Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Masih Ragu


__ADS_3

"Kamu ingin makan dimana" tanya Kenzo kepada Alisya.


"Restoran Maya" jawab singkat Alisya.


"Hm" Kenzo hanya berdehem sebagai jawaban lalu kembali fokus menyetir dengan satu tangan sedangkan tangan yang satunya sedang sibuk menggenggam tangan Alisya.


Sedangkan Alisya hanya diam sesekali ia akan melirik Kenzo lalu melirik genggaman tangan mereka.


"Sudah sampai" kata Kenzo membuyarkan lamunan Alisya lalu dengan cepat Alisya melihat keluar ternyata sudah di depan restoran milik Maya.


"Hm" Dehem Alisya lalu bersiap membuka pintu mobil tapi di hentikan oleh Kenzo.


"Baby kenapa bisa Maya menjadi pelayan sementara dia adalah pemilik restoran" Kenzo mengukung tubuh Alisya pada sandaran kursi sehingga jarak keduanya begitu dekat.


"Ini terlalu dekat" batin Alisya gugup menatap wajah Kenzo yang bertambah tampan saat di lihat dari jarak sedekat ini.


"A...aku ti..tidak tau" jawab Alisya dengan gugup. bukan gugup karna tentang kebohongannya yang akan terbongkar tapi gugup karna jarak wajahnya dengan Kenzo begitu dekat hingga membuat kinerja jantungnya berpacu dari kata normal.


"Kau tidak membohongi aku kan Baby" kata Kenzo tepat di wajah Alisya.


"Apa kamu akan marah" cicit Alisya menatap sendu Kenzo.


"Tidak. mana mungkin aku bisa marah" kata Kenzo.


"Apapun itu aku tidak akan mempermasalahkan. cukup kamu berada di sisiku itu lebih dari cukup" lanjut Kenzo dalam hati.


Cup


"Aku mencintaimu" ungkap kenzo tersenyum manis setelah mencium pipi Alisya.


"Hm" Alisya hanya berdehem lalu segera turun dari mobil dan masuk ke restoran guna untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah semerah tomat karna malu. sedangkan Kenzo hanya bisa terkekeh melihat Alisya yang pergi meninggalkannya begitu saja.


"Akan aku pastikan aku akan segera memiliki hatimu Alisya" Guman Kenzo dengan senyum menawan di bibirnya lalu turun dari mobil dan masuk menyusul Alisya.


BRAK


"MAYA...." teriak nyaring Alisya membuat Maya yang sedang serius menatap Leptop langsung menatapnya tajam.


"Alisya" Maya segera berdiri berjalan cepat ke arahnya lalu memeluk Alisya.


"Akhirnya kamu kembali" ucap Maya sendu.


"Ya aku kembali dan kali ini aku siap untuk membalas dendam" kata Alisya.


"Ya seharusnya dari dulu kamu sudah membalas mereka bukan malah mengemis kasih sayang mereka" kata Maya dengan kesal.


"Waktu itu aku terlalu bodoh" balas Alisya tampak santai duduk di sofa ruangan Maya.


"Kamu kesini naik apa?" tanya Maya.


"Aku bersama...." Alisya tak melanjutkan perkataannya melainkan langsung berdiri lalu keluar dari ruangan Maya dan turun ke lantai satu.

__ADS_1


"Bodoh kau Alisya" umpat Alisya mengedarkan pandangannya di lantai satu hingga tatapannya terhenti di salah satu meja di sudut ruangan dengan segera Alisya berjalan ke arah meja itu.


"Maaf aku meninggalkanmu" Ungkap Alisya saat sudah di depan Kenzo.


"Duduklah dan pesan makanan" kata Kenzo datar.


Alisya yang mendengar nada datar Kenzo langsung duduk di depan Kenzo lalu datanglah pelayan dengan segera Alisya memesan makanan.


"Sial....kenapa aku malah takut seperti ini" gerutu Alisya dalam hati.


"Kamu marah karna aku meninggalkan kamu?" Alisya bertanya dengan bodoh membuat Kenzo seketika terkekeh.


"Mana bisa aku marah jika dia semenggemaskan ini" kata Kenzo dalam hati.


"Tenanglah aku tidak marah" kata Kenzo mengambil tangan Alisya lalu mengecup punggung tangan Alisya membuat sang empunya tersipu malu.


Baru saja Alisya membuka mulut untuk bicara tapi ke buru pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Makanlah"


Mereka berdua akhirnya makan dan sesekali baik Kenzo maupun Alisya akan saling melemparkan pertanyaan mengenai kesukaan atau keseharian guna untuk saling mengenal lebih dekat.


"Aku merasa nyaman dekatnya tapi aku tidak boleh mencintai dia secepat ini" batin Alisya menatap dalam Kenzo.


"Ken...aku masih ingin disini kebetulan ada hal yang harus aku bicarakan dengan Maya" kata Alisya.


"Baiklah. nanti jika kamu ingin pulang kamu hubungi saja aku oke" kata Kenzo.


Kenzo mengelus kepala Alisya lalu berjalan menuju pintu keluar sedangkan Alisya menuju ke lantai dua tempat ruangan Maya.


Tanpa Alisya dan Kenzo ketahui ada seseorang yang melihat interaksi mereka berdua sedari awal sampai akhir.


