
Tiba-tiba Zia masuk ke ruangan itu, tapi Uno dengan cepat melepaskan pelukannya dan berpura-pura membolak-balikkan badan Diandra. “Tidak ada Diandra, binatang itu sudah hilang. Kak Zia ada apa?”
“Kamu sedang apa sama Diandra?” Zia berjalan mendekat ke arah Diandra.
“Aku sedang menunjukkan tempat Diandra akan tampil, tapi tadi tiba-tiba tubuh Diandra gatal dan aku mencari siapa tau ada semut yang mengigitnya. Wakakak! Alasan tidak masuk akal padahal, tapi hanya itu yang
terlintas di pikiran Uno. Ralat. Pikiran author. Yuhuuuu.
“Uno, kamu di panggil oleh dosen, katanya mau bicara sama kamu.”
“Oh iya, aku akan ke sana. Kak tolong jaga Diandra dulu di sini, aku nanti akan ke sini lagi. Diandra, kamu tidak apa, kan, aku tinggal di
sini sebentar, ada Kak Zia yang akan menemani kamu. Aku tidak akan lama.”
“Iya, Uno. Lagian aku bukan anak kecil kenapa Kak Zia malah kamu suruh menjagaku?” Diandra tertawa kecil.
“Bukan begitu, kamu kan tidak tau tempat ini, jadi jangan ke mana-mana, kamu di sini dulu saja, nanti aku akan menemui kamu.”
“Sudah pergi sana, Uno. Kamu sudah ditunggu, Diandra biar sama kakak di sini, dia tidak akan apa-apa.”
Zia melihat ke arah Diandra yang berdiri di sana. Tatapannya bukan tatapan yang menyenangkan.
"Kak Zia, bagaimana dengan skripsi Kakak?" tanya Diandra ingin mencairkan susana yang tenang di sana."
"Skripsi aku hampir selesai. Kamu sendiri, tidak kuliah? Kenapa kamu tidak pulang ke negara kamu?" Zia bersedekap di samping Diandra.
"Aku kan masih liburan, Kak. Dan kebetulan kampusku di sana boleh memperpanjang kontrak kerjaku mengajar musik di sini."
"Apa tidak sayang kamu meninggalkan kuliah kamu? Lagian kamu hidupnya sudah berkecukupan, kamu tidak membutuhkan uang, Kan? Kenapa kamu susah-susah mencari uang?"
"Bukan masalah uangnya, Kak, tapi aku senang bakatku ini berguna untuk orang lain, dan dengan begini aku tidak merasa mempunyai kekurangan."
"Lebih baik kamu kembali ke Kanada, kehidupan kamu di sana lebih menyenangkan, kamu dari kecil sudah di sana. Kamu tidak rindu suasana di sana?"
"Rindu, tapi di sini aku juga tidak kekurangan kebahagiaan, apalagi ibu Arana sangat menyayangiku seperti anak-anaknya."
Apalagi ayang Uno. Wkakakak.
"Eh itu lampu tumblernya mau jatuh, sebentar ya, Diandra, aku mau mengambil kursi untuk membetulkan lampu itu."
__ADS_1
"Lampu apa, Kak?" Diandra meraba-raba mencari keberadaan Kak Zia. Ternyata Kak Zia benaran mengambil kursi kecil dan dia akan naik untuk membetulkan lampu.
"Lampu tumbler ini mau jatuh, Diandra, aku saja yang membetulkan, kamu kan tidak bisa melihat, kamu tidak akan bisa membantu."
"Aku akan memegangi kursi Kakak." Diandra meraba dan memegangi sandaran kursi kayu itu.
"Aduh! Tanganku tidak sampai, bagaimana ini?" eluh Zia.
"Kak, apa aku saja yang naik, Kakak beri saja arahan sama aku, nanti aku akan membetulkannya. Aku mungkin bisa menjangkaunya."
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati, Ya?"
Diandra naik ke atas kursi dan Zia mengarahkan lampu tumbler yang terlihat mau jatuh, Diandra bisa meraih kabel panjangnya, dan mulai mengaitkan pada paku di sana.
"Sudah, Kak. Aku akan turun."
"Iya, aku akan membantu kamu." Zia memegang sandaran kursi itu dan menggoyangkan kursi itu.
Bruk ...
