Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Hukuman


__ADS_3

"Menggemaskan" kata Dirga dalam hati menyunggingkan senyum tipis saking tipisnya Maya tidak menyadari akan hal itu.


Brak


"Jangan lamun Woy" teriak Maya.


Keluar sudah jiwa bar-bar Maya yang sedari tadi di tahan dalam hati lantaran menjaga image tapi langsung keluar karna Dirga hanya diam.


"Maaf Nona" ucap Dirga Yeng menahan malu karna menjadi pusat perhatian para pengunjung kafe.


"Apa Nona tahu masa lalu Nona Alisya?" tanya Dirga hati-hati.


Maya langsung mengerutkan dahi dalam mendengar pertanyaan Dirga.


"Saya tidak bermaksud jahat. Tuan Kenzo ingin mengetahui masa lalu Nona Alisya tapi Saya tidak bisa menembus identitas Nona Alisya" papar Dirga dengan malu karna sebagai Hacker nomor 1 di dunia tapi tidak bisa meretas informasi Alisya.


"Jadi Tuan mu itu ingin mengetahui masa lalu Alisya begitu?" tanya Maya yang di balas anggukan kepala oleh Dirga.


"Baiklah Ayo kita temui Tuan Kenzo" lanjut Maya beranjak berdiri yang langsung di ikuti oleh Dirga.


****************


Tok


Tok


Tok


"Masuk" sahut dari dalam.


Ceklek


"Tuan"


"Mana?"


Kenzo yang sedang fokus dengan Leptop langsung mengangkat kepala mendengar suara Dirga.


"Biar Nona Maya yang menjelaskan semuanya Tuan" kata Dirga menunjuk Maya yang berdiri di sampingnya.


Kenzo langsung mengalihkan pandangannya dari Dirga lalu menatap gadis yang di bawah Dirga.


"Baiklah silahkan duduk" kata Kenzo datar dan dingin.


Maya dan Dirga langsung duduk di sofa lalu Kenzo duduk di depan mereka dengan mengangkat kakinya satu.


"Katakan" ucap Kenzo sebagai perintah membuat Maya langsung menciut.


"Dasar menyeramkan" umpat Maya dalam hati.


Maya membuka mulutnya lalu menceritakan semua masa lalu Alisya secara detail tanpa ada yang di sembunyikan karna Maya yakin Kenzo akan menjaga dan membahagiakan Alisya nanti di masa depan.


"Lalu bagaimana dengan kehidupan Nona Alisya selama di luar negeri karna disini Nona Alisya terlihat beberapa kali di negara yang berbeda" tanya Dirga yang mendapat kode dari Kenzo.


"Soal itu saya juga tidak tahu yang saya tahu Alisya memang keluar negeri tapi hanya menetap di China" jawab Maya yakin.


"Anda yakin" tanya Kenzo yang membuka suara.


"Sangat yakin. bisa jadi informasi yang kalian dapat adalah salah karna yang suka berlibur ke luar negeri adalah Alexa bukan Alisya" jawab Maya lagi.


"Alexa kerap kali memakai nama Alisya untuk kepentingannya sendiri misalnya melakukan kesalahan atau bahkan keluar masuk club Alexa akan memakai identitas Alisya,"


"Mengenai kehidupannya di luar negeri saya juga tidak mengetahuinya karena Alisya yang sekarang sangat berbeda dengan Alisya 3 tahun lalu. Alisya yang sekarang susah di tebak"


Mendengar penjelasan Maya Kenzo langsung menarik napas kasar. Kenzo membenarkan apa yang di katakan oleh Maya, Alisya terlihat misterius dan susah di tebak jalan pikirnya.

__ADS_1


"Hm baiklah." kata Kenzo lalu melambaikan tangannya tanda mengusir mereka.


Kenzo nggak sopan ya? tapi begitulah karakter Kenzo yang tanpa perasaan dan tak peduli.


