
"Kamu pikir dengan permintaan maaf kamu itu? Foto itu kembali utuh ha...?" kriteria Kenzo di depan wajah Yoona dengan mencekram dagu Yoona semakin keras.
"Tu... Tuan itu hanya sebuah foto" Kata Yoona dengan meringis sakit karena kuku tajam Kenzo telah menancap sempurna di dagu dan pipinya membuat wajah Yoona terluka dan berdarah.
"Nak apa yang dikatakan Yoona.....".
"DIAM" bentuk Kenzo yang menatap tajam wanita yang menjadi ibunya itu.
Itu memang hanya sekedar foto namun sangat berarti untuk Kenzo karena dalam bingkai itu adalah lukisan gadis bercadar. Gadis bercadar itu adalah lukisan gambaran Alisya di pertemuan pertama mereka di dalam hutan. Walaupun sudah menikah Kenzo tak mengganti foto itu tapi sekarang bingkai foto itu telah pecah karena ulah dari wanita di depannya itu. Jika bukan karena rencana mereka sudah Kenzo tembak kepala wanita sok polos di depannya itu.
"Kau pikir dengan menangis akan membuat aku kasihan padamu? Tidak akan! Dasar jalan!" Hina Kenzo yang langsung melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga mengakibatkan kukunya menggaris sempurna wajah Yoona.
Srett
Aaaa
"Cih Aku ingin sekali memenggal kepalanya" Umpat Kenzo dalam hati menatap sinis Yoona yang tengah menangis.
"Dan kamu wanita tua! Hati-hati dengan rencanamu karena itu akan merenggut nyawamu dengan paksa dari badan mu" Ucap Kenzo yang menatap tajam Melinda yang kini terdiam kaku.
"Nak Mami tidak pernah merencanakan sesuatu apapun" Kata Melinda dengan nada sedih.
"Aku tidak peduli dan tidak mau tahu. Bawa keponakan tersayang kamu ini pergi jika tidak ingin aku membunuhnya sekarang juga"
Melinda yang mendengar itu segera berjalan mendekat ke arah Yoona yang tengah menangis karena wajahnya telah luka.
"Bisakah kamu memberi mami nomor ponselmu. mami takut jika tiba-tiba Mami merindukanmu jadi jika Mami punya nomor teleponmu jika Mami merindukanmu cukup hanya dengan menelponmu saja" Ucap Melinda dengan raut wajah sedih.
"Ambil ini dan segera pergi!"
Melinda langsung mengambil kartu nama itu. Setelah mengambilnya segera pergi dari ruangan Kenzo dengan menarik Yona yang masih terus menangis.
"Hah Aku ingin sekali membunuhnya namun aku sudah berjanji pada Papa untuk tidak membunuh wanita itu tapi..... Aku tidak yakin mereka berdua akan selamat dan hidup dengan bebas jika sampai mengusir istri ku" Guman Kenzo dengan senyum misterius.
Kenzo sangat mengetahui bagaimana tabiat dari Alisya yang benar-benar tak bisa di usik
Kenzo sangat membenci wanita yang melahirkannya itu. Namun Kenzo juga tidak bisa membunuhnya karena terikat dengan keinginan dari papanya dan masih ada satu lagi keinginan dari sang papa yang masih terus ia cari sampai sekarang. Walau tidak bisa mewujudkannya setidaknya Kenzo harus menemukan orang itu.
"Papa maaf, aku tidak bisa menuruti semua keinginan papa aku hanya bisa melepaskan wanita itu namun aku tidak yakin jika istri ku akan diam saja jika dia berani macam-macam" Kata Kenzo dalam hati pikirannya melayang pada beberapa tahun lalu sebelum papanya meninggal.
"Papa punya dua permintaan, Papa berharap kamu mau menuruti keinginan terakhir Bapak ini" Kata Papa Kenzo dengan nafas yang terputus-putus karena di paksa untuk berbicara panjang.
"Katakan papa! Ken akan berusaha menuruti keinginan papa itu" Kata pria muda yang tak lain dan tak bukan adalah Kenzo.
__ADS_1
"Papa ingin kamu tidak membunuh Mama mu"
Deg
Kenzo menegang, dia sangat membenci wanita yang melahirkannya itu. Namun Kenapa papanya meminta untuk tidak membunuh wanita itu.
"Berjanjilah Ken" kata papa Kenzo lagi dengan semakin lemah.
"Ken berjanji pada papa untuk tidak membunuh wanita maksudnya Mama"
Papa ingin kamu menikah dengan anak sahabat papa hah....hah..... Carilah mamamu dia mengenal kedua orang tua gadis yang akan menjadi menantu papa di masa depan"
Setelah mengatakan kedua permintaan itu nafas papa Kenzo segera berhenti untuk selamanya.
Kenzo menarik kasar rambutnya yang benar-benar pusing saat mengingat keinginan terakhir dari sampah Papa.
Waktu itu Kenzol tidak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan keinginan dari sang Papa dengan harapan beliau akan selamat Namun ternyata Tuhan berkehendak lain.
"Di mana aku harus mencari keberadaan mereka? Kunci utama yang aku punya saat ini hanyalah wanita tua itu namun aku yakin dia tidak akan memberitahuku begitu saja tanpa syarat" Kata Kenzo dengan nafas yang memburu.
