
"Kevin Apa kamu masih mencari gadis kecil waktu itu?" Tanya Robert kepada Kevin.
"Kenapa Paman menanyakan tentang gadis kecil itu?" Bukannya menjawab Kevin justru memberi pertanyaan balik kepada Robert.
"Jawab saja Kevin!" Sentak Robert yang menatap tajam Kevin.
"Aku selalu mencarinya Paman tapi aku tidak pernah menemukan jejaknya dia seperti menghilang di telan Bumi." Kata Kevin dengan nada lemah.
"Dasar bodoh."
Tak
Dengan kekesalan yang berada di ubun-ubun Robert langsung mengambil dompetnya dan melemparkan dua foto ukuran kecil di depan Kevin dan Alisya.
"Lihat itu! Gadis kecil yang kamu maksud itu berada di depan kamu sendiri. Gadis kecil itu tak lain dan tak bukan adalah wanita yang berada di atas pangkuan. Dia gadis kecil itu adik kesayangan kamu." Ucap Robert dengan lantang.
Kevin yang mendengar itu langsung mengambil foto kecil di atas meja itu yang sedikit udara akan tetapi gambar gadis kecil di dalamnya masih terlihat jelas di mata. Dengan langkah bergetar Kevin berjalan pendekatan ke arah Alisya duduk di bawah Alisya.
"Isya..."
Alisya yang tadinya menatap bingung dan heran kepada Kevin langsung membulatkan mata saat mendengar nama itu.
Dengan gerakan cepat Alisya mengambil foto kecil di atas meja itu yang berisi seorang anak laki-laki.
"Apa ini kamu?" Tanya Alisya yang memperlihatkan foto anak laki-laki itu kepada Kevin.
"Yah itu aku." Jawab Kevin dengan semangat mengganggukan kepalanya.
"Isya Kakak rindu!" Kevin yang sungguh rindu dengan gadis kecil itu segera bergerak untuk memeluk Alisya.
Bruk
Belum juga menyentuh sehelai rambut Alisya tubuhnya sudah tersungkur ke lantai karena di dorong oleh Kenzo.
"Jangan menyentuh wanitaku apalagi memeluknya!" Kata Kenzo yang memberi ultimatum langsung kepada Kevin.
Kevin yang mendengar ultimatum Kenzo hanya bisa berdecak besar mengusap-ngusap pantatnya yang lagi-lagi bertubrukan dengan lantai kasar.
"Sttt dasar posesif. Dia adikku! Aku juga ingin memeluknya." Kata Kevin dengan kesal membalas tatapan tajam Kenzo.
"Aku tidak mengizinkan siapapun orang yang berjenis kelamin pria mendekati apalagi menyentuh wanita ku."
__ADS_1
"Tapi dokter Kris adalah pria. Pria itu dengan seenaknya menyentuh little girl bahkan sampai melihat perutnya." Ucap Kevin yang justru melempar bom kepada Kris.
"Sialan! jangan mengadi-ngadi kamu! Aku tidak pernah......"
"Tidak pernah apa? Aku melihatmu tiga hari yang lalu kamu menyentuh perut little girl." Potong Kevin dengan senyum miring.
Glek
Kris yang baru ingin membuka mulut langsung bungkam kembali saat merasakan punggungnya terasa dingin dingin. Kris yang tahu dari mana asal nya rasa dingin itu segera menoleh ke arah Kenzo. Wajahnya langsung memucat saat melihat tatapan tajam Kenzo yang sudah siap untuk melihatnya hidup-hidup.
"Ah aku ingat jika aku masih ada jadwal operasi. Aku pergi dulu." Pamit Kris yang langsung berbalik berlari kencang keluar dari mension Kenzo.
"Little girl kamu tidak ingin memeluk kakak?" Ucap Kevin yang memasang wajah sedih.
"Tidak! Kamu sudah membuat suamiku berulang kali kesusahan karena ulah dendam kamu yang tidak beralasan itu." Tolak Alisya mentah-mentah.
"Astaga aku lupa. Little girl pasti marah karena aku sudah berusaha mencelakainya dan mencelakai pria datar ini." Kata Kevin dalam hati.
"Baiklah baiklah. Kenzo aku minta maaf karena selama ini selalu membuat masalah dengan kamu. Mulai saat ini aku tidak akan lagi mengganggumu Dan mulai saat ini kita berdamai." Ucap Kevin yang menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda perdamaian dengan Kenzo.
