
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Alisya dari berkas di depannya.
"'Masuk''' Teriak Alisya.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan Dirga yang masuk dengan tergesa-gesa dan nafas yang ngos-ngosan.
"Ada apa Dirga?" Tanya Alisya yang menatap heran Dirga.
"Itu Nona di lobby wanita tua itu....Eh maksud saya Nyonya Melinda sedang menuju kesini bersama pengacaranya." Lapor Dirga.
"Rupanya dia telah berani menunjukan diri. Bukankah ini yang telah kita tunggu-tunggu? Ayo kita sambut ibu mertuaku tersayang itu." Balas Alisya yang tersenyum miring.
Suda sejak kemarin tangan Alisya terasa gatal untuk mencabik-cabik tubuh wanita tua itu. Alisya tidak habis ppikir bagaimana bisa wanita yang notabennya adalah ibu kandung dari suaminya yaitu Kenzo. Rela membunuh darah dagingnya sendiri hanya karena untuk menguasai seluruh harta dan kekuasaan yang di miliki Kenzo menjadi miliknya sendiri.
Baru saja Dirga membuka mulutnya untuk berbicara tiba-tiba pintu di buka secara kasar dari luar. Dirga dan Alisya langsung menoleh kearah pintu yang menunjukan seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Melinda.
Alisya yang melihat itu hanya tersenyum miring berjalan mendekati wanita paruh bayah itu dengan wajah datar.
"Untuk apa ibu mertuaku tercinta ini datang mengunjungi ku diperusahaan milik suamiku ini/!" ucap Alisya yang penuh penekanan dan senyum dingin yang di lemparkan kepada Melinda.
"Wanita buangan ini benar-benar membuatku muak. Aku benar-benar ingin membunuhnya" ucap Melinda dalam hati
"Aku datang utuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." balas melinda yang tersenyum penuh kemenangan.
"Apakah itu ibu mertua?"tanya Alisya yang memasang senyum manis.
"Perusahaan milik putraku jadi saat wafat maka perusahan ini udah seharusnya jatuh di tanganku" Ucap Melinda yang penuh kesombongan.
Hahahaha
Alisya yang mendengar penuturan dari Melinda langsung tertawa terbahak-bahak. Melinda yang melihat itu tentu merasa tidak senang.
"Apa ibu mertua sudah gila? Ataukah obatnya belum di minum?" Tanya Alisya penuh nada cemoohan.
"Apa maksud kamu? Kamu mengatakan saya kurang waras begitu!" Tanya Melinda berang.
"Aku tidak mengatakannya tapi Ibu mertua sendiri yang mengatakannya." Balas Alisya yang terkesan santai.
"Wanita sialan...!" Melinda yang tak bisa membendung amarahnya langsung mengangkat tangannya untuk menampar Alisya.
Hap
"Jangan pernah coba-coba untuk melukai Nona ku!" Ucap Dirga yang menangkap tangan Melinda.
"Ck...... Nona mu ini sudah keterlaluan! Dan kamu masih membelanya?" Tanya Melinda yang berapi-api.
"Apapun yang di lakukan Nona ku semuanya benar!" Ucap Dirga yang penuh penekan menatap tajam Melinda.
__ADS_1
"Tuan..... Dimana pun anda berada semoga Tuan baik-baik saja. Saya akan menjaga Nona seperti anda menjaganya seperti anda menjaganya. Selagi aku hidup aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita yang Tuan cintai" batin Dirga.
Dirga tahu Kenzo akan terus membenarkan perbuatan Alisya walau harus meledakan sebuah tempat Kenzo tetap akan membenarkan hal itu. Di mata Kenzo Alisya
selalu benar dan itu yang sedang Dirga usahakan.
"Kau...... Kau hanya orang asing yang masuk ke dalam kehidupan anakku. Kamu tidak berhak atas semua ini! Semua ini milikku!" Teriak Melinda yang sudah menahan emosi sampai di ubun-ubun.
