
Dua orang wanita berjalan mondar mandir di depan sebuah ruangan yang serba putih. Kedua sosok wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Maya dan Clarissa.
Keduanya di beri tahu oleh Dirga jika Alisya tidak sadarkan diri dan di bawah ke rumah sakit. Maya dan Clarissa yang berada di mension langsung panik saat menerima kabar itu.
Tak jauh dari mereka terdapat dua orang pria yang sedang menemani wanita mereka masing-masing. Kedua pria adalah Dirga dan Ramos
"Sayang duduklah, kamu sedang hamil aku takut kamu dan bayi kita kenapa-napa" Ucap Dirga penuh perhatian kepda Maya sang istri.
"Kamu juga sweet kamu baru saja dalam pemulihan ingat kamu tidak boleh kecapean berlebihan." Timpal Ramos yang ikut-ikutan menegur Clarissa.
Kedua wanita itu hanya bisa mendengus kesal. Namun, keduanya tidak prote sama sekali. Clarissa dan Maya hanya menurut duduk di sebuah kursi yang berada di depan ruangan Alisya di tindaki.
Ceklek
Baru saja Maa dan Clarissa mendudukkan diri di kursi pintu ruangan Alisya terbuka menempilkan seorang dokter wanita keluar dari ruangan Alisya.
"Bagaimana keadaan sahabat saya Dok?'' Tanya Maya dengsn nada panik.
"Apa disini ada suami dari pasien di dalam?" Dokter itu justru bertanya balik.
"Suami? Em..... Suaminya sedang berada di luar negeri Dok, Tapi kami adalah kelarganya. Apa terjadi masalah serius padanya?" Tanya Maya yang harap-harap emas.
"Semua baik-baik saja tapi kandungannya sedikit melemah" Terang sang Dokter.
Hah?
"Kandungan Dok?"
"Benar pasien sedang mengandung usia kandungannya sudah masuk 3 minggu."
"Dokter yakin dia sedang mengandung/ Maksudku........'
"Saya yakin nona. lagipula hal itu sudah wajar bagi wanita yang sudah menikah."
Nendengar itu Maya tidak lagi membuka mulutmya. Kenyataan yang baru saja di dengarnya barusan membuat Maya terdiam kaku dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Terima kasih Dok'' ucap Diga yang mewakili Maya.
"Sama-sama Pak, Saya undur diri dulu.'' Izin sang Dokter.
"Hamil? Dia benar-benar hanil di saat situasi seperti ini? " Guman Maya yang belum juga percaya jika Alisya tengah mengandung.
"Bukankah itu kabar baik? Nona bisa menjalani dan membuka kehidupan barunya." Balas Dirga yang mendengar gumanan dari sang istri.
"Aku tahu hanya saja mungkin akan sulit untuk dia memahami kondisi seperti ini." Kata Maya yang menghela napas.
__ADS_1
Ceklek
"Kamu sudah sadar?" Ucap Maya yang baru masuk tapi sudah melihat Alisya yang sudah sadar dari pingsannya.
"Hm, kenapa aku bisa berada disini?" Balas Alisya yang menatap sekelilingnya.
Alisya benar-benar tidak nyaman berada di dalam ruangan itu. Bau obat-obatan yang begitu tercium menyengat membuat Alisya semakin mual.
"Aku ingin pergi, aku tidak suka tempat ini." Kata Alisya datar.
Alisya langsung bangun berniat akan melepas infus yang tertancap di punggung tangannya. Namu, pergerakan tangan yang langsung terhenti di udara saat mendengar kalimat Maya yang selanjutnya.
"Pergilah jika kamu ingin membunuh bayi kamu sendiri"
Deg
Alisya yang mendengar itu langsung menegang di tempat. Dengan kepala yang patah-patah Alisya ke arah Maya yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bayi? A....aku hamil? I......ini....."
"Dengar Alisya, Aku tahu ini sulit untuk kamu tapi mungkin ini cara Tuhan untuk mengganti kebahagiaanmu dengan menghadirkan sosok malaikat kecil yang hadir dalam perutmu. Aku tahu kamu terpukul karena...... Tuan Kenzo Bandung di temukan akan tetapi sekarang kamu harus pikirkan kesehatan kamu juga. Sekarang kamu tidak sendirian akan tetapi ada kehidupan lain di dalam dirimu dan itu adalah bukti cinta kamu dan Tuan Kenzo." Kata Maya dengan panjang kali lebar.
"A....aku ha.... Hamil" Ucap Alisya pelan tersenyum tipis. Namun, air mata jatuh dari kelopak mata Alisya. Enta air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku membawa sebuah warna baru. Membuatku mempunyai tujuan lagi" bisik Alisya yang nyaris tak terdengar.
