
"Nona"
PLAK
"Ikut saya" dengan aura yang penuh menahan amarah Alisya berjalan masuk ke dalam markas di ikuti yang lain di belakangnya.
"Ada apa dengan Nona Alisya kenapa seperti menahan amarah dan ini sangat menakutkan hampir sama atau bahkan setara dengan aura Tuan" kata Dirga dalam hati menatap ngeri punggung Alisya.
"Nona Maya apa yang terjadi dengan Nona Alisya?" tanya Dirga yang mendekati Maya karna Maya juga berjalan sedikit jauh dari Alisya.
"Mana ku tehe. aku juga bahkan tidak tau apa-apa. bangun pagi-pagi dia sudah ngamuk dan memunculkan tanduknya di kepalanya itu." jawab Maya ketus karna masih kesal dengan Alisya tapi dia tidak bisa marah-marah di Alisya jadi dia lampiaskan ke Dirga. siapa suruh datang di waktu tidak tepat pikir Maya.
"Baby.....?" kalimat Kenzo langsung di tahan di tenggorokan saat melihat mimik wajah datar Alisya yang menyimpan amarah.
"Aku butuh ruangan tempatmu bermain" kata Alisya datar tapi Kenzo masih bisa melihat smirk di sudut bibir Alisya.
Melihat itu Kenzo langsung paham akan arti tempat bermain. Kenzo diam-diam melirik di belakang Alisya yang hanya berdiri Maya, Justin, dan Bimo.
"Ayo ikut aku" kata Kenzo menarik lembut tangan Alisya.
"Entah siapa yang membuatmu marah baby" kata Kenzo dalam hati.
Sedangkan Dirga langsung di tahan oleh Ramos dan lainnya.
"Ada apa dengan wanita Tuan? Kenapa mukanya sangat menyeramkan seperti itu?" tanya Ramos.
"Mana saya tau! kalau penasaran ya sudah kita lihat" jawab Dirga lalu melangkah pergi di ikuti oleh Kris, Alvaro dan Ramos walau Ramos dalam keadaan terpaksa tapi dia juga penasaran.
"Sekarang kalian berdiri di depanku!" perintah Alisya kepada Bimo dan Justin.
"Lepaskan baju kalian!" perintah Alisya lagi.
Lagi lagi Bimo dan Justin hanya bisa menurut tanpa membantah karna perintah Alisya adalah mutlak tanpa bantahan.
Sedangkan Maya langsung menatap penuh binar otot perut kedua pria yang bertelanjang dada di depannya itu.
"Waaah roti sobek!" kata Maya mendekati Bimo namun terhenti karna suatu peringatan.
"Apa perlu aku juga menelanjangimu Maya" desis Alisya menatap tajam Maya.
"Mampus! Kenapa sih nih bocah?" guman Maya dengan keringat dingin.
"Hehehe nggak kok. Nggak lagi deh suer" cengengesan Maya mengangkat jari tangannya membentuk V.
Maya segera menjauh dari Bimo dengan muka masam. Niat mau lihat roti sobek tapi malah kenapa peringatan pikir Maya.
"Siapa yang memberi tahu Kakek jika aku di culik sih kadal buaya darat itu?" tanya Alisya menatap tajam Justin Dan Bimo.
"Kada buaya?'' guman Bimo dan Justin.
__ADS_1
"Si Robert ketua Black Dragon" jelas Alisya.
"Bukan saya Nona. Saya hanya diam seperti apa yang anda perintahkan." jawab Justin tegas.
"Bukan kamu? berarti.........."
"Itu saya Nona" jawab Bimo tegas.
"Kamu.........! sudah aku katakan untuk diam kenapa malah melapor ha?" teriak Alisya menunjuk wajah Bimo.
"Maaf Nona" ucap Bimo yang langsung berlutut dengan menekuk satu kakinya.
Apa yang di lakukan oleh Bimo membuat semua orang langsung terbelalak kaget terutama Dirga dan kawan-kawan yang baru sampai langsung di suguhkan Bimo yang berlutut layaknya prajurit.
"Kenapa kamu berlutut?" tanya Kenzo datar dan dingin.
Perlu di ketahui Kenzo sangat membenci atau tidak menyukai orang yang berlutut kepadanya jika orang itu bukan musuhnya.
"Maafkan saya Nona" kata Bimo lagi mengacuhkan pertanyaan Kenzo.
"Hey jawab pertanyaan Tuan kami" teriak Ramos menatap tajam Bimo yang hanya menundukan kepala kepada Alisya.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Alisya.
"Tidak di izinkan dan dia bukan Tuanku atau ketuaku" jawab Bimo tegas.
"Lalu kenapa kau berlutut?" tanya Alisya lagi.
"Jawablah!" kata Alisya saat melihat Bimo masih bungkam.
