
Hoeek hoekk hoekk
"Ssst ada apa denganku kenapa sudah beberapa hari ini aku selalu mual dan lagi bulan ini tamu bulana ku belum datang" guman Alexa menyeka bibirnya dengan air setelah mengeluarkan cairan putih.
"Jangan-jangan aku...... tidak mungkin." Alexa langsung menggelengkan keras kepalanya saat membayangkan itu terjadi.
"Aku harus segera memastikan." kata Alexa yakin.
Alexa segera membersihkan diri lalu berjalan keluar dan bersiap-siap untuk turun sarapan bersama.
Tak
Tak
Tak
Alexa berjalan melewati satu persatu anak tangga menuju lantai satu.
"Morning Mom, Da.... Dad" sapa Alexa walau ia masih terlihat canggung mengingat apa yang mereka lakukan beberapa minggu lalu.
"Cih" Reva hanya berdecih menatap Sinis Alexa.
Sejak kejadian Alexa dan Edric yang menghianati Reva kini keluarga mereka semakin berantakan. Reva yang terus membentak dan menyiksa Alexa saat Edric tidak ada di rumah bahkan tak segan-segan untuk menyakiti fisik Alexa dengan tangannya sendiri. kasih sayang yang dulunya begitu besar kini telah terganti dengan rasa kebencian yang semakin hari semakin bertambah besar.
Sedangkan Edric bersikap bodoh amat walau terkadang dia akan menegur namun itu hanya beberapa kali saja apalagi dirinya sudah jarang pulang karna terlalu asyik bersama wanita selingkuhannya di luar sana.
Di satu sisi Alexa sangat sudah tidak tahan dengan penyiksaan yang di berikan Reva kepadanya tiap hari. dari yang mengepel cuci piring, semua pekerjaan rumah dia kerjakan padahal ada Anna sebagai pelayan namun Reva hanya memperkejakan Anna di pagi hari untuk memasak selebihnya dirinya yang kerjakan.
Alexa semakin tidak tahan saat menghadapi Reva sebagai ibunya yang selama ini memanjakannya kini mulai melukainya secara fisik dan batin belum lagi Edric sebagai Ayahnya sering datang untuk melecehkannya di malam hari tanpa sepengetahuan Reva dan Alexa tidak bisa menolak karna selalu di ikat.
Alexa benar-benar terpuruk sekarang tapi jika ia pergi dari rumah ini dimana dia harus tinggal dia tidak punya uang sepersen pun di tangannya. Bahkan untuk perawatan tubuhnya saja tidak.
"Aku berangkat" kata Edric segera berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar tanpa menghiraukan kedua orang yang terdiam di meja makan.
Tanpa Edric ketahui Reva dan Alexa menatap sendu punggung Edric yang menjauh tanpa menoleh ke arah mereka sedetik pun.
"Daddy/Edric kamu berubah" batin keduanya.
"Nggak usah lihat." sentak Reva membuat Alexa kaget.
"Bersihkan semua ini" lanjut Reva penuh titah menatap sinis Alexa lalu berbalik meninggalkan meja makan.
"Kenapa semua orang berubah. Mommy? Daddy? mereka tidak menyayangi aku lagi seperti dulu. mereka selalu menyiksaku baik fisik dan batin dan ini semua karna Alisya pembawa sial itu. coba saja ia tidak mengambil alih perusahaan aku tidak akan merasakan penderitaan semacam ini" kata Alexa dengan menggertakkan giginya sampai berbunyi dengan kepalan tangannya yang menguat.
__ADS_1
"Dasar wanita ular bukannya menyesal kamu malah menyalahkan Nona ku. jika Nona sudah tidak ingin bermain bersama kamu lagi sudah aku basmi kamu dari dulu" batin Anna menatap benci Alexa.
"Bereskan semua ini" perintah Alexa kepada Anna.
"Tapi......."
"Tapi apa ha........? jangan tidak tahu diri. kamu itu disini sebagai pelayan bukan majikan. Menjijikan" bentak Alexa kepada Anna.
Sedangkan Anna yang mendengar hinaan Alexa hanya bisa diam dengan menutup mata dengan tangan yang mengepal kuat.
"Saya memang pelayan tapi jika karna bukan perintah langsung dari Nona mana Sudi aku kerja dengan keluarga sampah seperti kalian" ucap Anna pelan menatap tajam punggung Alexa yang sedang menaiki tangga.
