
Uno memberikan kemeja yang dipakainya pada Diandra. Diandra masih tampak bingung. "Diandra, cepat pakai! Kamu bisa sakit nanti."
"Tapi, Uno. Aku harus berganti baju di sini?" Kedua mata Diandra melihat ke arah Uno.
"Tentu saja berganti di sini, kamu mau berganti di mana lagi? Kita mencari tempat ganti pun tidak akan bisa, mobilku saja tidak bisa jalan. Kita sedang berada di kemacetan."
"Uno, apa kamu coba mengerjaiku?" Diandra mengerutkan wajahnya.
"Untuk apa aku mengerjai kamu, Diandra? Aku hanya tidak mau kamu nanti akhirnya sakit, kamu kan tidak suka menyusahkan orang lain, kalau kamu sakit, apa nanti tidak menyusahkan orang lain?"
Diandra mencerna kata-kata Uno, dan dia tidak lama malah bersin. "Tapi, Uno--?" Diandra masih memeluk tubuhnya sendiri
"Lihat kan kamu sudah mau flu begini, ganti baju kamu, lagian aku sudah pernah melihat kamu, Kan? Jadi buat apa aku mengerjai kamu?"
"Tapi kamu janji jangan melihatku, Uno. Kamu balikkan badan kamu."
"Iya, aku janji." Uno membalikkan badannya menghadap jendela kaca di sampingnya. "Sudah aku balikkan badan aku, sekarang kamu ganti baju kamu."
Diandra mulai membuka dressnya perlahan-lahan dengan tangan yang bergetar. Jantung Diandra berdetak sangat cepat, dia antara malu dan takut, takut jika Uno hanya ingin mengusilinya. Dress Diandra sudah terlepas.
__ADS_1
Glek ...
Uno dengan susah payah menelan salivanya, saat dia tidak sengaja melihat bayangan Diandra pada kaca jendela yang ada di hadapannya. Uno sekali lagi dapat melihat tubuh indah milik Diandra.
"Oh Tuhan," ucapnya lirih. Uno ingat dia sudah janji pada Diandra. Uno kemudian menutup kedua matanya agar tidak melihat apa yang Diandra lakukan selanjutnya.
"Aku sudah selesai Uno."
Uno membalikkan badannya dan mengamati Diandra yang malah terlihat sangat cantik di sampingnya. "Uno, kamu tidak melihatku, Kan?"
"Aku memejamkan mataku tadi Diandra. Kamu bisa percaya denganku."
"Uno, apa masih belum bisa jalan mobilnya? Apa masih macet?" Diandra yang duduk di sebelah Uno tampak tidak nyaman.
"Masih belum selesai mereka memindahkan beberapa pohon yang tumbang. Kamu kenapa, Diandra?"
Hacing ...
Sekali lagi Diandra bersin, dan dia mencoba membenarkan tempat duduknya. "Tempat dudukku basah, dan rasanya tidak nyaman. Apa aku boleh pindah tempat duduk?"
__ADS_1
"Em ... tapi mobilku ini hanya memiliki dua kursi, aku menggunakan mobil sport pemberian ayahku, yang jarang aku pakai."
Maaf, ya, author tidak menyebutka. merek mobilnya, tapi yang jelas mobil yang di gunakan Uno ini adalah mobil yang hanya memiliki 2 kursi di depan saja, yang atasnya bisa dibuka dan di tutup.
"Begini saja, kamu duduk saja di pangkuan aku, sambil menunggu kursi kamu agak kering. Bagaimana?"
"Ah ...!" Bibir Diandra terbuka kecil mendengar ucapan Uno. "Du-duduk di pangkuan kamu?"
"Iya, tidak apa-apa, aku juga tidak akan berbuat macam-macam sama kamu Diandra."
"Tidak usa, Uno."
"Kemeja kamu bisa basah lagi kalau kamu masih duduk di situ, apa kamu mau tidak pakai apa-apa? Kita saja tidak tau, berapa lama lagi ini jalanan bisa kita lewati."
Tangan Uno kemudian menarik pelan tangan Diandra dan Diandra pun ikut berdiri dari tempatnya. Diandra dengan jantung yang berdebar, duduk di atas pangkuan Uno.
'Kenapa jantungku bisa berdebar kencang seperti ini? Ayolah, Uno! Kamu malah sering bermesraan dengan banyak kekasih kamu, kamu sudah biasa seperti ini.' Uno benaran bingung dengan dirinya sendiri.
Nanti lagi 1 bab
__ADS_1