"Karna sudah sepantasnya seorang pelayan berlutut di hadapan Tuannya."
Bukan Bimo yang menjawab melainkan Justin karna Justin tau Bimo sebenarnya bukanlah bagian dari mereka melainkan anak jalanan yang di angkat oleh Ketua mereka sebelumnya.
"Walaupun Nona bukan Tuhan tapi menurut sopan santun dan aturan Dinasti tang dahulu seorang pelayan harus tunduk kepada Tuannya. Zaman memang berubah tapi aturan itu tetap berlaku pada kami keturunan dari leluhur para pengawal dan pelayang dari anggota keluarga Xu" lanjut Justin yang ikut berlutut di depan Alisya.
Deg
Penjelasan yang Justin lontarkan mampu membuat mereka semua tertegun terutama Kenzo.
"Apa maksud dari pelayan dan pengawal?" tanya Maya yang tersadar dari lamunannya.
"Semua anggota Dark Devil adalah keturunan dari para pengawal dan pelayan dari kakek buyut Tuan Xu termaksud saya yang keturunan langsung dari kepala pengawal waktu kakek buyut Tuan Xu menjadi jendral di masa dinasti Tang" jawab Justin.
Lagi lagi penuturan Justin membuat mereka tertegun dan lingkung dengan pemikiran masing-masing.
"Jadi Tuan XU adalah keturunan bangsawan?" batin semuanya menatap aneh Alisya.
"Sekarang waktunya kamu menjalani hukuman Bimo!" kata Alisya penuh penekanan.
__ADS_1
"Saya siap Nona" jawab Bimo lalu berdiri tegak.
"Cambuk?" ucap Alisya mengadakan tangannya kepada Kenzo.
Melihat itu bukannya tersinggung Kenzo malah dengan senang hati mengambil cambuk untuk Alisya membuat para anggotanya menjatuhkan rahangnya.
"Itu Bos?" batin para bawahannya kecuali Dirga yang sudah tau bagaimana bucinnya Tuannya itu kepada Nona di depannya ini.
Alisya menerima cambuk pemberian Kenzo lalu berjalan mendekat ke arah Bimo.
CTASS
CTASS
CTASS
CTASS
CTASS
Bunyi pacutab cambuk bertemu dengan kulit Bimo membuat punggung Bimo seketika keluar darah segar. namun sudah 20 cambukan tapi Bimo tak pernah mengeluarkan satu kalipun suara baik itu ringisan atau ampunan. Bimo masih berdiri tegak dengan wajah datarnya menerima hukuman cambuk dari Alisya.
Beberapa menit kemudian Alisya selesai memberikan hukuman kepada Bimo yaitu sebanyak 50 kali cambukan.
"Justin!"
"Iya Nona" jawab Justin cepat.
"Obati dia! aku tidak mau tau pokoknya dia harus siap tempur di saat kita akan berperang" kata Alisya datar dan dingin seperti tak punya perasaan membuat Kenzo dan para bawahan kepercayaannya melongo kaget.
"Akan saya lakukan sesuai ke inginan Nona" jawab Justin tegas dan yakin.
Mendengar itu Alisya hanya tersenyum tipis lalu berjalan keluar di ikuti yang lain meninggalkan Justin dan Bimo serta penjaga ruangan itu.
"Harusnya kamu menuruti apa keinginan dan di katakan Nona Bimo" kata Justin membantu Bimo untuk duduk di sebuah kursi.
"Kamu paling tau saya Justin, saya tidak bisa berbohong kepada Kakek Xu" kata Bimo.
"Apa kamu lupa akan sumpah mu pada saat pengajaran resmi Nona Alisya menjadi ketua Dark Devil" tanya Justin.
Deg
Bimo hanya bisa diam mematung dengan tubuh yang menegang dan pandangan kosong ke depan.
"Aku ingat bahkan sangat ingat tapi aku juga tidak ingin berbohong kepada Kakek"
Ingin sekali Bimo berkata seperti itu mengeluarkan apa yang ada di kepalanya namun lidahnya seperti Kelu akan itu. Selain itu ia juga merasa bersalah karna tidak menempati sumpahnya kepada Nona mudanya, ketuanya, bahkan adiknya.
Adik? Yah Bimo menganggap Alisya seperti adiknya sejak dia datang di kehidupan Kakek XU beberapa tahun lalu Bimo sudah mengklaim Alisya sebagai adiknya walau itu hanya dalam hati.
__ADS_1
"Aku paham apa yang kamu rasakan tapi di satu sisi ingatlah sumpahmu. Kau tidak ingin berbohong kepada Tuan XU tapi kamu tidak memikirkan dampak dari apa yang kamu katakan itu. ingat Tuan XU tidak mudah lagi beliau sering sakit walau tidak di ketahui orang lain tapi kamu tau akan hal itu" papar Justin lagi.
Deg