****************


BRAK


"Dasar anak pembawa sial karnanya aku harus kerja keras seperti ini bahkan di pandang rendah orang-orang perusahaan karna ulah anak tidak tau malu itu" umpat Edric menatap marah tumpukan berkas di atas mejanya.


Dulu dia yang begitu berkuasa menyuruh dan memberi perintah apapun tapi sekarang dia yang yang harus kerja di bawah perintah seseorang yang sangat dia benci.


"Aku harus mencari cara agar perusahaan ini menjadi milikku seutuhnya dengan begitu aku akan dapatkan kembali posisi CEO dan anak itu harus di singkirkan. memangnya kenapa kalau aku harus membunuhnya?" smirk Edric menyusun rencana.


Alisya berjalan dengan lesu menuju mobil miliknya entah kenapa hari ini dia begitu lemas dan tak bertenaga.


Alisya masuk dalam mobil lalu menjalankannya dengan kecepatan di atas rata-rata yang hanya di inginkannya adalah cepat sampai di apartemen lalu tidur.


Sedangkan di tempat lain seseorang sedang mengendap-endap masuk di dalam suatu ruangan, ruangan itu adalah ruang kerja Edric.


Orang itu mulai menuju lemari tempat penyimpanan berbagai buku dan Map. Orang itu dengan hati-hati mulai mencari sesuatu yang di carinya.


Beberapa menit kemudian orang itu langsung tersenyum miring saat menemukan apa yang dia cari.


"Akhirnya" guman orang itu dengan senyum di bibirnya.


"Saya harus cepat keluar dan menyerahkan map ini kepada Tuan" kata sosok itu lalu segera keluar dari ruangan kerja Edric.


*******


"Ini Tuan" Sosok perempuan berpakaian Pelayan menyerahkan sebuah map kepada pria yang berpakaian serba hitam.


"Sudah kau pastikan?"


"Bagus. tetap Awasi mereka semua jika perlu tambahkan teror terhadap gadis iblis itu"


"Baik Tuan saya akan mengusahakan yang terbaik" jawab pelayan itu patuh.


Sosok berpakaian hitam itu segera berbalik lalu pergi sedangkan pelayan itu kembali masuk ke dalam mension lewat jalan belakang.


Pagi harinya Alexa menggeliat dalam tidurnya merasakan sesuatu yang basah dan lengket pada tubuhnya. dengan mata yang setengah terbuka Alexa mengangkat tangannya dan kedua matanya langsung terbelalak melihat darah di tangannya.


"AAAAAAAA"


Teriakan Alexa membangunkan semua orang di mension itu terutama Reva dan Edric yang langsung menuju kamar Putri kesayangan mereka.


BRAK


"Alexa" seru Reva dan Edric yang melihat Alexa meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh penuh darah dan tubuhnya gemetar.


"Sayang ada apa" tanya Edric memeluk Alexa yang sedang bergetar.


"Mom, Dad aku benar-benar di teror. lihat disana! Di atas kasur itu banyak bangkai tikus dan ayam Mom" kata Alexa dengan suara bergetar menunjuk ke arah ranjang.


Edric dan Reva mengikuti arah telunjuk Alexa mata mereka langsung membulat.


"A...apa itu mas?" kata Reva yang ikutan bergetar memeluk Alexa.


"Kita keluar dulu" kata Edric mengajak Revan dan Alexa untuk keluar karna sesungguhnya dia juga takut.


"Panggil semua pelayan dan penjaga untuk berkumpul disini" teriak Edric.


Para pelayan dan penjaga langsung kocar kacir mencari teman mereka untuk berkumpul jika tidak mereka pasti akan di hukum.


Beberapa menit kemudian kini sekitar 10 pelayan dan 15 penjaga berbaris rapi di depan Edric.

__ADS_1


Edric menatap mereka satu persatu namun tidak ada yang mencurigakan semua penjaga dan pelayan terlihat tenang kalaupun takut, itu karna mereka takut terhadapnya.