"Andaikan aku mempunyai foto sahabat mendiang papa aku pasti tidak akan kesulitan seperti ini." Monolog Kenzo.
"Sialan, aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti rencana dari wanita tua itu" Umpat Kenzo yang tak sudi memanggil wanita itu ralat Melinda sebagai ibunya.
Sedangkan di tempat lain Yona terus menangis karena wajahnya yang selalu di banggakan kini terluka karena ulah dari pria yang di sukainya.
"Sabar sayang, ini bukan luka parah kok nanti juga menghilang bekasnya. Kamu jangan cemberut dong Nanti cantiknya hilang" hibur Melinda kepada sang keponakan tersayang.
"Tidak. Yoona tidak lagi cemberut Yoona tidak ingin jelek" Kata Yoona dengan polos tanpa menyadari jika di balik kepolosan itu tersimpan sifat licin dan juga sifat jahat yang sangat luar biasa.
"Bagaimana cara ku membuat anak itu menjadi lunak" Kata Melinda dalam hati yang memikirkan cara agar Kenzo lunak dan mau menerimanya kembali.
Di tempat lain seorang pria duduk tenang dalam mobil mengawasi seorang wanita muda yang keluar dari restoran. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Alisya yang baru saja keluar dari restoran milik Maya sahabatnya di ikuti Alya dan Ariana di belakangnya.
Sedangkan pria yang duduk dalam mobil adalah Kevin dan Tommy orang kepercayaannya.
"Tommy berapa anggota yang di kirim untuk mencegat mereka?" Tanya Kevin.
"Sekitar 50 orang Bos" jawab Tomyi yang terus memperhatikan Alisya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Kamu yakin 50 orang itu tidak akan membunuh wanita itu? Aku tidak ingin langsung membunuhnya Aku hanya ingin memberi peringatan kepada Kenzo sebagai tanda jika aku benar-benar mengibarkan bendera perang kepadanya" terus terang Kevin.
"Yakin Tuan paling mereka akan mendapatkan luka-luka saja "Jawab Tommy yakin.
__ADS_1
"Baguslah. Ayo cepat kita ikuti Aku ingin melihat bagaimana mereka bertarung" perintah Kevin saat melihat mobil yang di naiki Alisya telah melaju meninggalkan restoran.
"Ariana cari jalan sepi!" Perintah Alisya dengan santai melirik kaca spion
Alisya bukan orang bodoh yang tidak menyadari jika sedari awal mereka di ikuti.
"Tapi kenapa nona?" Tanya Ariana namun menuruti keinginan dari sang majikan.
"Kita di ikuti" jawab Alisya santai tanpa beban.
Ariana dan Alya sontak melihat ke arah spion dan benar saja jika di belakang mereka ada iring-iringan mobil dan motor yang mengikuti mereka.
"Astaga merika banyak sekali" pekik Alya.
"Dasar Kevin sialan sepertinya benar-benar menjadikan Nona Alisya sebagai targetnya" Umpat Ariana.
"Jadi mereka anggota dari black rose?"
"Bagaimana Nona tahu?"
"Kamu lupa kalau aku juga berada di dunia bawah?"
"Nona kita sepertinya terkepung, mereka juga ada di depan kita tanda petir papar Ariana yang melihat barisan mobil di depan sana."
"Berhenti saja, sayang kalau mobilnya sampai lecet "kata Alisa santai.
Ckit
Ariana memberhentikan mobilnya dengan jarak beberapa meter dari barisan mobil-mobil di depannya.
Mereka bertiga tidak ada yang langsung turun dari mobil bukan karena takut melainkan menunggu orang-orang itu yang datang menghampiri mereka.
"Alya dengarkan Aku, sekarang aku tidak bisa melindungi mu jadi andalkan diri kamu sendiri" Ucap Ariana yang menatap Alya serius.
"Kamu tenang saja, aku sudah cukup kuat kok" Balas Alya dengan suara tegas dan yakin.
"Ambil ini!" Ariana menyodorkan belati kecil pada Alya, " belati ini memiliki racun pelumpuh yang aku racik sendiri. gunakan itu untuk melumpuhkan mereka agar kamu tidak perlu membuang energi mu secara besar-besaran" terang Ariana.
"Pantas Kak Alvaro mencintai Ariana begitu dalam. selama ini Ariana bukan hanya sebagai sahabat namun dia juga sebagai pelindung untuk ku. Aku harap Kak Alvaro segera mengungkapkan perasaannya pada Ariana" Kata Alya dalam hati menatap Ariana yang sedang sibuk memasukkan beberapa senjata di setiap kantongnya.
"Nona ambilah! Itu juga memiliki racun yang sama seperti yang saya berikan kepada Alya" peran Ariana yang memberikan belati yang sama kepada Alisya.
Alisya yang melihat perlakuan Ariana pada Alya termangu. Perlakuan itu sama seperti perlakuan dan cara Maya dalam melindunginya beberapa tahun lalu. Walau Maya tidak bisa beladiri namun Maya mempunyai cara sendiri untuk melindunginya salah satunya adalah mengandalkan racun racikannya.
__ADS_1
"Aku punya senjata sendiri" Tolak Alisya.
Tak