
Binna mencoba melepaskan pelukan Lukas, tapi Lukas malah erat memeluk Binna, bahkan Lukas mengecup pucuk kepala Binna.
"Lukas aku mohon jangan seperti ini." Binna akhirnya bisa melepaskan pelukan Lukas.
"Aku sangat merindukan kamu, Binna, aku minta maaf tidak memberitahumu jika aku sudah pulang." Tangan Lukas mengusap pelan pipi Sabinna.
"Tidak apa-apa Lukas. Oh ya! Bagaimana keadaan mama kamu? Apa sudah baikan?"
"Mama aku sudah baikan dan dia sudah dipindahkan ke rumah sakit di sini, apa kamu ingin menemuinya? Kalau kamu ingin menemuinya aku bisa ngantar kamu nanti pulang kuliah."
"Lukas, aku minta maaf ya, bukannya aku tidak mau menemui Mama kamu. Ada hal penting yang ingin aku katakan sama kamu." Wajah Binna tampak serius.
"Ada hal penting apa, Binna?"
"Kalau begitu aku akan tinggalkan kalian berdua di sini," celetuk Lila dan Lila langsung keluar dari kelasnya. Di sana tinggal Sabinna dan Lukas.
Lukas mengambil kursinya dan duduk di samping Sabinna. "Kamu mau bicara apa?" Tangan Lukas memegang tangan Sabinna.
"Lukas, jangan seperti ini." Binna mencoba melepaskan tangan yang dipegang oleh Lukas.
"Memangnya ada apa, Binna? Kenapa sikap kamu berubah?"
"Lucas aku minta maaf sebelumnya. Seharusnya aku mengatakan ini dari dulu sama kamu waktu kita bertemu pertama kali." Binna tampak cemas. "Lucas aku sudah menikah dengan seseorang."
"Apa?" Lukas tampak terkejut.
" Ya Lukas, aku sudah menikah dan aku sekarang sudah memiliki seorang suami yang sangat aku cintai."
"Kamu bercanda kan, Binna? Kamu ingin membuat sandiwara yang membuat aku terkejut? Jangan bercanda seperti itu, Binna, ini tidak lucu."
"Aku tidak bercanda Lukas. Aku serius dengan apa yang aku katakan, namanya Kak Devon Dia anak dari sahabat Mama aku, waktu itu aku dijodohkan dengan dia saat aku menunggu kamu datang ke rumah, aku berharap waktu itu kamu datang ke rumah dan dengan begitu aku tidak akan jadi menikah dengan Kak Devon, tapi ternyata kamu tidak datang dan akhirnya aku menerima pernikahan dengan Kak Devon. Awalnya pernikahanku dan dia sulit untuk aku terima, tapi lambat laun kak Devon adalah orang yang baik dan suami yang sangat setia dan aku sekarang sangat mencintainya. Pun dia juga sangat mencintaiku dari awal, aku menjelaskan semua ini sama kamu agar kamu tidak salah paham dengan pertemanan kita, aku harap kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa tidak lebih dari itu karena aku tidak mungkin mencintaimu lagi, Lukas."
"Ini tidak mungkin, kamu pasti bohong, kan?" Lukas beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan bicara sama orang tua kamu, aku akan minta maaf, kalau perlu aku akan bersujud di depan mereka. Aku mencintai kamu Binna dan aku berharap bisa menikah dengan kamu. Maafkan aku waktu itu tidak datang untuk menemui kedua orang tua kamu, aku akan jelaskan semuanya dengan mama kamu."
__ADS_1
"Tidak perlu Lukas aku sudah tidak membutuhkannya kita masih bisa berteman baik aku akan tetap menganggap kamu sebagai sahabat baikku aku minta tolong sama kamu mulai sekarang jangan bersikap berlebihan denganku karena aku tidak mau Kak Devon sampai berpikiran buruk tentang kamu dan aku." Ekspresi wajah Lukas tampak sedih mendengar ucapan Sabinna.
"Aku sebenarnya datang ke sini dan harapan aku bisa mengenal kamu dan minta maaf pada kamu dan keluarga kamu serta ingin mengenalkan kamu dengan mamaku Bagaimanapun juga aku sangat mencintaimu, tapi kenyataan yang aku dengar sangat menyakitkan." Lukas pergi dari sana meninggalkan Binna.
