Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kecupan untuk Uno


__ADS_3

"Kak Dindra, sebaiknya Kakak makan dulu, nanti Kakak bisa sakit juga."


Diandra menoleh dan tersenyum pada Binna. "Aku tidak lapar, Binna," ucapnya singkat.


Binna tau, pasti Kak Diandra sedang benar-benar cemas dengan apa yang terjadi dengan kakaknya, kak Diandra, kan, sangat mencintai kakaknya. Apalagi kejadian ini tepat terjadi di depan matanya walaupun tidak melihat secara langsung.


"Uhuk ... uhuk ...." Tiba-tiba terdengar suara batuk Arana. Binna kaget dan segera memberikan ibunya minuman.


"Ibu, hati-hati kalau makan."


"Binna, kamu tidak salah?"


Binna mukanya aneh. "Salah apanya?"


"Apa suami kamu tidak komentar apa-apa tentang masakan kamu?" Binna menggeleng. "Kamu sudah coba masakan kamu?" Binna menggleng lagi.


"Memangnya kenapa? Masakan aku enak, tadi saja kak Devon menghabiskannya."


Arana menyuapi Sabinna, dan muka Sabinna tampak aneh, dia tersenyum kecut. "Kemanisan," ucapnya sedih.


"Ini manis sekali masakan kamu. Kenapa kamu banyak sekali memberi gula?" Arana menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi tadi kak Devon tidak protes apa-apa." Binna mengerucutkan bibirnya.


"Dia itu suami yang baik, makannya tidak mau membuat istrinya kecewa. Kamu itu harus bersyukur punya suami seperti dia. Dia tau kamu masih belajar semuanya, makannya dia begitu menerima diri kamu."


"Aku juga menerima dirinya, dan segala kebohongannya," gerutu Binna lirih.


"Apa?"


Tidak lama dokter datang dan bilang akan memeriksa keadaan Uno. Mereka bertiga segera bangkit dan melihat dari balik kaca besar di luar. Dokter keluar dan memberitahu bahwa keadaan Uno baik-baik saja. Dia juga sudah bisa di jenguk, hanya saja tidak boleh banyak orang, harus satu-satu, dan harus memakai baju khusus dari rumah sakit.


"Dok, saya mau melihat putra saya."


"Ibu Arana bisa masuk, nanti suster akan membantu Ibu Arana memakai seragam medisnya."


Arana masuk ke ruangan di mana Uno masih berbaring dengan memejamkan kedua matanya. "Uno, ini ibu, nak. Kamu bangun ya, Uno. Ibu kangen sama kamu." Uno mengecup pipi putranya, dan mengusap wajah tampan putranya. Arana kembali duduk di samping Uno dan mengusap-usap tangan putranya.


"Ibu tau kamu sangat kuat, kamu kuat seperti ayah kamu. Selain itu kamu juga jagoan." Arana menangis.


Binna dan Diandra yang melihat di depan kaca. Binna meneteskan air matanya. "Kak, apa Kakak nanti mau melihat Kak Uno?"


"Iya, Binna, aku mau melihat Uno. Aku merindukan dia, dan aku sangat takut kehilangan Uno."

__ADS_1


"Kakakku itu sangat kuat, Kak. Dia akan baik-baik saja, tadi dokter sudah mengatakan jika kakakku akan baik-baik saja, jadi Kakak tidak perlu khawatir."


Tidak lama Binna mendapat telepon dari Lukas. Binna agak jauh dari sana dan menerima panggilan dari Lukas.


"Halo, Lukas, ada apa?"


"Binna, ada apa? Kenapa suara kamu terdengar seperti sedang sedih?"


"Kakakku masuk rumah sakit, Lukas. Dia sedang di rawat."


"Oh ya? Kenapa? Apa yang terjadi?"


"Ada insiden waktu dia ingin bertemu dengan kekasihnya, kekasihnya di rampok dan dia ingin menolong, tapi malah di tusuk oleh salah satu perampok itu."


"Oh Tuhan! Lalu bagaimana dengan keadaan kakak kamu?"


"Dia sudah baikkan, operasinya berjalan lancar. Sekarang kita hanya menunggu dia sadar."


