
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Alisya tiba-tiba.
Deg
Mereka bertiga langsung menghentikan tawa mereka dengan badan yang menegang dan mata yang menatap horor Alisya.
"Tidak ada Nona" jawab ketiganya lalu langsung lari kocar kacir masih terekam jelas di ingatan mereka peristiwa yang beberapa menit lalu terjadi.
Flashback
Alisya berjalan dengan kesal memasuki markas Kenzo. wajahnya di tekuk sepanjang jalan dengan mulut yang terus mengoceh tidak jelas.
"Kenapa sih mereka itu tidak bisa akur sedetik saja? mereka selalu berdebat dan bertengkar akan hal-hal yang nggak penting dan bermutu. Mereka berdua itu pria matang tapi tingkat mereka seperti bocah 5 tahun. menyebalkan." gerutu Alisya setiap mengingat perdebatan dan pertengkaran Kenzo dan Bimo itu membuat kepala berdenyut sakit karna ulah kedua bayi besar itu.
Alisya berjalan menuju ruangan yang menjadi tempat untuk Reva dan Edric mainanya. Namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan ketiga pria yang di duga adalah bawahan kepercayaan Kenzo.
"Hey kalian....!" panggil Alisya kepada ketiga pria yang sedang mengobrol santai itu.
"Kami Nona?" beo mereka bertiga menunjuk dori masing-masing.
"Ya siapa lagi? ayo kemari!" Ucap Alisya seperti perintah membuat ketiga pria itu berjalan menuju ke arah Alisya yang kini hanya bisa bersandar di tembok.
"Ada apa Nona?" tanya Ramos saat sudah di depan Alisya.
Mereka bertiga menundukan kepala kepada Alisya tanpa mengangkat atau melihat ke arah Alisy karna mereka tidak ingin di hukum jika ketahuan menatap wajah Alisya walau hanya sedetik saja.
"Antar aku ke ruangan kedua manusia jadi-jadian itu" kata Alisya dengan wajah penuh senyum.
"Manusia jadi-jadian?" batin ketiganya dengan dahi yang mengkerut dalam.
"Maaf Nona tapi disini tidak ada manusia jadi-jadian disini manusia semua Nona" kata Alvaro memberanikan diri untuk berbicara dan menatap Alisya dengan tujuan menunjukan kenyataan buka kebohongan.
"Ada. Mereka berada di ruang tahanan" kata Alisya yang membuat mereka bertiga semakin bingun.
"Tapi Nona tahanan kamu hanya manusia semua tidak ada manusia jadi-jadian" balas Alvaro yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kris dan Ramos.
"Benar Nona" seru Kris dan Ramos bersamaan.
"Cih maksud aku tuh tahanan Tuan Edric dan Nyonya Reva terhormat" kata Alisya.
"Astaga apa-apaan Nona ini bagaimana bisa kedua orang tuanya dia panggil manusia jadi-jadian kesalahan apa yang mereka perbuat hingga membuat Nona Alisya begitu membenci mereka" batin ketiganya.
"Ayo atau aku laporin......"
"Biar kami antar" potong ketiganya secara serempak.
Akhirnya Kris, Alvaro dan Ramos segera berbalik lalu berjalan ke arah ruang tahanan tempat Edric dan Reva di simpan di ikuti Alisya yang kini tengah tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Tuan......." Kedua bodyguard yang menjaga pintu ruangan itu langsung membungkuk saat melihat Kris dan Ramos berada di depan mereka.
"Buka pintunya" perintah Ramos yang langsung di angguki oleh kedua bodyguard itu.
Ceklek
Kedua Bodyguard itu langsung mendorong pintu ruangan itu hingga terbuka sempurna.
"Ayo kita masuk" kata Alisya dengan wajah berseri-seri.
"Tidak Nona kami akan menunggu disini" tolak Ramos secara halus yang langsung di angguki kepala oleh Kris dan Alvaro.
"Entah kenapa aku merasakan firasat buruk" batin Ramos menatap horor kaki Alisya.
"Kalian harus mau menemani ku masuk ke dalam jika tidak maka aku akan......." Alisya sengaja menjeda kalimatnya lalu menarik turunkan alisnya.
"Baik kami akan masuk bersama Nona" kata Kris santai membuat Ramos dan Alvaro langsung meliriknya tajam.
"Apa yang kamu lakukan Kris kau ingin kita semua di hukum oleh Tuan karna satu ruangan dengan Nona Alisya tanpa dirinya?" bisik Alvaro kepada Kris.