"Lukas!" teriak Binna dan Lukas sama sekali tidak mau mendengarkan.
"Lukas, kamu mau--? Dia pasti marah." Lila masuk ke dalam kelas dan melihat Binna menangis. "Binna, kenapa kamu menangis?"
"Aku merasa bersalah sama Lukas. Dia begitu baik dengaku, tapi aku malah memberinya kabar yang menyakitkan seperti ini."
"Sudah, mungkin begini lebih baik. Bagaimanapun juga kamu harus melakukannya, apa kamu mau nanti malah dia berpikiran terus untuk mendapatkan kamu?"
"Aku tidak mau, aku juga tidak mau sampai Kak Devon mengira aku selingkuh, aku sangat mencintai suamiku."
"Ya sudah, kamu sudah melakukan hal yang benar. Ini minum untuk kamu." Lila memberikan minuman dingin untuk Sabinna.
Kelas kembali di mulai, Lukas tampak terdiam di tempatnya, dia sama sekali tidak melihat ke arah Binna. Binna hanya melihat sedih ke arah Lukas.
Sampai jam pelajaran usai. Binna ingin bicara pada Lukas, tapi Lukas malah langsung pergi dari kelas.
"Halo, Sayang." Kak Devon mengecup pipi Binna. Binna memeluk suaminya.
"Kalian ini benar-benar membuatku iri saja. Kapan aku bisa di jemput pacarku atau suamiku seperti ini?"
"Mau aku carikan supir buat mengantar jemput kamu supaya tidak menyetir sendirian?" tanya Kak Devon.
Muka Lila langsung mengkerut. "Kok supir? Aku maunya pacar, atau pria yang bisa aku jadikan suami yang baik untukku."
"Maaf, kalau itu aku belum ada stok."
"Stok. Memangnya barang? Sudah kalian pulang sana dan buatkan aku keponakakan yang lucu," usir Lila.
"Tenang saja. Keponakan kamu sebentar lagi akan datang."
__ADS_1
Binna tersenyum dalam pelukan suaminya. Dari kejauhan Lukas melihat kemesraan mereka, muka datarnya terlihat jelas melihat ke arah Binna dan Devon.
"Kak Devon, kita pulang sekarang?" Ajak Binna.
"Ya sudah kita pulang sekarang."
Binna berjalan menuju mobil suaminya, Binna dapat melihat Lukas yang juga menatapnya dari kejauhan. Wajah Sabinna tampak sedih melihat Lukas.
Di dalam mobil Sabinna ingin sekali mengatakan pada suaminya jika Lukas juga kuliah di sana, tapi dia maju mundur.
"Kak Devon."
"Ada apa?"
"Aku mau bicara sebentar sama Kakak."
"Nanti saja setelah kita sampai di kantorku, aku setelah ini ada meeting dengan rekan kerjaku, kamu ikut denganku ke kantor dan nanti setelah meeting aku akan mengajak kamu makan siang. Kita bicara saat makan siang saja."
"Oh, Ya sudah." Binna akhirnya kembali terdiam sampai akhirnya mereka sampai di kantor Kak Devon. Binna masuk ke ruangan suaminya dan suaminya menuju ke ruang meeting dengan beberapa kepala bagian di sana.
Binna berjalan-jalan menelusuri ruangan suaminya, dan di sana ada foto pernikahannya dengan suaminya.
Tidak lama ponsel Binna berbunyi. Binna melihat ada panggilan dari Lukas.
"Lukas? Ada apa dia menghubungiku?"
"Halo, Binna."
"Lukas, ada apa?"
"Apa pria tadi suami kamu?"
"Iya, itu tadi suamiku. Lukas, aku harap kita bisa berteman baik, bahkan suamiku juga pasti mau berteman dengan kamu."
__ADS_1
"Maaf, seharusnya aku tidak marah sama kamu, semua ini karena aku yang salah dari awal."
"Tidak ada yang salah, Lukas. Semua sudah takdirnya begini."