Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Derita Melinda


__ADS_3

Sreng......


"Selamat malah ibu mertua hihihi."


Melinda yang sedang tertidur di atas lantai dingin itu langsung melonjak kaget. Matanya membulat menatap segala arah mencari suara yang membuatnya hampir jantungan.


"Cari siapa ibu mertua? Aku disini! Di depan kamu hihihihi."


"Kamu....." Melinda membulatkan mata menatap tajam sosok yang berdiri di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah Alisya.


"Untuk apa kamu kesini wanita sialan.....!" Teriak Melinda menatap tajam Alisya.


Srettt


"Rupanya ibu mertua tidak tobat-tabatnya yah mengumpat ku dengan kata itu? Sepertinya pelajaran kemarin belum cukup membuat ibu mertuaku tersayang ini jera hihi?"


"A.....apa yang ka...kamu lakukan?" Suara Melinda bergetar menatap takut-takut pada Alisya yang kini semakin menarik rambutnya.


Melinda ingin sekali mencakar wajah Alisya tapi mau bagaimana kedua tangannya di borgol begitu pula kakinya yang di rantai. Sedangkan di lehernya di pasang kalung rantai yang seperti anjing.


"Baiklah mari kita bermain!" Alisya melepaskan jambakkan tangannya pada rambut Melinda. Alisya dengan santai berjalan maju hingga membuka kotak yang sudah di bawa-bawanya sejak dari kamarnya tadi. Terbukanya koper kecil itu mata Melinda langsung melotot tajam bahkan jika bisa keluar di pastikan bola mata itu akan keluar dari tempatnya.


"Apalagi yang akan di lakukan wanita gila ini. Kenzo sialan itu.... Bagaimana bisa menikahi wanita psikopat sepertinya sialan...!"


Melinda benar-benar sudah di butakan oleh keserakahan untuk menjadi orang kaya. Bahkan sejauh ini wanita tua itu tidak pernah menyesal sedikitpun tentang apa yang telah di lakukannya.


Jleb


AAAAAA


8k


L


Teriakan Melinda menggema dalam ruangan itu. Namun tak ada yang bisa menolongnya dari predator itu.


"Apakah rasanya enak?" Alisya bertanya dengan tampang polosnya.


"Wanita gila! Dasar psikopat!" Umpat Melinda yang menahan sakit saat lagi lagi wanita gila itu menusuk pahanya dengan pisau.


"Aku? Gila? Psikopat? Hm...... Aku tidak gila hanya psikopat tapi sedikit..... Sedikit okey." Balas Alisya yang justru tersenyum manis tanpa beban dan tanpa merasa bersalah sedikitpun telah melukai ibu mertuanya.


"Baik sedikit atau banyak? Tidak ada yang peduli dengan itu nona. Sekali psikopat tetap psikopat semuanya sama saja. Sama-sama kejam dalam menyiksa musuh." Parang anggota white Shadow hanya bisa berbatin dalam hati.


"Wanita sialan lihat saja setelah aku keluar dari sini aku juga akan segera menyingkirkan kamu dari muka bumi ini." Rencana Melinda yang telah menyusun rencana untuk membunuh Alisya seperti dia mencelakai Kenzo.


Melinda tidak tahu saja jika tepat itu akan menjadi saksi ia menjalani hidup penuh penderitaan sampai malaikat maut menjemputnya nanti.


Tak


"Aaaah tanganku.... Huhuhu dasar wanita sialan! Beraninya kamu membuat tanganku ca....."


Srettt


"Aaah wajahku,...!"

__ADS_1


Alisya tanpa perasaan memotong jari jempol Melinda menggunakan gunting di tangannya. Tak cukup sampai disana Alisya juga dengan rasa santai tanpa beban langsung menyayat pipi sang mertua hingga membuat luka memanjang di tulang pipi Melinda.


"Haaaah Nona benar-benar menakutkan jika sedang mode polos."


"Kau benar. Mungkin jika wanita lain di saat mode polos dia akan terlihat menggemaskan dengan segala tindakannya yang lucu. Akan tetapi, jika Nona yang berwajah polos seperti itu lebih baik aku menghadapi harimau 2 sekaligus."


