
Sinar mentari pagi begitu indah menyinari seluruh bumi. sinarnya yang hangat membuat beberapa orang dengan suka cita menyambutnya dengan hangat ada pula karna sinarnya yang indah beberapa orang rela bangun lebih awal agar bisa melihat sinarnya yang muncul di sebelah timur.
Sinar mentari menerobos masuk dalam sebuah kamar yang bernuansa Hitam dan abu-abu. sinarnya yang hangat mampu mengusik tidur sosok mungil yang terbaring lelap di atas ranjang king size itu.
Enguh
Soal itu menggeliat pelan dalam tidurnya tangannya meraba sana sini mencari sesuatu hal yang bisa menghalangi sinar yang masuk menerpa wajahnya.
"Wake up baby"
Sosok itu langsung terperanjat kaget dengan kedua mata yang membola.
"Kenzo" ucap pelan sosok itu yang tak lain adalah Alisya.
"Wake up baby" bisik Kenzo di depan wajah Alisya yang masih menatapnya dengan kedua mata besarnya.
"Jam berapa?"
Bukannya bangun Alisya malah menanyakan jam kepada Kenzo.
" Jam 8 lewat baby"
Sret
Mendengar angka 8 Alisya langsung menarik selimutnya hingga bangun dan langsung terduduk.
"Kenapa tidak membangunkan ku dari tadi" kata Alisya dengan kesal lalu segera turun dari ranjang dan berjalan cepat ke kamar mandi.
"Cih mana bisa aku mengganggu tidur nyenyak dirimu baby" guman Kenzo yang menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian Alisya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi yang di yakini milik Kenzo.
"Huuuuuu syukur dia nggak ada"
Alisya menghembuskan napas dan mengelus dada lega karna tidak mendapati Kenzo berada dalam kamar itu.
Alisya dengan segera berjalan cepat menuju walk in close sebelum Kenzo kembali ke dalam ruangan itu.
Beberapa menit kemudian Alisya sudah rapi lalu berjalan menuju pintu keluar karna menunggu kenzo namun dari tadi ia belum datang juga hingga Alisya memutuskan untuk berhenti menunggu dan mencarinya.
CEKLEK
"Nona"
"Astaga"
Alisya mengelus dada melihat Justin sudah berdiri di depan pintu kamar Kenzo.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu disini Justin?" Alisya bertanya dengan nada dingin.
"Sekitar 30 menit yang lalu Nona" jawab Justin tegas.
"Nona, Bimo sudah sadar!" kata Justin membuat langkah Alisya terhenti.
"Benarkah"Alisya bertanya tanpa menyembunyikan binar gembira di matanya.
"Benar Nona" jawab Justin.
Alisya langsung berbalik lalu berlari ke arah ruangan yang di tempati oleh Bimo.
Brak
"Nona"
Grep
Deg
Jantung Kezo bagaikan di tikam seribu pisau melihat pemandangan di depannya dimana Alisya kekasihnya berlari memeluk pria lain dengan begitu erat seakan menumpahkan kerinduan yang tertahan. tanpa di ketahui semua orang tangan Kenzo langsung mengepal dengan erat kedua matanya memerah menatap ke arah Alisya yang sedang asyik memeluk pria yang terbaring di atas brankar.
"No....nona anda......"
"Kakak hiks"
Deg
"Nona...."
"Jangan terluka lagi, karna aku tidak ingin kehilangan lagi. cukup aku kehilangan kedua orang tua ku aku tak ingin kehilangan seorang Kakak juga" Kata Alisya yang melepaskan pelukannya lalu menatap sendu Bimo yang sedang menatapnya juga.
Tes
Air mata Bimo langsung jatuh dari pelupuk matanya. akhirnya keinginannya selama ini terwujud keinginan yang cukup sederhana namun begitu jauh untuk ia jangkau namun sekarang keinginan itu terkabul. tak dapat Bimo ungkap seperti apa bahagianya dia sekarang ini.
"Nona mau menjadi adikku?"
"Sangat!"
Sret
"Stop baby jangan terus memeluknya aku cemburu" kata Kenzo yang menarik Alisya dari dekapan Bimo lalu memeluknya posesif.
"Dan kamu! kamu di larang mendekati apalagi memeluk wanitaku" lanjut Kenzo menunjuk Bimo dengan tatapan tajam.
