
"Nona Alisya menghilang karna Tuan dan Nona Alisya sedang marahan" jawab Dirga.
"BAGAIMANA BISA?" teriak Maya.
"Itu....... Tuan Kenzo membela ulat keket jadi Nona Alisya marah dan pergi" terang Dirga.
"Cih lagian kenapa juga Tuan datar mu itu bisa membela pelakor daripada Alisya he..?" kata Maya dengan kesal.
"Tuan Kenzo mempunyai janji kepada almarhum kedua orang tua wanita itu untuk terus menjaga dan melindungi ulat keket itu"
"Dan tanpa dia sadari karna janjinya itu dia melukai perasaan sahabat ku begitu? kenapa nggak bersama ulat keket itu saja kenapa harus mencari sahabat ku lagi. semua pria sama saja selalu plin plan lihat yang bening dikit saja langsung sikat."
Maya mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya di depan Dirga. Maya benar-benar dongkol dengan Kenzo yang langsung membela ulat keket alias pelakor daripada Alisya.
Sedangkan Dirga hanya bisa diam lebih tepatnya tidak di beri kesempatan untuk bicara jadi hanya bisa diam seperti patung mendengarkan ocehan Maya yang menyumpah serapahi Kenzo.
"Jadi kita cari Nona Alisya dimana?" tanya Dirga setelah Maya diam.
"Sirkuit" jawab Maya singkat padat dan jelas.
"Sirkuit" beo Dirga menatap Maya tak percaya.
"Apa....? Alisya itu suka balapan siapa tau dia akan disana" kata Maya ngegas membuat Dirga lagi-lagi harus sabar mengelus dada.
Dirga dan Maya segera bergegas untuk menuju tempat balapan mungkin disana ada Alisya.
Sampai disana Maya langsung berlari mencari pemilik tempat balapan itu karna jika Alisya pernah ikut balapan pasti pemiliknya tau akan hal itu.
"Permisi Tuan" sapa Maya kepada pria yang sedang duduk santai.
"Ya ada yang bisa di bantu Nona?" tanya pria itu.
"Apa Tuan pernah melihat gadis ini ikut balapan selama seminggu ini?" tanya Maya memperlihatkan foto Alisya.
Pria itu langsung melihat foto Alisya dengan intens sebelum menggelengkan kepala nya.
"Tidak pernah" kata Pria itu.
Mendengar itu Maya menghembuskan napas dan mendesah kasar karna harapannya tidak sesuai apa yang terjadi.
"Terimah kasih Tuan" kata Maya.
Maya langsung beranjak pergi di ikuti oleh Dirga di belakangnya yang dari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Alisya dimana kamu? harusnya jika kamu marah dan pergi dari Kenzo datang kepadaku bukan malah menghilang seperti ini" kata Maya dalam hati.
Maya terus berjalan dengan pikiran yang entah kemana hingga tak menyadari jika ada sebuah motor yang melaju kencang ke arahnya.
Ting
Ting
Ting
Sret
Grep
Deg deg deg
Jantung kedua insan itu berpacu dengan kencang mata keduanya saling menatap dalam diam.
"Jantungku.... ada apa dengan jantung ku kenapa malah berdisko seperti ini. tapi..... wajahnya sangat tampan" batin Maya menatap wajah Dirga dari jarak dekat seperti ini.
"S*al. jantung murahan ini kenapa malah berdetak dengan kencang bagaimana jika Maya mendengarnya" kata Dirga dalam hati menatap dalam wajah Maya yang terlihat lebih cantik jika di lihat dari jarak dekat.
"Sepertinya aku sedikit menyukainya" batin Dirga tersenyum tipis saking tipisnya Maya tidak bisa membedakan jika Dirga sedang tersenyum.
"Sampai aku bosan" jawab Dirga spontan.
"Haaa....?"
Sontak ucapan Dirga membuat Maya hanya bisa melongo dengan mulut yang terbuka.
"Mulutnya di tutup takutnya lalat masuk ke dalam" bisik Dirga.
Dirga melepaskan pelukannya dari pinggang Maya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Maya yang masih belum sadar.
"Ada apa dengan si pria kaku itu...? apa dia juga bisa merayu....? belajar darimana...?" guman Maya pelan penuh tanda tanya.