" Yeah, kau benar. Kalian ingat saat kita di latih di hutan dan di suruh melawan binatang buas. Aku bahkan tak gencar sedikitpun tapi saat melihat tampang polos Nona itu benar-benar membuat kaki ku lemas."


"Apalagi aku, aku sepertinya ingin kencing di celana akibat dari Nona."


Pfffft


Alisya yang mendengar bisikan-bisikan dari anggotanya hampir menyemburkan tawa saat mendengar salah satu anggotanya yang berkata ingin kencing di celana. Walau begitu Alisya tidak menghukum atau melarang anggotanya untuk berkomentar.


Sekejam apapun Alisya dirinya akan tetap mengingat siapa ke 11 orang yang berada di sisinya. Mereka adalah orang-orang yang selalu menjaganya. Jika ketua lain yang begitu kejam saat sedang kesal maka anggotanya yang kena getahnya tapi itu tidak berlaku pada anggotanya.


"Oh aku lupa aku punya kabar gembira lho?" Ucap Alisya dengan masih memasang tampang polos. Namun, bagi Melinda itu seperti sedang mengejeknya.


"Aku sedang hamil! Jadi, kamu akan segera memiliki cucu dariku." Kata Alisya dengan senyum manis memamerkan deretan gigi putihnya.


Sedangkan Melinda yang mendengar ucapan Alisya langsung membulatkan mata. Bagaimana bisa ia memiliki cucu dari wanita gila di depannya pikir Melinda yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.


"Wanita sialan....! Aku tidak Sudi mempunyai cucu yang lahir dari rahim kamu yang rusak itu. Cucuku akan ikut gila karna mempunyai ibu wanita gila sepertimu...!"


Plak


Suara tamparan terdengar jelas di dalam ruangan itu. Membuat anggota Alisya langsung merinding seketika di buatnya. Alisya yang tadi memasang wajah manis kini berganti dengan wajah datar dan tatapan tajam yang bisa mengkuliti orang hidup-hidup.


"Jangan pernah menyumpahi bayiku! Kamu tahu? Seribu kalipun kamu berencana untuk keluar dan kabur dari penjara ini. Maka, seribu kali juga kamu akan gagal karna penjara ini adalah tempat yang akan menjadi saksi bagaimana aku menyiksamu sampai ajal menjemputmu wanita tua." Desis Alisya yang begitu penuh penekanan setiap katanya.


Srett


"Sepertinya pelajaran tadi tidak membuat wanita tua ini bungkam dan belajar untuk menyadarkan diri. Maka jangan salahkan aku jika aku membuat siksaan mu berkali lipat lebih kejam." Bisik Alisya di telinga Melinda.


"Ambilkan aku gunting itu!" Perintah Alisya pada bawahannya.


"A....apa lagi yang mau kamu lakukan?" Tanya Melinda dengan suara bergetar tapi sayangnya Alisya tidak menjawab pertanyaan dari Melinda.


"I....ini Nona" Pria yang menyodorkan gunting sampai gemetar tangannya.


Ting


Ting


Suara gunting yang di mainkan Alisya membuat Melinda semakin meringkuk ketakutan. Harusnya dari awal Melinda tidak memprovokasi Alisya tapi mau gimana bandel sih.


Sreek


Srekk


"Rambutku sialan.....! Lepaskan....!"


Alisya yang mendengar teriakan Melinda bukannya melepaskan. Justru semakin menarik rambut wanita tua itu. Tak lupa mengguntingnya asal dan penuh senyum kemenangan di bibirnya.


Srekk

__ADS_1


Srekk


Beberapa menit kemudian terlihat rambut Melinda yang telah di pangkas habis oleh Alisya. Tak hanya itu bahkan kulit kepala Melinda pun ikut terluka karena Alisya yang menggunting rambutnya secara acak dan menarik-nariknya.


"Begini ku rasa cukup hoaaam aku sudah mengantuk kita lanjut besok saja." Ucap Alisya dengan santai berbalik pergi meninggalkan penjara Melinda.


"Kalian awasi mainanku jangan sampai bunuh diri." Alisya memberi peringatan kepada anggotanya untuk memperhatikan Melinda.


