
"Byy ayo kita juga ikut pergi." kata Alisya beranjak turun dari pangkuan Kenzo.
"Kemana baby?"
"Melihat sedikit pertunjukan"
Alisya dan Kenzo segera berjalan keluar dari markas lalu masuk dalam mobil mengikuti mobil yang membawa Edric ke stasiun kereta api.
Sampai disana Alisya langsung turun di ikuti oleh Kenzo sedangkan Edric beserta istri dan anaknya hanya bisa berdiam diri di dalam mobil karna mereka sudah bius.
Alisya tersenyum miring saat mendengar suara rek kereta api semakin mendekat. Tanpa banyak bicara Alisya langsung masuk ke dalam mobil yang di tumpangi oelh Edric.
Wusssh
BRAK.......
"BABY.....!"
"NONA....."
Kenzo langsung terduduk lemas di tanah saat melihat mobil yang di kendarai Alisya terseret kereta api.
"Tuan...."
Ramos mendekat ke arah Kenzo namun Kenzo tak menggubris panggilan Ramos matanya terus menatap ke depan dengan kosong.
"Baby kenapa harus seperti ini? Jika aku tau balas dendam mu akan melibatkan diri kamu sendiri aku tidak akan mengizinkannya tidak akan" guman Kenzo.
"Tuan..."
"Apa yang kalian lihat cepat kejar mobil itu pastikan wanitaku selamat jika tidak akan aku penggal kepala kalian semua!" teriak Kenzo yang menggila.
Ramos dan anak buahnya langsung berlari kocar kacir menaiki mobil dan mengikuti kereta api yang masih terus menyeret mobil Alisya.
Beberapa menit kemudian Ramos kembali dengan kepala yang di tundukan. Ramos tau kabar ini pasti akan mengguncang Tuannya itu tapi mau gimana lagi dia harus menerima akibatnya jika harus di amuk oleh Tuannya.
"Kenapa anda harus melakukan ini Nona? Kenapa Nona datang membawa setitik harapan tapi Nona kembali renggut dengan paksa harapan itu." kata Ramos dalam hati menatap Kenzo yang masih berada di posisi yang sama yaitu terduduk di tanah dengan menatap kosong di depan sana.
"Bagaimana?" Kenzo bertanya dengan datar namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Maaf Tuan kami gagal mencegahnya dan mobil itu masuk jurang dan meledak" lapor Ramos.
Deg
Dunia Kenzo saat itu juga runtuh setetes air matanya jatuh dari pelupuk matanya mata yang biasanya dengan tatapan tajam kini mata itu hanya bisa menatap sendu.
Dengan amarah yang membuncah Kenzo berdiri lalu menghajar Ramos dan beberapa anggotanya dengan brutal.
"Bagaimana cara kerja kalian ha.....? Hanya menyelamatkan 1 nyawa kalian tidak bisa" teriak Kenzo yang mengamuk.
Bugh
Bugh
Krek
Krakk
"Byy......"
__ADS_1
Panggilan lembut dan lemah itu membuat pergerakan tangan Kenzo berhenti di udara. Dengan pelan ia menoleh ke belakang matanya langsung memerah saat melihat jika sosok yang dia cintai berdiri disana.
"Baby" guman Kenzo yang langsung berlari memeluk sosok itu tak lain adalah Alisya.
Grep
Kenzo memeluk erat tubuh Alisya berulang kali dia layangkan kecupan di ubun-ubun Alisya. jantungnya hampir keluar dari dadanya saat melihat mobil itu di seret kereta api.
Kenzo tidak tahu apa yang akan terjadi jika Alisya pergi dari hidupnya. dulu ia nampak biasa tanpa kehadiran wanita di sisinya namun saat bertemu Alisya jalan poros kehidupannya berubah. Alisya adalah setitik cahaya yang datang mewarnai kehidupannya sedikit demi sedikit hingga kehidupannya penuh akan warna baru.
Bagi Kenzo, Alisya adalah sumber kebahagiaan dan kehidupannya jika Alisya tidak ada Kenzo tidak yakin masih bisa bertahan hidup tanpa arah.
"Ssst"
Alisya meringis kesakitan saat Kenzo yang terus mempererat pelukannya tanpa menyadari jika Alisya terluka.
"Tuan.... Nona Alisya kesakitan." ucap Ramos spontan.
Mendengar ucapan Ramos sontak Kenzo langsung melepaskan pelukannya lalu menatap Alisya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Kenzo Membelalakkan mata saat melihat keadaan Alisya yang penuh akan luka.
"Ramos masuk dalam mobil" teriak Kenzo lalu tanpa aba-aba menggendong Alisya model bridal style.
"Cepat.....!" Kenzo berteriak nyaring membuat Ramos dengan cekatan langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi menuju markas.
"Apa yang kamu lakukan baby?" ucap Kenzo dengan suara bergetar melihat orang yang amat sangat dia cintai terluka.
Alisya hanya bisa tersenyum tipis mengelus lembut rahang Kenzo yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak akan mati dengan begitu mudah apalagi masih ada dendam yang harus......" perkataan Alisya langsung di potong oleh Kenzo.
"Tidak....! jangan lakukan apapun lagi biarkan aku saja yang menuntaskan dendam mu kamu jangan lagi. aku mohon" Kenzo berkata dengan nada memohon.
"Maaf tapi ini aku sendiri yang harus aku selesaikan." tolak Alisya membuat Kenzo semakin menatap ya sendu.
"Bagaimana aku percaya di saat aku menyaksikan sendiri dengan mata kepala ku sendiri kamu menabrakkan diri seperti tadi. aku takut....... aku takut kamu pergi" kata Kenzo kembali memeluk kembali Alisya namun tidak seerat tadi.
