Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Kematian sang pengasuh


__ADS_3

"Ada ap....."


BRAK


Alisya langsung menyambar tasnya lalu berlari keluar dengan tergesa-gesa.


Bruk


"Maaf Tuan" ucap Alisya menundukkan kepala 3 kali lalu berbalik dan kembali berlari tapi lengannya di cekal.


"Baby. Kamu kenapa" tanya pria yang mencekal tangan Alisya yang tak lain adalah Kenzo.


Kenzo yang baru masih di perusahaan kekasihnya itu langsung mengernyitkan dahi saat melihat Alisya keluar dari lift dengan keadaan kacau serta air mata yang jatuh.


Karna ingin menghentikan langkah Alisya dengan terpaksa Kenzo sengaja menabrakkan diri ke Alisya agar Alisya berhenti.


"Maaf aku harus pergi" kata Alisya melepaskan tangan Kenzo.


"Tidak. Biar aku antar, aku tidak akan membiarkan kamu berkendara dalam keadaan seperti ini" kata Kenzo yang ikut khawatir karna dia yakin Wanitanya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Alisya tidak menolak karna dia sadar dia tidak akan mampu berkendara dengan kepala yang bercabang seperti ini. Alisya tanpa bersuara langsung masuk di mobil Kenzo yang di ikuti oleh Dirga dan Kenzo.


"Kita kemana Nona?" tanya Dirga melirik Alisya lewat kaca spion.


"Ke ruang sakit Xx" ucap Alisya yang sudah berkeringat dingin.


Mendengar itu baik Dirga maupun Kenzo tidak ada yang berani bertanya. Dirga langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh Alisya.


"Ku mohon bertahanlah Bi" Alisya hanya bisa meremas tangannya dan memanjatkan doa untuk pengasuhnya itu.


Sampai di rumah sakit tanpa ba-bi-bu Alisya langsung turun dari mobil lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit di ikuti Kenzo di belakangnya.


Hah hah hah


"Nona" seorang pelayan membungkukkan badannya saat melihat Nonanya berdiri di depannya.


"Bagaimana keadaan Bibi?" tanya Alisya dengan napas yang masih terengah-engah.


"Bibi masih di dalam Nona" jawab pelayan itu.


"Kenapa bisa begini?" Alisya bertanya dengan nada dingin dan tatapan tajam bagaikan seekor elang yang mencintai mangsa.


"Bi Ina di hukum cambuk karna di tuduh meneror Nona Alexa" kata pelayan itu.


PLAK


Tamparan Alisya benar-benar kuat saking kuatnya pelayan itu sampai jatuh tersungkur. dada Alisya bergerumu, dadanya naik turun karna menahan segala amarah yang berkobar.


Sedangkan 5 langkah di belakang Alisya Kenzo dan Dirga hanya bisa mematung melihat kemarahan Alisya di tambah lagi bibir pelayan itu sobek hanya karna tamparan.


"Bangun" kata Alisya datar dan dingin.


Pelayan itu langsung berdiri tegak tidak ada mata ketakutan yang ada hanya mata tegas siap menerima semua konsekuensinya dari akibat perbuatannya yang ceroboh.


"Kamu tahu apa tugasmu Anna? selain meneror wanita ular itu. tugas utama kamu adalah menjaganya sialan...." Kata Alisya dengan suara rendah penuh amarah.

__ADS_1


"Maafkan saya Nona" ucap pelayan itu dengan penuh penyesalan.


"Pergi. terimah hukumanmu" perintah Alisya mutlak.


"Baik. permisi Nona" jawab pelayan itu yang bernama Anna.


"Alexa tunggu pembalasanku" batin Alisya mengepalkan kedua tangannya.


"Baby tenanglah" kata Kenzo mencoba menenangkan Alisya yang tampak kacau sekarang.


Ceklek


"Keluarga pasien" kata Dokter.


"Saya anaknya Dok, bagaimana keadaannya?" jawab Alisya.


"Pasien ingin bertemu dengan Alisya. apa anda nona Alisya?" tanya Dokter itu.


"Iya saya Alisya" jawab Alisya cepat entah kenapa Alisya merasakan perasaan semakin gelisah dan takut.


"Masuklah" Dokter itu mempersilahkan Alisya masuk ke dalam.


Alisya langsung berlari masuk sampai di depan brankar Bi Ina Alisya tidak bisa menahan air matanya lagi melihat Bi Ina yang berbaring miring.


"Bi...bibi" panggil Alisya dengan suara bergetar.


"Non Lisya" Bi Ina masih tersenyum ke arah Alisya walau Alisya tau itu adalah senyum keterpaksaan.


"Bagaimana keadaan Bibi?"


"Non Lisya Bibi minta maaf yah nggak bisa menemani Non Lisya lagi"


"Non dengarin bibi yah. ada suatu hal yang harus Non tahu dan Bibi harap kamu membalaskan rasa sakit dan kesepian wanita tua ini."


"Apa Bi?"


"Non Lisya bukanlah anak kandung Tuan Edric dan Nyonya Reva"


Dhuar


Dunia Alisya langsung runtuh mendengar pengakuan itu. Alisya sangat mempercayai BI Ina mengingat wanita tua ini adalah pelayan yang melayani kakek neneknya dulu.


