
Uno tidak menjawab pertanyaan adiknya, dia hanya tersenyum saja. "Kak, jawab pertanyaanku!" Binna menggoyang-goyangkan tubuh Uno.
"Kamu itu masih kecil, jangan banyak tanya. Memangnya kenapa kalau aku suka Diandra?"
"Gak boleh! Kakak playboy, cuma nyakitin."
"Sok tau! Aku itu cowok setia, buktinya kamu tidak pernah di sakitin cowok, karena kakak kamu ini sadar punya adik dan kakak perempuan, makannya aku tidak mau mempermainkan cewek."
"Hem ... apaan! Buktinya banyak cewek nangis-nangis karena Kakak meninggalkan mereka."
"Ck! Itukan memang masa tenggang mereka menjadi pacarku sudah berakhir, dan banyak lagi alasan lainnya."
"Masa tenggang? Memangnya mereka kartu telepon? Kakak ini dasar!" Binna mengerucutkan bibirnya.
"Yang terpenting adik aku ini tidak pernah dipermainkan cowok, tapi langsung dinikahi sama cowok. Ahahaaha!" Uno beranjak dari tempat duduknya.
"Kak Uno menyebalkan!"
Siang itu, Uno izin pergi untuk urusan kampusnya, dan benar dia memang ke kampus, karena di sana ada beberapa panitia yang mempersiapkan acara untuk besok.
Uno sudah memberitahu jika dia sudah mendapat beberapa sukarela untuk menyumbang dalam pentas yang akan di selenggarakan di sana.
"Uno!" panggil Cerry.
Uno hanya melihat sekilas dan berjalan pergi dari sana, gadis itu tidak pantang menyerah mengejar Uno. Bahkan dia tanpa malu memeluk Uno dari belakang.
"Cerry lepaskan! Apa kamu tidak mau memelukku seperti ini?" Muka Uno kesal.
"Aku tidak malu, lagian kamu sudah lupa dengan semua perlakuan manis yang aku berikan sama kamu?"
Uno benar-benar kesal dan tidak habis pikir dengan gadis ini. "Cer, aku sudah melupakan semuanya, jadi stop mengejarku, aku sudah memiliki kekasih lagi, dan aku harap kamu sadar akan hal itu."
Uno melepaskan tangannya dan dia berjalan pergi dari sana dengan kesal. "Uno, tunggu sebentar." Cerry lagi-lagi menghalangi jalan Uno.
"Cer, minggir, aku mau pergi, lagian kamu kenapa ada di sini? Kamu tidak ada urusan di kampus ini."
__ADS_1
"Aku ingin bisa bertemu kamu Uno." Cerry menangis. "Aku di jebak, Uno. Aku hanya mencintai kamu, Uno."
Uno hanya terdiam tidak merespon. Tiba-tiba Cerry seolah merasakan kepalanya sakit. Uno yang melihat merasa jika Cerry sepertinya mau pingsan. Dan benar, Cerry pingsan dan akhirnya jatuh di pelukan Uno.
"Cerry ... Cerry!" Uno mencoba menepuk-tepuk pipi Cerry, tapi dia tidak bangun. Uno meminta tolong teman-temannya untuk membawa Cerry di ruang kesehatan. Di sana Cerry coba di sadarkan dengan di beri minyak mint agar tersadar, di sana sedang tidak ada dokter jaganya karena memang ini hari Minggu.
Cerry tersadar. "Uno, aku ada di mana?"
"Kamu di ruang kesehatan. Tadi kamu pingsan dan aku membawa kamu ke sini. Keadaan kamu baik-baik saja, Kan?"
"Aku baik. Ternyata kamu masih perhatian sama aku." Cerry memeluk Uno. Teman-teman lainnya meninggalkan Uno berdua dengan Cerry di sana.
Uno melepaskan pelukan Cerry. Dan Uno beranjak dari tempatnya. "Kalau kamu sudah baikkan, aku mau pergi, kamu minta tolong saja sama supir atau teman kamu untuk menjemput kamu ke sini."
"Uno, kamu mau ke mana? Aku masih ingin bersama kamu."
"Cukup ya, Cer! Aku dan kamu semua sudah berakhir, aku hanya mau kita berteman biasa tidak lebih.
