Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Mengambil Alih Perusahaan


__ADS_3

Alisya menatap gedung di depannya lalu menatap lagi Maya.


"Pulanglah." kata Alisya lalu turun dari mobil Maya.


"Sahabat kagak ada ahlak seenak jidat nyuruh ini itu. nggak ucapin terimah kasih lagi" gerutu Maya.


Sedangkan Alisya kini dengan santai masuk ke perusahaan Kenzo namun Alisya langsung mengernyit bingun melihat tatapan orang-orang di sekitarnya. ada yang menghujat ada pula yang bingun dan bertanya-tanya.


"Dia Nona Alexa apa Nona Alisya"


"Itu pasti Nona muda sombong itu"


"Iya kan selama ini dia juga kerap kali menghina kita"


"Kasian ya yang menjadi kembarannya"


"Dia menjadi Putri yang di manja sedangkan Kembarannya menjadi Putri terbuang"


Alisya mengepalkan kedua tangannya mendengar kata-kata itu di sepanjang jalannya. Alisya bukan marah karna di hina karna ia tahu yang mereka maksud adalah Alexa bukan dirinya. hanya saja Alisya dari dulu sangat membenci orang-orang yang merasa kasihan atau menatap iba padanya karna apa yang menimpanya.


"Aku membenci hal ini" kata Alisya dalam hati mempercepat langkahnya menuju Lift.


"Huuu tenang Alisya semua akan baik-baik saja. sebentar lagi tidak akan ada tatapan seperti itu lagi" Guman Alisya mengepalkan tangan.


Ting


Alisya langsung keluar dari lift lalu menuju ruangan Kenzo. sampai di depan ruangan Kenzo tanpa mengetok Alisya langsung masuk begitu saja.


Ceklek


"Kenzo"


Kenzo yang sedang fokus kepada Leptopnya langsung mengangkat pandangannya saat mendengar suara kekasihnya.


"Sayang kamu kenapa disini" Kenzo berdiri lalu menghampiri Alisya dan mengecup singkat kening Alisya.


"Apa aku tidak boleh datang menemui kekasihku"


"Kekasih? aku sudah lama menunggu hal ini" batin Kenzo yang bersorak-sorai.


"Bukan begitu maksudku hanya saja bukankah kamu menghadiri rapat pemegang saham Beatrix Company"


"Sudah selsai" potong Alisya cepat lalu duduk di sofa dengan tenang.

__ADS_1


"Sudah selsai" beo Kenzo mengernyitkan dahi.


"Ya sudah selesai" jawab Alisya santai.


"Bagaimana bisa" kaget Kenzo.


"Yah bisalah mereka tidak punya pilihan selain percaya padaku jika tidak perusahaan itu akan bangkrut"


"Bagaimana mana bisa secepat ini? walau mereka tidak punya pilihan lain mereka tidak akan semudah itu untuk percaya kepada Alisya apalagi sekarang ia kini di kenal sebagai putri buangan oleh publik." batin Kenzo bertanya-tanya.


"Aku ingin makan siang bersamamu di...." Alisya tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat tumpukan berkas di meja kerja Kenzo yang menumpuk.


"Yasudah Ayo kita berangkat" kata Kenzo yang tak ingi mengecewakan Alisya. soal pekerjaan bisa ia selesaikan sebentar malam walau harus lembur lagi pikir Kenzo.


"Tidak usah aku ingin makan siang disini saja. kita pesan saja" ucap Alisya.


"Kamu serius"


"Ya aku ingin makan di ruangan kamu"


"Baiklah. pesan apapun yang kamu mau" ucap Kenzo lalu menyodorkan sebuah Tab ke arah Alisya.


Di tempat lain Edric sedang mengamuk di ruangan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


"Dasar anak membawa sial. jika aku tahu dia akan menjadi penghalangku sudah aku bunuh dia dari kecil" Umpat Edric menendang Meja.


"Cih dia fikir aku akan meninggalkan ruangan ini. he ruangan ini adalah milikku begitu juga dengan perusahaan Beatrix Company semua ini adalah milikku" kata Edric dengan sinis menatap kekacauan yang ia buat untuk melampiaskan amarahnya.


Edric hanya bisa menghela napas lalu menelfon sekretarisnya untuk membereskan kekacauan di dalam ruangannya.


Sedangkan di kediaman Beatrix puluhan wartawan berdiri berjejer di depan pagar rumah itu. membuat yang punya rumah stres karna suara mereka yang berisik yang terus meneriaki nama Alexa.


"Mom ini bagaimana? aku nggak bisa keluar lagi dengan bebas bahkan teman-teman aku semua pada hindarin aku Mom" Alexa mengadu kepada Reva yang hanya bisa diam memijit pelipisnya.