Sedangkan di tempat lain Alisya sedang mengamuk besar-besaran bagaimana tidak mau mengamuk ternyata di perusahaan itu ada penggelapan dana dan yang menjadi tersangkanya adalah Edric alias mantan Daddynya.
"Dasar tua Bangka bau tanah. sudah mau mati masih cari dosa tambahan lagi" umpat Alisya menendang kaki meja kerjanya.
"Panggilkan Tua Bangka itu Galang" perintah Alisya kepada Sekretarisnya.
"Baik Nona" kata Galang lalu berjalan keluar dari ruangan Alisya.
Beberapa menit kemudian Galang kembali dengan Edric yang berjalan di belakangnya.
"Silahkan duduk Tuan Edric" kata Alisya datar.
"Anda tau untuk apa anda di panggil kemari?" tanya Alisya datar dan dingin.
"Tentu karna ingin memberi Daddy bonuskan? atau kamu ingin mengembalikan posisi kamu kepada Daddy?" tanya Edric dengan wajah berseri-seri.
"Cih dasar tuan bangia gila uang" umpat Alisya dalam hati.
"Saya memanggil anda karna mulai dari hari ini anda di pecat" kata Alisya tegas.
Sontak hal itu membuat Edric langsung melotot kaget.
"Pecat" beo Edric.
"Yah anda di pecat" ulang Alisya tegas.
"Tapi kenapa?" tanya Edric menahan amarah.
"Kenapa anda bilang? saat sudah seperti ini anda belum juga mengaku? apa anda pikir saya bodoh tidak mengetahui apa yang anda lakukan selama ini ha....? anda bahkan menggelapkan uang perusahaan secara besar-besaran!"kata Alisya penuh penekanan menatap tajam Edric.
"Alisya dengarkan dulu penjelasan Daddy. Daddy melakukan semua ini karna Mommy kamu butuh uang dia menjadi stress akhir-akhir ini hingga harus ke psikiater" kata Edric cepat.
__ADS_1
Sontak mendengar itu Alisya langsung tertawa terbahak-bahak sedangkan Edric hanya bisa mengenyitkan dahi mantap heran Alisya yang sedang tertawa. Apa yang lucu pikir Edric.
Hahahaha
"Psikiater? anda jangan mengada-ngada Tuan. Uang itu Tuan gunakan untuk memanjakan para selingkuhan anda di luar sana. Anda pikir saya tidak tahu akan itu" kata Alisya sinis
Deg
Edric menggertakkan giginya mendengar penuturan Alisya.
"Jadi kamu mau apa?" tanya Edric menahan amarah.
"Kurang jelas? anda di pecat" kata Alisya penuh penekanan.
Brak
"Kamu fikir kamu bisa ha.......? Ingat aku punya saham......."
TAK
"Disana anda telah menyetujui pemindahan saham milik anda Tuan Edric yang terhormat" potong Alisya meletakkan map coklat di depan Edric.
Mendengar itu Edric segera mengambil Map itu lalu membuka dan membacanya kedua matanya langsung melotot saat melihat nama dan tanda tangannya ada di berkas itu.
Brak
"Apa-apaan ini ha.....? aku tidak pernah menanda tangani ini semua. Ini semua bohong ini penipuan" teriak Edric.
"Tidak ada penipuan tapi ini adalah kebenarannya anda tak punya hak lagi di perusahaan ini" balas Alisya santai.
"Brengsek" umpat Edric menggembrak meja dengan keras.
"Dasar anak durhaka"
Teriak Edric yang maju untuk menyerang Alisya tapi di hentikan oleh satpam yang entah sejak kapan berada disitu.
"LEPASKAN, LEPASKAN AKU, ANAK ITU MEMANG HARUS DI BERI PELAJARAN LEPASKAN!" teriak Edric yang terus memberontak.
Alisya hanya tersenyum tipis lalu melambaikan tangannya tanda mengusir atau menyuruh keluar. Satpam segera menyeret Edric yang masih terus teriak dan memberontak namun sebelum Edric benar-benar keluar Alisya mengeluarkan kalimat yang mampu membuat Edric bergetar.
"Bersiaplah karna pembalasan orang tuaku akan segera aku tagih" kata Alisya dingin.
Deg
__ADS_1