"Akhirnya aku menemukan kelemahan mu Kenzo Devandra Keano" Desis sosok pria yang memerhatikan Kenzo sedari tadi.


"Akan aku pastikan kali ini kamu akan menangis darah" Guman pria itu menyeringai licik.


"Tuan apa yang akan kita lakukan" tanya orang di sampingnya.


"Cari tau tentang gadis itu dan kirimkan anggota kita untuk mengawasi gadis itu" perintah pria itu.


"Baik Tuan" jawab pria di sampingnya.


"Sudah ayo kita kembali" pria itu lantas beranjak berdiri di ikuti pria di sampingnya yang juga mengikuti pria itu.


"Tak ku sangka aku menemukan hal yang menarik hari ini. berita ini akan menjadi berita heboh jika para musuh Kenzo mengetahui akan keberadaan gadis itu." pria itu tersenyum misterius menatap lantai dua tempat Alisya naik tadi.


Sedangkan di tempat lain terlihat dua orang gadis duduk saling berhadapan dengan serius. kedua gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Maya dan Alisya.


"Bagaimana latihan beladiri mu Maya" tanya Alisya serius.


"Tenang saja. walau aku tak bisa mengalahkan kamu tapi aku mampu menghadapi 20 orang sekaligus" jawab Maya tegas.

__ADS_1


"Baguslah jika begitu tak sia-sia aku mencarikan kamu guru beladiri berilmu tinggi" balas Alisya.


1 bulan yang lalu sebelum kepergiannya Alisya sudah menyiapkan guru beladiri dan tembak untuk Maya. Alisya mempunyai firasat hidupnya sepertinya tidak akan setenang seperti dulu apalagi ia memutuskan untuk membuka hati untuk Kenzo yang dapat di pastikan musuh Kenzo akan mengincar dirinya juga dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengincar orang-orang terdekat Alisya juga.


"Lalu bagaimana dengan rencana balas dendam mu kepada mantan keluarga kamu itu" kata Maya yang tak sabaran melihat Alisya balas dendam.


"Tenang saja semua sudah tersusun rapi tinggal menjalankannya" jawab Alisya.


"Kapan kamu mulai" tanya Maya semangat.


"Hari itu akan segera tiga" jawab ambigu Alisya tersenyum misterius.


"Tapi kapan Alisya? dari dulu juga kamu bilang gitu tapi nggak pernah terjadi kan?" tanya Maya gregetan sendiri karna ulah sahabatnya itu.


"Tiga hari lagi, aku akan membawakan hadiah ulang tahun paling istimewa untuk saudari kembar ku tersayang, hadiah yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya" desis Alisya mengepalkan kedua tangannya dengan surat mata tajam penuh akan dendam lalu tiba-tiba menyerigai membuat bulu kuduk Maya merinding.


"Mampus kalian keluarga sampah! ku rasa kali ini Alisya benar-benar akan membalas dendam dan entah kenapa aku merasakan aura Alisya berbeda dengan 1 bulan lalu ini lebih menakutkan" kata Maya dalam hati menatap ngeri Alisya yang terlihat masih menahan emosi terbukti dengan tangannya yang masih mengepal dan matanya yang masih menyorot tajam.


"Dan aku membutuhkan bantuan kamu" kata Alisya tiba-tiba membuat Maya tersentak karna sekian lama bersahabat dengan Alisya baru kali ini Alisya meminta bantuannya yang menandakan Alisya membutuhkannya juga.


"Aku ingin kamu meretas CCTV tersembunyi di kediaman Beatrix" kata Alisya serius.


"Emang ada?" kata Maya dengan mengangkat satu alisnya.


"Ada karna sebelum kakek meninggal kakek pernah bilang jika di kediaman itu penuh akan CCTV tersembunyi" kata Alisya.


"Itu berita bagus. Tunggu!"


"Setelah sekian lama pensiun akhirnya aku kembali" Guman Maya lalu mulai mengotak Atik leptop di depannya. jari-jarinya menari dengan indah dan cepat di atas keyboard sedangkan Alisya nampak duduk santai menunggu.


"Dapat" seru Maya tersenyum puas menekan kata Enter lalu terlihatlah semua penderitaan Alisya dari kecil hingga dewasa membuat Maya mengepalkan kedua tangannya lalu menatap sendu Alisya.


"Tak perlu memberikan aku tatapan iba seperti itu." kata Alisya Dingin karna ia sangat membenci orang-orang yang menatapnya kasihan atau iba.


"Maaf" ucap Maya pelan menundukkan kepala.


"Saling semua video itu disini." perintah Alisya menyodorkan flashdisk.


"Itu akan menjadi senjata yang paling ampuh sekaligus berbisa" Alisya menyeringai dengan kejam.


"Lihatlah karna ketidakadilan orang tua kalian mengubah gadis polos nan lugu menjadi kejam seperti ini" kata Maya dalam hati menatap sendu Alisya.


"Sudah" Maya menyerahkan kembali flashdisk itu kepada Alisya.


"Maya aku ingin mengatakan sesuatu" kata Alisya serius dan Maya hanya terdiam menunggu apa yang akan di sampaikan Alisya selanjutnya.


"Kita akan kembali bereaksi hanya saja akan sedikit berbeda dari yang dulu" kata Alisya.


"Maksud kamu?"


"Kali ini kita tidak hanya berdua melainkan berkelompok" kata Alisya dengan senyum misterius

__ADS_1


__ADS_2