"Ini semua karna Alisya kenapa dia harus hadir di pesta itu" kata Alexa menyalahkan Alisya atas apa yang terjadi padanya.


"Bukan hanya hadir di pesta seharusnya kau tidak lahir di dunia ini Alisya" umpat Alexa dalam hati menggebu-gebu.


" Kamu benar sayang. ini semua karna anak pembawa sial itu" timpal Reva yang ikut menyalahkan Alisya.


"Lihat saja akan Mommy beri pelajaran anak itu karnanya kita semua menjadi seperti ini" lanjut Reva menahan amarah.


Pesta ulang tahun yang di impikan Alexa kacau karna kehadiran Alisya di depan publik. selain itu karna fakta tentang mereka yang mempunyai anak kembar dan Terbongkarnya perlakuan mereka yang tidak adil kepada kedua putri mereka itu menimbulkan banyak tanggapan pro dan kontra.

__ADS_1


Salah satunya Alexa dimana dia kini pandang buruk oleh publik karna telah merebut kebahagiaan saudarinya sendiri. oleh karena itu Alexa menjadi stres bahkan enggan untuk membuka media sosial jangankan membuka media sosial memegang ponsel saja tidak.


Alexa bertambah gelisah saat dia terus mendapat pesan teror dari nomor asing setiap saat mulai dari pagi, siang, malam,bahkan setiap tengah malam ada saja yang mengetok jendela kamarnya padahal kamarnya berada di lantai dua.


...****************...


Ceklek


"Kenapa Tuan masih berada di ruangan saya" Alisya menatap tajam sosok yang tengah duduk dan mengangkat kakinya di meja itu.


Alisya tidak bisa lagi menahan rasa benci terhadap sosok itu hingga kini Alisya menatap sosok itu sebagai target musuh dia selanjutnya.


"Alisya ini ruangan Daddy kenapa kamu harus mengusir Daddy dari ruangan Daddy sendiri" jawab sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Edric.


"Cih berhenti memanggil dirimu Daddy. anda lupa saya sudah memutuskan hubungan keluarga dengan anda. jadi saya bukan anak anda lagi" kata Alisya dingin menatap benci sosok yang dulu pernah ia dambakan kasih sayangnya.


"Alisya apa kamu lupa perusahaan ini adalah perusahan ayahku...."


"Dan kakek mewariskannya padaku bukan pada anda atau putri kesayangan anda itu." potong Alisya cepat mampu membungkam mulut Edric.


"Pfffft mampus kau tua Bangka" Maya yang sedari tadi berada di belakang Alisya hampir melepaskan tawa saat Alisya membungkam mulut Edric dengan kalimat pedas.


"Tapi Alisya jika Daddy keluar dari perusahaan ini Daddy harus kerja dimana. Daddy sudah tua tidak mudah mencari pekerjaan di usia seperti ini. bagaimana cara Daddy menghidupi ibu dan...."


"Saya nggak peduli bahkan jika kalian pengemis sekalipun" potong Alisya dengan sinis.


"ALISYA KAMI INI KELUARGAMU" bentak Edric menyalah-nyalah.


"Berapa kali pula aku ingatkan bahwa bukan lagi keluarga sejak di rumah sakit 1 bulan lalu" tekan Alisya.


"Anda ingin keluar baik-baik atau saya panggil satpam untuk menyeret anda keluar dengan paksa" ucap Maya tiba-tiba.


Mendengar penghinaan itu membuat Edric mau tidak mau membereskan semua barang-barang miliknya di sebuah kardus. ia tidak ingin di seret keluar oleh satpam yang akan membuat seluruh karyawan tahu jika sekarang ia tidak lagi bekerja di perusahaan Beatrix Company.


Setelah semua barangnya di masukan di kardus dengan menahan emosi berjalan keluar namun sebelum mencapai pintu Edric terhenti karna perkataan Alisya.


"Jika Tuan memang membutuhkan sebuah pekerjaan silahkan datang kembali kepada saya jika tidak ada yang mau menerima Tuan Edric yang terhormat" ucap Alisya menatap sinis punggung mantan Daddy-nya.


"Kamu akan menyesal Alisya" geram Edric menatap tajam Alisya yang duduk santai di sofa.


"Saya tidak akan menyesal tapi Tuan yang akan segera menyesal." balas Alisya dengan senyum miring.


"Dasar anak pembawa sial" teriak Edric murka.

__ADS_1


"Bukan saya yang pembawa sial tapi kalian yang pembawa sial datang membawa petaka untuk saya" balas Alisya datar dan dingin


Deg


__ADS_2