
Setelah memutuskan untuk membunuh Melinda kini semuanya berkumpul di ruang bawah tanah.
Kenzo menatap datar kondisi Melinda, kondisi wanita yang melahirkannya itu. Wanita yang membuat dia bisa lahir di dunia ini. Akan tetapi, wanita itu pula yang berusaha untuk membunuhnya.
Wanita yang seharusnya memberinya kasih sayang dan rela mati demi anaknya kini justru terbalik menjadi seorang ibu yang menginginkan anaknya.
"Byy kamu tidak kasian padanya?" Alisya bertanya dengan suara pelan saat melihat wajah datar dari Kenzo.
"Jika aku yang dia usik aku tak apa tapi jika kamu yang dia usik maka akibatnya adalah kematian." Kata Kenzo dengan datar tapi tatapan matanya begitu hangat pada wanita yang berada di atas pangkuannya itu.
Alisya yang mendengar itu hanya tersenyum tipis baginya sudah cukup ia memberi waktu pada wanita tua itu untuk sadar. Akan tetapi, sampai saat ini wanita tua itu bahkan tak pernah sadar kata maaf pun tidak pernah keluar terucap di bibirnya yang telah keriput itu.
Sedangkan di sisi Melinda keadaan wanita tua itu benar-benar begitu mengerikan. Rambut yang botak dan badan yang kurus kering seperti orang yang kurang gizi belum lagi kedua tangannya membusuk akibat infeksi.
Di ibaratkan dalam tubuh wanita tua itu sudah tidak ada lagi daging yang menempel. Tubuh Melinda hanya tinggal tulang yang di lapisi oleh kulit.
"Ken....Kenzo kau kah itu nak?"
Suara lemah Melinda terdengar membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. Melinda memaksa matanya terbuka sempurna hingga bisa melihat jika Kenzo ada di depannya. Namun, matanya langsung memicing tajam saat melihat jika ada orang yang sangat di bencinya berada di pangkuan Kenzo. Siapa lagi jika bukan Alisya.
"Kau datang Nak? Kau ingin membebaskan Mami kan? Kau tahu wanita sialan itu terus menyiksa mami menjadi seperti ini. Mami ingin kamu menceraikan wanita sialan itu." Teriak Melinda yang menggila.
"Dirga cepat selesaikan! Berani sekali wanita tua itu menghina istriku." Kata Kenzo yang menatap tajam Melinda.
"Baik Tuan."
Dirga segera membungkuk kepada Kenzo kalau berbalik mendekati Melinda. Melinda yang melihat Dirga mendekatinya langsung tersenyum cerah. Akhirnya waktu itu tiba waktu ia keluar dari tempat mengerikan ini dan akan segera membalas dendam.
Namun, senyum cerah Melinda langsung pudar saat Dirga dengan tenang menarik sebuah katana yang begitu panjang dan tajam.
Wajah Melinda semakin pucat saat Dirga berjalan semakin mendekati dirinya.
"A.....apa ya ...yang mau ka.....kamu lakukan?" Melinda bertanya dengan suara yang terbata-bata karena gugup.
"Apalagi jika bukan memisahkan kepalamu dari badannya." Balas Dirga dengan enteng.
Mendengar itu Melinda langsung membulatkan mata lebar. Wajah Melinda langsung memutus seperti tepung beras. Wanita tua itu menggalang-gelengkan kepalanya dengan kuat jelas karena dia belum ingin mati.
"Ti....tidak ja...jangan Bu...bunuh a...aku..... Aku.... Aku hanya......Kenzo apa yang kamu lakukan Nak? Kamu ingin membunuh ibumu sendiri? Ingat Kenzo aku ibumu bukan musuh mu!" Teriak Melinda yang terus memberontak akan tetapi berakhir sia-sia karena tangan dan kedua kakinya di rantai dengan besi.
Sedangkan Kenzo yang mendengar teriakan dari wanita yang melahirkannya itu hanya membuang muka tanpa ekspresi. Baginya tidak ada siapapun yang boleh menyentuh Alisya jika ada maka hukumannya adalah kematian. Kenzo tidak akan memperdulikan dan memandang apakah dia wanita atau pria jika mereka berani mengusik ketenangan wanitanya maka dia akan habisi.
Slass
Kepala Melinda menggelinding di lantai kasar itu saat Katana yang dipegang Dirga memotong lehernya.
"Sudah Tuan." Lapor Dirga yang menunjukkan kepala di depan Kenzo.
"Bereskan!" Titah Kenzo yang mengangkat Alisya berbalik pergi dari ruangan itu.
"Kok disini sih byy?" Tanya Alisya saat Kenzo menurunkan dan membaringkan dirinya di atas kasur.
__ADS_1
"Waktunya tidur siang baby." Balas Kenzo yang menyelimuti Alisya sebelum dirinya ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri.
"Tapi....."
"Tidur siang!" Tekan Kenzo yang menatap datar Alisya.
Alisya yang melihat wajah datar hanya bisa mencebikkan bibir kesal.
Cup
"Jangan manyun-manyun mau ku makan hmmm?"
Alisya yang kesal langsung berbalik membelakangi Kenzo. Dengan mulut yang komat-kamit Alisya menarik selimut sampai lehernya lalu menutup Mata.
Kenzo yang melihat tingkah sang istri yang merajuk hanya bisa tersenyum tipis. Kenzo mendekat menyelipkan tangannya di bawah leher Alisya. Memeluk Alisya dari belakang.
"Dah bangun?"
