
"Saya lebih memilih menghamburkan uang saya dengan mendirikan Rumah sakit kecil, panti asuhan yang layak pakai, panti Jompo yang luas dan sekolah gratis karna saya sadar saya berasal dari sana" kata Maya mengakhiri ceritanya.
Deg
Dirga tertegun mendengar penuturan Maya yang begitu menohok untuk sekilas Dirga melirik Maya yang sedang menatap keluar. Dirga akui dia memang yatim piatu tapi ia tidak semenyedihkan dan semenderita yang di ceritakan Maya barusan.
Dirga memang belum mengetahui asal usul Maya dari mana karna dia tidak mencari tahu lebih dalam lagi yang Dirga tahu Maya adalah sahabat kecil Alisya. Namun jika Maya berasal dari sana seperti katanya lalu bagaimana dia bisa sukses seperti sekarang apa karna Alisya pikir Dirga.
"Anda salah. Saya dan Alisya, kami memang dari kecil tapi nasibku tak berbeda jauh dengan Alisya kecil juga." kata Maya yang seakan tau isi pikiran Dirga.
"Kau ingin tahu apa pekerjaan kami waktu kecil untuk menghasilkan uang?" Maya bertanya dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Dirga.
Untuk sesaat Dirga menahan napas saat Maya begitu dekat dengan dirinya.
"Aku tau kok kamu penasaran...." kata Maya dengan senyum manis.
"Akan aku ceritakan" lanjut Maya masih dengan senyum di bibirnya.
"Kami bersahabat bermula dari nasib yang hampir sama dan juga hobby yang sama yaitu menghacker heheh" kata Maya terkekeh kecil.
"Bahkan karna hanya untuk membeli Leptop kami sampai mencopet pria paruh baya yang saat itu mobilnya mogok di jalan" terang Maya dengan sedih.
"Kenapa anda sedih Nona?" tanya Dirga yang berubah sedikit lembut. ingat hanya sedikit.
"Aku sedih karna kami berdua aku dan Alisya sudah berusaha mencari pria itu namun kami tidak pernah menemukannya lagi padahal kamu ingin mengembalikan suatu hal yang berharga padanya." kata Maya dengan lesuh.
"Simpan saja nanti jika sudah ketemu kalian bisa mengembalikannya." kata Dirga karna dia tidak tau mau bicara apa melihat Maya sedih saja Dirga sudah pusing mau menghibur tapi dia tidak tahu caranya bagaimana.
"Hm aku cuma berharap pria itu masih hidup" Guman Maya menghela napas.
Sedang di tempat Alisya kini tengah termenung menatap kosong sinar orange di depan sana.
"Sedikit lagi, aku akan menyelesaikan dendam kalian. Ku harap kalian tidak membenci Alisya yang menempuh jalan ini untuk membalas dendam kalian." guman Alisya menatap langit dengan sendu.
Alisya berjalan masuk ke dalam kamar pribadi Kenzo yang sudah menjadi kamarnya semenjak sering kemari.
Alisya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. beberapa menit kemudian Alisya keluar dari kamar mandi lalu menuju walk in close.
Sampai disana entah kenapa Alisya malah berjalan menuju lemari pakaian Kenzo lalu membukanya.
Alisya mulai mencari-cari kemeja yang akan dia kenakan hingga tatapan matanya jatuh pada kotak hitam berwarna hitam di antara deretan pakaian Kenzo.
"Ini apa?" guman Alisya mengambil kotak itu lalu membukanya. kedua matanya terbelalak saat melihat benda yang amat familiar di dalam kotak itu.
__ADS_1
"Kalung ini....."
Mata Alisya berkaca-kaca menatap kung di kotak itu dengan sendu. Tangannya dengan lembut mengelus kalung itu. Alisya mengambil kalung itu lalu menatapnya dengan intes.
"Sama persisi" Guman Alisya kembali memasukan kalung itu di dalam kotak.
Alisya langsung berbalik ke arah lemari pakaian miliknya dengan tergesa-gesa Alisya memakai pakaiannya secara acak.
"Selamat datang Tuan"
Anggota yang berjaga di depan gerbang KL langsung membungkuk hormat saat Dirga menurunkan kaca mobilnya.
"Parkirkan di dalam" kata Dirga datar menyerahkan kuncinya pada anggota yang berjaga.
Dirga berjalan masuk dalam markas KL di ikuti Maya di belakangnya. Dirga langsung menuju ruangan yang biasa di gunakan untuk membahas suatu strategi bersama anggota KL karna Dirga yakin Tuannya juga pasti berada disana.
