
"Kita mau ke mana?" tanya Maya saat melihat rute yang di lalui Dirga tidak menuju ke apartemen miliknya.
"Kita makan malam dulu" jawab Dirga.
Maya yang mendengar penuturan Dirga hanya menutup mulut nya kembali lagi pula dia memang lapar..
Beberapa mana itu kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah cafe yang terlihat ramai pengunjung.
"Kenapa sangat ramai" kesal Dirga yang tak menyukai suasana ramai.
Dirga yang ingin memutar setir namun di hentikan oleh Maya.
"Eh kenapa di di hidupkan lagi?" ucap Maya yang menatap Dirga bingung.
"Kita cari tempat lain saja, Cafe ini terlalu ramai" balas Dirga yang menatap malas cafe di depannya itu.
Maya yang memang sudah lapar jelas menolak akan ide dari sang kekasihnya itu.
"No. sudah kita makan di sini saja kalau ramai kayak gini kan berarti makanannya enak. Kenapa harus cari yang lain lagi coba?" ucap Maya dengan santai turun dari mobil lalu berjalan masuk dalam kafe.
Dirga yang melihat sang kekasih yang sudah masuk ke dalam Cafe mau tidak mau harus turun. Dirga menghela nafas lalu turun dari mobil masuk menyusul Maya.
"Duduklah aku sudah memesankan untuk mu juga"kata Maya yang menyuruh Dirga untuk duduk di depannya.
Dirga hanya menurut duduk di depan Maya hingga beberapa saat kemudian pesanan Maya dibawa oleh pelayan dan di sajikan di atas meja mereka.
"selamat makan"
Maya yang memang telah lapar langsung menyantap makanan di depannya tanpa peduli bagaimana reaksi pandangan Dirga padanya nanti. sedangkan Dirga hanya menatap Maya yang memasukkan makanan satu persatu dalam mulutnya.
Jika pria atau orang lain akan merasa jijik melihat cara makan Maya maka berbeda dengan Dirga yang merasa lucu akan ulama ya yang bentuk pipinya menjadi cabi (mengembung) karena diisi makanan sampai penuh.
"Jangan hanya menatap ku karena kamu tidak akan kenyang akan itu. makanlah...!"
__ADS_1
Maya menyodorkan sepotong daging ke mulut Dirga. Dirga yang mendapatkan kesempatan itu jelas langsung membuka mulutnya lalu memakan daging yang disedorkan oleh sang kekasih.
"Enak'kan?" kata Maya dengan mulut yang hampir penuh.
"Enak, sangat enak. apalagi jika kamu yang menyuapi ku maka daging itu akan bertambah nikmat" ucap Dirga menatap Maya penuh akan cinta dan sayang.
Maya yang yang mendengar penuturan dari Dirga sontak langsung memerah.
"Dasar gombal" balas Maya yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku tidak gombal namun aku sungguh-sungguh" ucap Dirga yang terdengar sungguh-sungguh.
"Sudah. hentikan gombalan mu itu dan mulai makanlah sampai kenyang" ucap Maya yang kembali memasukkan potongan daging dalam mulutnya.
Tak mau membuat sang kekasih bertambah malu Dirga memutuskan untuk diam dan mulai makan walau sekali-kali akan mencuri-curi pandang kepada Maya.
Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka Dirga langsung mengantar Maya sampai ke apartemen bahkan mengikuti Maya sampai ke depan Apartemen miliknya.
"Kamu tidak pulang?" tanya Maya kepada Dirga yang belum juga beranjak pergi padahal Maya sudah sampai di depan apartemennya.
Maya yang mendengar penuturan dari sang kekasih langsung membulatkan mata karena selama ini kekasihnya itu tidak pernah mau mampir di apartemen miliknya kalau sering mengantarnya namun hanya sampai di depan gedung atau di depan pintu apartemennya.
"Kamu mau mampir?" tanya Maya sekali lagi kepada Dirga yang langsung dibalas anggukan kepala oleh sang kekasih sebagai tanda setuju.
"Apa salahnya mengunjungi dan melihat-lihat apartemen kekasih sendiri" balas Dirga santai menggenggam mesra tangan Maya.
