Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kebersamaan


__ADS_3

Arana ingin bersikap adil pada putrinya, tapi dalam hati dia juga sebenarnya ingin jika putrinya itu bisa menikah dengan putra dari sahabatnya Tia. Arana kemarin waktu saling mengirim foto anak-anak mereka, entah kenapa hatinya sangat suka dan percaya jika putra dari Tia ini adalag jodoh yang pas untuk Sabinna.


Tia memberitahu jika putranya yang bernama Devon ini orangnya rada kaku, dia dari dulu lebih senang menghabiskan waktu untuk kuliah dan bekerja, dia tidak suka akan hal-hal bersenang-senang, apalagi dengan wanita, banyak sekali wanita yang mendekatinya, tapi hampir tidak ada yang membuat dia tertarik padanya.


Walah kayak bapaknya Binna-- si tuan vampire.


Mobil Uno berhenti tepat di dalam halaman mansion kakek, saat dia mau turun, tangannya di pegang oleh Zia. "Uno, tunggu!" Zia menahan tangan Uno. Uno menoleh ke arah kakaknya.


"Ada apa, Kak?" Tanya Uno heran.


"Kakak punya sesuatu buat kamu." Zia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya. Lalu dengan cepat dia memakaikan pada leher Uno.


"Kalung untukku?" Uno tampak heran. "Tapi aku sudah memakai kalung pemberian dari Cerry?"


Uno hari ini memakai kalung berbahan monel dengan ukuran panjang dengan liontin berbentuk persegi panjang pipih dengan tulisan Askano, tapi tulisannya samar, Cerry memberikan saat mereka jadian satu bulan. Wakakkaka alay itu si Cerry. Ternyata Zia juga membelikan kalung yang hampir sama tadi di toko aksesoris milik Dion


"Kamu lepaskan saja pemberian dari cewek agresif kamu itu." Zia melepaskan kalung pemberian milik Cerry. "Lebih baik kamu memakai kalung dari kakak kamu," ucap Zia santai.


"Aku kan hanya menghargai pemberian dari kekasihku--Cerry."


"Lagian, kamu kenapa masih berpacaran sama gadis agresif itu? kakak tidak suka dengan gadis itu, Uno." Zia memutar bola matanya jengah.


"Memang dia kenapa, Kak? Cerry gadis yang baik dan menyenangkan, makannya aku masih bertahan pacaran sama dia, lagian dia juga bukan gadis yang cerewet seperti gadis yang aku pacari sebelumnya."


"Dia bukan gadis baik, kakak pernah melihat dia dengan cowok lain waktu itu, apa kamu tidak tau?"


"Dia selingkuh?"

__ADS_1


"Iya, begitu, sayangnya kakak tidak memotret saat dia sedang bersama pacar gelapnya itu, sebaiknya kamu putuskan saja gadis itu, dia bukan gadis yang baik untuk di jadikan kekasih."


"Aku juga bukan cowok yang baik yang bisa di jadikan kekasih. Sudahlah, Kak. Aku hanya ingin bersenang-senang. Kita turun saja, aku sudah lapar." Uno kemudian turun dari dalam mobil yang tanpa tutup atas itu, dia berjalan santai masuk ke dalam mansio. Zia yang masih duduk di dalam mobil melihat punggung Uno itu dengan sesuatu yang dipikirkan.


"Ibu ...!" teriak Uno. Salah satu wanita yang pertama kali selalu di panggil Uno saat masui mansion adalah ibunya. "Ibu, Binna, kalian sedang apa? kenapa berpelukan seperti itu?" Uno melihat ibu dan adiknya yang ternyata duduk di taman sambil berpelukan.


"Uno, kamu sudah pulang? mana kakak kamu, Zia?"


"Ada di belakang. Binna kenapa? apa dia merengek lagi untuk minta sesuatu?" Uno duduk di sebelah ibunya.


"Siapa yang merengek? memangnya tidak boleh aku memeluk ibuku sendiri?" Binna mengerucutkan bibirnya.


"Jangan seperti anak kecil terus, sebentar lagi kamu lulus sekolah, dan kamu bakalan menikah lebih dulu nantinya," goda Uno.


