Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perasaan Bahagia


__ADS_3

Kak Devon menikmati sarapan paginya. Binna hanya melihati suaminya sedang menikmati masakan buatan Sabina. Devon bingung ini kenapa istrinya tidak ikut makan? Kenapa dia hanya melihati dirinya makan sendiri?


"Binna, kenapa kamu tidak mau makan? Makanan kamu enak kok." Binna hanya menggeleng pelan.


"Aku sudah tahu kalau masakanku enak, makanya aku biarkan Kak Devon makan sendirian supaya dapat menikmatinya, kalau perlu dihabiaskan juga enggak apa-apa."


"Apa? Dihabiskan? Makanan ini banyak sekali, sayang."


"Apakah Kak Devon mau aku bawain bekal juga ke kantor?"


Kak Devon berpikir sejenak. "Ya sudah kamu boleh bawakan aku, nanti aku bisa menikmatinya pas makan siang di kantor." Binna dengan semangat mengambilkan lunch box dan memasukkan beberapa makanan ke dalamnya agar bisa dibawa suaminya ke kantor.


"Oh ya, Binna? Apa hari ini kamu tidak ingin pergi melihat Kakak mau ke rumah sakit?"


"Apa Kak Devon ini lupa ya? Aku hari ini tidak mau keluar sampai tanda merah di leherku menghilang, aku tidak mau menjadi bahan tertawaan kakakku yang usil itu, dan juga ibuku." Binna manyun.


"Apa kamu tidak apa-apa di rumah sendirian Binna? Atau aku libur saja dari pekerjaanku hari ini? Aku akan menemani kamu."


"Tidak usah, Kak Devon. Kakak kerja saja apalagi Kakak, kan, baru masuk, Kak Devon harus bertanggung jawab dengan pekerjaan Kakak, apalagi Kak Devon di sana menjadi aatasan. Aku tidak apa-apa di rumah sendirian, atau aku nanti akan telepon Lila saja, Ya? Aku akan menyuruh dia ke sini."


"Jangan? Biar aku sendiri yang menghubungi Lila," ucapnya cepat.


"Kakak yang menelepon Lila?" Binna melihat dengan tatapan curiga kepada suaminya.


"Jangan melihatiku seperti itu, Binna, aku hanya membantu kamu saja. Nanti aku akan menyuruh Lila ke sini, kamu kenapa masih curiga terus sama aku? Apa masih kurang pembuktian kemarin malam?"


"Sudah! Jangan bahas itu terus, membuat orang malas saja." Binna beranjak dari tempat duduknya dan mengambil piring kotor bekas Kak Devon makan.


Kak Devon pun segera membawa tas dan kotak makannya yang sudah disiapkan Sabinna, dia menghampiri istrinya dan dengan cepat mengecup dahi Sabbina. "Aku pergi dulu. Aku janji aku tidak akan pulang sampai malam, nanti malam kita makan malam berdua lagi di sini " Binna mengangguk perlahan.


Entah kenapa hari ini hatinya sangat senang sekali dia ingin sekali merasakan berumah tangga yang bahagia seperti ini. Kak Devon segera berangkat ke kantornya dan Binna mengunci pintunya, dia bingung harus melakukan apa di apartemen sendirian.


Di rumah sakit, Uno yang keadaannya sudah lebih baik. Uno sudah bisa duduk bersandar pada tepi ranjangnya. Arana di sana membantu menyuapi Uno. Hari ini Arana datang bersama Diandra karena Juna dan Tommy sedang ada di kantor.

__ADS_1


Kezia berangkat ke kampusnya. "Uno, sebentar ya, nak, ibu ingin ke belakang."


"Ibu Arana, boleh tidak aku yang membantu menyuapi Uno?"


"Iya, Bu, tidak apa-apa, biar Diandra saja," sahut Uno.


"Kamu itu manja sekali, ya sudah Diandra tolong ibu sebentar ,ya, Ibu mau ke belakang."


