
Juna tertawa mendengar pertanyaan Tommy. "Maaf, aku sampai lupa tentang masalah itu. Kemampuan kamu setelah menikah benaran ilang yang, Tom?"
"Kemampuan apa?" Tommy berdecak kesal.
"Kemampuan merayu wanita, dulu malahan kamu kan yang kekasihnya banyak sekali, malahan aku hanya mencintai Arana saja."
"Aku benaran tidak tau harus berbuat apa dengan Mara? aku merasakan lagi cinta yang begitu dalam seperti dengan Diandra waktu itu."
"Kamu benaran serius ingin menikah lagi?"
"Iya, dan wanita itu adalah Mara. Bagiku dia wanita yang baik, dan tulus, apalagi Mara selama ini sangat tulus menjaga Diandra. Dia ibu yang baik dan aku mencintainya."
"Buat saja dia cemburu, kalau feeling kamu mengatakan jika kamu melihat cinta di mata Mara, tapi Mara seolah tidak mau mengakuinya, kamu buat saja dia cemburu, lihat reaksinya, kalau dia cemburu, itu berarti dia mencintai kamu, Tom."
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak, berarti pesona kamu kurang kuat." Juna malah menertawakan Tommy seenaknya.
Tommy terdiam melihat Juna, malah terkesan kesal. "Aku harus membuatnya cemburu dengan siapa? Dan Asta itu siapa? Kenapa Mara tampak sangat akrab begitu dengan dia?" Tommy berdialog sendiri.
__ADS_1
Waktu berlalu, dan tiba sore hari, di dalam kamarnya Diandra sedang bersama dengan Binna. Mereka berdua sedang membuka oleh-oleh yang di bawa oleh Diandra.
"Coklatnya banyak sekali, ini semua untukku?"
"Buat kamu, kak Zia, dan Uno, tapi kamu boleh mengambil lebih banyak, kamu boleh juga memberikan pada pacar kamu," bisik Diandra.
"Pacar? Aku tidak punya pacar, Kak Diandra."
"Masak, Sih? Kamu kan cantik, pintar menari, apa benar kamu tidak punya pacar?"
"Iya. Sudahlah, Kak. Jangan bicara tentang kekasih, aku sedih kalau kita membahas masalah itu." Muka Binna sedih sedih.
"Kakak, di sana tidak punya kekasih?" Sekarang Binna yang serius menghadap Diandra.
Gadis pemilik mata indah itu menggeleng pelan. "Siapa yang mau dengan gadis buta sepertiku, Binna?"
"Jangan bilang begitu." Binna memeluk Diandra. "Kakak itu walaupun tidak bisa melihat, tapi Kakak memiliki wajah yang cantik, dan pandai main piano, apalagi hati Kakak yang baik dan lembut. Mereka yang buta tidak melihat itu semua."
"Kamu itu! aku dulu pernah dekat dengan seseorang teman aku bermain piano, tapi dia akhirnya meninggalkan aku."
__ADS_1
"Meninggalkan kakak? Kenapa?"
"Dia ternyata mendekatiku hanya memanfaatkan aku saja, dia tidak benaran tulus menyukaiku, dia hanya menginginkan apa yang aku miliki, uang, dan aku mendengar sendiri dia bersama dengan seorang gadis waktu itu."
"Jahat sekali."
"Dia malahan bilang kalau pria tampan seperti dia tidak akan mungkin mencintai gadis yang bahkan melihat saja tidak bisa." Diandra tersenyum kecil.
Binna memeluknya lagi. "Keterlaluan sekali! Cowok itu benar-benar jahat, Kakak tenang saja, nanti dia akan menyesal dengan semua yang sudah dia lakukan."
"Ya sudah, tidak perlu membahas itu. Aku anggap saja sebagai pengalaman berharga dalam hidupku, aku akan lebih bisa melihat siapa yang benaran tulus mencintaiku dan siapa yang tidak, tapi sekarang aku mau lebih fokus pada kegiatan aku di sini untuk mengajar anak-anak di rumah musik, pasti menyenangkan bisa bertemu anak-anak di sana."
"Kakak memang gadis yang baik. Aku senang memiliki saudara seperti Kak Diandra."
"Ya sudah, kita bagi coklat ini, dan ini untuk kak Zia dan Uno."
"Punya kak Uno, Kakak Diandra saja yang memberikannya. Aku malas dengan si usil itu."
"Aku yang memberikannya?" Muka Diandra berubah aneh.
__ADS_1