Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Tommy Dan Mara


__ADS_3

"Tommy, jangan seperti ini, tidak enak jika di lihat oleh karyawan aku di sini." Mara sedikit berontak untuk menjauhkan tubuh Tommy.


"Memangnya kenapa?" Tommy malah mengeratkan pelukannya. "Apa kamu malu jika di anggap memiliki hubungan denganku? Mukaku tidak terlalu jelek, Kan?"


Kedua mata Mara menatap lekat dan agak takut dengan Tommy. "Bu-bukan begitu."


"Lalu?" Mara tidak menjawab dia hanya terdiam. "Mara, aku ke sini, selain ingin bertemu Juna, aku juga ingin menyelesaikan tentang masalah kita yang belum selesai."


"Masalah kita? Masalah apa? kita sudah tidak ada urusan yang belum diselesaikan, Tom."


"Ada Mara, kamu belum menjawan tentang pertanyaanku beberapa bulan yang lalu di Kanada, dan kenapa kamu malah tiba-tiba pergi dan menghilang? Apa ada yang salah dengan ucapan aku?" Mata Tommy menatap serius.


"Seharusnya kamu sudah tau jawabannya, Tommy."

__ADS_1


"Aku tidak tau jawabannya, karena kamu tidak mengatakan apapun dan pergi bergitu saja."


Mara melepaskan pelukan Tommy dan berdiri membelakangi Tommy. "Itu jawabanku atas pertanyaan kamu, a-aku tidak bisa menerima kamu, Tom. Tentang pertanyaan kamu itu." Kedua mata Mara seolah menahan sesuatu agar tidak keluar.


Tangan Tommy dengan cepat menarik tangan Mara dan membuat wanita itu menoleh ke arah Tommy. Tommy memandangnya dengan lekat. "Kenapa, kenapa kamu menolak saat aku mengatakan jika aku ingin menikah sama kamu? Apa kamu tidak mau menikah denganku? Aku serius dengan ucapan aku Mara!" Tatapnya semakin menajam.


Mara hanya terdiam, dia tidak mengatakan apa-apa, lidahnya serasa keluh dan dia tidak tau harus bicara apa pada pria di depannya itu. "Mara, aku mencintai kamu, dan aku ingin menikah dengan kamu, bahkan Diandra juga sangat menginginkan kamu menjadi ibunya, kami membutuhkan kamu, Mara."


"A-aku--?"


"Tom, aku tidak bisa menikah dengan kamu, kita cukup seperti ini saja, dan Diandra bisa tetap menganggap aku tantenya." Mara sekali lagi melepaskan pegagan tangannya pada Tommy dan membuang mukanya sekali lagi.


"Apa kamu tidak mencintaiku, Mara?" tanya Tommy tegas.

__ADS_1


Mata Mara mendelik kaget, dia benaran bingung harus menjawab apa sekarang? Dia mencintai pria itu, bahkan sangat mencintainya, tapi dia tidak bisa membuat pria itu nantinya kecewa mengetahui hal yang ada pada dirinya, seperti calon suaminya dulu yang meninggalkannya.


"Mara, jawab aku?" Tommy sekarang berdiri di depan Mara. Mara hanya terdiam. "Apa kamu tidak mencintaiku? Atau hanya aku saja yang merasa kamu mencintaiku?"


"Mara, aku bisa melihat dari mata kamu, dan perhatian kamu selama ini." Tommy menelungsupkan tangannya lembut pada pipi Mara. Jantung Mara seketikan berdetak dengan cukup keras.


"Mara, selamat pagi!" Tiba-tiba terdengar suara sapaan seseorang yang menyelonong masuk ke sana, sontak membuat Mara dan Tommy kaget, seorang pria tinggi, kurus dengan kemeja lengkapnya dan berkacamata serta rambut cepaknya yang juga agak kaget melihat Mara dan Tommy.


"Ops! maaf, apa aku sedang mengganggu kalian? Kalau begitu aku pergi dulu saja, nanti aku ke sini lagi."


"Asta, jangan pergi, aku dan Tommy sudah selesai urusan kami." Mara melihat ke arah Tommy, dan Tommy menatapnya seolah tidak percaya.


"Tapi urusan kita belum selesai, Mara, aku mau mengajak kamu makan bersama dengan Diandra."

__ADS_1


"Tommy, maaf, aku hari ini sangat sibuk, nanti aku akan menghubungi Diandra dan mengajaknya bertemu, tapi hari ini aku benaran sedang sibuk." Mara berjalan mengahampiri Asta dan menggandengan tangan Asta, tentu saja hal itu membuat Tommy sedikit kesal.


Maaf ya, kak. Author bisanya up dikit dulu, keadaan benaran ini di kuat-kuatin juga nulis karena author kasihan kalau lama gak up.


__ADS_2