Cerry berusahan mengejar Uno sampai dia menjatuhkan tasnya dan akhirnya isinya berserahkan di lantai. Uno melihat dan matanya menangkap sesuatu yang membuatnya membelalakan matanya.
"Ini bukan apa-apa." Seketika Cerry agak takut, dia langsung memasukkan semua barang-barangnya dan menyembunyikan di belakang punggungnya.
Uno tersenyum devil. "Apa kamu ingin menjebakku, suatu hari nanti, dan akhirnya aku yang bertanggung jawab dengan kehamilan kamu. Licik sekali kamu, Cer. Aku tidak menyangka kamu bisa berbuat seperti itu."
"Uno!" Cerry beranjak dari tempatnya dengan cepat dan memegang tangan Uno. "Aku tidak bermaksud begitu Uno. Aku tidak mencintai cowok itu, yang aku cintai hanya kamu." Cerry kembali menangis.
"Maaf, Cer. Kamu sebaiknya bersama dengan cowok yang menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung." Uno melepaskan tangan Cerry.
Uno pergi dari sana, dan tidak memperdulikan Cerry lagi.
Waduh! Dia hamil, kasihan juga kalau seumpama Cerry hanya di jebak.
Uno pergi ke tempat Diandra mengajar musik, dan ternyata Diandra masih ada kelas, jadi Uno menunggu Diandra di depan kelas. Beberapa menit kemudian, jam mengajar anak-anak sudah selesai.
"Hai, Sayang."
__ADS_1
"Uno! Kamu sudah ada di sini?" Diandra meraba dan Uno memeluknya.
"Iya, aku sengaja datang lebih cepat karena tidak mau ke duluan ayah kamu."
"Ayah! Iya aku lupa, tadi ayah menghubungi aku, dan bilang mau menjemputku untuk mengajakku berkenalan dengan teman baiknya."
"Sekarang hubungi ayah kamu, dan bilang kamu masih ada les mengajar tambahan, aku mau mengajak kamu jalan-jalan, dan ada hal yang ingin aku katakan sama kamu."
"Jadi aku harus berbohong sama ayah?"
"Mau bagaimana lagi, Sayang? Tidak mungkin kamu mengatakan akan pergi denganku bukan?"
Diandra mengangguk dan akhirnya menghubungi ayahnya. Diandra mengatakan jika dia ada les mengajar tambahan, dan nanti pulangnya dia bisa minta untuk di jemput supir saja. Diandra minta maaf belum bisa bertemu dengan teman baik ayahnya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti ayah akan bicara sama tante Nina. Ayah ini sudah bersiap-siap akan pergi dengan tante Nina."
"Ayah pergi saja, aku baik-baik saja, sampaikan salamku pada tante Nina."
Diandra sudah lega, walaupun dia terpaksa berbohong pada ayahnya. Uno dengan senang hati menggandeng tangan Diandra dan membawanya keluar dari gedung sekolah musik.
"Kamu memakai mobil yang waktu itu?" Diandra mencium aroma di dalam mobil yang waktu itu dia bersama Uno.
"Tentu saja, setiap jalan sama kamu aku akan memakai mobil ini, karena mobil ini, kamu dan aku pertama kali menjadi sepasang kekasih."
Uno dengan cepat mengecup bibir Diandra. Dan dia segera membawa Diandra pergi dari sana.
"Uno, kita mau ke mana? Lalu kamu mau bicara apa?"
"Nanti kalau sudah sampai di tempat yang sudah aku persiapkan. Kita akan lebih enak bicaranya."
"Tempat yang sudah kamu persiapkan? Memangnya kamu sudah menyiapkan sesuatu?"
"Iya, Sayang. Dan aku harap kamu menyukainya."
Uno melajukan mobilnya pergi ke suatu tempat. Di mansion kakek, Sabinna sedang mencoba gaun yang kemarin ternyata di belikan oleh kak Devon.
__ADS_1
"Gaun apa? Aku takutnya ini gaun yang banyak talinya itu, dan kenapa aku tidak tau dia membeli gaun ini?" Binna berpikir sebentar. Perlahan dia membuka kotak itu, dan ternyata saat Sabinna bentangkan, itu gaun yang sangat indah, berwarna merah dengan bagian leher full brukat dan lengan 3 per 4, panjangnya sebatas lutut.