
2 minggu kemudian
Tak terasa waktu dua minggu berlalu dengan cepat tanpa di sadari. Selama 2 minggu itu pula rumah tangga Alisya banyak di sapu oleh badai yang berasal dari kedua wanita yang mereka sebut ular berbisa.
Selama waktu 2 minggu pula bukan satu atau dua jebakan yang kedua wanita itu lakukan untuk menjebak Kenzo. Dari mulai Melinda yang berpura-pura sakit dan ingin dirawat oleh Kenzo padahal ingin menjebak Kenzo. Membuat Yona berpura-pura mengalami trauma dan masih banyak lagi lainnya hingga yang paling parah adalah memberi obat perangsang pada Kenzo. Namun bukannya digauli Kenzo bahkan tanpa perasaan mencambuk tubuh Yona dengan ikat pinggangnya.
Jika kalian berpikir jika hanya rumah tangga Kenzo dan Alisya yang bermasalah maka Kalian salah besar. Karena sesungguhnya rumah tangga Dirga dan Maya juga dalam masalah yang sama bahkan mungkin akan berakhir di usia pernikahan mereka yang masih seumur jagung itu.
Di dalam ruangan Maya duduklah 4 orang yang terdiri antara dua orang pria dan 2 orang wanita keempat orang itu tak lain dan tak bukan adalah Alisa dan Maya yang didampingi oleh suami mereka masing-masing. Namun suasananya mereka dalam keadaan yang sangat-sangat mencekam.
Di mana Maya yang tengah menangis dipelukan Alisya sedangkan Dirga yang hanya bisa berdiri menatap Maya dapat dengan mengacak acak rambutnya hingga berantakan.
"Maya katakan foto ini tidak benar kan? Itu bukan kamu kan?" Apanya Dirga yang mencengkram kedua bahu Maya.
Alisya yang melihat itu segera berpindah ke sisi Kenzo sang suami. Alisya tidak tahu harus membela siapa karena sekali lihat pun akan ketahuan jika foto itu benar-benar real bukan editan ataupun orang lain. Wanita yang berada dalam foto itu adalah Maya.
"Jawab Maya! " Bentak Dirga yang menatap tajam sang istri.
"Aku tidak tahu hiks aku terbangun di dalam kamar hotel itu dalam keadaan yang tak memakai apapun tapi..... Di dalam kamar itu pula tak ada orang lain selain aku" kata Maya dengan frustasi.
"Apa kurangnya aku Maya? Aku memberi semua yang kamu mau aku membebaskan kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau yang kamu inginkan tapi kenapa? Kenapa kamu menghianati aku Maya? KENAPA?" Teriak Dirga dengan mata memerah menahan air mata.
"Aku tidak menghianati kamu Dirga, Tidak!" Kata Maya dengan menggelengkan kepala.
"Sekarang katakan bayi itu.....Aku...... Lebih baik kamu bunuh saja aku Maya"teriak Dirga yang benar-benar rotasi langsung terduduk dengan lemas di lantai.
Padahal hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk Dirga. karena mengetahui Maya sang istri sedang hamil padahal usia pernikahan mereka masih sangatlah singkat. Tapi datangnya foto Maya yang sedang berada dalam pelukan pria lain dengan keadaan di dalam kamar tanpa mengenakan satu benang pun di atas ranjang membuat Dirga benar-benar kecewa. Apalagi pria itu tak lain dan tak bukan adalah Bram yang merupakan pria masa lalu dari Maya sendiri.
"Bayi ini milikmu hiks aku yakin akan hal itu aku tak pernah melakukannya dengan orang lain Aku mohon jangan meragukannya" ucap Maya dengan yakin menatap sendu Dirga.
"Lalu foto itu apa Maya? Bahkan usia kandungan kamu sama di saat kamu menemui pria brengsek itu "teriak Dirga yang berdiri dengan linglung
"Apa kamu tidak mempercayaiku? Apa kamu mulai meragukan diriku?" Tanya Maya dengan suara tercekat di tenggorokan saat mengeluarkan pertanyaan itu.
