Tuan Kejam Dan Gadis Misterius

Tuan Kejam Dan Gadis Misterius
Pohon mangga


__ADS_3

Waktu terus berlalu dan jam yang terus berputar tak terasa hari sudah sore. Kenzo yang sedang mengerjakan berkas langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar alarm ponselnya berbunyi.


Dengan gerakan cepat Kenzo membereskan mejanya lalu melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangannya yang menunjukan kurang 20 menit jam 5 sore.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


"Tuan sudah waktunya pulang." Kata Dirga dengan wajah berseri-seri.


"Ah rupanya kau sudah datang. Ayo kita pulang!" Sahut Kenzo yang langsung mengambil tas kerjanya lalu berjalan di depan Dirga.


Dirga yang melihat Tuannya segera berjalan cepat mengejar Kenzo. Sampai di mobil Kenzo langsung masuk begitu pula Dirga.


"Dirga cobalah mampir di tokoh bunga aku ingin membelikan bunga untuk Alisya." Kata Kenzo yang memerhatikan jalanan.


"Baik Tuan." Jawab Dirga.


"Aku juga akan membeli bunga untuk Maya.......... Ah aku ingat Maya suka bunga Lily." Sorak Dirga dalam hati.


Sampai di tokoh bunga kedua pria itu langsung turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam tokoh dengan aura dan penuh pesona membuat pelanggan perempuan yang berada di sana langsung memekik.


Baik wanita muda maupun tua mata mereka begitu terpesona pada kedua lelaki tampan itu terutama pria yang mengenakan Jaz hitam yang merupakan Kenzo. Tidak ada wanita yang tidak terpesona pada ketampanan dan kharisma seorang Kenzo. Apalagi wanita muda mereka menatap Kenzo seperti siap menerkam pria itu.


Namun walau begitu bukan Kenzo namanya jika tidak bisa membuat orang segan dan takut padanya hanya lewat tatapan tajam yang sudah bisa mengkuliti orang hidup-hidup.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan-Tuan?" Ucap seorang wanita muda yang menatap Kenzo dengan malu-malu tak lupa wanita itu juga beberapa kali menggerak-gerakkan bajunya hingga 2 kancing di atas terlepas memperlihatkan buah dada miliknya.


"99 tangkai bunga Lily putih!" Kata Kenzo datar yang membuang muka ke arah lain.


"Kalau Tuan bagaimana?" Tanya wanita itu lagi yang beralih menatap Dirga dengan genit.


"Sebuket bunga tulip!" Jawab Dirga Datar.


"Ish.......mereka susah sekali di dekati. Padahal aku sudah memberi mereka kode tapi mereka justru cuek. Aku harus bisa merayu salah satunya dengan begitu aku tidak perlu bekerja seperti ini." Kata wanita itu dalam hati dengan niat jahat.


"Tuan Tuan begitu mengetahui nama dan bunga-bunga cantik ini. Adik Tuan Tuan pasti sangat beruntung memiliki Kakak seperti Tuan Tuan ini yang begitu perhatian." Kata Wanita itu yang menatap Kenzo dan Dirga malu-malu.


Sedangkan Dirga dan Kenzo yang mendengar perkataan dari wanita itu hanya saling melirik dengan datar.


"Fokus pada apa yang kamu kerjakan jangan sampai bunga untuk istriku kamu rangkai dengan jelek. Jika itu sampai terjadi maka akan aku ratakan tokoh ini." Kata Dirga yang menatap tajam wanita muda di depannya.


Glek


Wanita muda itu menelan ludah saat mendengar penuturan Dirga. Wanita muda itu beralih menatap ke arah Kenzo memberi senyum genit.


"Jaga sikapmu atau aku ledakan kepalamu!" Ucap Kenzo goyang langsung memberi ultimatum kepada wanita yang berusaha menarik perhatiannya itu.

__ADS_1


"Tuan saya....."


"Cepat rangkai! Istriku menungguku pulang." Sentak Kenzo dengan suara rendah menahan amarah.


"Sial! Ternyata mereka berdua sudah mempunyai istri." Umpat wanita itu dalam hati.


Setelah menerima dan membayar bunga yang di pesan mereka masing-masing segera keluar dari toko bunga itu.


Dirga segera masuk di jok kemudi menstater dan menjalankan mobil menuju ke Mension Kenzo yang saat ini mereka juga tinggal di sana.


Setelah melakukan perjalanan beberapa menit akhirnya Kenzo dan Dirga sampai di mension. Kento dan Dirga langsung turun dari mobil berjalan masuk ke dalam mansion.


Sampai di dalam Kenzo dan Dirga langsung membulatkan mata saat mendengar suara tangisan. Dengan langkah seribu bayangan kedua pria itu langsung menuju ke asal suara.


"Baby...!"


"Sayang...!''


Kedua pria itu langsung berjalan cepat menghampiri istri mereka masing-masing.


"Baby ada apa? Kenapa menangis?" Kenzo langsung bertanya kepada sang istri yang tengah menangis.


"Sayang katakan sesuatu, kamu kenapa? Kenapa.... Kalian berdua menangis seperti ini? Apa yang terjadi?" Tanya Dirga kepada Maya yang masih terus menangis.


Huaaaaaa hisk hisk


Bukannya berhenti kedua bumil itu justru tangisan mereka semakin pecah. Membuat kedua pria datar dan Akku itu langsung kalang kabut.


"Bab..... Are you okey?"