Takutnya saat tidak mempunyai pilihan lain wanita tua itu nekat bunuh diri dan Alisya Alisya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setelah Apa yang di lakukannya pada suaminya, mencelakai anaknya sendiri, memisahkan Alisya dan Kenzo. Dengan dua hal alasan itu membuat Alisya yang tidak akan membiarkan Melinda mati dengan mudah.


Alisya telah berjanji pada diri sendiri akan memberikan hukuman dan penyiksaan yang begitu menyakitkan untuk melindas sampai di akhir hayatnya. Bagi Alisya tidak ada lagi rasa hormat yang patut di berikan untuk wanita tua itu. Tidak ada kata maaf lagi yang bisa dimaafkan dari kesalahan Melinda yang benar-benar begitu fatal.


Hanya karena sebuah harta membuat mata hatinya sebagai seorang ibu tertutup rapat.


Alisya berjalan menyusuri lorong-lorong rahasia itu dengan wajah datar dan tatapan kosong. Hingga beberapa menit berlalu Alisya sampai di dalam kamarnya. Alisya keluar dari kamar mandi berjalan ke atas ranjang dan naik lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk tersebut.


"Selamat malam byy, selamat malam baby! Sehat-sehat di dalam yah." Bisik Alisya yang mengelus perutnya dan mengelus bantai yang biasa di pakai oleh Kenzo.


Di tempat lain Kenzo yang tidak bisa tidur memilih keluar dari gubuk. Menatap bulan yang begitu bersinar terang di atas sana. Kenzo tidak tahu apa yang membuatnya begitu gelisah? Apa yang membuat hatinya gundah?.


Deg


Deg


Deg


Jantung Kenzo tiba-tiba berdebar kencang dadanya mulai sesak. Perasaan rindu? Itu rasa yang di rasakan Kenzo saat ini. Kenzo begitu merindukan yang entah siapa. Tak tahan dengan rasa yang semakin berdebar Kenzo berbaring di atas rumput hijau itu dan menutup matanya.


Wajah itu?


Wajah itu kembali menari-nari di depan Kenzo. Senyumnya, tawanya, dan tangisnya membuat dada Kenzo bisa berdebar kencang merasa senang dan sesak secara bersamaan.


"Siapa kamu? Kenapa aku merindukan kamu?" Bisik Kenzo yang tertiup oleh angin malam.


"Kenzo apa yang kamu lakukan di luar? Udara luar tidak bagus untuk kesehatanmu!" Pekik Robert yang berdiri berkacak pinggang di depan Kenzo.


Robert merasa haus keluar dengan niat mencari minum. Namun, saat di depan kamar Kenzo, Robert menyipitkan mata saat melihat pintu itu tidak tertutup rapat.


Robert yang merasa penasaran pun melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tempati oleh Kenzo. Sampai di sana Robert langsung membuka pelan pintu itu namun rasa cemas muncul saat tidak menemukan keberadaan Kenzo dalam kamar.


"Gimana anak itu di tengah malam seperti ini?" Guman Robert.


Robert segera berbalik menuju pintu keluar. Saat membuka pintu kedua mata Robert membulat sempurna saat melihat sosok yang di carinya telah membaringkan diri di depan rumah.


"Anak itu! Apa dia tidak ingin sembuh Dan pulang berkumpul bersama keluarganya? Dia baru sadar dan tubuhnya baru mulai pulih tapi dia sudah melakukan hal aneh." Gerutu Robert.


Dengan langkah kesal Robert berjalan cepat menuju Kenzo. Sampai di sanana Robert langsung berkacak pinggang menatap jengah Kenzo yang masih asyik menutup mata dengan terus tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Paman!" Kenzo yang melihat wajah galak Robert hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Paman, paman, paman! Ngapain kamu senyum-senyum seperti itu? Di tengah malam pula yang ada kamu di sangka kesurupan penunggu hutan!" Omel Robert


Kenzo yang mendengar penuturan dari Robert hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Cepat masuk!" Sentak Robert.

__ADS_1


Kenzo hanya menurut bangun dan melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah di ikuti Robert di belakangnya.


__ADS_2