
Kenzo menatap datar sosok wanita tua di depannya yang dimana Kepala dan tangannya tengah di perban.
"Kenzo Mami ingin berbicara serius tentang amanah papa kamu. Mungkin umur Mami tidak lama lagi..." Ucap Melinda dengan raut wajah sedih entah benaran sedih atau hanya kepura-puraan semata.
"Kamu memang akan segera mati Wanita tua" kata Kenzo dalam hati yang tidak Sudi mengakui wanita di depannya itu sebagai Maminya.
"Amanah apa?" Tanya Kenzo datar yang pura-pura tidak mengetahui apapun.
"Amanah papa mu yang ingin kamu menikah dengan anak dari sahabat papa mu sekaligus cinta pertama papa mu di masa lalu" terang Melinda.
Sontak mendengar itu Kenzo langsung membulatkan mata. Mantan cinta pertama apa maksudnya? Kenzo tidak tahu menahu akan hal itu.
"Datanglah di rumah sakit ini 2 Minggu lagi. Maka kamu akan tahu siapa gadis itu" ucap Melinda yang meletakkan alamat rumah sakit di depan Kenzo.
"Sampai jumpa 2 Minggu ke depan" kata Melinda yang langsung beranjak pergi dengan senyum miring tercetak di bibirnya yang merah menyalah.
"Apalagi yang di rencanakan Nenek Lampir itu?" Guman Alisya yang bersembunyi di sudut dinding saat Melinda keluar dari ruangan Kenzo.
Tanpa Kenzo dan Melinda sadari Alisya telah mendengar semua pembicaraan mereka. Alisya yang setiap hari membawa bekal makan siang untuk Kenzo tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Lihat saja jika kmu berani mengusik rumah tangga ku lewat batas maka aku sendiri yang akan membuat KO wanita tua" geram Alisya.
Tangan Alisya sudah sangat gatal ingin menghabisi wanita tua itu. Tapi mau bagaimana lagi dia juga merupakan mertuanya. Walau mertua tidak ada akhlak.
Huuh
Alisya membuang napas lalu berjalan santai kembali ke ruangan Kenzo.
Ceklek
"Byy..."
"Baby kemarilah" panggil Kenzo yang langsung memberi kode pada tepukan tangannya di sofa sampingnya.
Alisya dengan senang hati berjalan dan duduk di samping sang suami.
"Byy tadi aku lihat ibu kamu keluar dari ruangan kamu. Apa yang kalian bahas?" Tanya Alisya yang berpura-pura bertanya.
Deg
__ADS_1
Kenzo yang mendengar pertanyaan dari Alisya langsung menegang. Bukan tidak ingin memberi tahu hanya saja ia takut menyakiti hati istrinya itu.
"Baby maaf aku tidak bisa memberi tahu mu tapi percayalah apapun yang aku lakukan aku tak akan pernah mengkhianati kamu. Kamu percaya padaku bukan?"
Kenzo menggenggam tangan Alisya menatap wajah sang istri penuh cinta. Bagaimana bisa dia mengkhianati wanita yang duduk di depannya itu. Wanita yang sudah menjadi sebagian bahkan seluruh hidup dan raganya hanya milik wanita ini.
Jangankan mengkhianati memikirkan saja Kenzo tak pernah. Kenzo sangat menyayangi dan mencintai Alisya lebih dari yang di ketahui wanita itu.
"Aku percaya padamu byy, kamu tidak akan mengkhianati aku" kata Alisya dengan lembut mengelus rahang Kenzo.
"Terima kasih" ungkap Kenzo yang menutup mata menikmati elusan tangan lembut dan lentik Alisya pada rahangnya.
"Tapi jika kamu berani mengkhianati aku maka....."
"Kamu bisa menembak ku dengan semua isi peluru dalam pistol mu. Jika kamu tidak puas kamu bisa mencincang tubuhku hingga menjadi potongan daging kecil" potong Kenzo yang membuka mata menatap tajam namun lembut ke arah Alisya selaku sang istri tercinta.
"Aku pegang kata-kata mu byy" balas Alisya yang tersenyum manis.
Kenzo yang melihat bibir pink Alisya langsung menarik tengkuk wanita itu. Hingga bibir keduanya bertemu. Kenzo memagut lembut bibir Alisya yang langsung di balas oleh Alisya. Kedua insan itu terus berciuman lembut tanpa melibatkan nafsu sedikitpun. Baik Kenzo atau pun Alisya sama-sama mencurahkan isi hatinya lewat ciuman lembut itu.
