
Mereka berdua--Diandra dan Uno masih menikmati ciuman mereka. Tidak lama Uno melepaskan ciumannya. Dia menatap Dindra dengan senyuman manis miliknya.
"Apa ini artinya, kamu mau menerimaku menjadi kekasih kamu?"
Diandra mengerjapkan matanya beberapa kali. Diandra masih mencoba menenangkang jantung, di mana detakannya masih saling bekejar-kejaran.
Tangan Uno sekali lagi menelungsup pada sela-sela rambut Diandra yang masih agak basah. "Aku tidak akan menyakiti kamu, Diandra. Percayalah padaku."
"Apa kamu serius, Uno?" tanya Diandra meyakinkan.
Jujur saja, Diandra kan tidak pernah dekat dengan seseorang, dia hanya pernah dekat sekali, tapi ternyata pria itu menyakitinya. Tapi saat Uno bersamanya beberapa hari ini. Benar sikap Uno sangat membuat dia kadang kesal, tapi entah kenapa dia merasakan perasaan nyaman jika dekat dengan Uno.
"Uno, aku dulu pernah memiliki kenangan yang sangat ingin aku lupakan. Pria itu bilang mencintaiku, aku segalanya buat dia, tapi di belakangku, aku baru mengetahui, jika dia hanya mendekatiku karena apa yang aku miliki. Dia tidak tulus mencintaiku, katanya, dia tidak mungkin mencintai gadis buta sepertiku."
"Dia memang pria bodoh, bisanya menyakiti gadis seperti kamu. Sudah! Lupakan masa lalu kamu itu. Aku kan sudah berjanji. Bahkan aku berjanji sama ayah kamu." Kedua tangan Uno sekarang melingkar pada pinggang Diandra.
"Tapi bagaimana jika kedua orang tua kita tau tentang hal ini? Hubungan kita nantinya?"
"Mereka pasti akan terkejut. Kalau begitu kita sembunyikan dulu saja tentang hubungan ini. Apa kamu keberatan?"
Diandra menggeleng pelan. "Aku juga memiliki rencana seperti itu."
"Sebentar. Kamu punya rencana seperti ini? Jadi? Apa ini berarti kamu menerima pernyataan cintaku sama kamu?"
Diandra mengangguk. "Aku harus menerima kamu, karena kamu sudah menambil ciuman pertamaku tadi," ucapnya lirih.
"Ahahahah! Jadi kamu belum pernah berciuman dengan pria yang kamu ceritakan tadi? Pantas saja rasanya sangat nikmat." Uno dengan cepat mengecup lagi bibir milik Diandra.
"Uno, sudah. Apa kita mau berciuman terus di sini? Apa masih macet jalanannya?"
"Memangnya kenapa kalau kita menghabiskan waktu di sini? Apa kamu tidak menyukainya?"
"Bukan begitu. Apa kamu tidak lapar? Aku lapar Uno."
__ADS_1
"Kamu lapar?" Uno melihat arah ke depan kaca mobilnya, di depannya, mobil mulai perlahan berjalan walaupun merambat, dari pada tadi berhenti dan tidak bergerak sama sekali.
"Sepertinya jalanan mulai bisa, Diandra."
"Kalau begitu, aku akan pindah tempat duduk." Diandra mau beranjak, tapi Uno malah menahannya.
"Kamu duduk di sini saja. Kursi kamu masih basah. Jadi jangan ke mana-mana." Uno mulai menjalankan mobilnya. Kedua tangan Diandra melingkar pada leher Uno.
Author pengen ...
Pengen punya mobil kek Uno. Wahahahha.
Di rumah keluarga Juna. Arana dan Harajuna sedang duduk bersama dan di depannya ada Devon. Mereka bertiga sedang bicara dengan serius.
"Apa kedua orang tua kamu sudah tau, Devon?" tanya Juna.
"Sudah, Om, dan mereka menyetujui setiap keputusan yang aku ambil."
Tidak lama Binna yang barusan pulang agak kaget saat dia memasuki ruang tamu. Dia melihat ada cowok yang akan di jodohkan dengannya duduk dengan kedua orang tuanya.