"Dan kita bertiga akan mati jika sampai Nona Alisya terluka atau bahkan jika hanya sehelai rambutnya terlepas kita semua akan mati." balas Kris yang membuat Ramos dan Alvaro mati kutu.
Dengan terpaksa mau atau tidak mau ketiga pria itu berjalan mengekori Alisya yang telah berjalan lebih dulu.
"Selamat pagi mantan Daddy dan mantan Mommy tercinta" sapa Alisya dengan wajah penuh senyuman.
Edric menatap benci Alisya yang sedang tersenyum penuh ejekan padanya. Masih teringat jelas apa yang terjadi padanya karna ulah sosok di depannya ini. bahkan dia tidak bisa tidur semenit saja karna rasa perih di punggungnya akibat dari cambukkan anggota Kenzo.
"Tentu saja untuk menyapa kalian" jawab Alisya enteng yang mampu menyulut emosi Edric yang sedang di ubun-ubun.
"Cih jika hanya untuk datang melihat kami lebih baik kamu keluar karna sebentar lagi menantuku Leon akan datang membebaskan kami."
Reva yang sedang tertidur mulai terusik karna suara teriakan Edric di sampingnya. Dengan pelan kedua mata Reva terbuka dan langsung melotot saat melihat Alisya berdiri di depannya.
"Melepaskan kalian?" Alisya bertanya dengan nada sinis.
HAHAHAHAHA
"Bagaimana kalian terbebas sedangkan di luar sana kalian baik-baik saja" kata Alisya dengan tawa jahat.
"Apa maksud kamu Alisya" tanya Reva dengan kaget.
Sedangkan Edric hanya diam memikirkan dan mencerna maksud dari perkataan Alisya hingga tiba-tiba matanya melotot hampir keluar dari tempatnya.
"Wow lihat mantan Daddy tercintaku ini sepertinya mengerti akan perkataan ku tidak seperti mantan Mommy ku ini yang begitu bodoh" sarkas Alisya.
Sontak hal itu membuat Reva semakin meradang dan memberontak walau hanya sia-sia mengingat yang mengikat mereka bukan tali melainkan rantai besi.
__ADS_1
"Apa maksudmu anak pembawa sial!" teriak Reva menatap tajam Alisya.
"Maksud aku adalah di luar sana ada orang yang menyamar seperti kalian jadi jangan takut jika ada yang mencari kalian" kata Alisya sinis
"Dan jangan bermimpi untuk lepas dari tahanan ini karna itu tidak akan mungkin. Aku bisa saja membebaskan kalian jika......."
"Jika apa?"
"Jika nyawa kalian sudah tidak ada di Raha kalian" balas Alisya dengan tersenyum manis.
Deg
Jantung Edric dan Reva langsung berpacu dengan begitu gila mendengar perkataan Alisya yang tak pernah bermain-main.
Alisya tersenyum miring melihat Reva yang semakin bergerak gelisah, tubuhnya mulai gemetar dengan bola matanya yang menoleh kiri kana serta mulutnya komat Kamit.
"Teruslah takut karna aku menyukai ketakutan mu itu BIBI" batin Alisya menatap benci Reva.
Tak
Alisya meletakkan sebuah kotak hitam di depan Edric dan Reva membuat keduanya langsung menatapnya.
"Bukalah itu adalah hadiah paling istimewa untuk kalian terutama untukmu Mantan Daddy" ucap Alisya dengan senyum manis.
"Apalagi yang Nona berikan kenapa Nona suka sekali memainkan psikis kedua orang di depannya ini" batin Kris.
Kris tidak bodoh dan menganggap Alisya yang hanya terus mengulur waktu untuk membalas dendam karna sesungguhnya Kris paham apa yang lakukan oleh Alisya yaitu menyerang batin keduanya hingga lama-lama mereka akan stres atau depresi bahkan bisa menjadi gila.
Edric mengambil kotak hitam itu lalu membukanya dengan kedua tangannya. Kenapa tangan Edric bebas? karna mereka hanya di rantai di kaki seperti seekor hewan.
"Apa ini?" Edric menatap tajam Alisya karna berani mempermainkan dirinya dengan gumpalan darah.
"Itu adalah anak mu Mantan Daddy dan sekaligus dia cucu atau bisa di bilang juga anak tirimu Mommy tercinta."
Deg
"TIDAK..........." teriak Edric dan Reva histeris.
"Apa yang kamu lakukan pada Alexa ha....?"
"Tidak ada! hanya sedikit bermain" jawab Alisya melenggang pergi dari hadapan Edric tanpa memperdulikan teriakkan kedua manusia itu.
"Alisya kemari....."
"Alisya kembali"
"ALISYA"
__ADS_1