Akhirnya Diandra menyuapi Uno. Uno senang sekali setelah melihat ibunya masuk dalam kamar mandi, dan dengan cepat Uno mengecup bibir Diandra. Diandra yang kaget karena gerakan cepat itu langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya. "Uno jangan berbuat seperti itu? nanti kalau ibu Arana tau bagimana?"


"ibuku tidak akan tau, dia sedang ada di dalam kamar mandi."


"Uno, apa perut kamu sudah tidak sakit lagi?"


"Tidak, perutku sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas lagi." Tangan Uno mengusap lembut pipi Diandra.


Saat Uno mengusap pipi Diandra tidak sengaja Arana yang baru keluar dari kamar mandi melihat mereka.


"Oh iya, terima kasih, Uno." Diandra sadar jika ada ibu Arana di sini.


Tidak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Uno. Dokter mengatakan jika lusa Uno bisa pulang karena ternyata lukanya sudah sembuh dengan baik.


"Kamu memang seorang pemuda yang kuat. Makan yang banyak dan jangan lupa banyak istirahat."


"Pasti, Dok."


Saat dokter itu akan keluar, ada Cerry masuk ke dalam kamar Uno. "Uno, kamu baik-baik saja, Kan?" Gadis itu tiba-tiba memeluk Uno. Uno meringis kesakita karena pelukan cerry yang tidak beraturan itu.


"Cerry, perutku sakit."


"Ya ampun! Kamu itu kenapa main selonong saja." Arana tampak kesal.


"Tante Arana, aku minta maaf, aku baru dengar kabar Uno dan aku jadi khawatir."

__ADS_1


"Iya, tapi jangan seperti itu."


"Uno, kamu benaran sudah tidak apa-apa? Aku sangat kaget mendengar dari kakak kamu kalau kamu mendapat kejadian yang seperti ini." Cerry melirik ke arah Diandra yang duduk di samping ranjang Uno.


"Kak Zia yang memberitahu kamu?"


"Iya, kakak kamu yang mengatakan jika kamu habis tertusuk karena menolong Diandra yang malah rela mempertahankan kalungnya itu."


Zia mulai, ngapain juga dia bercerita sama Cerry, bukannya dia benci banget sama Cerry. Akal-akalan Zia lagi ini kayaknya.


Diandra hanya dia saja mendengar hal itu. "Bukan karena kalung itu. Perampok itu sudah sangat keterlaluan telah dengan teganya merampok Diandra yang tidak bisa melihat."


Cerry menatap kesal pada Diandra. "Cerry, maaf, ya, jam untuk membesuk sudah habis. Tante berterima kasih karena kamu sudah mau menjenguk Uno di sini. Sekarang Uno harus istirahat."


"Kalau begitu, besok aku akan datang ke sini lagi. Kamu mau di bawakan apa? Burger, Pizza, atau spagetti?"


"Tidak perlu Cerry. Lagian aku tidak boleh makan makanan seperti itu. Kamu juga sebaiknya jangan sering ke sini. Kamu sudah memiliki seseorang, dan aku tidak mau nanti dikira ada hubungan sama kamu," jelas Uno.


"Apa kamu takut kalau kekasih kamu cemburu?" Cerry melirik pada Diandra, dan Arana melihat hal itu.


"Cer, aku ingin istirahat."


Cerry akhirnya keluar dari kamar Uno dengan muka kesal.


"Uno, kenapa tadi Cerry menyebut kekasih dan melihat pada Diandra?" tanya Arana penasaran.


"Dia mengira aku pacaran sama Diandra, karena aku bilang sama dia kalau aku mau putus sama dia karena aku sudah memiliki kelasih, yaitu Diandra. Aku perkenalkan Diandra sebagai kekasihku agar dia pergi dariku."


"Ya ampun! Kenapa kamu malah menjadikan Diandra alat kebohongan kamu? Kalau nanti kamu benaran jatuh cinta sama Diandra bagaimana?" Arana pergi dari sana menuju lemari tempat baju Uno.


Ibu Arana. mereka emang sudah.jatuh cinta. Arana tidak melihat jika telunjuk Uno menaut pada telunjuk Diandra. Uno tersenyum ke arah Diandra.


Nanti lagi ya

__ADS_1


__ADS_2