"Aku akan baik-baik saja. tinggal sedikit lagi,sedikit lagi semua akan segera berakhir." ucap Alisya yang mencoba menyakinkan Kenzo.
"Baiklah tapi kamu harus berjanji kamu tidak akan terluka lagi." kata Kenzo.
"Hm semua akan berjalan sesuai keinginanku." kata Alisya yang hanya bisa menganggukkan kepala.
"Walau aku tidak yakin jika aku tidak akan terluka mengingat mereka juga mempunyai dukungan kuat di belakangan mereka meskipun dukungan utama telah aku bumi hanguskan." lanjut Alisya dalam hati.
Sampai di markas Kenzo dengan sekali tarikan langsung menggendong Alisya dan membawa ke ruang kesehatan
Brak
"Obati dia jika dia kenapa-kenapa maka kepala kalian gantinya." perintah Ke zo pada bawahannya.
"Baik Tuan."
Kenzo segera menaruh Alisya di atas brankar deng hati-hati seperti meletakkan berlian yang sedikit saja tersenggol akan tergores.
Sedangkan di tempat lain Dirga tengah sibuk mengerjakan tumpukan berkas-berkas di atas mejanya hingg di sadarkan dari konsentrasinya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Masuk" teriak Dirga.
Ceklek
"Pria Kaku"
Mendengar panggilan yang tak dia mengerti Dirga langsung mengangkat kepalanya hingga melihat sosok yang membuatnya kesal berdiri di depan sana.
"Ada apa Nona Maya" Dirga berkata dengan datar dan dingin lalu mulai sibuk dengan berkas di tangannya kembali.
"Pria ini....." guman Maya yang kesal lalu berjalan cepat dan duduk di depan meja kerja Dirga.
Srek
Dirga hanya melirik saat mendengar suara kursi yang di tarik.
"Hey pria kaku kita di perintahkan oleh Alisya alias calon Nyonya mu itu untuk menuju markas Tuan kamu. S.E.K.A.R.A.N.G" kata Maya penuh penekanan.
Mendengar itu Dirga langsung menghentikan pergerakan jarinya lalu menatap sekilas Maya sebelum meletakkan berkas itu dan beralih mengambil jasnya yang ada di punggung kursinya lalu mengenakannya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Sampai kapan anda berdiam diri disana Nona" kata Dirga datar kepada Maya yang hanya melongo.
"Pria itu....... Dasar pria kaku s****n" umpat Maya yang berlari mengejar langkah lebar Dirga.
"Kita naik mobil masing-masing." kata Dirga datar.
"Enak saja aku nebenglah. aku kesini tuh naik taksi bukan naik mobil pribadi" ujar Maya dengan kesal masuk dalam mobil Dirga tanpa di persilahkan.
Dirga yang melihat Maya hanya masuk seenak jidatnya hanya bisa menghela napas dan menghidupkan mobilnya lalu pergi dari kawasan perusahaan.
Brum
Brum
Brum
"Lagipula kenapa Nona tidak membeli mobil saya rasa uang nona cukup untuk membeli mobil yang hanya ratusan juta." kata Dirga dengan santai namun tidak dengan Maya yang sudah mengepalkan tangannya matanya langsung menatap tajam Dirga.
"Ratusan juta katamu? bagi kamu itu hal sedikit tapi tidak dengan aku." teriak Maya.
"Apanya yang tidak bukannya penghasilan dari restoran anda ratusan juta." kata Dirga sinis.
Tanpa Dirga ketahui ia sudah menyinggung suatu kelemahan Maya. Suatu hal yang membuat Maya mengingat kembali darimana dia berasal dan bagaimana dia berjuang hingga sampai sekarang.
"Anda memang yatim piatu Tuan tapi anda tidak menghadapi kesulitan seperti yang saya rasakan. Hidup di jalanan lintang lantung tanpa arah, di hina dan di kucilkan, bahkan hanya untuk sesuap nasi kami harus berjuang antara hidup dan mati."
"Memang benar penghasilan yang saya dapat sekarang ratusan juta namun daripada membeli barang yang saya bisa pakai pribadi kenapa saya tidak membangun suatu hal yang bisa bermanfaat untuk orang lain khususnya orang yang tak mampu." Maya menarik napas lalu mulai melanjutkan ceritanya.
"Anda tahu sekarang banyak anak-anak yatim yang tidak memiliki pendidikan, Banyak orang tua rentan yang di buang di jalanan, banyak orang miskin yang sakit, di kota ini banyak Rumah Sakit Besar, Sekolah yang menerimah siswa beasiswa, Dan banyak panti Jompo"
"Tapi apa anda tahu berapa kejamnya tempat-tempat itu? Orang sakit miskin di tolak oleh rumah sakit besar karna tak punya uang jangankan Rumah sakit, Klinik pun melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama pula, Sekolah menerimah beasiswa tidakkah anda tahu jika ada kerap kali korban bully dengan alasan hanya karna tak mampu dan sekolah dengan beasiswa, banyak panti Jompo tapi taukah anda jika mereka kadang tidak menerimah yang miskin, dan banyak panti asuhan namun sayangnya mereka tidak mendapatkan donatur tetap hingga harus anak panti yang bekerja mencari kebutuhan mereka sendiri."
"Saya lebih memilih menghamburkan uang saya dengan mendirikan Rumah sakit kecil, panti asuhan yang layak pakai, panti Jompo yang luas dan sekolah gratis karna saya sadar saya berasal dari sana" kata Maya mengakhiri ceritanya.
Deg
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa mampir di Novel baru Author yah di jamin nggak kalah seru dengan novel ini😁