Dirga yang mendengar pertanyaan dari sang istri hanya bisa diam membuang muka ke arah lain. Jauh di dalam lubuk hatinya Dirga sangat mempercayai Maya tapi adanya foto itu membuat Dirga tidak yakin jika bayi yang dikandung Maya adalah benihnya. Darah dagingnya.
"Alisya Apa kamu juga tidak percaya padaku sekarang?" Tanya Maya yang beralih menatap ke arah Alisa sang sahabat.
Mendengar pertanyaan itu Alisya hanya bisa diam menatap dalam foto Maya dan Bram yang berada di atas meja di depannya. Alisya tahu foto itu memang nyata wanita itu memang Maya. Tapi entah kenapa Alisya merasa mustahil jika Maya menghianati Dirga begitu saja. Alisya paling tahu bagaimana sifat Maya sang sahabat bagaimana jika sudah mencintai seseorang. Bahkan gram yang seenaknya saja memperlakukan Maya saat mengurungkan niat Maya yang tetap setia pada b******* itu.
Bahkan Maya dengan rela dan ikhlas melepas ginjalnya untuk membuktikan. Jika dia tulus mencintai Bram walau semua berakhir sia-sia. saat Bram mengkhianatinya pun Maya Dengan bodohnya menunggu pria itu.
Maya yang melihat kemungkaran Alisya hanya diam hanya bisa tersenyum getir. ternyata sekarang tidak ada lagi yang mempercayainya.
"Aku tahu kamu....."
"Aku percaya padamu" potong Alisya yang menatap Maya dengan serius.
"Baby sudah jelas-jelas jika foto itu benar-benar bukan editan" kata Kenzo yang kurang suka dengan pembelaan sang istri terhadap Maya.
"Aku percaya foto itu kamu dan pria b******* itu. Tapi aku percaya jika itu bukan kemauan dari kamu sendiri" kata Alisya yang kembali Kenapa foto itu di atas meja.
"Di antara semua orang yang berada dalam ruangan ini termasuk dia" tunjuk Alisya kepada Dirga.
__ADS_1
"Walau sekarang dia memiliki status sebagai suami dalam hidupmu namun dalam hal ini dia hanya orang asing yang muncul dalam hidup kamu membawa warna baru untukmu. Kita bersama tidak satu atau dua tahun tapi sampai bertahun-tahun jadi aku tahu bagaimana sifat kamu" kata Alisya yang sangat memohon hati seorang Dirga.
Deg
"Tuan Dirga yang terhormat Jika kamu tidak bisa mempercayai istrimu lebih baik lepaskan. Aku masih sanggup untuk membiayai kebutuhan sahabatku dan calon bayinya."
"Nona"
"Baby"
"Wanita mana yang rela memberikan organ dalam tubuhnya yang begitu berharga hanya karena sebuah restu dari orang tua pria yang di cintainya? Wanita mana yang rela menunggu pria yang di cintainya yang jelas-jelas menghianatinya di depan mata? Dengan salah satu contoh yang dilakukannya di masa lalu apa kamu masih berpikir untuk meragukannya?"
Deg
Dirga yang mendengar pengakuan dari Alisya langsung terdiam kaku dengan menatap Maya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tapi...."
"Wanita bodoh mana? Wanita gila mana yang ingin kembali kepada orang yang menolehkan luka terdalam dalam hidupnya? Binatang saja jika disiksa oleh majikannya maka dia akan pergi apalagi jika manusia yang memiliki akal dan pikiran panjang"
"Kamu meragukan istrimu hanya karena foto murahan ini?" Ucap Alisya lantang yang mengambil salah satu lembar foto Maya dan Bram yang sedang berpelukan.
"Cinta dan rumah tangga pondasi utamanya adalah kepercayaan jika itu tidak ada maka rumah itu akan roboh. Aku tidak tahu di masa depan apa suamiku akan mempercayai atau tidak tapi..... Jika sampai saat jadi meragukan diriku Aku Tidak segan akan meninggalkannya" ucap Alisya lantang dan tegas.
