Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kemesraan Ini


__ADS_3

Binna masih mencium bibir Kak Devon. Pun kak Devon menikmati ciuman yang diberikan oleh Binna.


Tidak lama Binna tersadar, dan dia perlahan mulai melepaskan ciumannya, tapi tangan kak Devon menelungsup ke sela-sela rambutnya dan menarik kembali kepala Binna mendekatkan wajah Binna ke wajahnya. Kak Devon kembali mengecup bibir Binna, dia seolah tidak rela Binna melepaskan ciuman mereka.


"Kak Devon," ucapnya lirih saat Binna melepaskan ciuman mereka. Seketika muka Binna merona merah.


Kak Devon tersenyum melihat Sabinna. "Kamu sudah pandai sekarang jika berciuman."


"Sekarang Kak Devon tau, aku bukan anak kecil." Binna berjalan pergi menuju pintu keluar, tapi dengan cepat kak Devon memeluk Binna dari belakang, dia mendekap Binna.


Binna terdiam di tempatnya, dagu kak Devon menempel pada bahu Binna. Kedua tangan kak Devon memeluk erat tubuh Sabinna. Mereka terdiam beberapa detik.


"Sekarang kamu sudah tidak marah, Kan?"


"Aku kan sudah bilang kalau aku tidak marah, aku hanya tidak suka saja --."


Binna menghentikan kata-katanya karena dia merasakan kecupan pada ceruk lehernya. Cowok tampan calon suami Sabinna itu sedang memberikan kecupan mesra pada leher Sabinna.

__ADS_1


Ada desiran hebat pada diri Sabinna, dia tidak pernah merasakan moment seperti ini. Rasanya aneh, tapi Binna seolah menyukainya.


Tlit ... tlit ...


Tidak lama ponsel Devon berdering, Devon merasa kesal, dia melepaskan kecupannya, tapi tidak pelukannya, tangan satunya merogoh saku celananya mengambil ponselnya.


"Karla?" Devon membaca nama Karla di sana Binna yang juga melihatnya ingin melepaskan pelukan Kak Devon, tapi tangan cowok tampan itu tidak membiarkan Binna lepas dari pelukannya.


"Devon! Kamu di mana? Kenapa lama sekali perginya? Aku bosan sendirian di sini!" serunya kesal.


"Aku kan sudah bilang kalau aku sedang ada urusan penting dengan Binna. Lagian kamu bisa pergi sendiri, bukannya kamu ada saudara sepupu di sini yang bisa kamu ajak pergi."


"Maaf, tapi aku ingin selalu menghabiskan waktu dengan calon istriku, sebelum ataupun sudah menikah."


"Kak Devon, lepaskan!" Binna mencoba menggeliat ingin di lepaskan.


"Tidak akan!"

__ADS_1


Kedua alis Karla mengkerut aneh. "Apa kamu sedang bersama Binna?"


"Tentu saja, dia sedang berada di pelukanku sekarang. Sudah dulu, Ya? Aku masih ada urusan yang belum selesai dengan Sabinna."


Kak Devon mengakhiri panggilannya. Di tempatnya Karla langsung marah dan melempar ponselnya. "Argh ...! Ke mana mereka berdua sekarang, aku sangat tidak suka dengan gadis sok polos itu," geramnya marah.


Binna terdiam sekali lagi dalam pelukan Kak Devon. "Kak, Kakak mau memelukku terus seperti ini? Lalu kapan kita mencari kado buat Lila?"


"Nanti saja, kita seperti ini saja dulu, apa kamu tidak menyukainya?"


"Tidak, Kakak jangan membuatku menjadi seperti Karla yang suka dengan pergaulan bebas, aku tidak mau sampai menyerahkan diriku pada Kak Devon sebelum kita menikah."


"Jadi, nanti setelah menikah kamu mau langsung memberikan diri kamu kepadaku? Apa tidak takut?"


Binna terdiam, kenapa dia bicara seperti itu? Padahal dia saja dari kapan hari sangat takut membayangkan tentang malam pertamanya.


"Aku takut? Siapa yang takut?" Binna berkata seolah dia berani, padahal dalam hati dia takut.

__ADS_1


"Kalau tidak takut, bagaimana jika kita lakukan sekarang? Aku, kan, pasti akan menikah dengan kamu"


Jiah


__ADS_2