Dirga yang mendengar itu hanya menatap Kenzo lalu menatap Maya. Namun,di detik berikutnya Dirga langsung berdiri berlari menuju mension belakang tempat para pelayan.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku membaca di buku itu jika ibu hamil itu sensitif tapi aku tidak tahu cara menyenangkan ibu hamil bagaimana ini? Si Kevin juga kemana? Bukankah pria itu sekarang sudah mundur dari dunia entertainment?" Kata Kenzo dalam hati yang begitu panik dan cemas kepada kedua wanita hamil di depannya yang terus menangis.


Beberapa saat kemudian suara langkah kaki mendekat ke arah Kenzo. Kenzo yang mendengar suara langkah kaki langsung berdiri mengatur napas yang mulai memburu karna marah melihat wanitanya menangis.


"Tuan memanggil saya?" Tanya kepala pelayan yang menundukan badannya di depan Kenzo.


"Apa yang kamu perbuat? Lihat istriku menangis tapi tidak ada yang mengetahuinya apa kalian semua mau aku pecat ha......?" Bentak Kenzo.


"Ma.....maafkan saya Tuan...."


"Sekarang katakan kenapa istriku dan wanita itu maksudku Maya bisa seperti ini?"


"Sa....saya Ti...tidak tahu Tu....Tuan. Terakhir kami semua di suruh istrahat oleh Nyonya muda. Sedangkan Nyonya muda tadi bersama Nona Maya sedang mencari Tuan Kevin." Terang kepala Pelayan dengan kepala yang menunduk dalam.


"Kevin?" Beo Kenzo dengan dahi mengkerut.


"Benar Tuan. Saya tidak tahu ada perlu apa Nyonya muda dan Nona Maya kepada Tuan Kevin. Namun Nyonya Muda dan Nona Maya begitu semangat mencari Tuan Kevin." Jelas kepala Pelayan dengan gugup.


Kenzo mendengar itu hanya bisa mendesah kasar menarik rambutnya pusing. Kenzo segera berjongkok menyamakan tingginya dengan Alisya yang masih terus menangis.

__ADS_1


"Baby katakan ada apa? Jangan terus menangis nanti bayinya juga ikut nangis." Ucap Kenzo dengan lembut membawa sang istri ke dalam pelukannya.


Dirga yang melihat Tuannya menenangkan istrinya. Tidak mau kalah Dirga segera berjongkok mengikuti seperti apa yang di lakukan oleh Bosnya itu. Menarik Maya masuk ke dalam pelukannya.


"Ada apa hmmm?" Kenzo bertanya dengan nada lembut tak lupa memberi elusan di rambut panjang sang istri.


"Kepin.... Mangga!" Suara serak Alisya akhirnya keluar dari tempatnya.


Haaaaah


Kenzo dan Dirga langsung melirik satu sama lain saat nama sebuah buah di sebut oleh sang Nyonya alias ibu negara.


"Kami ingin makan mangga tapi tidak ada yang mengambilkannya." Ucap Maya yang terdengar lebih jelas di banding Alisya.


"Mangga?"


"Iya kami ingin makan mangga muda tapi si Kepin hilang, jadi tidak ada yang mengambilkan kamu hiks." Kata Alisya yang cemberut.


"Hanya karna mangga?" Tanya Kenzo yang tersenyum tertekan.


"Apalagi? Kamu tidak tahu bagaimana rasanya aku sangat menginginkan buah itu aku makan. Sampai rasanya aku tidak ingin makan apapun selain buah itu." Kata Alisya yang menggebu-gebu.


"Ya itu benar-benar. Mangga itu terlihat menggoda daripada paha ayam goreng." Timpal Maya yang segugukan.


Haaaaah


Kenzo dan Dirga yang mendengar penuturan dari sang ibu negara hanya bisa menganga dengan mata melotot tak percaya. Hanya karna sebuah mangga kedua wanita itu menangis kejer yang bisa membanjiri mension.


"Lalu kenapa kalian mencari Kevin?" Tanya Kenzo yang menghapus air mata sang istri.


"Karna cuma dia yang bisa manjat pohonnya!"


"Sekarang ada kalian lebih baik kalian saja yang panjatkan." Kata Alisya yang tersenyum cerah yang langsung menarik Kenzo untuk berdiri.


"Ah itu benar. Sayang ayo panjatkan mangganya!" Kata Maya yang ikut-ikutan menarik Dirga membawanya di sebuah pohon mangga.


"Ayo naik!" Seru Maya dan Alisya yang begitu bersemangat menatap penuh binar kepada sang suami masing-masing.


"Naik?"


"Iya Naik, cepat ambil yang paling tinggi sana!" Tunjuk Alisya yang menunjuk ke atas pohon mangga.


Glek


Kenzo yang melihat arah yang di tunjuk Alisya langsung menelan ludah begitu pula Dirga yang sudah berwajah pucat pasi. Seumur-umur kedua pria itu tak pernah melakukan hal konyol seperti itu.


Jika bermain dengan senjata seperti pistol, katana atau belati maka dengan senang hati mereka lakukan. Tapi, memanjat pohon mangga? Yang benar saja.


Wajah kedua pria itu sudah pucat pasi melihat pohon mangga di depan mereka yang tinggi menjulang ke atas. Namun, melihat tatapan penuh binar dan harapan wanita yang mereka cintai membuat Kedua pria itu juga tidak bisa menolak ke inginm mereka. Di tambah Maya dan Alisya yang sedang mengandung membuat Dirga dan Kenzo tidak mempunyai pilihan lain.


"Demi Alisya dan bayiku," kata Kenzo dalam hati.

__ADS_1


"Demi Maya dan calon anakku." Kata Dirga dalam hati.


Kedua pria itu saling melirik sebum melepas Jaz yang mereka kenakan. Kedua pria itu berjalan mendekati pohon mangga yang sedang berbuah lebat itu.


__ADS_2