Alisya yang baru membuka mata langsung mendongak saat suara berat dan seksi itu terdengar di pendengarannya.
"Aku lapar." Cicit Alisya yang menatap Kenzo dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh jangan nangis..... Oke kita makan..."
Dengan gerakan cepat Kenzo langsung menggendong Alisya model bridal style. Berjalan cepat menuju lift dan turun di lantai bawah.
Sampai di lantai bawah Kenzo langsung mendudukkan Alisya di meja makan.
"Mau kemana byy?" Kata Alisya yang mencegat lengan Kenzo yang ingin beranjak pergi.
"Tapi aku mau Kepin yang masakin." Rengek Alisya yang menggoyang-goyangkan lengan Kenzo seperti bocah.
"Kevin? Masakin?" Beo Kenzo yang menatap heran ke arah Alisya.
"KEPIN......! LAPAR.....! KEPIN....! LAPAR....!"
Kevin yang berada di kamarnya langsung terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan Alisya.
"Lapar?" Guman Kevin yang melirik jam di tangannya.
"****, aku lupa ini waktunya little girl makan siang." Umpat Kevin yang langsung berlari keluar dari kamarnya menuju meja makan.
"Little girl!" Kevin sampai di depan Alisya dan Kenzo dengan napas yang ngos-ngosan.
"Aku lapar!" Ucap Alisya yang langsung menatap Kevin dengan mata kucing andalannya.
"Eeem kamu tunggu sebentar little girl!" Kata Kevin yang mengelus rambut Alisya.
Kevin berbalik berjalan cepat menuju dapur memasak makanan untuk Alisya makan.
"Baby kamu makan saja masakan pelayan ya." Kata Kenzo yang masih ragu dengan Kevin.
__ADS_1
"Tidak! Aku mau masakan Kepin. Masakan Kepin enak tidak gambar seperti masakan para pelayan." Tolak Alisya mentah-mentah.
Hahhhhh
Kenzo yang mendengar penuturan dari Alisya sang istri hanya bisa membuang napas kasar. Dengan sangat terpaksa Kenzo duduk di samping sang istri.
"Sebenarnya bagaimana ceritanya kamu bisa kakak adik dengan si Tengil itu baby?" Tanya Kenzo.
Sebenarnya dari awal saat Paman Robert mengatakan jika Kevin dan Alisya adalah kakak adik itu membuat rasa penasaran Kenzo muncul.
"Kamu kan tahu sendiri byy bagaimana kehidupan aku di masa lalu. Aku hidup dan tidak dianggap di dalam keluarga Beatrix walau uang saku aku dapat tapi tetap saja aku merasa kesepian karena tak di beri kasih sayang. Aku akan sedikit merasa senang bila berteman dan bergaul dengan anak-anak kecil di jalanan." Terang Alisya yang menjeda ceritanya meminum air putih.
"Dulu untuk mencari teman yang tulus Aku bahkan sampai menjadi pengamen atau pengemis di lampu merah. Dari pekerjaanku itu hingga aku bertemu dengan Kevin yang ternyata pengamen juga. Bedanya adalah dia memang anak yatim piatu yang tak punya apa-apa. Dia mengamen untuk mencukupi kebutuhan dan makanan beberapa anak kecil yang dia rawat. Sejak saat itu aku mulai dekat dengannya begitu pula sebaliknya. Namun, saat umur aku sekitar 11 tahun tiba-tiba dia menghilang dan aku tidak tahu jejaknya lagi." Terang Alisya.
"Jadi kalian kena masa kecil?"
"Bisa jadi."
"Tara....... Makanannya dah jadi." Seru Kevin yang membawa nampan makanan.
Alisya langsung berbinar melihat sandwich di atas meja. Dengan gerakan cepat Alisya langsung menyerang memakan lahap sandwich itu.
"Eits mau kemana? Habisin sayurnya!" Titah Kevin yang menatap datar Alisya.
"Byy..... Aku tidak mau makan rumput itu." Rengek Alisya yang beralih kepada Kenzo.
"Sudah kalau tidak mau. Tidak perlu makan."
"Enak saja dia harus makan itu bagus untuk kandungan!"
"Tapi dia tidak suka!"
"Ikut aku!"
Kevin menyeret Kenzo ikut bersamanya menuju kamar yang di tempatinya yaitu terletak di belakang karna merupakan kamar pelayan.
"Kamu tidur di kamar ini?" Tanya Kenzo yang setengah percaya.
"Yah. Masalah?" Tanya balik Kevin sibuk mengajak-acak rak mejanya mencari sesuatu.
"Tapi ini kamar pelayan."
"Tak apa selagi aku berguna untuk little girl tidak apa-apa."
Kenzo yang mendengar jawaban dari Kevin tertegun ternyata pria itu telah berubah. Setidaknya Kenzo bersyukur sekarang tidak ada lagi musuh yang harus dia pusing kan.
"Nah ini dia."
"Baca baik-baik buku itu. Aku membelinya saat mengetahui jika little girl hamil." Ucap Kevin yang meletakkan sebuah buku ibu hamil di tangan Kenzo.
Kenzo hanya diam menatap dalam buku yang ada pada genggaman tangannya. Ternyata pria di depannya itu begitu perhatian kepada istrinya bahkan sampai membeli buku seperti itu untuk memantau makanan apa saja yang bisa dimakan oleh istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Kenzo yang berbalik keluar. Namun Baru beberapa langkah pemisahan kembali menghentikan langkahnya.
"Pindahlah di kamar tamu!" Kata Kenzo sebelum keluar.