
Ceklek
"Wah wah lihatlah! kau enak-enak duduk disini namun aku sebagai Daddy mu harus kesana Kemari mencari pekerjaan yang selalu di tolak dan di hujat karna mu ANAK PEMBAWA SIAL" teriak Edric menunjuk muka Alisya dengan telunjuknya.
Sedangkan Alisya yang mendengar itu hanya tersenyum sinis ke arah Edric yang sepertinya sedang menahan amarah yang besar.
"Untuk apa Tuan Edric yang terhormat datang menemuiku" tanya Alisya santai namun matanya tak bisa menyembunyikan kebencian dan dendam yang membara disana.
"Kamu pasti sengajakan membuatku tidak mendapatkan pekerjaan" tanya Edric.
"Kenapa? apa tidak ada yang mau menerima pria Tua seperti mu?" tanya Alisya penuh akan ejekan membuat Edric semakin meradang.
"Kau....."
"Aku tidak menyuruh siapapun tapi memang itu yang aku inginkan" potong Alisya tersenyum kemenangan.
BRAK
Emosi Edric langsung naik akan itu lalu menggebrak meja dan berteriak nyaring.
"DASAR ANAK PEMBAWA SIAL" murka Edric menatap Nyalang Alisya.
"Bukan aku yang pembawa sial. tapi kalian," tunjuk Alisya kepada Edric.
"KALIAN MEMBAWA PETAKAN DALAM HIDUPKU. KAU, ISTRIMU, DAN PUTRIMU YANG LICIK ITU ADALAH KUTUKAN UNTUKKU DAN SELURUH KELUARGAKU!" teriak Alisya dengan nafas yang memburu-buru.
Pandangan Alisya semakin menajam ke arah Edric membuat pria paruh baya itu gemetar di tempat.
"Kenapa tatapan matanya bisa setajam itu dan kenapa aku merasakan perasaan takut. firasat ku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi," batin Edric penuh tanda tanya.
"Untuk apa Tuan Edric yang terhormat datang ke perusahaan kecilku ini"
"Ini perusahaan ku S*****" umpat Edric.
"Dulu. sekarang milikku" balas Alisya dengan senyuman kemenangan yang semakin membuat Edric murka namun dia sadar hanya disini harapannya satu-satunya.
"Daddy ingin kamu pulang ke kediaman Beatrix dan biarkan Daddy yang memimpin kembali perusahaan kamu masih mudah habiskan masa mudah kamu dengan bahagia atau jalan-jalan bersama teman-teman kamu biar Daddy yang urus perusahaan" ucap Edric yang begitu lembut selembut sutra.
HAHAHAHAHA
Mendengar itu Alisya tertawa terbahak-bahak bahkan Alisya sampai menjatuhkan air matanya karna merasa lucu akan ucapan Edric barusan.
Jika orang lain yang mendengar dan melihat tatapan mata Edric dapat di pastikan mereka akan langsung percaya dan luluh tapi tidak dengan Alisya yang sudah hidup bertahun-tahun dengannya.
__ADS_1
"Tuan fikir saya akan luluh setelah mendengar perkataan Tuan yang penuh dengan kebohongan dan rencana itu. aku bukan lagi Alisya yang dulu yang begitu kalian bodohi dan Tindas sekarang aku akan melawan kalian semua satu persatu" ucap Alisya penuh seringaian licik di bibirnya.
"Sialan dasar anak pembawa sial" umpat Edric dalam hati menatap tajam Alisya.
"Kalau begitu berikan aku pekerjaan" bentak Edric.
"Bukannya Tuan tidak ingin kerja di bawah perintahku" ucap Alisya sinis.
"ALISYA" teriak Edric yang sudah sangat kesal.
"Oke baiklah. jika Tuan mau? Tuan bisa menjadi salah satu OB di perusahaan ku ini"
BRAK
"AKU MASIH PUNYA SAHAM DI PERUSAHAAN JADI BERIKAN AKU JABATAN YANG TINGGI" teriak Edric murka.
"Tidak akan lama lagi saham itu akan berpindah tangan mantan Daddy" kata Alisya dalam hati tersenyum miring.
"Baiklah jika begitu. Anda bisa menjadi Direktur utama di perusahaan ini karna hanya itu posisi yang tinggi yang kosong saat ini" kata Alisya tenang.