"Apa aku boleh menjenguk kakak kamu?"


"Apa? Jangan! Jangan ke sini dulu, nanti kalau ayah aku tau dia malah bisa marah. Keadaan juga belum baik. Maaf, ya, Lukas."


"Ya sudah tidak apa-apa. Semua ini memang salahku, dan aku memang harus menunggu dulu sampai keadaan keluarga kamu lebih baik."


"Binna, besok adalah hari ulang tahunku. Aku ingin mengajak kamu dinner berdua. Apa kamu bisa?"


Seketika kedua mata Binna membulat. "Dinner?"


"Iya, aku ingin mengajak kamu makan malam berdua. Ini hari spesialku, makannya aku ingin merayakan berdua sama kamu. Apa kamu bisa?"


Binna berpikir keras ini. Apa yang harus dia lakukan untuk menjawab ajakan Lukas?


"Aku mohon kamu mau, ya, Binna? Aku mengharapkan sekali kamu menerimanya."


"Lukas, aku tidak bisa menjawabnya sekarang, apalagi keadaan kakak aku seperti ini. Beri aku waktu. Besok aku akan memberikan jawabannya."


"Ya sudah kalau begitu. Aku berharap jawaban kamu yang aku harapkan."


"Iya, Lukas."


"Ya sudah kalau begitu. I love you, Binna."


Gubrak ...

__ADS_1


Binna tertegun di tempatnya mendengar ucapan Lukas. "I-iya." Binna langsung menutup panggilannya. Binna mendekap ponselnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya Lukas mengatakan kata-kata seperti itu.


Binna sadar, kamu istri orang. Tidak lama Lila datang ke rumah sakit. "Binna, keadaan kakak kamu bagimana?" cerocos Lila.


"Lila, kamu kok bisa tau masalah ini?"


"Aku tau dari suami kamu."


"Kak Devon? Apa Kak Devon menghubungi kamu?"


"Iya, waktu itu dia menghubungi aku, dia tanya masalah cowok yang memberikan kue itu?"


"Kamu tidak mengatakan kue itu dari Lukas, Kan?" Binna tampak cemas.


Lila menggeleng. "Aku terpaksa berbohong buat kamu, aku bilang itu dari teman kita dulu, pas ketemu di sana dia bersama kekasihnya yang juga kenal sama kita."


"Aku bilang dari temanku dulu yang pernah berbuat salah sama aku, tapi aku tidak bilang jika itu Lukas. Tadi juga Lukas mengajak aku makan malam besok, dia mau merayakan ulang tahunnya, dan tadi juga dia bilang--." Binna melirik pada Lila.


"Bilang apa?"


"Bilang i love you sama aku," ucap Binna lirih.


"Apa? Lalu kamu jawab i love you too?"


"Enggaklah, Lil. Aku itu masih ingat jika aku sudah menikah. Nanti saja jika aku sudah berpisah sama Kak Devon, aku akan bilang i love you too sama Lukas."


Lila mencubit lengan tangan Binna. Binna sampai meringis kesakitan. "Jangan bicara yang tidak-tidak, kamu. Kalau kamu pisah sama kak Devon, nanti aku rebut kak Devon kamu." Lila manyun. Binna hanya diam saja. Di hatinya antara rela dan tidak rela mendengar ucapan Lila.


Mereka berdua kemudian menuju di mana Uno di rawat. Arana sudah ada di depan kaca besar melihat Diandra sedang berbicara dengan Uno.


"Pagi, Tante," sapa Lila.


"Lila, kamu ada di sini?"


"Iya, maaf Tante. Aku baru tau hal yang terjadi dengan kak Uno."


"Tidak apa-apa, terima kasih kamu sudah datang ke sini. Binna, kakak kamu sudah sadar, tadi ibu lihat dari sini, saat Diandra mengecup dahi kakak kamu, tiba-tiba Uno tersadar dan sepertinya memanggil nama Diandra."


"Hah?" Binna agak terkejut.


"Kok mirip cerita di negeri dongen ya, Binna? Tapi ini kebalikannya. Pangeran yang terbangun setelah di cium oleh sang putri," ujar Lila.


,

__ADS_1


__ADS_2