Ceklek
"Selamat Sore Tuan"
Dirga langsung membungkuk sedikit saat melihat Kenzo.
"Dirga....? Untuk apa kamu disini bukankah aku menyuruhmu untuk menyelesaikan masalah kantor?" Kenzo bertanya dengan heran karna orang kepercayaannya itu berada di markas sementara ia tidak memanggilnya.
"Benarkah?"
"Be...benar Tuan. Alisya menyuruh saya untuk mencari Tuan Dirga untuk berkumpul disini karna ada suatu hal yang di bahas."
Mendengar itu Kenzo hanya bisa diam sedangkan Ramos dan Alvaro hanya saling lirik.
BRAK
Mereka semua di kagetkan dengan pintu yang di buka Dengan kasar lalu muncul Alisya dengan napas terengah-engah.
"Baby apa yang kamu lakukan?"
"Woy kamu mau membuat sahabatmu ini mati muda ya....?"
Pekik Maya dan Kenzo secara bersamaan.
"Diam Maya" kata Alisya penuh penekanan.
Alisya berjalan menuju Kenzo dengan wajah yang sulit di tebak sedangkan Kenzo hanya bisa mengernyitkan alis.
__ADS_1
Tak
Alisya meletakkan kotak bundar berwarna hitam di atas meja depan Kenzo. Kenzo yang melihat kotak itu langsung kaget lalu mengambilnya dan membukanya.
"Kenapa....? Apa kamu menyukainya? Jika ia maka aku......" kalimat Kenzo terhenti saat Alisya memotongnya.
"Dimana kamu mendapatkan kalung itu?" Alisya bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Namun hal itu langsung membuat Kenzo kelipungan yang berpikir jika Alisya salah paham padanya yang mungkin mengira jika barang itu dari seorang wanita atau milik orang yang dia cintai walau benar jika barang itu memang berasal dari orang yang amat dia sayangi dan rindukan.
"Baby aku bisa jelaskan ini bukan barang dari wanita lain atau barang kenangan dari wanita di masa lalu ku. Baby kamu adalah orang pertama yang aku cintai dan yang akan menjadi terakhir aku cintai." kata Kenzo panjang kali lebar memeluk Alisya.
"Katakan dimana pemilik kalung ini?" tanya Alisya yang melepaskan pelukan Kenzo lalu menatap Kenzo dengan sendu.
"$hit apa Alisya salah paham bagaimana ini? aku tidak mungkin membuang kalung itu. Hanya itu yang aku punya kenangan dari dirinya" batin Kenzo yang gelisah.
"Pemilik kalung ini memang orang yang sangat aku sayangi dan aku rindukan bahkan sampai sekarang tapi percayalah baby aku tak pernah menghianati kamu atau mencintai wanita lain tapi aku juga tidak bisa membuang kalung ini jika kamu mau aku bisa memberikannya padamu tapi aku mohon jangan buang" kata lezno dengan sendu.
Sedangkan Maya yang melihat mata kalung di tangan Kenzo langsung menyipitkan mata.
"Kalung itu...sedikit familiar." guman Maya yang mencoba berfikir hingga matanya tiba-tiba melotot.
"ALISYA KALUNG ITU........"teriak Maya menunjuk kalung di tangan Kenzo sedangkan Alisya hanya bisa mengangguk dengan mata yang memerah.
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Alisya yang hanya di jawab anggukan oleh Alisya.
"Tuan saya mohon tolong katakan siapa pemilik kalung itu" kata Maya maju dua langkah hingga berdiri sejajar dengan Alisya.
"Pemilik kalung ini bernama Ardan kalung ini sebenarnya sepasang namun yang untuk wanita hilang beberapa tahun lalu. kalung ini sengaja di desain khusus karna Tuan Ardan ingin memberikan pasangan kalung ini kepada wanita yang akan menjadi menantunya yaitu menantu dari seorang Ardan Sardin Keano" kata Kenzo dengan sedih.
Deg
"Ardan Sardin Keano?" guman Maya dan Alisya yang saling melirik.
"Di.....dia A....ayah kamu?" Alisya bertanya dengan suara yang tercekat.
"Dia....... dia sudah meninggal beberapa tahun lalu" jawab Kenzo.
Jedarrrr
**Kalung pasangan yang di ambil oleh Alisya dan yang di tangan Kenzo
Alisya yang agak kuning dan Kenzo yang warna hitam**
__ADS_1