"Binna, kamu sudah pulang? Kenapa lama sekali?" tanya Arana.
Binna berjalan mendekat ke arah kedua oranf tuanya. Dia melirik ke arah Kak Devon ya v dengan muka datarnya melihat pada Binna.
"Aku tadi sama Lila sekalian nonton bioskop, Bu. Dan aku mengantar Lila pulang dulu, apalagi tadi juga agak macet."
"Binna, kamu duduk di sini. Ayah dan Ibu mau bicara sama kamu." Juna menjulurkan tangannya, dan Binna menyambutnya, Binna duduk di antara kedua orang tuanya.
"Ayah dan Ibu mau bicara apa?"
"Sayang. Devon sudah menjelaskan semua keinginannya dia datang ke sini, dan kita sangat senang dengan apa yang sudah Devon katakan." Arana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Binna.
Binna yang melihat tampak bingung, apa kedua orang tuanya ini tidak marah jika mereka berdua tidak jadi menikah?"
__ADS_1
"Devon sudah menyiapkan semuanya. Jadi setelah kamu lulus sekolah nantinya. Seminggu kemudian, pernikahan kalian akan segera di langsungkan di mansio, sesuai keinginan kamu dulu. Kamu kan dulu ingin suatu hari nanti bisa menikah di taman di mansion ini."
Mata Binna seketika membelalak lebar mendengar apa yang barusan ibunya katakan. "Maksud Ibu apa?" Binna melihat serius pada Ibunya.
"Devon ke sini karena dia bilang ingin mempercepat pernikahan kalian, dan dia sudah menyiapkan semuanya."
"Jadi Kak Devon--?" Binna benaran tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia melihat ke arah Kak Devon yang masih dengan wajah datarnya.
"Iya, dan nanti setelah menikah dia ingin mengajak kamu langsung berbulan madu ke Belanda, sebelum dia meneruskan perusahaan kakeknya yang ada di sini. Devon akan mengajak kamu ke Belanda untuk di perkenalkan dan mengunjungi kerabatnya yang ada di sana. Ya sebagai balasan silaturahmi, sekalian ada pekerjaan sedikit di sana.
Binna hanya bisa melongo tanpa mengatakan apapun. "Sepertinya kalian harus bicara berdua. Ya sudah, ayah dan ibu akan meninggalkan kalian berdua untuk bicara." Juna dan Arana beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka berdua di sana.
Binna yang melihat kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah langsung berpindah tempat, dia mendekati Kak Devon yang masih dengan sikapnya.
"Kak Devon, memangnya tadi Kakak bicara apa sama kedua orang tuaku?"
"Apa kamu tidak mendengar apa yang di katakan oleh kedua orang tua kamu, Binna?"
"Kak Devon, aku bertanya serius sama Kakak."
"Aku juga serius dengan apa yang aku katakan dan akan aku lakukan. Kita akan menikah secepatnya, Sabinna."
"Tapi bukannya Kakak bilang, kalau Kakak akan membatalkan perjodohan ini."
"Aku tidak pernah mengatakan akan membatalkan perjodohan itu. Meskipun kamu sangat menginginkannya." Tatap dingin Devon.
"Apa Kak Devon tidak marah dengan yang aku lakukan waktu itu?"
"Kamu berpikir aku akan marah dan akan membuatku membatalkan pernikahan kita?" Kak Devon tersenyum Devil. "Aku sudah bilang, kalau kamu akan menjadi milikku Sabinna. Bersiaplah untuk menjadi istriku." Devon mendekatkan mukanya ke arah Sabinna.
Sabinna hanya diam terpaku di tempatnya. Dia menatap wajah pria yang benaran akan menjadi suaminya ini.
"Kamu boleh tidak mengakui aku di depan teman kamu, Binna. Tapi aku tidak akan mundur dan melepaskan gadis yang sangat aku cintai."
__ADS_1
'Kak Devon benaran serius dengan ucapannya. Apakah aku benaran akan menikah di usiaku yang masih muda ini? Dan itu ---. Aduh! Kenapa malah aku membayangkan malam pertamaku, Sih!? Binna kamu memang sudah tidak bisa ke mana-mana.' Binna berdialog sendiri.