
"Di.....dia A....ayah kamu?" Alisya bertanya dengan suara yang tercekat.
"Dia....... dia sudah meninggal beberapa tahun lalu" jawab Kenzo.
Jedarrrr
Alisya langsung jatuh terduduk di lantai matanya menatap kosong. Orang yang ia cari-cari selama ini ternyata sudah tiada padahal masih ada jasa yang harus mereka balas namun mereka terlambat menemukan orang itu.
Sedangkan Maya tak jauh berbeda dengan Alisya yang terduduk Maya juga terhuyung ke belakang.
"Baby are you oke?" Kenzo bertanya dengan cemas membantu Alisya berdiri lalu mendudukannya di kursi.
"Baby...."
Kenzo memanggil-manghil Alisya namun Alisya hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Alisya tiba-tiba tersadar lalu tanganya terangkat ke belakang lehernya.
Sret
Kedua mata Kenzo melotot melihat kalung yang di letakkan Alisya di atas meja yang sangat mirip dengan yang berada di tangannya yang membedakan hanya jika kalung di tanngan Kenzo sedikit lebih besar maka yang di atas meja itu terlihat kecil namun desain dan mata kalung sama persis seperti yang ada di tangannya.
"Ini......"
Kenzo tidak bisa berkata-kata lagi matanya menatap intens kalung itu. dengan tangan gemetar Kenzo mengambil kalung itu lalu menyamakannya dengan kalung yang ada di tangan kirinya.
"Sama persis" guman Kenzo dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kami mengambilnya dari seorang bapak-bapak yang kami copet karna mobilnya mogok." kata Alisya dengan suara pelan.
"APAAAA COPET.....!"
Bukan hanya Kenzo tapi bawahannya juga pada teriak selain Dirga tentunya.
"Hm waktu aku dan Maya sedang memerlukan uang untuk membeli Leptop tapi uang kami tidak cukup jadi terpaksa mencopet bapak itu." cicit Alisya yang sudah seperti bisikan.
Alisya dan Maya benar-benar malu sekarang terutama Alisya ia begitu malu karna orang yang dia copet adalah ayah dari kekasihnya sendiri.
"Aku benar-benar malu sekarang bagaimana bisa bapak itu adalah Ayah Kenzo kekasih aku sendiri." kata Alisya dalam hati meringis malu.
"Maafkan aku byy aku merampok bapakmu tapi kami tidak menghabiskan semua uang yang ada di dalam tas itu kok. Aku masih simpan rapi sisa uangnya." kata Alisya.
Bukannya marah Kenzo malah tersenyum lalu memeluk erat Alisya sedangkan Alisya hanya bisa melongo melihat tindakan Kenzo yang seperti tidak terjadi apa-apa harusnya dia marah donk karna dia sudah berani mencopet dan sialnya korbanya adalah Ayah Kenzo pikir Alisya.
__ADS_1
"Jangan tanya aku marah atau tidak baby aku tidak marah. Sungguh" kata Kenzo melepaskan pelukannya lalu menatap dalam Alisya.
"Tapi kenapa?" Alisya bertanya dengan bingun.
"Kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Kalung ini hanya ada satu pasang di dunia dan itu Ayahku sendiri yang mendesainnya. Ayahku selalu berkata jika kalung ini akan menjadi milikku dan menantunya nanti dengan kejadian kamu mencopet Ayah ku secara tidak langsung Ayahku telah memilih menantunya sendiri bahkan Ayah lebih dulu bertemu denganmu di banding aku baby" kata Kenzo panjang kali lebar.
Deg
Alisya tertegun mendengar penuturan Kenzo lalu mulai mengingat kembali bagaimana tidak ikhlasnya bila kalung itu berpindah tangan.
"Apa ini yang menjadi penyebab kenapa aku selalu menyimpan kalung itu bahkan memakai. Kalung itu juga yang menjadi penyebab untuk pertama kalinya melawan tindakan Alexa waktu itu." kata Alisya dalam hati.
"Sudah yah aku pakekan kembali" ujar Kenzo lalu berjalan di belakang Alisya dan mengalunkan kalung yang di lepas Alisya tadi kembali ia pasangkan di leher jenjang Alisya.
"Sangat cantik" bisik Kenzo memeluk Alisya dari belakang.
"Tuan kenapa anda sangat tidak tahu malu dan tidak tahu tempat dimana pun anda selalu bermesraan tidakkah anda tahu disini masih ada jomblo ngenes." batin Dirga yang hanya bisa memutar mata jengah akan kelakuan Tuannya itu.
"Saya senang anda bahagia Tuan tapi tidakkah Tuan sadar disini masih ada kami....." teriak Ramos dalam hati.