"Siapa yang masuk di kamar putriku" teriak Edric dengan emosi di ubun-ubun.


Para pelayan hanya diam dan saling lirik satu sama lain.


"Jawab" bentak Edric namun tak ada satupun yang menyahut.


"Itu pasti ulah Bi Ina" kata Alexa tiba-tiba membuat semua orang kaget.


"Apa maksudmu Alexa" Edric menatap penuh tanda tanya kepada Alexa.


"Yang meneror aku selama ini adalah Alisya anak pembawa sial itu dan di rumah ini siapa yang paling dekat Alisya selain Bi Ina." jelas Alexa tersenyum licik.


Plak


Wanita tua itu alnhsung tersungkur di lantai dengan kasar karna tamparan yang di berikan Edric.


"Dasar sampah. berani sekali wanita tua seperti kamu meneror putriku." bentak Edric mengcekram dagu BI Ina dengan kasar.


"Pengawal bawah wanita tua ini di gudang belakang lalu cambuk dia 50 kali" perintah Edric.


"Baik Tuan" jawab 2 orang penjaga lalu menarik tubuh rentan BI Ina dengan kasar.


"Tuan kasian BI Ina" kata pelayan yang seumuran dengan Alexa.


"Diam atau aku akan menghukum kamu juga" bentak Edric.


Pelayan itu terlihat membuka mulutnya untuk bicara tapi terhenti kala melihat BI Ina menggelengkan kepalanya dengan senyum lemah.


"Maafkan saya Bi..... saya terlalu ceroboh hingga membahayakan Bibi" sesal gadis itu menatap sendu BI Ina yang semakin menjauh.


"Sekarang bubar" teriak Edric.


Sedangkan di belakang Edric, Alexa diam-diam menyunggingkan senyum licik dan senyum itu di lihat seseorang.


"Aku akan merenggut orang-orang tersayang mu Alisya dengan begitu hidupmu akan semakin hancur.' kata Alexa dalam hati tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar wanita ular! saya harus segera melaporkan ini semua kepada Nona dan Tuan. tunggu pembalasan Nonaku wanita ular." sosok itu mengepalkan kedua tangannya lalu berbalik menuju dapur.


"Astaga Tuan, ku mohon angkatlah jika kita terlambat kepala kita akan di penggal oleh Nona" guman soso yang berpakaian Pelayan mondar mandir di kamarnya.


"Kemana Tuan ini? Apa aku menghubungi Nona saja tapi...." pelayan itu menghentikan ucapannya saat mendengar suara melengking dari gudang belakang.


AAAAAAAAA


"Bi Ina" guman pelayan itu lalu berlari ke arah gudang belakang tempat yang di gunakan jika pengawal atau pelayan melakukan kesalahan.


Sampai di sana pelayan itu membulatkan matanya melihat Alexa mencambuk tubuh Bi Ina dengan cambuk berduri.


"Hahahaha dasar sampah, mati saja kau. jika kau mati aku yakin anak pembawa sial itu akan semakin menderita" kata Alexa dengan wajah puas meninggalkan Bi Ina yang tergeletak tak berdaya di lantai kotor itu.


"Bi Ina" pelayan itu segera mendekat dan mengangkat kepala Bi Ina yang ternyata masih sadar.


"Bertahanlah Bi saya akan segera membawa bibi ke rumah sakit" kata pelayan itu mengangkat tubuh tua Bi Ina seperti mengangkat kapas.


"Selain licik anda juga ternyata sangat keji Alexa"


Sedangkan di tempat lain Alisya dari taditidak bisa fokus terhadap pekerjaannya. perasaannya di liputi kegelisahan dan ketakutan seakan-akan Ia akan kehilangan salah satu orang yang dia cintai.


Alisya terus melamun hingg tiba-tiba Ia di kejutkan dengan dering ponsel di tasnya. dengan perasaan yang semakin gelisah Alisya mengangkat telpon itu.


"Ada ap....."


BRAK

__ADS_1


__ADS_2