"I love you" ungkap Kenzo yang membersihkan sisa-sisa Saliva di bibir Alisya dengan jempolnya.
"I Love you too" Balas Alisya dengan senyum manis.
"Seperti biasa"
Alisya mulai membuka rantang bekalnya. Mengeluarkan satu persatu isinya lalu mereka berdua mulai makan dengan Alisya yang menyuapi Kenzo. Kenzo tak mau jika bukan Alisya yang menyuapinya. Alhasil Alisya hanya pasrah menyuapi bayi besarnya itu.
Sedangkan di tempat lain Maya baru masuk di ruangan Dirga dengan masker di wajahnya.
Tak
"Sayang" Dirga langsung meletakkan begitu saja berkas di tangannya saat melihat Maya datang membawakan makan siang untuknya.
Grep
Cup
Di peluknya dan di ciumnya kening sang istri yang hanya diam saja. Sebelum mendorong Dirga menjauh lalu berjalan cepat menuju sofa. Dengan gerakan cepat Maya langsung menyimpan tas dan ponselnya di atas meja lalu berlari ke ruangan pribadi Dirga.
__ADS_1
Maya tidak tahu tapi setiap dekat dengan Dirga maunya mual Mulu seperti sekarang. Maya terus mengeluarkan isi perutnya hingga beberapa menit kemudian wajah Maya sudah pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
"Sayang kamu....."
"Stop....! Stop disana, kamu membuat ku tambah mual" potong Maya yang menghentikan gerakan Dirga.
Dirga hanya bisa berdiri mematung dengan menatap iba istrinya yang terus mengeluarkan isi perutnya.
"Apa sebegitu tidak menyukai papa hingga kamu tidak ingin Mama kamu mendekat ke arah papa Nak?" Batin Dirga yang semakin menatap istrinya dengan iba.
Dirga ingin menjadi suami siaga untuk Maya tapi karna kesalahannya beberapa hari yang lalu membuatnya tidak bisa berdekatan dengan Maya sang istri.
Dengan langkah gontai Dirga berlan keluar berjalan menuju ruang kerjanya kembali. Sampai disana Dirga langsung mendudukkannya dirinya di sofa hingga tiba-tiba ponsel Maya berdering.
Dirga yang melihat jika Maya belum keluar segera mengambil ponsel Maya yang berada di dalam tas.
"Bajingan in!"
Dirga segera menekan ikon hijau pada layar ponsel Maya. Maya mendekatkan ponsel Maya di telinganya.
"*********"
Dirga hanya diam mendengarkan ocehan orang di sebrang sana. Dirga mengepalkan tangannya erat dengan gigi yang menggeletuk hingga terdengar. Entah apa yang di bicarakan orang di sebrang sana. Namun intinya Dirga begitu emosi.
Tak
Tak
Mendengar suara langkah kaki Maya sedang mendekat ke arahnya. Dirga langsung mematikan sambungan teleponnya lalu menghapus riwayat panggilan. Meletakkan kembali ponsel Maya di dalam tas. Dirga duduk tenang menu ggu Maya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Dirga hanya bisa bertanya pada Maya dengan jarak yang bahkan sepertinya 2 meter dari istrinya itu.
Sebenarnya Dirga ingin memeluk Maya tapi mau apa di kata bayi yang di kandung Maya benar-benar tidak menyukainya terbukti dengan terus menolak kehadirannya.
"Makanlah. Aku akan pulang" kata Maya ketus langsung menyambar tasnya.
Maya berjalan keluar dari ruangan Dirga meninggalkan Dirga yang menatapnya nanar.
"Huuh aku ingin sekali memeluknya tapi....sudahlah semoga setelah selesai 3 bulan Maya sudah biasa ku dekati. Tak perlu peluk cukup aku bisa dekati saja" Guman Dirga yang membuka bekal rantang yang di bawakan Maya untuknya.
__ADS_1
Jika di hari biasanya Dirga hanya tau makan Maya akan melayaninya dengan baik.
Dirga memakan makan siangnya dengan penuh khidmat. Walau Maya menyuekinya akan tetapi Maya tak pernah lupa akan tugas dan kebiasaannya untuk menyiapkan semua kebutuhan Dirga.