"Sial. sebenarnya aku tidak Sudi harus jadi babu dia tapi mau gimana lagi aku butuh uang" kata Edric dalam hati. Edric berjalan keluar dari ruangan Alisya tanpa pamit.
"Selamat datang di permainanku mantan Daddy" Guman Alisya tersenyum miring menatap punggung Edric.
Drett
Drett
Alisya melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Alisya langsung mengangkatnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Hallo"
"Hallo Nona"
"Ada apa"
"Nona Alexa merencanakan untuk membalas anda nona"
"Hm. tetap Awasi dan terus teror jika perlu buat dia menjadi gila"
"Baik Nona"
Tut
__ADS_1
Tut
Tut
"Satu persatu akan menerima balasannya di mulai dari putri kesayangan mu Alexa Briana Beatrix. aku ingin lihat bagaimana hancurnya seorang Edric Kaif Beatrix meyaksikan putri tercintanya itu terpuruk" ucap Alisya dengan seringaian di bibirnya.
"Aku harus menyusun rencana agar saham 15 itu aku dapatkan dengan begitu mereka akan benar-benar sengsara" guman Alisya memutar otak cerdasnya. Alisya memutar otak cerdasnya untuk merebut saham milik Edric.
Sedangkan di tempat lain terlihat Alexa baru saja keluar dari salon kecantikan. Kini wajah yang dulu beberapa hari terlihat kusam telah terganti kembali menjadi mulus dan terlihat lebih cerah dan halus.
"Aku harus menemui orang tua Leon terlebih dahulu karna Kenzo akan susah aku dekati jika aku tak punya dukungan. setelah Leon aku dapatkan maka aku punya dukungan tambahan untuk menyingkirkan Alisya baik dari perusahaan atau dari hidup Kenzo." ucap Alexa tersenyum licik membayangkan dia akan menyiksa habis Alisya nanti.
Dengan hati yang berbunga-bunga senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya Alexa melajukan mobilnya menuju kediaman SWARD karna dia sudah mengetahui kepulangan calon mertuanya itu melalui pelayan yang dia sewa disana.
Sampai di kediaman orang tua Leon dengan senyum yang merekah Alexa turun dari mobil lalu masuk kedalam mension tanpa ada yang menghentikannya karna mereka tahu jika Alexa adalah calon Nona mudah mereka.
Senyum Alexa semakin mereka melihat calon Ibu mertuanya sedang bersantai di ruang tamu.
"Mommy" Alexa berlari ke arah calon Ibu mertuanya.
"Mommy Alexa rindu sekali pada Mommy." ungkap Alexa memeluk tubuh Marissa.
Marissa yang tak lain adalah ibu kandung Leon tersentak merasakan pelukan Alexa. jika biasanya Ia akan langsung menyambut pelukan itu namun setelah melihat bukti-bukti nyata kejahatan Alexa, Marissa langsung jijik dengan sekali sentakan Marissa langsung melepaskan pelukan Alexa pada tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan" ucap Marissa menatap sinis Alexa.
Sedangkan Alexa yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung mengerutkan dahi menatap heran wanita paruh baya di depannya itu.
"Aku hanya memeluk Mommy karna Alexa rindu sudah lama kita tidak bertemu" jawab Alexa memasang wajah cemberut.
Jika dulu Marissa pasti langsung luluh karna melihat wajah cemberut Alexa tapi sekarang Marissa bahkan menatap sinis dan jijik Alexa.
"Berhenti memasang ekspresi menjijikkan mu itu. bukan terlihat lucu tapi kamu malah terlihat semakin menjijikkan" sarkas Marissa.
Alexa tertegun mendengar perkataan Marissa yang jauh dari ekspetasinya membuat Alexa pelan-pelan mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalannya.
"Mommy kok seperti itu" kata Alexa dengan mata berkaca-kaca yang membuat Marissa semakin muak.
"Berhenti memanggilku Mommy" tekan Marissa.
"Kenapa Mommy? aku ini tunangan Leon sekaligus calon istrinya?"
"Siapa bilang? yang akan menikah dengan Leon Itu Alisya bukan kamu. mana mau saya punya menantu yang licik dan miskin seperti kamu yang tidak punya apa-apa. hidup saja numpang kepada Alisya." sarkas Marissa.
__ADS_1
Dhuarrr