"Sudahlah aku harus fokus nyari si Alisya dulu" ucap Maya yang langsung menyusul Dirga ke mobil untuk melanjutkan pencarian Alisya.
Sedangkan di sisi lain orang yang menjadi dalang dan orang yang mereka cari sedang asyik-asyiknya makan melihat pemandangan di sebuah taman yang begitu indah di penuhi oleh berbagai tanaman bunga.
Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Alisya yang berada di Villa peninggalan kakeknya yang terletak di pinggir kota.
Kenapa Alisya memilih tempat itu untuk persembunyiannya karna di belakang Villa itu ada tempat beristirahatnya orang yang dia cintai dan sayangi yaitu kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ini sudah 1 Minggu apa aku kembali saja ya...? lagipula ini sudah cukup untuk memberi pelajaran kepada pria plin plan itu." guman Alisya menatap hamparan bunga di depannya.
"Ini juga bukan sepenuhnya kesalahannya dia hanya menjalankan amanah tapi tetap saja kenapa dia harus membentak ku di depan karyawannya coba" gerutu Alisya.
Alisya tidak benci atau marah kepada Kenzo hanya saja Alisya merasa kecewa,kecewa karna Kenzo tidak mempertanyakan dulu kejadiannya, kecewa Kenzo yang langsung membela orang lain, kecewa Kenzo membentaknya hanya demi orang lain.
Jika bisa jujur Alisya belum sepenuh hatinya menerima Kenzo di sisinya. Cinta? bahka Alisya lupa akan rasa itu semenjak Leon dan Alexa menghianati dia.
Alisya tidak tahu rasa apa yang dia rasakan untuk Kenzo. jika cinta Alisya tidak tau akan hal itu yang Alisya tau dia nyaman berada di dekat Kenzo. Alisya bisa merasakan kasih sayang yang selama ini dia impikan kasih sayang seorang Ayah pada anaknya.
Alisya tau jika dia akan menjadi kekanak-kanakan bila bersama Kenzo karna Alisya menganggap Kenzo sebagai Ayah, kakak, sahabat dan Kekasih? mungkin belum sampai tahap itu.
Alisya pernah mencintai dan mengagumi seseorang begitu dalam hingga tiba-tiba di patahkan oleh sebuah Penghianatan. sejak saat itu dunia Alisya hancur berkeping-keping hingga dia di pertemukan dengan Kenzo sedikit demi sedikit ia mulai melihat warna lain dalam hidupnya walau sampai saat ini Alisya masih bimbang dengan perasaannya sendiri.
Ting
Alisya yang sedang melamun di sadarkan dengan bunyi ponselnya yang berada di atas meja depannya hingga dengan malas Alisya mengambil benda persegi itu.
"WHAT.......Kakek disini" teriak Alisya kaget langsung berdiri.
"Kenapa Kakek bisa kesini? dan astaga Kakek ke perusahaan Kenzo...! jangan-jangan...." guman Alisya yang tidak melanjutkan kalimat hingga tiba-tiba Alisya tertawa terbahak-bahak.
HAHAHAHAHA
"Aku yakin Kakek pasti memukul Pria plin plan itu dengan tongkat emasnya hahaha" teriak Alisya kegirangannya membayangkan Kenzo menerima amukan Kakek XU.
"Lebih baik aku bersiap aku tidak ingin membuat Kakek khwatir padaku" Guman Alisya.
Alisya langsung berjalan masuk kembali dalam villa menuju sebuah kamar lalu merapikan beberapa bawaannya.
Selesai bersiap terlihat Alisya keluar dari kamar itu lalu berjalan menuju belakang villa yang ternyata Alisya pergi ke tempat makam kedua orang Tuanya.
Sampai di depan makam kedua orang tuanya Alisya langsung berjongkok meletakkan sebuah bunga mawar putih di atas nisan Ayah dan ibunya.
"Mom, Dad, Alisya pamit dulu ya.... Alisya akan sering berkunjung kok agar Mom dan Dad nggak kesepian" ucap Alisya.
"Alisya Pamit Mom, Dad" pamit Alisya yang mencium nisan Edward dan Rifka.
Alisya segera berdiri lalu berjalan masuk kembali dalam villa mengambil sebuah tas dan berjalan keluar dari Villa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa beri Like Vote dan jejak di kolom komentar yah Readers😘😘
__ADS_1