"Saya memang hanya orang baru tapi semua ini telah menjadi milikku ibu mertua tersayang!" Balas Alisya yang tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak.......! Semua harus menjadi milikku, hanya milikku!"
"Sudahlah ibu mertua walau ibu mertua menangis darah ibu tidak akan bisa mendapatkan semua ini."
"Aaaah aku ingin sekali membunuh wanita ini. Tahan Melinda.... Kamu tidak tergesa-gesa bisa saja kamu di curigai apalagi ada pria babu ini" Ucap Melinda dalam hati yang berusaha menahan diri untuk tidak meledak.
"Mari kita duduk, Aku sudah membawa pengacara. biarkan dia menjelaskannya." Ucap Melinda yang berusaha meredam amarahnya hingga melempar senyum ke arah Alisya.
Alisya yang melihat wanita tua itu tersenyum hanya bisa mengernyitkan alis dengan selalu waspada pada setiap keadaan sekitar.
"Apa lagi yang di rencanakan wanita tua ini?" Kata Alisya dalam hati.
"Mari kita duduk" Ucap Melinda yang dengan santai berjalan ke arah sofa di ikuti sang pengacara miliknya di belakang.
Melinda duduk tenang di sofa sedangkan di sampingnya pengacara miliknya hanya duduk diam. Alisya dan Dirga yang melihat itu langsung melirik satu sama lainnya.
"Kamu yakin pria itu seorang pengacara?" Alisya bertanya kepada Dirga dengan suara rendah takut di dengar oleh nenek lampir dalam ruangannya itu.
"Pria itu bukan pengacara Nona tapi seorang kuli bangunan yang di sewa oleh wanita tua itu." Jawab Dirga yang dengan suara rendah.
Alisya yang mendengar itu hampir saja tertawa terbahak-bahak akan tetap di tahan. Alisya hanya bisa menggigit bibirnya yang berkedut untuk tertawa karna menurut Alisya. Melinda itu sangat bodoh apa dia pikir dia akan mudah percaya pada apa yang akan di katakan olehnya.
"Apa wanita tua ini sudah tidak bisa mencari orang yang lebih profesional untuk menipu ku sedikit. Kenapa harus menyewa seorang kuli sekalian saja pengemis di sewanya." Kata Alisya dalam hati.
"Sekarang katakan!" Ucap Alisya yang datar dan penuh penekanan.
Melinda yang mendengar itu langsung tersenyum licik. Melinda duduk tegak mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi. Melinda melirik orang di sewanya memberi kode untuk berbicara sekarang.
"begini Nona menurut saya em.......... maksud saya sudah sepantasnya seluruh harta dar Tuan Kenzo jatuh pada Nyonya Melinda sekaligus ibu kandung dari Tuan Kenzo sendiri" 99U9cap pria yang menjadi pengacara abal-abal itu.
"Bagaimana seperti itu. jelas-jelas suamiku dari jauh hari sebelum kecelakaan bahkan sebelum kami menikah suamiku telah memindahkan seluruh asetnya atas nama ku yaitu Alisya Arkana Keano selaku istri sah dari Kenzo Devandra Keano" Jelas Alisya dengan santai.
"APAAA.....?" Teriak Melinda yang kaget pada kenyataan yang di dengarnya.
Senyum yang tadi terukir di bibir Melinda langsung pudar dengan wajah memerah menahan amarah menatap tajam Alisya. Sedangkan Alisya yang melihat itu hanya membalas dengan senyum miring.
"Tidak.... Tidak..... Ini tidak bisa di biarkan. Aku sudah sejauh ini aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Semua ini hanya milikku....! Ya milikku...... Milik Melinda"
Melinda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan wajah memerah melirik pengacara ya v di sewanya. Melinda menatap tajam pengacara itu.
"Tapi tidak bisa Nona disini yang paling berhak atas semua aset yang di miliki Tuan Kenzo maka itu Nyonya Melinda yang pantas memilikinya. Anda hanya orang luar yang masuk dalam....."
Tak
Dirga yang sudah tidak tahan menahan amarah dalam dirinya langsung melemparkan sebuah map di atas meja.
