
"Clarissa kamu tahu ini apa?"
Tentu Clarissa tahu bahkan sangat-sangat tahu lencana apa yang dipegang oleh Alisya. Bukan hanya Clarissa tapi seluruh orang-orang yang berada di kelompok itu mengetahui lencana itu.
Untuk sesaat Clarissa tertegun dan terpaku saat melihat lencana itu berada di tangan Alisya. Akan tetapi itu hanya sementara sebelum dia langsung bangun dan berlutut di depan Alisya.
Bruk
"Salam Ketua!"
Sontak tindakan yang baru saja Clarissa lakukan membuat Maya kaget setengah Mati. Hingga Maya langsung menarik dan membentak Clarissa.
"Apa yang kamu lakukan Clarissa? Lihat tangan kamu berdarah!" Pekik Maya yang menarik Clarissa untuk bangun akan tetapi Clarissa tetap bertahan pada posisinya yang berlutut tanpa memperdulikan kepalanya yang sakit dan darah yang bercucuran di punggung tangannya.
Melihat Clarissa tidak bergerak sedikitpun Maya langsung menoleh ke arah sahabatnya Alisya, "Alisya apa ini?" Tanya Maya yang tidak mengerti.
"Bangunlah!" Titah Alisya.
"Terima kasih Ketua"
Clarissa segera berdiri tapi tidak kembali ke brankar melainkan tetap berdiri tegak di depan Alisya.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat kembali pada brankar! Aku tidak ingin di terkam singa betina yang sedang mengamuk" kata Alisya yang melirik Maya.
"Terima kasih" balas Clarissa yang membungkukkan badannya lalu naik kembali pada brankarnya.
"Sekarang jelaskan!?" Kata Maya yang penuh penekanan menatap tajam kedua orang yang telah ia anggap adik-adiknya itu.
"Panggilkan dulu dokter tangannya terluka" tunjuk Alisya pada punggung tangan Clarissa.
"Sudah Nona" sahut Ramos tiba-tiba membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.
"Kau....."
"Saya hanya membantunya saja" potong Ramos pada ucapan Maya.
Ceklek
"Ada ah.....ahpa Rah.....mos" tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Kris dengan napas yang ngos-ngosan.
"Pasang kembali jarum sialan ini" kata Ramos yang menatap datar Kevin.
Hah.....?
Kris yang mendengar penuturan Ramos hanya bisa melongo di tempat. Bagaimana tidak? Nyawanya bahkan terancam akan di cabut jika dalam 2 tidak sampai di ruangan ini.
Kris berfikir ada keadaan darurat tapi nyatanya hanya karna sebuah jarum infus yang terlepas.
"Apa kamu perlu di tembak dulu baru bekerja?" Sentak Ramos dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Sorry"
Kris segera berjalan ke sisi Clarissa alku memasangkan kembali infus pada punggung tangan Clarissa. Setelah selesai Kris segera keluar karna masih ada pasien yang harus dia bereskan.
"Sekarang katakan!" Kata Maya yang sudah tak sabaran setelah Dokter Kris keluar..
"Dia anggota Dark Devil"
"APA....."
Maya berteriak kaget dengan menatap tajam Alisya tapi Alisya nampak biasa yang berarti menandakan jika dia benar-benar serius akan hal itu. Maya menatap Clarissa yang kini hanya diam dengan tidak menatap ke arahnya.
"Benar itu Clarissa?"
"Benar kak. Aku tak punya siapa pun selain mereka. Lagipula itu sudah seharusnya kamu kembali pada junjungan kami" jawab Clarissa.
Jawaban Clarissa terdengar tegas dan datar membuat Maya geleng-geleng kepala. Gadis yang dulu begitu lembut bahkan membunuh seekor kelinci saja tidak mampu kini malah bergabung pada kelompok dunia bawah.
"Kenapa kamu tidak katakan jika dia anggota kamu Alisya?"
"Aku juga tidak tahu. Aku mengetahuinya setelah mencari tahu tentangnya tadi"
"Jika kamu punya orang kuat di belakang mu kenapa kamu tidak membalas dendam kepada dua Medusa itu?"
"Aku sudah melakukannya"
"Lakukan apa?"
Clarissa tidak lagi melanjutkan ucapannya. Matanya melirik Kenzo takut-takut dengan keringat dingin yang membasahi punggung dan keningnya.
"Termaksud apa?" Tanya Alisya dan Maya yang berbarengan.
"Itu termaksud Nyo....nya Melinda tapi.... Saya tidak tahu jika wanita tua itu merupakan ibu dari Tuan Kenzo dan.... Suami Ketua" kata Clarissa yang menundukkan kepala karna takut di amuk oleh ketuanya.
