tajam perawat itu.


"Tapi itu kenyataannya Nyonya jika tidak percaya lihatlah sendiri" balas perawat itu.


Marissa dengan tangan gemetar menyibakkan kain putih yang menutupi tubuh sang suami hingga matanya langsung membulat saat melihat jika kaki sang suami memang sudah tidak utuh bahkan seluruh badannya terbakar dan menjadi seperti daging yang di bakar.


"Tidak...... kenapa seperti ini Wijaya hik hiks hiks" Marissa lagi lagi hanya bisa menumpahkan air matanya melihat keadaan sang suami yang sudah mati saja dalam keadaan yang tidak utuh dan mengeringkan seperti itu


Sedangkan Leon rasanya seluruh sendi dan setiap tulang yang ada di dalam tubuhnya melebur menjadi satu membuatnya lemah seketika.


Leon tidak menyangka kepada Daddy-nya harus mengalami kejadian yang tragis seperti ini tidak hanya nyawanya yang melayang tapi anggota tubuhnya pun tidak utuh.


"Lebih baik Tuan segera ke admistrasi untuk membayar yang harus anda bayar" ucap perawat itu lalu pergi meninggalkan Leon yang mematung sedangkan Marissa yang terus menangisi sang suami.


"Mom aku ke admistrasi dulu yah" pamit Leon lalu keluar dari ruang jenazah menuju tempat admistrasi.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan" tanya Suster yang menjaga di admistrasi.


"Saya ingin menebus jasad Wijaya Sward" kata Leon datar.


"Tunggu sebentar Tuan" Suster itu segera mencari nama Wijaya Sward.


"Ini Tuan" Suster itu menyerahkan kertas putih ke tangan Leon.


Leon mengambil kertas itu lalu membacanya untuk sesaat matanya melotot melihat angka yang terterah di atas kertas itu.


"20 juta? cih jika sudah tau dia mati harusnya di bawah saja ke rumah sakit biasa tidak perlu rumah sakit sebesar ini. jika rumah sakit biasa pasti biaya-nya tidak akan semahal ini" gerutu Leon dalam hati.


Walau dalam hati merasa kesal Leon tetap merogoh dompetnya lalu memberikan ATM-nya kepada Suster.


Setelah selesai Leon segera beranjak pergi kembali menuju ruang jenazah untuk membawa pulang jasad Wijaya.


"Mom ayo kita pulang sebentar lagi staf rumah sakit akan membawa Daddy ke rumah kita tunggu disana" kata Leon lembut kepada Marissa yang sudah lemas.


Marissa yang shock dan terus menangis kini dia tidak punya tenaga lagi hingga saat Leon mengatakan untuk menunggu di rumah Marissa hanya bisa menganggukan kepala dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Melihat Mommy-nya sudah mengangguk Leon segera memapah Marissa berjalan keluar dari ruang jenazah itu.


Saat keluar dari ruang jenazah Marissa hanya diam dengan tatapan kosong hingga mereka sampai di rumah pun Marissa hanya diam dengan tatapan yang masih sama yaitu kosong tanpa adanya kehidupan di dalam tatapan itu.


__ADS_2