Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Happing Ending part 3 ( In The End )


__ADS_3

Saat Juna akan membubuhkan tanda tangan tiba-tiba pintu di dobrak oleh seseorang dan terdengar suara letupan pistol.


"Ayah!" teriak Lukas melepaskan cengkramannya dari Binna. Fabio jatuh tersungkur di bawah dengan bersimbah darah.


Binna segera berlari memeluk Devon. Uno dan Juna kaget melihat siapa yang melepaskan tembakan pada Fabio.


"Kakek?" Juna mendelik melihat ada kakek Bisma dengan tangan memegang pistol dan satu tangannya lagi memegang tongkat untuk penyangga kakinya.


"Berani sekali dia mencari masalah dengan cucu dan cicitku," ucapnya masih terdengar tegas.


Binna dan Uno langsung memeluk Kakek buyutnya dengan erat. "Kakek kenapa bisa ke sini? Bukannya Kakek sedang sakit?"


"Ibumu yang menghubungi kakek karena dia cemas kamu menghilang, dan Kakek menghubungi Paman Hyden."


"Kamu jangan meragukan kemampuanku kakek tua, walaupun aku juga sudah berumur dan berambut putih, tapi tidak melunturkan kemapuanku," ucap Paman Hyden yang ada di sana.


"Kalian akan membayar semua ini."


"Kamu tidak akan bisa menyakiti Binna lagi." Devon menarik Lukas dan memukulnya dengan keras.


Orang-orang suruhan kakek Bisma menangani mereka semua. Sejak kejadian itu keluarga Juna tampak merasa lega dan bahagia. Apalagi ada kakek Bisma dan kedua orang tua Juna.


Beberapa bulan berlalu. Perut Sabinna juga tampak sangat besar. Kak Devon bahkan terlihat sangat perhatian pada Sabinna malah sangat lebay bagi Binna perhatiannya.


"Kak Devon ini kenapa menungguiku di kampus? Aku jadi malu diledek punya bodyguard."


"Biarkan saja, aku menunggu istriku."


Dari kejauhan Lila datang dengan muka bahagianya dengan membawa sekuntum bunga mawar di tangannya dan ada Kian di samping Lila.

__ADS_1


"Hai, Binna."


"Kalian kok bisa datang berdua? Dan Bunga itu?"


"Aku dan Pak Kian sudah jadian," ucap Lila bahagia.


"Apa? Jadi kamu dan Pak Kian jadian? Dosenku kekasihku ini ceritanya?" Lila langsung mengangguk cepat.


"Iya, dan tidak lama setelah ini aku akan menikahi Lila."


"Kaliana serius?"


"Serius, aku sudah berkenalan dengan keluarga Pak Kian, Binna, dan mereka menyukaiku."


"Selamat ya Lila." Binna memeluk sahabatnya itu. Binna senang akhirnya Lila mendapatkan jodoh yang tepat.


Di sebuah gedung yang sangat megah, tampak seorang wanita duduk di depan piano dan sedang memainkan pianonya dengan di saksikan banyak sekali orang-orang.


"Halo Diandra."


"Kamu Uno?"


"Iya, aku Uno, kamu masih tetap terlihat cantik apalagi dengan kedua mata indah kamu yang sekarang sudah bisa melihatku."


"Kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Aku ingin menemui wanita yang dari dulu masih sangat aku cintai. Diandra, aku tidak mau basa-basi lagi." Uno menunduk dan tangannya menjulur dengan kotak berisi kalung miliknya dulu.


"Uno, ini, kan?"

__ADS_1


"Ini kalung kamu, dan dengan kalung ini aku ingin melamar kamu. Diandra, maukah kamu menikah denganku?"


Kedua mata Diandra membelalak sempurnya, dia sangat terkejut dan melihat ke arah ayahnya yang duduk di bangku penonton paling depan dengan Mara. Tommy menganggukan kepalanya memberi isyarat jika dia merestui mereka.


"Aku mau Uno." Diandra menunduk memeluk Uno dengan erat. Semua yang ada di sana walaupun tidak mengetahui apa yang di katakan oleh Uno, mereka tau maksud dari gerakan Uno.


Flashback sedikit.


Waktu itu Diandra memang terluka karena terjatuh dari tangga, tapi dia masih bisa tertolong, dan saat itu Kella mendengar tentang keadaan cucunya, dia yang sedang sakit parah meminta agar jika dia meninggal, kedua matanya akan disumbangkan untuk cucunya sebagai bentuk permintaan maaf atas kesalahannya selama ini.


"Uno, lalu kamu ke sini sendirian? Mana Ken? Kenapa kamu tidak membawanya?" tanya Diandra saat acara konser itu selesai.


"Ken sudah berada ditangan yang tepat, dia dibawa oleh ayahnya. Walaupun berat melepaskan Ken, tapi dia akan lebih bahagia dengan ayah kandungnya.


Beberapa bulan kemudian. Di rumah Arana banyak sekali orang berdatangan, mansion itu di hias begitu indah dengan banyak hiasan bunga orchid. Ya! Hari ini adalah hari pertunangan Diandra dengan Uno dan tidak lama mereka akan menikah.


"Ayah, Uno," teriak seorang bocah laki-laki dengan setelan jas berwarna putih mirip dengan yang di kenakan oleh Uno.


"Halo, Ken." Uno menggendong bocah kecil itu dan menciuminya.


"Dia bilang ingin sekali bertemu dengan ayah Unonya."


"Kak Dion, terima kasih masih memperbolehkan aku tetap bertemu dengan Ken."


"Aku yang berterima kasih sama kamu. Aku juga merasa bersalah waktu itu tidak bisa mengatakan semua kebenaran sama kamu tentang aku dan Zia. Zia mengancamku jika aku mengatakan semuanya dia akan mengakhiri hidupnya dan aku tidak bisa melihat Zia pergi dari dunia ini karena aku sangat mencintainya, tapi setelah semua yang terjadi. Aku harus menerima tentang kepergian Zia. Namun, aku bahagia Zia meninggalkan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku."


"Aku tidak menyalahakan Kak Dion atas semua ini. Ken juga tetap aku anggap sebagai putraku."


Uno dipanggil Arana karena acara pertunangan akan segera di mulai. Hari ini adalah hari bahagia untuk seluruh keluarga Atmaja.

__ADS_1


Happy Ending.


__ADS_2