Deg
Kali ini bukan hanya Dirga yang menegang akan tetapi Kenzo bahkan langsung memucat mendengar ucapan istrinya yang tidak akan pernah bermain-main.
Baru saja Dirga akan membuka mulut tiba-tiba pintu terbuka. Muncullah Ramos di ikuti seseorang yang mengenakan helm di kepalanya.
"Kau...."
Alisya langsung menatap tajam orang di depannya setelah mengingat jika sosok ini yang menolongnya beberapa hari lalu.
"Kita bertemu lagi nona namun kali ini aku datang bukan untuk Nona melainkan sosok yang...... Sudahlah"
Sosok itu dengan pelan membuka helmnya hingga terlihatlah wajah mungil dengan rambut pirang membuat terlihat cantik dan mungil.
"Kak Maya!"
Maya yang sedang menunduk langsung mendongak saat mendengar panggilan yang tak asing di telinganya.
"Risa..!" Pekik Maya yang langsung berdiri berjalan cepat ke arah Risa namun langsung di hentikan oleh Risa yang mengangkat tangan.
"Berhenti di sana Kak Maya" kata Clarissa datar yang berjalan mendekat ke arah Maya.
"Kakak lagi hamil Jangan bergerak tergesa-gesa" pesan Clarissa yang mengelus perut teratai Maya.
"Kamu tumbuh dengan cepat Risa"
Untuk sesaat Maya melupakan apa yang baru saja terjadi kesedihannya menghilang entah ke mana. Sedangkan yang lain hanya bisa menonton Apa yang dilakukan kedua orang itu.
"Kak Maya bisakah Kakak menamparku?" Ucap Clarissa yang duduk di bawah Maya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Clarissa" bentak Maya yang menatap tajam gadis di depannya itu.
"Bisa mohon Kak. Anggap saja Kakak sedang memukul pria itu"
"Tidak Clarissa. Kakak tidak akan menamparmu"
"Baiklah kita lihat setelah ini"
"Kak Maya tidak pernah mengkhianati siapapun. Kak Maya di jebak oleh Bram tapi aku berani menjamin Kak Maya tidak melakukan apapun dengan Bram. Kalaupun iya kak Maya tidak akan mungkin hamil"
"Apa maksudmu?"
Tak
"Itu adalah laporan medis yang aku ambil dua minggu yang lalu. Saat aku mengantar Bram di sebuah rumah sakit"
Dirga dengan cepat mengambil kertas putih di atas meja itu.
"Bram dinyatakan mandul karena salah satu Ah.. karena akibat tendangan dari nona itu yang begitu dahsyat membuat dia mandul"
"Sayang kamu....." Dirga menangis mendekat ke arah mayat tapi di hentikan oleh Maya.
"Berhenti disana bukankah kau meragukan anakku?" Ucap Maya sinis
Deg
Dirga langsung terpaku dengan kaki yang lemas mendengar nada cibiran sang istri.
"Kak Maya bisakah Risa meminta satu permintaan saja kepada Kak Maya" ucap Clarissa menatap penuh harap ke arah Maya.
"Katakan selagi aku bisa akan aku berikan"
Mendengar itu Clarissa tersenyum lalu memeluk perut Maya dengan lembut.
"Jika bayi dalam perut Kakak ini perempuan Riska mau kakak memberikan nama Clarissa untuknya"
"Apa maksudmu Clarissa?"
"Aku mohon Kak" pintar Clarissa dengan suara pelan.
"Baiklah akan Kakak berikan. Lagi pula selama ini juga aku sudah memikirkan nama itu"
"Terima kasih" ucap Clarissa dengan suara nyaris berbisik.
"Kamu juga salah satu Adik aku sama seperti Alisya" balas Maya yang mengelus kepala gadis yang di carinya beberapa tahun ini tapi dia menghilang begitu saja.
"Risa...."
"Rissa kok diam"
Maya yang heran karna Clarissa tidak bersuara segera mendorong pelan kepala Clarissa menjauh sedikit dari perutnya.
"CLARISSA"
__ADS_1