__ADS_1
"Lihat dan baca baik-baik disana tertulis jelas siapa penerima dari aset dan kekayaan Tuan Kenzo yaitu Alisya Arkana Keano selaku istri sah dari Tuan saya!" Kata Dirga yang penuh penekanan setiap katanya.
Srettt
Melinda dengan cepat-cepat menarik Map itu. Dengan gerakan cepat Melinda membuka map itu hingga matanya membulat saat melihat nama yang tertera disana dan tanda tangan langsung dari Kenzo bahkan ada stempel darahnya juga.
Srekk
"Tidak ini tidak mungkin" Guman Melinda yang menolak percaya.
Tak percaya dengan apa yang di lihatnya Melinda langsung merobek-robek kertas itu hingga menjadi bagian-bagian kecil.
"Ini tidak mungkin semua milikku bukan milik anak buangan seperti.... Dasar wanita ******....!" Teriak Melinda yang murka.
"Cukup! Kamu benar-benar membuatku muak!" Sentak Alisya yang langsung berdiri menatap tajam Melinda.
Melinda yang melihat kemarahan Alisya lewat sorot matanya langsung terdiam kaku. Jika boleh jujur Melinda sebenarnya takut menghadapi kemarahan dari wanita muda di depannya itu. Menyiksaan yang di lakukannya beberapa hari lalu pada Yoona masih terekam jelas di kepalanya. Apalagi akibat dari penyiksaan yang di berikan Alisya kepada Yoona membuat Yoona stres dan depresi.
Yoona mengalami trauma yang bisa di katakan mendekati gila. Wanita itu bahkan tak segan-segan mengamuk saat melihat cermin. Setiap melihat cermin dia akan melihat penyiksaan Alisya yang di berikan untuknya bagaimana Alisya yang menggunting rambutnya menggunakan gunting tanaman.
Klik
"Katakan sebenarnya atau aku ledakan kepalamu!" Ucap Alisya datar yang menyodongkan pistol di kepala pria yang menjadi pengacara bohongan Melinda.
So tak hal itu membuat Melinda dan pria itu bergetar ketakutan. Terutama pria itu sudah pucat pasi melihat pistol di depan kepalanya sendiri yang kapan saja bisa membuat kepalanya berlubang.
"Nona.... Ampuni saya...... Sa.......saya hanya di suruh dan di bayar oleh wanita itu" kata pria itu yang sudah bergetar hebat.
"Kurasa permainan dia sudah cukup. Bukankah begitu ibu mertua?" Ucap Alisya sayang melirik Melinda.
Melinda yang tega ketakutan tidak mendengar dan tidak membalas perkataan dari wanita muda di depannya yang merupakan menantu tak di akui olehnya.
"Tangkap mereka!" Perintah Alisya yang entah pada siapa.
Namun secara tiba-tiba Melinda membulatkan mata saat melihat beberapa orang yang berpakaian serba putih masuk ke dalam ruangan itu
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku.....!" Teriak Melinda yang memberontak saat orang-orang itu menariknya dengan kasar.
"No....nona maafkan saya..... Saya hanya di suruh....tolong ampuni nyawa saya" mohon pria yang menjadi pengacara sewaan Melinda itu yang bersimpuh di bawah kaki Alisya.
"Apa yang kamu lakukan brengsek? Dasar penghianat!" Teriak Melinda yang semakin murka saat melihat orang yang dia sewa malah semakin menjatuhkannya.
"Lepaskan sialan.....!"
Bruk
Ah
"Maaf Nona dia membuat telinga saya sakit" ucap salah satu anggota Alisya yang memukul tengkuk Melinda hingga tak sadarkan diri.
"Tidak apa-apa, pergilah." Ucap Alisya yang memberi perintah kepada anggotanya untuk segala pergi.
setelah kepergian Melinda dalam ruangan itu Alisya langsung memijit pelipisnya. kepalanya berdenyut sakit dan pusing secara bersamaan tidak sadarkan diri.
Brukk
__ADS_1
"NONA....!"