"Ng...nggak mu....mungkin Bi" kata Alisya dengan bergetar dan menolak percaya akan hal itu.


"Itu kenyataannya Non."


"Tapi kenapa wajahku dengan wajah Alisya bisa sama?"


"Tidakkah Non ingat waktu kecil wajah Non Lisya dan Non Alexa berbeda?"


"Selama ini Non Alexa memakai topeng kulit untuk menyerupai wajah anda atas permintaan Tuan Edric."


"Topeng?"


"Yah. dari kecil Tuan Edric sudah berusaha membunuh Anda agar warisan Tuan Besar jatuh ke tangannya atau tangan Non Alexa tapi semua rencananya bibi dan suami Bibi gagalkan hingga suami BI i merenggang nyawa."

__ADS_1


"Tuan besar mempunyai anak kembar laki-laki yang sangat mirip hampir tidak ada perbedaan. Anak si bungsu bernama Edward Kaif Beatrix yaitu ayah kandung Non Alisya dan si sulung adalah Edric Kaif Beatrix walau pun kembar namun sifat keduanya bertolak belakang. Tuan Edward memiliki sifat dewasa dan bijaksana sedangkan Tuan Edric memiliki sifat yang licik dan serakah. karna sifat keserakahan itu pula membuat Tuan besar memberikan perusahaan kepada Tuan Edward bukan kepada Tuan Edric yang membuat Tuan Edric semakin membenci Tuan Edward,"


Bi Ina mengambil nafas sebentar lalu mulai melanjutkan lagi ceritanya.


"Malam itu Tuan Edward dan Istrinya Nyonya Rifka sedang pergi menghadiri acara rekan bisnis namu tak di sangka malam itu adalah malam terakhir Tuan Edward dan Nyonya Rifka di dunia sekaligus lahirnya Non di dunia dan semua itu adalah Rencana Tuan Edric dan Nyonya Reva namun mereka harus kecewa karna anda selamat jadi mau tidak mau mereka harus merawat Non karna jika tidak perusahaan akan di sumbangkan kepada panti asuhan. tidak punya pilihan lain akhirnya Non di bawah pulang oleh Tuan Edric. awalnya Tuan Edric hanya mengacuhkan Non namun lama kelamaan Tuan Edric mulai main tangan kepada Non apalagi setelah mengetahui jika perusahaan di wariskan kepada Non." Bi Ina menyelesaikan ceritanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Jadi Daddy dan Mommy kecelakaan karna mereka?" tanya Alisya yang langsung di jawab anggukan kepala Bi Ina.


"Selain itu Bibi tau bukan Non yang mendorong Tuan besar dari tangga melainkan Nona Alexa. Maafkan Bibi yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk Non"


"Ini bukan salah Bibi"


"Bi..bibi mohon balaskan rasa sakit dan kematian Tuan besar, serta kematian kedua orang Tuan Non"


"Bibi tenang saja aku akan membalaskan dendam itu" kata Alisya dengan tangan yang mengepal.


"Maafkan Bibi yang tidak bisa mendampingin Non lagi"


Setelah mengatakan itu Bi Ina langsung menutup mata dan badannya langsung lemas seketika.


"Bi...bibi, bibi bangun" kata Alisya mengguncang kecil tubuh Bi Ina yang ternyata sudah tidak bernyawa lagi.


"BIBI......" teriak histeris Alisya memeluk tubuh tanpa nyawa sang pengasuh.


"Aku bersumpah bukan hanya membuat kalian menderita tapi aku akan benar-benar membunuh kalian semua sialan."


"Nona Keluarlah kami akan...."


"Tidak perlu dia benar-benar sudah pergi" potong Alisya datar berjalan keluar.


"Baby"


"Aku butuh bantuan kamu" potong Alisya datar dengan tatapan kosong.


"Apapun yang kamu inginkan" ucap Kenzo.


Tanpa Alisya ketahui Kenzo ikut tersiksa melihat tatapan mata Alisya yang kosong dan tanpa arah.


"Aku butuh pengacara hebat dan aku membutuhkannya segera"


"Akan segera kamu dapatkan" kata Kenzo lalu melirik Dirga.


Dirga yang paham dengan lirikan Bosnya langsung bergegas pergi.


"Aku juga butuh kamu dalam rencana ku"


"Lakukan sesukamu aku akan dengan senang hati jika kamu manfaatkan"


"Dokter" panggil Alisya saat melihat Dokter keluar dengan mendorong Brankar BI Ina untuk di bawah ke ruang mayat.


"Iya Nona"


"Kenapa ibuku bisa sekarat itu jika hanya cambukan biasa?"


"Begini Nona, Ibu anda bukan hanya mengalami cambukan dari tali biasa melainkan cambuk berduri terbukti di belakangnya terdapat beberapa tusukan. selai itu, Senjata yang di gunakan untuk melukai Ibu anda mengandung Racun pelumpuh sehingga Ibu anda sekarat dan tak terselamatkan." jelas dokter itu.

__ADS_1


Mendengar itu Alisya mengepalkan kedua tangannya hingga kuku putihnya menembus telapak tangannya.


"Keluarga sampah. aku akan benar-benar membunuh kalian dengan tanganku sendiri" guman Alisya.


__ADS_2