
Diandra hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Kak Zia. Uno memeluk pundak kakaknya itu. "Aku tadi mengusili Diandra, Kak. Aku tidak tau kalau itu dia. Sudahlah! Ayo kita turun ke bawah, nanti Ibu malah berteriak memanggil kita."
"Dasar kamu Uno!" Zia mencubit hidung adiknya. "Apa masalah kamu yang salah masuk kamar itu?
Diandra bingung mau menjawab apa? Kenapa Kak Zia tau masalah dia yang salah kamar? Diandra hanya mengangguk perlahan. "Kak Zia, aku senang bisa bertemu dengan Kakak." Diandra memeluk Zia.
"Iya, aku juga senang bisa bertemu kamu. Diandra, kapan hari aku dengar kalau kamu mendapat donor mata, apa tidak jadi?"
Diandra melepaskan pelukannya. "Belum, Kak. Pendonornya ternyata tidak cocok matanya denganku, tapi aku tidak sedih, Kak. Aku masih bisa melakukan kegiatan dengan baik." Diandra tersenyum.
"Semoga kamu segera mendapat donor. Ya sudah aku ke kamar aku dulu, nanti aku turun ke bawah." Zia naik ke lantai atas kamarnya menggunakan lift.
Tinggal Uno dan Diandra di sana. Diandra tidak berkata apa-apa, dia meraba-meraba mau berjalan, tapi lagi-lagi Uno menghalangi jalannya. Tangan Diandra menyentuh perut Uno membuat Uno tersenyum geli. "Apa kamu tidak bisa minggir?"
"Aku sudah minggir, kamu yang menabrakku, Si mata indah."
__ADS_1
Diandra tidak berkata, dia berjalan menghindar lagi, tapi lagi-lagi si tampan yang menggemaskan itu mengikuti Diandra lagi, dan sekarang Diandra malah menabrak tubuh Uno.
"Uno!" Serunya kesal.
"Kamu masih marah sama aku? Aku kan sudah minta maaf. Kamu ternyata tidak berubah ya, masih saja suka marah-marah seperti dulu."
"Kamu yang membuat aku kesal, kamu tau tidak aku kesal sama kamu, apalagi kamu sudah melihatku." Muka Diandra di tekuk kesal.
"Apa baru aku ya yang melihatnya?" Uno malah mendekat dan berbisik. Mata Diandra melotot. "Tenang saja, aku tidak akan menceritakan kepada siapa-siapa, lagian aku juga tidak sengaja melihatnya."
"Aku bantu ya? Aku tidak mau kamu nanti jatuh."
"Tidak perlu, aku bisa turun sendiri." Diandra meraba-raba perlahan untuk mencari pegangan anak tangga, dan baru menginjak anak tangga yang ke dua dia hampir jatuh karena dia agak tergesa-gesa. Wakkaka! Dia mau kabur dari Uno.
"Diandra hati-hati!" Uno berlari dan memegangi Diandra. "Kamu jangan keras kepala, hati kamu sedang kesal, makannya tidak fokus."
__ADS_1
Blup ...
Uno seketika menggendong Diandra. "Uno, kamu mau apa?" Diandra berontak, dia terkejut kenapa tiba-tiba malah di gendong oleh Uno.
"Membawa kamu turun, kamu mau jatuh dan berguling di anak tangga? Ibu aku pasti akan cemas, dan tidak hanya itu, pasti juga aku kena masalah."
"Turunkan! Aku tidak akan jatuh." Diandra kembali berontak.
"Diam, Diandra!" Uno mengeluarkan nada yang agak tinggi, dan berhasil membuat Diandra terdiam. Uno menuruni anak tangga dengan menggendong Diandra.
Sesampai di bawah, Uno perlahan menurunkan tubuh Diandra, Diandra masih saja terlihat kesal. "Dengar ya, Uno. Meskipun aku buta, aku bukan gadis manja yang tidak bisa apa-apa, aku melakukan semua sendiri di rumahku. Dan tadi kalau ada yang melihat kita bagaimana?"
Uno malah tertawa. "Kita dari tadi sudah dilihati para pelayan di rumahku, Diandra." Di sana memang beberapa pelayan melongo melihat putra Harajuna ini turun dengan menggendong tubuh Diandra. "Tontonannya sudah selesai, Ya. Kalian bisa kembali bekerja," ucap Uno kepada beberapa pelayan yang terdiam melihat mereka.
Diandra tampak bingung, dia sampai bingung mau pergi dari sana, pikirannya seolah tidak fokus.
__ADS_1