Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Keputusasaan Ramos


__ADS_3

"Kapan kamu bangun Sweet" Guman seorang pria yang tengah menatap sang pujaan hati yang kini terbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit.


Sosok pria itu tak lain dan tak bukan adalah Ramos. Sedangkan sosok yang berada di atas brankar adalah Clarissa yang tengah mengalami koma.


Sejak pencangkokan ginjal 1 Minggu yang lalu Clarissa telah di nyatakan koma dalam waktu yang tidak bisa di tentukan kapan untuk sadar.


Selama itu pula Ramos selalu berada di sisi gadis itu. Ramos selalu berusaha mengajak gadis itu untuk berinteraksi. Ramos selalu berbicara dengan Clarissa walau Clarissa tidak membalasnya tapi Ramos tahu jika di alam bawah sadar gadis itu mendengar semua ucapannya.


"Kamu harus cepat bangun. Kamu tahu...? Aku sungguh merindukan kamu sweet" bisik Ramos di telinga Clarissa tak lupa mengecup kening gadis itu begitu dalam.


Ramos dengan pelan menjauhkan dirinya dari Clarissa sebelum berbalik keluar dari ruangan itu.


Ramos menjalankan kakinya hingga sampai di depan ruangan yang menjadi tujuannya sekarang.


Ceklek


"Sialan!"


Brak


Ramos mengumpat kesal saat memasuki ruangan Kris matanya langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuatnya kesal sekaligus iri.


Bagaimana tidak iri? Di dalam ruangan sana telah terjadi adegan yang begitu intim dan mesra.


"Kenapa tidak menutup pintu coba" Gerutu Ramos yang mengingat kejadian barusan yaitu Kris sedang berciuman dengan seorang wanita.


Huuuuuh


Mengingat itu Ramos Hanya bisa menarik nafas dan mengacak rambutnya kasar. Jauh di dalam lubuk hatinya Ramos menginginkan Clarissa agar cepat sadar dari masa ke komanya. Rasanya hidupnya benar-benar sepi dan hambar tanpa bisa melihat tatapan teduh gadis itu.


"Hey.... Bro Ayo masuk" ucap Kris yang membuka pintu mengajak Ramos untuk masuk ke dalam.


"Lain kali jika ingin bercinta tutup pintunya" sindir Ramos dengan pedas.


"Ck ini ruanganku terserah mau aku apakan. Lagi pula itu salahmu yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu" balas Khris dengan santai.


Ramos yang mendengar balasan Kris hanya bisa berdecih kesal. Masih dengan muka masam Ramos perjalanan masuk dalam ruangan Kris.


"Kamu......"


"Selamat siang Tuan" sapa wanita itu yang langsung berdiri membungkuk hormat kepada Ramos.

__ADS_1


"Sudah honey tidak perlu membungkuk terhadap Playboy insaf ini" ucap Kris yang langsung memeluk mesra pinggang sang wanita.


"Tapi dia tetap wakil ketua" balas wanita itu dengan senyum kaku.


"Tidak apa-apa" ucap Kris yang mengecup kening sang wanita yang merupakan kekasih misteriusnya.


"Kalian........"


"Kami sepasang kekasih bahkan hubungan kami sudah berjalan satu tahun lamanya" ucap Kris begitu santai.


Bagi Kris tidak ada gunanya untuk menutupi apa yang terjadi kepada pria di depannya itu. Jika mengelak pun juga percuma karena Ramos merupakan orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya.


"Alvaro sudah tahu akan hal ini?" Tanya Ramos yang menatap datar pria yang merupakan salah satu sahabatnya itu.


"Tidak, karena Alya belum siap untuk membicarakan hal ini." Kata Kris yang mengelus lembut pucuk kepala wanita di sampingnya yang merupakan kekasihnya yang tak lain dan tak bukan adalah Alya adik kandung Alvaro.


"Kenapa?" Tanya Ramos yang menatap Alya dengan intens.


"Aku takut ke Alvaro marah Selain itu aku juga menjaga perasaan kak Alvaro. Aku takut jika Kak Alvaro mengetahui Aku mempunyai kekasih dia tidak akan berani mengungkapkan perasaannya kepada Ariana" ucap Alya yang menundukkan kepalanya.


Ramos yang mendengar alasan dari wanita yang menjadi adik kandung dari sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Dasar bodoh" Guman Ramos yang tersenyum miris.


"Cih bukan hanya dia tapi kamu juga sangat-sangat bodoh. Asal kalian tahu Alvaro menahan perasaannya karena masih memfokuskan diri untuk menjaga alias sebagai adiknya. Karena jika nanti Alvaro mempunyai seorang kekasih maka perhatian Alvaro pasti akan terbagi. Dan Alvaro tidak menginginkan itu. Dia tidak ingin menyakiti salah satu wanita yang berarti dalam hidupnya di satu sisi adiknya dan di satu sisi lagi kekasihnya yang merupakan wanita yang di cintainya." Kata Ramos yang panjang kali lebar.