"Mengenai pencarian Tuan Kenzo Nona tidak perlu memikirkannya lagi. Biarkan aku dan Ramos serta anggota yang lain untuk mencari keberadaan Tuan Kenzo." Ucap Dirga tiba-tiba membuat atensi Alisya dan Maya menolak ke arah pria itu.
"Tapi bayar juga sedang mengandung, dia juga butuh sosok suami di sampingnya. Jadi, kamu tidak perlu meluangkan waktumu untuk mencari Kenzo biarkan anggota ku dan yang lainnya mencari keberadaannya" ucap Alisya yang tak ingin membuat Maya sang sahabat merasa tak diberi perhatian lebih oleh suaminya.
"Tidak perlu, kita akan berjuang bersama-sama mencari suamimu. Jadi, biarkan Dirga juga ikut terlibat dalam hal ini" ucap Maya.
Maya tahu sahabatnya itu mencemaskan dirinya. Tapi bayar juga tidak akan senang melihat dirinya bahagia tapi Alisya sengsara.
"Baiklah jika seperti itu. Mulai sekarang kalian juga akan tinggal di mension ku sampai Kenzo di temukan" kata Alisya tegas.
Sedangkan di sisi di sebuah ruangan minimalis dengan kasur dan peralatan seadanya. Seorang pria terbaring kaku di atas ranjang sederhana itu. Terlihat seluruh tubuh pria itu di bungkus dengan perban seperti mumi.
Sosok itu telah terbaring kurang lebih dari 2 Minggu. Terlihat kening pria itu mengkerut dengan kepala yang di miringkan ke kanan dan ke kiri. Matanya menutup dalam keringat dingin membasahi keningnya dan bibirnya terus menggumankan satu nama.
Alisya?
Alisya?
Alisya?
__ADS_1
"Hosh hosh si.......siapa?" Sosok itu terbangun dengan langsung terduduk dengan napas yang ngos-ngosan dan keringat dingin di wajahnya.
Terlihat sosok itu yang terluka hampir seluruh tubuhnya karna tubuhnya di perban. Sosok itu mengedarkan pandangannya menatap penuh selidik ruangan yang dia tempati.
"Dimana aku?" Guman sosok itu yang bergerak pelan turun dari ranjang kayu itu. Sosok itu berjalan dengan pelan menuju jendela kayu yang ada dalam kamar itu.
Di bukanya jendela kayu itu hingga sosok itu bisa langsung melihat ke arah luar sana. Namun, sosok itu mengernyit bingun saat hanya melihat pepohonan di luar ssadar
"Hutan? Aku di hutan,?" Guman sosok itu.
Ceklek
"Astaga...... Kau sudah sadar anak muda?"
Sosok itu mengalihkan atensi dari pemandangan di luar menoleh ke arah asal suara.
"Anda siapa?" Tanya sosok itu dengan datar menatap tajam kepada sosok pria paruh baya di depannya itu.
"Saya orang yang menolong kamu anak muda" jawab pria paruh baya itu tenang.
"Duduklah, luka mu harus di ganti obatnya" ucap pria paruh baya itu lagi.
Sosok itu hanya menurut lalu duduk di depan pria paruh baya di depannya. Sosok itu memperhatikan pria paruh baya itu yang meletakkan mangkuk yang berisi sesuatu yang berwarna hijau kehitaman di depannya.
Sret
Sosok itu langsung berdiri dan siaga saat melihat jika pria itu menarik sebuah pisau kecil dan mengarahkannya padanya. Sedangkan pria paruh baya itu terkekeh kecil saat melihat kesiagaan pria muda di depannya itu.
"Tenanglah aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan memotong perban mu dan mengganti ramuan obat yang di tubuhmu dengan yang baru."
Mendengar penuturan dari pria paruh baya di depannya sosok muda itu mulai duduk kembali. Membiarkan pria tua itu membuka perban lukanya dan mengganti sesuatu yang melengket padanya dengan sesuatu yang baru. Sosok itu bisa melihat jika tubuhnya bagian perut ada luka yang menganga lebar.
"Hehe tadinya aku berfikir kamu akan koma minimal 2 bulan mengingat luka kamu begitu parah. Namu, harus aku akui kamu cukup kuat hanya butuh 2 Minggu kamu sudah sadar" kata pria paruh baya itu yang sedang memasangkan perban pada luka Sosok pria muda itu.
"Sekarang katakan siapa Nama mu anak muda?"
"Namaku....... Aku tidak tahu dan aku tidak ingat apa-apa selain satu nama dan wajah yang terus berada di mimpiku"
"Siapa?"
"Alisya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo reader😆 hari ini cukup yah😔 untuk besok mungkin cuma bisa up 1 bab karna badan benar-benar nggk fit. ini saja di paksa supaya bisa up dan beri tahu kalian kalau besok mungkin cuma bisa up 1 bab tapi keadaan Othor dah membaik Author up 2 bab atau 3 bab lagi☺️
__ADS_1