Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Mencoba Merayu


__ADS_3

Binna masih terdiam dengan melihat ponselnya, dia bingung kenapa Kak Devon berbicara seperti itu, apa dia sedang marah dengannya?


"Binna, jangan diam saja, kamu katakan apa yang tadi dikatakan oleh kak Devon?"


"Lil, dia kenapa, Ya? Apa aku sudah berbuat salah sama dia? Dia bilang tidak perlu menunggunya, kalau aku mau makan, aku bisa makan duluan saja, tidak perlu menunggunya dan nadanya seperti marah begitu?" Binna tampak malas.


Lila berpikir sejenak, apa ini karena Kak Devon tau tentang Lukas? Dan dia masih berpikiran jika Binna ada perasaan sama Lukas?


"Binna, aku minta maaf."


Binna melihat ke arah Lila. "Memangnya ada apa kamu minta maaf?"


"Sebenarnya tadi--." Lila terlihat cemas dan bingung.


"Lil, ada apa? Kamu jangan bicara terus gak di terusin begini? Ada apa?" desak Binna.


"Sebenarnya tadi itu, aku ke kantor suami kamu sebelum aku ke sini" ucapnya lirih.


"Apa?" Binna tampak kaget. "Kamu ngapain ke kantor suamiku? Kamu ingin mendekati suamiku?" Binna langsung saja berpikiran negatif.


"Ya ampun! Kamu cinta banget sama Kak Devon ya? Cemburunya gitu amat."


"Aku kan trauma lihat kak Devon di dekati oleh cewek, seperti Karla itu. Lagian kamu pernah bilang jika kamu suka sama Kak Devon kalau saja dia tidak sama aku."


"Itu, kan, aku cuma buat godain kamu saja. Lagian, kamu ya aneh, cowok setampan dan sebaik Kak Devon kamu tidak suka. Aku kalau dijodohkan sama dia, langsung pengen nikah saja. Gak usa menunggu lama."


"Ya sudah, kamu katakan kenapa kamu ke kantor suami aku?"


"Waktu itu suami kamu menelepon aku katanya dia ingin bertemu denganku di kantornya, kemudian aku menyetujuinya dan tadi aku ke kantor suami kamu."


"Dia perlu apa sama kamu?"


"Dia ingin bertanya padaku. Apa kamu bertemu seseorang malam itu? Dia bertanya karena dia curiga kalau kamu tidak jalan sama aku."

__ADS_1


"Lalu kamu bilang apa? Jangan bilang kalau kamu mengatakan jika aku bersama Lukas?" Lila mengangguk. "Apa? Kamu serius mengatakan hal itu? Kamu benar-benar sahabat yang tidak bisa di andalkan," tiba malah marah.


"Dengarkan dulu, Binna. Aku keceplosan, karena waktu itu kak Devon cerita jika kamu dibawa oleh seorang pria dan kamu terpengaruh minuman yang ada obat perangsangnya. Maka dari itu aku kaget dan bilang jika tidak mungkin Lukas memasukkan obat perangsang itu dalam minuman kamu."


"Aduh, Lila! Aku, kan, sudah merencanakan ini semua untuk menjelaskan baik-baik dengan suamiku. Kalau begini bagaimana?" Binna memegangi kepalanya sambil mondar mandir di depan meja makan.


"Binna, kamu jangan mondar mandir begitu. Aku pusing melihatnya, aku jadi tidak bisa makan dengan enak." Lila malah menyeruput sup ayam buatan Binna sampai habis.


"Kamu itu, ya! Sahabat lagi kesal, malah enak makan. Kamu bagaimana, sih? Ini semua juga salah kamu, kamu bantuin mikir dunk Lila!" ucapnya kesal.


"Aku sudah bilang sama suami kamu, kalau kamu cinta sama dia dan kamu tidak ada perasaan apa-apa lagi sama Lukas. Kalian hanya bertemu biasa saja."


"Apa kak Devon mau mendengarkan itu semua? Apalagi waktu itu aku menerima undangan makan malam merayakan ulang tahunnya."


"Bicaralah baik-baik. Kalian pasti bisa menyelesaikannya. Eh! Lalu siapa cowok yang membawa kamu itu?"