Kenapa Clarissa lebih takut Alisya yang mengamuk daripada Kenzo karna sudah jelas Alisya merupakan Ketuanya yang tak bisa ia lawan berbeda dengan Kenzo walau suami dari Alisya tapi bagi anggota Dark Devil mereka tidak akan tunduk selain tiga orang yang mereka panggil Mantan Ketua(Kakek XU), Wakil Ketua(Bimo) dan terakhir adalah Nona atau Ketua mereka yaitu Alexi Arkana XU.
"Gimana byy?" Tanya Alisya yang menoleh ke arah Kenzo yang duduk tenang di sofa dalam ruangan itu.
"Biarkan saja" jawab Kenzo santai.
"Tuh kamu dengar katanya biarkan saja"
Sedangkan Clarissa dan Maya hanya bisa melongo mendengar jawaban santai Kenzo yang tak berfikir dua kali. Padahal racun yang di berikan oleh Clarissa mematikan.
"Tak perlu mengotori tangan untuk membunuhnya dan aku menepati janji ku pada papa" kata Kenzo dalam hati.
Sebenarnya Kenzo sudah ingin membunuh Wanita tua itu setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Saat wanita tua itu menjebaknya dengan obat perangsang. Tapi mengingat janjinya Kenzo mengurungkan niatnya. Bagaimana pun itu merupakan janjinya yang di pegangnya. Andaikan jika papanya masih hidup maka dapat di pastikan jika semua ini akan lebih mudah.
"Clarissa istrahatlah sebentar malam kamu akan melakukan operasi pengangkatan tumor ganas di kepalamu" kata Maya tiba-tiba membuat Clarissa kaget.
__ADS_1
Kris memang sudah memberi tahu mereka untuk mencari ginjal segera. Namun sebelum itu Clarissa harus menjalani operasi untuk mengangkat tumor di kepalanya.
Clarissa yang mendengar itu bukannya merasa senang malah terlihat murung dengan tatapan kosongnya.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat murung seperti itu? harusnya kamu senang? jika kamu pikirin tentang biaya tenang saja Kakak yang akan melunasinya. kamu hanya perlu diam dan menurut" kata Maya yang menghibur Clarissa.
Maya berfikir Clarissa murung karna soal tidak ada biaya. Jadi dia mengatakan akan melunasi semuanya.
"Untuk apa Kak?" tanya Clarissa pelan dan terdengar putus asa.
"Untuk apa? ya supaya kamu sembuh Rissa! kamu tenang saja setelah selesai operasi kamu juga akan melakukan operasi ginjal. kami telah mencarikan kamu pendonor jadi kamu hanya perlu beristirahat agar tidak stres"
"Untuk apa semua itu Kak Maya?" Rissa bukan mikirin biayai-nya, Rissa mampu kok untuk bayar semua itu. Tapi Rissa nggak mau berobat Rissa udah nyerah Kak. Rissa pengen ketemu Omma saja, Rissa ingin bersama Omma saja"
Krett
"Jadi kamu mau mati saja begitu?" tanya Ramos tiba-tiba yang menatap tajam Clarissa.
"Aku nggk mau hi....."
"CUKUP!" bentak Ramos yang membuat mereka semua kaget.
"Setelah kamu muncul mengacak-acak hidupku? membuat dadaku berdebar kencang, Menghadirkan rasa asing dalam hatiku, membuatku mencintaimu, Kamu ingin pergi begitu saja? Tidak bisa Clarissa! Aku tidak akan membiarkan kamu mati begitu saja. Kamu harus hidup untuk mendampingiku" Bentak Ramos yang menggebu-gebu.
"Lebih baik kita keluar" bisik Alisya ke telinga Maya.
Alisya dan Maya langsung memberi kode pada suami mereka masing-masing untuk keluar dari ruangan itu.
"Baby aku harus ke kantor ada meeting penting yang harus aku urus. Kamu jangan kemana-mana. Aku akan menyuruh Ariana dan Alya untuk datang menjagamu" kata Kenzo yang mengecup kening Alisya.
"Hati-hati byy"
Cup
Kenzo segera berbalik setelah mengecup Kening sang istri dengan mesra dan penuh kasih sayang.
"Saya aku....."
"Berhenti disana! jika mau pergi ya sudah kamu pergi saja" kata Maya ketus.
Maya tidak tahu jika biasa orang hamil akan manja pada suaminya. Maka dia berbeda, Maya justru merasa mual bila di dekati sang suami.
Dirga yang lagi lagi menerima penolakan sang istri hanya bisa pasrah. Berbalik lalu mengikuti langkah kaki sang Bos.
"Kamu kenapa kok malah gitu s Suami?" tanya Alisya kepada Maya.
"Aku nggak tahu tapi..... tiap dia mendekat aku mual Mulu" jawab Maya.
Kembali pada posisi Ramos dan Clarisa. setelah kepergian Alisya dan Maya kini kedua orang itu hanya diam dengan Ramos yang terus menatap tajam Clarissa.
__ADS_1
"Mencintaiku?" beo Clarissa yang menatap Ramos dengan pandangan yang sulit di artikan.
HAHAHAHAHAHA