"Tuan manja ini........ aku bahkan sudah memimpikan ini bertahun-tahun saat itu terwujud pria ini malah dengan seenak jidatnya menjauhkan aku dari adikku"
__ADS_1
Bimo hanya bisa mengoceh dalam hati dan membalas tatapan tajam milik Kenzo dalam hati Bimo berjanji jika sudah sehat nanti dia akan menjauhkan adiknya dari pria manja dan posesif di depannya ini.
"Jauhkan khayalan mu itu yang ingin menjauhkan aku dari Alisya jika masih ingin hidup" kata Kenzo seakan mengetahui apa yang di pikirkan oleh Bimo.
"Cih" Bimo hanya berdecih lalu membuang muka dan jangan lupakan tatapan sinis Bimo.
"Baby ayo kita sarapan" kata Ke zo lembut selembut sutra.
"Dasar Bucin" umpat Kris dan Dirga yang berada dalam ruangan itu menatap jengah pada Tuan mereka yang akan bersikap konyol jika sudah dengan Alisya.
"Tapi....."
"Dia baru sadar baby masih butuh beberapa waktu untuk istirahat agar segera sembuh dan pulih" potong Kenzo cepat.
Mendengar itu Alisya langsung diam lalu menatap Bimo dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Em K....kak aku makan dulu yah kak Bimo istirahat saja supaya cepat pulih" kata Alisya dengan senyum lembut di bibirnya.
Mendengar penuturan Alisya diam-diam Kenzo melayangkan senyum penuh kemenangan kepada Bimo seakan mengatakan "Akulah pemenangnya"
"Ayo baby" kata Kenzo lalu menarik lembut tangan Alisya.
"Pria manja itu benar-benar harus di beri pelajaran" guman Bimo namun masih di dengar yang lain dalam ruangan itu termaksud Justin yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bagaimana bisa Nona yang jenius menjadi bodoh karna Tuan Kenzo" ucap Justin pelan namun di dengar oleh Bimo.
"Jadi kamu mengatakan adikku bodoh ha....?" Bimo menatap tajam Justin yang berani mengatakan Alisya bodoh.
"Ti...tidak se.....seperti itu Bim...." Justin langsung gelagapan sendiri melihat tatapan Bimo yang sudah mau mengulitinya hidup-hidup.
Justin dan Bimo tumbuh dewasa bersama-sama dalam asuhan Kakek XU walau begitu Justin tetap takut dan waspada kepada Bimo mengingat kekuatan pria itu tak bisa di anggap remeh bahkan Justin di umur 14 tahun sudah bisa membunuh 2 ekor harimau liar secara bersamaan apalagi setelah datangnya Alisya di hidup Kakek XU membuat Bimo semakin latihan dengan keras hanya karna ingin menjadi yang terkuat dari yang lain.
Sedangkan di tempat lain terlihat seorang Pria tua dengan tongkat di sebelah tangannya menuruni pesawat di ikuti gadis mudah di belakangnya.
"Kamu benar-benar sahabat cucu nakalku itu kan?" ucap pria tua itu kepada gadis mudah di sebelahnya yang kurang percaya pada gadis itu.
"Saya benar-benar sahabat cucu anda Tuan" jawab gadis mudah itu yang mencoba bersabar menjawab pertanyaan yang mungkin sudah ke seratus kalinya pria tua itu melontarkan pertanyaan yang sama padanya.
"Cantik begini masa di samakan sama penculik lagipula kalau aku benar-benar penculik aku tidak akan menculik kakek tua sepertinya apa yang aku dapat dari menculik pria tua sepertinya."
Gadis itu hanya bisa mengomel dalam hati karna tak ingin merasakan untuk kedua kalinya pukulan tongkat dari pria tua di sebelahnya itu.
"Aku akan benar-benar membalas padamu Alisya atas apa yang di lakukan oleh Kakekmu ini"
Lanjut gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Maya sahabat Alisya sedangkan di sebelahnya adalah Kakek Xu.
Maya di tugaskan Alisya untuk menjemput Kakek Xu di China lalu membawanya di Italy karna markas utama dan persembunyian ketua Black Dragon yang sebenarnya berada di negara ini.
__ADS_1