Kenzo yang melihat uluran tangan dari Kevin tidak langsung menjabatnya. Pria itu justru menunduk menatap sang istri. Saat melihat Alisya yang memberi tanda menganggukkan kepala sama. Kenzo dengan wajah datar dan setengah rela menjabat tangan dari Kevin.
Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Kenzo masih menyimpan rasa kesal kepada Kevin karena berpikir jika Kevin adalah dalam dari kecelakaannya.
"Jangan mencoba-coba byy!" Ucap Alisya tiba-tiba yang menatap tajam Kenzo seperti mengerti apa yang ada di pikiran pria yang menjadi suaminya itu.
"Bukan dia pelaku kecelakaan kamu." Lanjut Alisya.
"Nah itu benar. Aku tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan kamu itu!" Sahut Kevin yang langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Lalu siapa? Bukankah kamu orang terakhir yang hampir membunuh istriku?" Sentak Kenzo.
"Itu memang benar tapi bukan aku yang mencelakai kamu. Bahkan aku tidak tahu menahu tentang kamu yang mengalami kecelakaan." Sanggah Kevin yang menjelaskan jika ia tidak tahu menahu tentang kecelakaan yang di alami Kenzo.
"Lalu siapa?"
"Ibu kamu!"
"A.... apa?"
"Nggak percaya? Tapi itu kebenarannya. Demi menguasai harta kamu wanita tua itu bahkan membunuhmu dan mendatangi Alisya." Kata Kevin dengan sinis.
__ADS_1
"Dia mendatangi kamu baby?" Tanya Kenzo dengan khawatir.
"Iya byy tapi tenang saja wanita tua itu sudah di amankan" kata Alisya yang elus lembut rahang Kenzo.
Alisya tahu jika suaminya itu mengkhawatirkan keadaannya. Tapi di satu sisi Alisya sedikit ragu mengatakan jika wanita itu kini sekarang sudah dalam keadaan sekarat dan hanya menunggu ajal menjemput.
"Dimana wanita itu,?" Tanya Kenzo dengan nada datar dan wajah dingin.
"Wanita itu ada di ruang bawah tanah Tuan tapi keadaannya sudah sekarat."
Bukan Alisya yang menjawab melainkan Dirga yang langsung membuka suara. Sedangkan Alisya yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Dirga menatap pria itu dengan alis yang menyatu.
"Seperti janjiku pada Nona waktu itu, aku akan melindungi Nona dari kemarahan Tuan Kenzo." Kata Dirga dalam hati yang menatap Alisya dengan menerbitkan senyum tipis sebelum menganggukan kepala samar.
"Sekarat?"
"Benar Tuan. Racun yang di berikan Nona Clarissa tidak main-main. Racun itu menggerogoti tubuh wanita tua itu sedikit demi sedikit hingga sekarang seperti orang yang kekurangan gizi. Di tambah dengan siksaan yang terus di alaminya hampir setiap hari membuatnya semakin lemah." Terang Dirga.
"Siapa yang menyiksanya?"
"Saya Tuan." Jawab Dirga yang tanpa keraguan sedikitpun.
"Kenapa kamu tidak membunuhnya?" Tanya Kenzo datar terdengar menahan amarah.
"Jadi bisa langsung di bunuh?" Tanya Alisya yang langsung berbinar.
"Jika mau sekarang juga lakukan. Aku tidak butuh seorang ibu yang berhati iblis sepertinya." Jawab Kenzo dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Baiklah biar aku yang menyelesaikannya!" Kata Alisya dengan gembira.
"Kamu mau kemana baby?" Kenzo langsung menatap tajam Alisya saat merasakan pergerakan wanita hamil itu yang ingin beranjak pergi dari pangkuannya.
"Membunuh wanita tua itu." Jawab Alisya santai.
"No baby! Menyiksa boleh tapi membunuh No! Kamu sedang hamil ingat itu!" Tekan Kenzo.
Kenzo tidak ingin tangan Alisya bermandikan darah lagi apalagi di saat hamil seperti ini.
"Tapi....."
"Apa kamu belum puas menyiksanya Hem...?"
__ADS_1
"Eh... Kamu tahu."
"Jelas aku tahu. Aku akan terus mengetahui apapun jika itu tentang kamu."