"Aku tidak kenal, dia menggodaku waktu aku menunggu Lukas yang belum datang, aku marah sama dia, dia malah seolah tidak terima, dan dia membawaku yang sudah terpengaruh obat dari kamar mandi. Lukas bahkan tadi menghubungiku dan mencariku karena aku tiba-tiba menghilang."


"Apa pria yang ingin mencelakai kamu itu orang suruhan mantan kekasihku? Tapi tidak mungkin juga, mantan kekasihku sudah diamankan oleh ayah kamu."


"Mungkin saja, Binna. Siapa tau dia orang sakit jiwa. Sudah! Kamu jangan cerita masalah ini, aku membayangkannya takut, apa jadinya jika dia sampai melakukan hal buruk sama kamu. Ih ...."


"Iya juga, dan sekali lagi Kak Devon yang menolongku. Lalu aku bagaimana sekarang? Rumah tanggaku pasti tidak nyaman lagi." Binna menundukkan kepalanya di bawa meja makan.


"Rayu saja suami kamu," ucap Lila santai. Binna langsung mengagkat kepalanya melihat Lila. "Kenapa melihatiku begitu?"


"Rayu, bagaimana?"


"Ajak dia bicara di atas ranjang, kalau perlu pakai lingerie."


"Hah? Pakai baju aneh itu?" Mata Binna melotot.


"Kenapa memangnya? Katanya kalian sudah melakukan hal itu, jadi apa salahnya kamu memakai itu dan melakukannya lagi?"

__ADS_1


Binna berpikir sebentar. Sepertinya boleh di coba ini. Binna ini sudah capek juga jika bertengkar terus sama kak Devon.


Tiba-tiba terdengar suara sendawa Lila. "Lila! Menjijikan sekali."


"Heheheh maaf, Binna terima kasih, ya, atas masakannya, masakan kamu enak sekali. Aku mau pulang dulu. Ini sudah mau malam."


"Kok pulang?"


"Memangnya aku mau apa lagi? Mau melihat kalian bercinta nantinya?" Lila beranjak dari tempatnya dan keluar dari aparetemen milik Binna.


Binna kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya, tapi tidak di jawab. Binna akhirnya mengirim pesan pada suaminya.


"Kak Devon, pulang sekarang, Ya? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Aku juga takut di sini sendirian. Lila sudah pulang karena ini sudah hampir malam"


Binna mencoba manja dengan kak Devon. "Kenapa tidak di baca?" Binna berjalan malas menuju sofa panjang di ruang tamu, dia menonton televisi sampai ketiduran.


Beberapa menit kemudian Kak Devon datang. Dia melihat Binna tidur di sofa. "Dasar ceroboh! Kenapa dia tidak mengunci pintu dan malah tidur di sini?" Kak Devon meletakkan tasnya, dia juga melepas suit dan dasinya. Kak Devon menggendong Binna membawanya ke lantai atas. Binna diletakkan di atas ranjang dan Kak Devon melepas kemeja dan celananya, dia hanya menyisahkan boxer ketat miliknya.


"Kak Devon, Kakak sudah pulang?" suara Binna terdengar di sana.


"Kamu kenapa sudah bangun?"


Binna beranjak dari tempatnya dan memeluk suaminya dari belakang. "Kak, apa Kakak marah sama aku?"


Devon hanya diam saja. Dia agak shock dan kaget sih, kenapa tiba-tiba Binna bersikap begini?"


"Aku tidak marah."


"Kak, maafkan aku, aku bisa menjelaskan semua tentang Lukas. Aku dan Lukas hanya berteman saja, sama seperti Kakak dan Karla." Binna manyun.


Devon membalikkan badannya. "Apa kamu masih memiliki perasaan dengan Lukas?"


"Binna menggeleng. "Aku tidak punya perasaan apa-apa sama Lukas, di orang yang baik, dan aku mau menjelaskan baik-baik dengannya." Binna mendongak melihat suaminya. "Aku mencintai, Kak Devon." Binna menjinjitkan kedua tumitnya dan mengecup lembut bibir suaminya.

__ADS_1


Cie ... cie ... yang sudah jatuh cinta


__ADS_2