"Woy Alisya jangan bermesraan Mulu..... Buta mata kau ha.....? disini masih ada mereka-mereka yang jomblo" semprot Maya Menunjuk Ramos, Alvaro dan terakhir Dirga.
"Akhirnya ada yang menyadarkan mereka." batin Ramos menatap Maya penuh terimah kasih.
"Mati aku" guman Maya yang membuang muka pura-pura tidak melihat Kenzo.
"Sudahlah Maya ayo duduk ada hal penting yang aku ingin bahas" kata Alisya.
"Kalian juga karna kali ini aku ingin melibatkan kalian juga karna aku tak ingin mengekspos Dark Devil" lanjut Alisya membuat bawahan Kenzo melongo.
Berbeda dengan Kenzo yang malah terlihat begitu senang karna Alisya mau melibatkannya dalam balas dendamnya karna itu yang di inginkan Kenzo.
"Ayo baby.... aku akan dengan senang hati membantu kamu" kata Kenzo dengan senyum manis di bibirnya.
Mendengar penuturan Bos mereka akhirnya Ramos, Alvaro, dan Dirga langsung duduk di ikuti oleh Maya.
"Maya bagaimana?" Alisya langsung bertanya kepada Maya.
"Tunggu" kata Maya lalu membuka tasnya mengambil sebuah bingkai ukuran persegi empat.
"Lihatlah" ucap Maya meletakkan bingkai itu yang ternyata sebuah foto.
__ADS_1
"Mereka siapa?" tanya Alisya dengan suara bergetar serta matanya memerah menahan air mata.
"Mereka kedua orang tua kandung kamu. Pria itu pasti kamu sudah tau mengingat wajahnya sama seperti pria keparat itu sedangkan wanita di pelukannya adalah ibumu yang sedang mengandung kamu" jelas Maya.
Mata Alisya tak kuasa menahan air mata hingga air mata itu jatuh mengenai pipinya. Tangan Alisya terulur mengusap dengan lembut wajah di balik kaca foto itu.
Alisya tersenyum dengan pandangan sendu penuh kerinduan kepada pria dan wanita di dalam bingkai foto itu.
"Mereka terlihat bahagia, andaikan aku hadir dan tumbuh bersama mereka pasti aku menjadi orang yang paling beruntung" kata Alisya dalam hati menatap penuh cinta potret seorang pria yang sedang memeluk seorang wanita hamil dari belakang. Keduanya terlihat begitu bahagia dengan senyuman yang nampak tulus di wajah mereka masing-masing.
"Dan ini aku menemukannya di kamar Bi Ina di kediaman besar Beatrix" ucap Maya tiba-tiba meletakkan sebuah amplop di depan Alisya.
Alisya mengalihkan tatapannya dari bingkai foto lalu mengambil amplop itu membukanya dan membacanya.
"Apa isinya?" tanya Maya penasaran karna melihat jika Alisya tersenyum.
"Lokasi pemakaman kedua orang tuaku" jawab Alisya dengan senyum tipis
"Dimana?" tanya Maya dengan antusias.
"Di villa rahasia di ujung kota" jawab Alisya menyimpan suatu itu di dalam kantong celananya.
"Kembali ke topik" kata Alisya tiba-tiba datar dan dingi membuat semua orang tertegun.
"Maya retas keamanan perusahaan Leon dan bocorkan semua informasi rahasia perusahaan ke publich"
"SIAP"
"Dan kalian KL aku meminta perlindungan kalian karna akan ada kemungkinan Tuan Wijaya akan mencari bantuan ke dunia bawah sama seperti beberapa tahun lalu dan yang akan menjadi target mungkin Black Rose oleh karena itu tekan Mafia itu sampai tidak ikut campur nanti" kata Alisya panjang kali lebar.
"Tapi Nona itu akan sulit karena KL bermusuhan dengan Black Rose" sahut Ramos.
"Tak apa baby serahkan padaku akan aku lakukan demi kamu" timpal Kenzo membuat Ramos tertegun.
"Lalu bagaimana dengan Leon? Dalam hal ini dia tidak bersalah dia juga tidak mengetahui apa yang telah di lakukan kedua orang tuanya" sahut Maya.
"Kita lihat nanti." jawab Alisya.
"Maya kerjakan sekarang" perintah Alisya yang langsung di angguki oleh Maya.
Maya mengambil Leptop di dalam tasnya lalu menghidupkan. setelah 2 menit Maya mulai memainkan jari-jari tanganya di atas keyboard Leptop hingga terdengar suara,
__ADS_1
Tak
"Kelar..... hanya menunggu bom itu meledak" kata Maya dengan senyum miring.