"Siapa yang mau menikah? aku sudah menceritakan pada Ibu kalau aku mau memperkenalkan Ibu dengan Lukas-- cowok yang aku sukai."


"Lukas! ibu, kenapa sih kakak ini suka sekali mengolok aku? kamu saja pacaran tidak ada yang melarang? lagian aku tidak pacaran sama Lukas. Aku hanya berteman baik sama dia, tapi aku menyukainya dan dia juga menyukaiku, apa salahnya?"


"Tentu saja salah, kamu masih sekolah, apalagi kamu juga anak cewek, hati-hati kalau menjaga diri, Binna. Beda dengan aku, aku cowok, dan aku benar-benar tau mana yang benar dan salah."


"Ibu itu hanya khawatir sama kamu, Nak. Kamu ingat dengan kejadian yang menimpa dengan teman kamu di sekolah dulu, dia berpacaran sama seseorang, dan sampai akhirnya dia hamil dan ditinggalkan oleh pacaranya itu, dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Pihak orang tua sangat shock dan pihak sekolah juga."


"Iya, aku masih ingat kejadian itu, Bu. Apalagi dia teman satu kelasku," ucap Binna lirih.


"Makanya Ibu bersikeras melarang kamu pacaran dan lebih baik kamu menurut sama ibu, jangan berpikiran ibu orangnya egois Binna, Ibu percaya sama kamu, tapi ibu juga khawatir selalu sama kamu. Kamu putri ibu yang sangat polos. Ibu tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Uno juga sering ibu ingatkan untuk menjaga kamu."


"Tenang saja, Bu. Aku akan menjaga gadis bandel ini!" cibir Uno. "kamu dulu saja hampir membuat ibu spot jantung, sudah diberitahu jangan datang ke pesta ulang tahun teman kamu sendirian malam-malam, tetap saja kamu datang, aku temani tidak mau. Kamu ingetkan apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Iya aku masih ingat." Binna mempoutkan bibirnya.


"Andai saja waktu itu kamu tidak menghentikan aku, aku sudah buat pria itu terbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan." Rahang Uno mengeras saat mengingat kejadian di mana adiknya Binna akan dilecehkan oleh salah satu cowok di pesta ulang tahun itu, Uno juga mencari apakah pria itu salah satu teman sekolah Binna, ternyata dia bukan teman sekolah Binna.


Uno menghajar pria itu secara bar-bar saat dia datang ke pesta itu untuk mencari adiknya. Arana yang mendengar hal itu benar-benar shock, bahkan Juna sampai mencari siapa pria yang sudah ingin menyakiti putrinya.


"Tapi, Bu. Lukas cowok yang baik, dia selalu menjagaku di sekolah, aku menyukainya."


"Ya sudah, ibu kan sudah bilang kamu nanti boleh memperkenalkan Lukas sama ibu, tapi kamu juga harus mau bertemu dengan Devon anak dari sahabat ibu."


"Iya, aku mau!" serunya senang.


"Aku yakin pilihan kamu akan salah, Binna. Pilihan ibu lah yang akan menang," cibir sekali lagi Uno.


"Kalau pilihan ibu baik, kakak saja yang di jodohkan, biar tidak banyak gadis yang menjadi korbannya kak Uno," Binna balas mencibir Uno.


"Korban apanya? bukan aku yang meminta mereka mendekatiku, mereka sendiri yang menyukaiku, dan aku cowok yang baik, yang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kamu ingat, gadis bandel ...!" Juna mencubit lama pipi Sabinna.


"Sakit Uno!" Binna meringis kesakitan sambil memukul tangan kakaknya.


Arana yang melihat itu tersenyum, melihat kedua anaknya ini akur. Mereka tidak tau, jika Zia dari tadi memperhatikan kebersamaan mereka dari balik dinding.


"Terima kasih kalian sudah sangat baik menjagaku dari kecil. Tapi kenapa ibu dan ayah tidak menceritakan semua tentangku?" Zia bermonolog sendiri.


Siapa yang kangen bapaknya Uno dan Binna? ini si ayah yang masih gantengnya gak ketulungan. Wakakka. Harajuna Atmaja


__ADS_1


__ADS_2