Mendengar penuturan dari Ramos barusan membuat Alya dan Kris saling pandang dengan pemikiran masing-masing.


"Mengapa kamu mengetahui akan hal itu?" Tanya Kris yang mengernyitkan alis menatap Ramos penuh selidik.


"Walau selama ini aku terus mendesaknya untuk mengungkapkan perasaannya bukan berarti aku tidak mengerti keadaannya. Alvaro mempunyai tiga peran sekaligus dalam hidup Alya. Pertama sebagai Ayah yang menjaga dan memastikan keamanan Alya. Kedua sebagai ibu yang memberi cinta dan kasih sayang kepada Alya. Dan ketiga sebagai Kakak yang memanjakan dan melindungi Alya. Kalian harus mengerti menjalankan 3 peran itu tidaklah mudah" kata Ramos yang terdengar bijak dan tegas.


"Apa yang aku lakukan? Secara tidak sadar aku sendiri yang menahan perasaan Kak Varo agar di simpannya dalam diam" kata Alya dalam hati yang meremas tangannya sendiri.


"Sudahlah. Aku kesini ingin menanyakan tentang Clarissa" kata Ramos yang duduk di sofa depan Kris dan Alya.


"Semua baik-baik saja bahkan gadis itu maksudku Clarissa baik-baik saja dalam keseluruhan. Biasanya ginjal yang baru terpasang akan menolak atau bekerja lambat tapi semua normal. Mengenai rambutnya yang rontok itu karna efek samping dari tumor di kepalanya" jelas Kris.


"Lalu kenapa dia bisa seperti ini bahkan koma? Sementara dia tidak mengalami apa-apa?" Ramos bertanya dengan menahan amarahnya.


"Itu juga yang tidak aku mengerti. Tapi menurut kedokteran jika sudah seperti ini berarti Clarissa terjebak di alam bawah sadarnya atau dia mempunyai keinginan kuat untuk tidak bangun lagi dalam kata lain dirinya sendiri yang menolak untuk bangun" ucap Kris panjang kali lebar.

__ADS_1


Deg


Mendengar penjelasan dari Kevin membuat Ramos langsung menegang. Tentu Ramos tahu akan hal itu. Walau dia selalu menyemangati gadis itu untuk bertahan tapi Ramos tahu gadis itu selalu menanamkan dalam otaknya bahwa dia hanya ingin mati.


Tanpa Ramos sadari tangannya langsung mendingin dengan degup jantung yang semakin kencang membuatnya sesak.


"Jika.......itu terus menerus maka....?" Ramos tidak sanggup lagi melanjutkan pertanyaannya.


"Maka hanya ada kematian." Ucap Kris yang terdengar tegas dan penuh penekanan.


Deg


"Tidak! Katakan padaku cara bagaimana membuatnya bangun Kris! Aku pasti akan melakukannya. Katakan padaku!"


"Jika dia seperti ini terus..... Kamu tidak punya pilihan lain Ramos selain jalan melepaskannya untuk pergi selamanya"


Brak


Ramos yang tak tahan dan tak bisa menerima apa yang di katakan Kris langsung memukul meja kaca di depan mereka hingga pecah.


"Jangan becanda Kris jika tidak kamu benar-benar aku bunuh" Ucap Ramos yang langsung berdiri menatap tajam Kris.


Glek


Kris yang melihat kemarahan Ramos langsung menelan ludah kasar. Ramos memang tidak pandai menyiksa lawan atau musuh tapi pria itu terkenal dengan julukan Tangan dewa mematikan. Tangan kosongnya itu membunuh musuh dengan satu kali serangan saja.


"A....aku tidak becanda Mos.... Aku serius! Tidak ada jalan lain jika dia seperti itu terus. Jalan terbaiknya adalah melepaskannya agar dia tidak semakin menderita karna terus di tahan" kata Kris yang terbata-bata.


"Tidak. Dia harus bangun jika tidak akan aku ratakan rumah sakit ini" teriak Ramos murka.


Dengan langkah lebar membawa amarah Ramos berjalan cepat keluar dari ruangan Kris. Tak lupa pula Ramos membanting pintu untuk menunjukkan kekesalannya.


Ceklek


Ramos berjalan pelan memasuki ruangan wanita yang di cintainya yang tak lain dan tak bukan adalah Clarissa. Tangannya terulur mengelus lembut rambut Clarissa yang semakin hari semakin berkurang karna rontok.


Cup


Ramos mengecup lembut kening sang wanita yang masih setia menutup mata itu. Di tatapnya wajah pucat sang gadis yang sudah begitu tirus karna berat badan yang turun.


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama oleh matamu. Aku mohon bukalah matamu Clarissa. Aku selalu menunggu mu sweet. I love you Kim Clarissa" bisik Ramos dengan suara tercekat.

__ADS_1


Tes


Tanpa Ramos sadari air mata itu jatuh dari matanya hingga jatuh mengenai kelopak mata Clarissa.


__ADS_2