Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Dia Zia


__ADS_3

Dokter sudah ada di depan keluarga Juna. Dokter mengatakan jika keadaan Uno sudah melewati masa kritis, tusukan yang dilakukan perampok itu hampir mengenai organ penting Uno. Jadi dokter harus segera melakukan operasi agar Uno tidak kehilangan banyak darah.


"Dok, apa saya bisa menemui putra saya?"


"Untuk saat ini belum bisa, Pak. Besok pagi saja, biarkan pasien istirahat. Pasien juga belum sadar karena masih terpengaruh obat bius."


Juna akhirnya hanya bisa melihat putranya dari jendela kaca besar. Uno berbaring dengan banyak alamat medis terpasang pada tubuhnya.


"Juna, apa kita perlu laporkan hal ini pada pihak berwajib?" tanya Tommy sambil memegang pundak Juna.


"Tidak perlu! Aku yang akan mencari mereka Tommy. Mereka harus tau, dengan siapa mereka mencari masalah." Juna mengeraskan rahangnya dengan tatapan tajam melihat putranya.


Tidak lama Binna datang ke sana, dia menangis memeluk ibunya. "Kak Uno bagaimana keadaanya, Bu?"


"Uno sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya sedang menunggu di sadar."


"Yah! Aku tidak pernah melihat kakak seperti ini. Aku tidak akan bertengkar dengan dia lagi kalau dia sudah sadar." Binna sekarang di dalam pelukan Juna."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, ayah pastikan kakak kamu akan baik-baik saja."


"Para perampok itu benar-benar jahat pada kakakku Uno. Kalau mereka mau merampok, kenapa harus melukai orang?"


"Mereka manusia tidak punya hati, dan ayah juga akan menjadi manusia tidak punya hati terhadap mereka." Tommy melihat sorot mata Juna yang terlihat benar-benar marah.


"Ayah, Ibu. Aku izin ke toilet sebentar. Apa kalian mau aku belikan minuman atau makanan di kantin?" tanya Zia.


"Tidak perlu, Sayang. Ibu tidak ingin apa-apa."


"Kalian secepatnya pergi dari kota ini, kalau perlu sejauh mungkin karena ayahku tidak akan melepaskan kalian."


"Lalu kalungnya?"


"Letakkan di tempat yang aku katakan, dan ambil uang kalian di tempat yang aku katakan. Apa kalian sudah pastikan jika di tempat itu tidak ada camera CCTV?"


"Kami sudah pastikan. Di sana aman, malam ini setelah mengambil uangnya kami akan pergi dari sini."

__ADS_1


Zia menutup panggilannya. Kemudian dia menghubungi seseorang lagi. Berbicara dengan orang itu singkat. Setelah itu, Zia mengambil kartu teleponnya dan membuangnya ke dalam kloset dan menghilangkannya.


"Kalian berani sekali menyakiti orang yang paling aku cintai, tidak akan bisa aku maafkan." Zia menatap dirinya pada cermin yang ada di dekat wastafel. Air matanya menetes perlahan.


Karena hari sudah semakin malam, Binna menyuruh Devon untuk mengajak Sabinna pulang. Tommy juga menyuruh para wanita pulang, dia akan menjaga Uno di sana dengan Juna.


"Jangan menyuruhku pulang, Tom. Di rumah aku tidak akan bisa tidur nyenyak membayangkan putraku terbaring di sini."


"Arana, ada aku dan Juna yang akan menjaganya, kamu tidak perlu khawatir."


"Yah, aku juga mau menjaga Uno sampai dia sadar, aku mohon." Wajah Diandra terlihat tulus.


"Diandra, itu tidak perlu. Kamu pulang saja dengan Ibu Arana kamu dan Zia. Kalian juga tidak boleh sampai sakit."


Akhirnya Juna menyuruh semua pulang, dia dan Tommy yang akan menjaga Uno. Besok pagi mereka bisa ke sini untuk melihat Uno.


Di dalam mobil, Zia tidak mau duduk belakang dengan Diandra. "Aku tidak mau duduk di belakang, aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang menyebabkan adikku terluka seperti itu," ucapnya sinis.

__ADS_1


__ADS_2