Maya yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala tanda setuju lalu menekan sandi apartemen miliknya. setelah pintu apartemen terbuka Maya masuk ke dalam apartemen di ikuti Dirga di belakangnya.
Dirga mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan namun tak ada yang menarik selain potret masa kecil dua orang gadis kecil yang dirgayakini jika keduanya adalah kekasihnya Maya dan Alisya istri dari Bosnya.
Terlihat kedua gadis kecil itu saling merangkul satu sama lain dan tersenyum manis ke arah kamera.
"Ternyata kalian sedekat Itu" kata Dirga menata potret masa kecil Maya dan Alisya.
__ADS_1
Maya yang mendengar perkataan Dirga langsung menoleh dan mengikuti arah pandangan mata sang kekasih.
"Hm aku yatim piatu hanya dia yang mau berteman denganku" terang Maya.
Maya yang mengingat masa kecil dirinya dan Alisya seketika tersenyum tipis karena hidupnya yang dulu begitu hampa dan penuh akan kesepian sebelum Alisya kecil datang dalam hidupnya membawa warna baru untuknya.
"Dia.... dia satu-satunya orang yang mau memahami aku begitu dalam dan menjadi alasan aku hidup saat itu yaitu mencari kebahagiaan untuknya"
Tangan Maya terulur mengusap mengusap foto masa kecil antara dirinya dan Alisya.
"Jadi Ini alasan mengapa kamu begitu mengutamakannya? Ternyata mereka benar-benar sedekat Itu"usap Dirga dalam hati menatap dalam Maya yang sedang melamun menatap foto dirinya dan sang sahabat.
Grep
Dirga yang tak ingin membuat Maya memikirkan kehidupannya yang di masa lalu segera memeluk Maya dari belakang agar maya tersadar.
"Apa aku tidak bisa menggeser nama Alisya dalam hati kamu?" bisik Dirga di telinga Maya.
"Kalian mempunyai tempat masing-masing di dalam hati aku. memiliki peran masing-masing dalam hidupku baik kamu maupun Alisya kalian adalah dua orang terpenting dalam hidup ku" jawab Maya dengan bijak.
"Lalu Apa kamu bisa mengutamakan aku ketimbang dirinya?"
"Untuk saat ini kamu belum bisa aku utamakan, walaupun kamu sudah menjadi kekasih ku dan dia sudah ada Tuan Kenzo yang menjaganya namun dia tetap masih yang utama untuk ku"
"Lalu Jika kamu di haruskan untuk memilih antara aku dan Nona Alisya. siapa yang akan kamu pilih sayang?"
Maya yang mendengar pertanyaan dari Dirga untuk sesaat terdiam. Maya bingung di satu sisi kekasihnya, orang yang dia cintai namun di sisi lain ada orang yang sudah ia anggap sahabat, saudara, keluarga, bahkan mungkin hidupnya sendiri.
"Kamu tahu? Kamu memang kekasih ku, orang yang aku cintai namun jika aku harus memilih antara kamu dan dia maka akan dengan tegas aku katakan aku akan memilih Alisya tanpa ragu bukan karena aku tak cinta tapi dia terlalu berharga untuk ku. Kamu memang kekasih ku tapi dia.... Dia adalah segalanya bagiku. sebagai sahabat, saudara, keluarga, dia menjadi rumah untuk ku, Rumah untuk aku pulang Di saat aku lelah. Lalu di saat aku sudah menemukan orang baru pantaskah aku memilih orang baru itu daripada dirinya yang jelas-jelas ada di saat aku dalam keadaan yang benar-benar nol bukan aku yang sekarang."
Maya Tak pernah bohong ataupun ragu untuk memilih Alisya walaupun harus meninggalkan apa yang dia punya sekarang.
"Sudah ku duga kamu akan memilih jawaban itu karna kalian adalah contoh sahabat sejati." batin Dirga yang tersenyum bangga kepada Maya yang memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
__ADS_1
"Aku mengerti, yang terpenting adalah kamu tidak meninggalkan aku" ucap Dirga lembut
"Kamu tidak marah?" tanya Maya.