
Di dalam mobil, Tommy yang duduk bersebelahan dengan Diandra hanya mampu terdiam. Diandra merasakan ada hal yang tidak enak sedang dirasakan ayahnya.
"Ayah, apa ayah baik-baik saja?" tanya Diandra pada ayahnya.
Tommy hanya terdiam dengan fokus mengemudi, pikiran Tommy sedang melayang mengingat siapa pria yang tadi bersama dengan Mara. "Ayah." Diandra memanggilnya sekali lagi dan kali ini tangannya menyentuh lembut lengan tangan ayahnya.
"Ada apa, Diandra?" Tommy kaget dan melihat ke arah putrinya.
"Ayah sedang memikirkan tentang tante Mara, Ya? Dan siapa pria yang tadi ada di sana, Yah?" tanyanya lagi, karena tadi Mara sempat memperkenalkan Diandra dengan Asta.
"Ayah tidak memikirkan apa-apa, dan pria tadi dia hanya teman tante Mara," jawab Tommy menyembunyikan kegelisahannya.
"Oh! Ayah besok apa ayah tidak mau mengajak tante Mara makan malam? Aku yakin ayah pasti kangen sama tante Mara, aku sebenarnya juga sangat kangen sama tante Mara, tapi aku akan mengalah, biar ayah dulu yang bertemu dengan tante Mara, dan aku harap ayah bergerak cepat untuk mengatakan perasaan ayah pada tante Mara."
"Pe-perasaan?" Tommy tampak bingung.
__ADS_1
"Ayah jangan pura-pura tidak tau, walaupun aku tidak bisa melihat, aku tau, ayah dan tante Mara itu saling mencintai, hanya saja aku tidak tau kalian berdua ini kenapa?" Diandra duduk dengan melipat tangannya ke depan.
Tommy hanya tersenyum, dan Tommy tidak bisa mengatakan apa-apa, dia sudah pernah mengatakan jika dia ingin menikahi Mara, tapi entah kenapa? Sejak kejadian itu Mara malah menghindarinya, dan Tommy akan mencari tau, karena Tommy yakin Mara juga mencintainya. Wakakka Bang Tom-Tom Pede.
Tidak lama mobil mereka sudah sampai di depan mansion Kakek. Tommy dan Diandra turun, Tommy seolah takjub melihat mansion yang sudah lama dia tinggalkan. Mansion kakek masih kokoh berdiri dan semua juga masih terlihat sama.
"Hai, Tom!" sapa seseorang yang berdiri di depanya sekarang.
"Hai, Bos!" Dua pria yang masih sama-sama tampan itu saling berpelukan erat.
"Aunty Tiara mana? Katanya kamu akan datang bersama dengan ibumu dan Tatiana?" tanya Juna tidak melihat aunty Tiara.
"Mereka akan menyusul, mungkin lusa, Tatiana masih ada urusan penting tentang pekerjaannya, dan ibu mau menunggunya saja, ibuku sejak Tiana muncul, aku seolah di anak tirikan," celetuk Tommy, dan mereka tertawa bersama.
"Ya sudah, kita masuk dulu, aku sudah menyiapakan masakan kesukaan kalian semua. Kalian harus menghabiskan pokoknya." Arana memeluk Diandra dan mereka masuk ke dalam mansion.
__ADS_1
Arana menyuruh pelayan membawakan barang-barang Diandra dan Tommy ke kamar yang sudah dia persiapkan. Mereka duduk di ruang keluarga, saling melepas rindu.
"Ibu Arana, kenapa sepi sekali? Di mana Binna, Uno, Kak Zia? Apa mereka masih di sekolahnya?"
"Mereka masih di sekolahnya, Sayang, Binna kan pulang sekolah selalu ada latihan menari, Zia sibuk dengan kegiatan kuliahnya, dan Uno hari ini katanya akan pulang dari study tournya," jelas Arana.
"Tom, apa setelah kita makan, kamu mau pergi ke perusahaan?"
"Tuan vampire ini! Tommy datang ke sini kan untuk liburan, kenapa malah dia ajak mengurusi perusahaan?" ucap Arana kesal.
"Ayolah, Sayang! Aku kangen dengan Tommy, aku ingin bernostalgia dengannya di kantor."
"Memangnya, kamu mau ngapain sama aku di kantor?" tanya Tommy dengan mata memicing.
"Ahahahaha! Kenapa melihatku begitu? Memangnya kamu kira aku mau ngapain kamu, Tom?" Juna memiting Tommy dengan cepatnya. Arana yang melihat hal itu langsung kaget dan tersenyum. Mereka berdua masih tetap sama seperti anak kecil.
__ADS_1