"Aduh!" rintih Diandra kesakitan. Zia yang melihatnya tersenyum miring.
Uno yang baru masuk terkejut melihat kekasihnya itu ada di lantai dengan memegangi kakinya. " Diandra!" Uno segera berlari menghampiri Diandra yang terjatuh.
"Uno, kaki aku sakit."
"Kamu kenapa bisa seperti ini?"
"Dia tadi terjatuh dari atas kursi saat membantuku membetulkan lampu tumbler itu, Uno. Dia juga tidak hati-hati mau turun," jelas Zia yang jelas itu kebohongannya.
"Apa?!" Uno melihat ke arah lampunya. "Lampu itu tidak mungkin jatuh, aku yang memasangnya dengan hati-hati."
"Kakak tadi melihatnya, Uno. Kakak berusaha membetulkan, tapi tangan kakak tidak sampai, akhirnya Diandra yang membantu, dan dia terjatuh."
"Iya, itu benar, Uno."
"Ya sudah, aku akan membawa kamu ke ruang kesehatan, aku akan mengobati kaki kamu." Uno segera menggendong Diandra dan membawanya dari sana. Zia yang masih berdiri di sana melihat dengan tatapan kebencian.
"Ini baru awal gadis buta, kamu tidak akan bisa mendapatkan cinta Uno. Uno hanya akan menjadi milikku." Zia mengepal erat telapak tangannnya.
__ADS_1
Binna dan Kak Devon yang barusan sampai di sana melihat Uno menggendong Diandra berjalan menuju ruang kesehatan.
"Itukan, Kak Uno. Kenapa dia menggendong Kak Diandra?" Lalu Binna melihat Zia berjalan santai sambil membawa tas milik Diandra.
"Binna, sebaiknya kamu tanya Kakak kamu saja." Kak Devon menggandeng tangan Sabinna, mereka berjalan menghampiri Zia.
"Kak Zia, itu Kak Uno kenapa menggendong Kak Diandra?"
"Oh itu! Tadi Diandra terjatuh dari atas kursi waktu mau membantuku membetulkan lampu di ruang pertunjukkan," jelasnya santai.
"Apa? Lalu, bagaimana keadaan Kak Diandra?"
"Dia tidak apa-apa, kakinya juga baik-baik saja. Diandra saja yang manja, hal kecil seperti itu saja dia minta perhatian sama Uno. Tidak tau apa kalau Uno juga banyak pekerjaan."
Binna mengerutkan kedua alisnya mendengar apa yang di katakan oleh Kakaknya. "Setahuku kak Diandra bukan orang yang manja. Mungkin kakinya memang sakit karena jatuh."
"Dia tidak apa-apa, Sabinna. Lagian Diandra juga cari susah sendiri, dia, kan, tidak bisa melihat. Kenapa dia mau aja menerima tawaran untuk ikut tampil di acara ini? Mau pamer apa kalau dia pintar main piano?"
"Aku mau melihat Kak Diandra dulu, Kak." Binna tidak mau terlibat percakapan lagi dengan kakaknya.
"Ya sudah kalau mau ke sana, ini kamu berikan tas milik Diandra. Aku mau ke kantin dulu, aku sangat haus." Zia memberikan tas milik Diandra dan pergi dari sana."
Binna benar-benar tidak percaya melihat dia kelakuan kakaknya ini. "Kenapa Kak Zia seolah-olah tidak peduli begitu sama Kak Diandra?"
"Sudah biarkan saja, Binna. Ayo kita lihat saja keadaan kakak kamu."
Binna dan Kak Devon akhirnya berjalan menuju ruangan kesehatan. Binna melihat kakaknya Uno sedang memegangi tangan Diandra. Diandra merintih kesakitan karena kakinya terasa ada yang sakit.
"Kak, apa keadaan Kak Diandra baik-baik saja?"
"Binna, kamu ada di sini? Keadaan kamu sudah baikkan?"
"Aku sudah tidak apa-apa, aku ke sini karena aku mau latihan sama Kak Diandra."
"Kamu serius mau tetap ikut mengisi acara bazzar amal ini?"
"Iya, aku mau, aku sudah tidak apa-apa. Kak Uno, apa kaki Kak Diandra baik-baik saja?"
Uno melihat ke arah Diandra yang mengeluh kakinya sakit, dan ada dokter di sana yang memeriksanya.
__ADS_1