
Sabinna menikmati embusan angin yang ada di pantai itu. sepertinya Sabinna sangat menyukai suasana di sana. Kak Devon duduk di atas pasir pantai yang sebenarnya tidak terlalu halus, karena masih ada sedikit kerikil kecil di sana.
Kak Devon memandangi Sabinna yang berdiri di depannya, Sabinna merentangkan kedua tangannya dan benar-benar menikmati embusan angin di sana. "Udaranya segar sekali." Binnq berlari perlahan mendekat ke arah pantai, kakinya basah terkena air hangat di pantai itu.
"Apa kamu menyukai tempat ini, Binna?"
"Iya, tempatnya sangat indah, cuma tidak sukanya kenapa harus aku di sini bersama kak Devon," celetuknya sambil melirik pada kak Devon.
Kak Devon malah tersenyum dengan panjang, benar-benar terlihat manis. Sabinna malah sekarang menari-nari di tepi pantai itu, Binna terlihat sangat bahagia, dia menari-manari mengikuti irama yang dia ciptakan sendiri. Kak Devon masoh duduk di atas pasir sambil memperhatikan Binna yang asik dengan tariannya.
"Kamu harus menjadi istriku, Binna," kak Devon berdialog sendiri. Kemudian dia beranjak dari tempatnya, mendekat ke arah Sabinna dan tiba-tiba Kak Devon menghentikan gerakan Sabinna yang saat itu memutar tubuhnya dan Binna jatuh ke dalam pelukannya.
Sabinna memeluk Kak Devon, kedua pasang mata itu saling menatap, bahkan mereka dapat mencium aroma napas masing-masing. "Apa kamu ingin berenang? Airnya sangat segar."
__ADS_1
"A-aku tidak mau berenang. Apalagi sama Kak Devon."
Kak Devon melepaskan pelukannya, dia membuka bajunya di depan Sabinna.
Glek ...
Sabinna mendelik dan dengan susah dia menelan salivanya. Pemandangan di depan Sabinna adalah hal baru yang pernah Sabinna lihat. Bentuk perut ABS milik Kak Devon berhasil membuat Sabinna terperangan, tidak lama Kak Devon juga membuka celannya dan hanya menyisahkan boxer dengan merek ternama di bagian pinggangnya.
Binna menggeleng pelan. "Ya sudah kalau begitu, aku berenang sendiri." Kak Devon memberikan kecupan cepat pada pipi Sabinna.
Sabinna hanya bisa terkejut pelan, dan memegang pipinya yang dikecup oleh kak Devon. "Kenapa dia suka sekali menciumku?" Sabinna berdialog pelan, dia melihat ke arah kak Devon yang berenang. Binna duduk di atas pasir sambil terus memperhatikan cowok di yang di dalam air itu.
"Kenapa kalau seperti itu kak Devon tampak sangat mempesona?" Binna seolah berbinar melihat tampilan kak Devon yang baru keluar dari dalam air itu dengan rambut yang di basahi oleh tetesan air.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau berenang, airnya sangat segar, Binna. Itu bisa mendinginkan kepala kamu yang kesal dari tadi."
"Bagaimana bisa dingin? Apinya saja ada di depanku terus." Binna memanyunkan bibirnya.
"Kalau begitu masuk ke dalam airnya dengan api yang kamu benci, siapa tau bisa kamu bisa memadamkannya." Setelah mengatakan itu, dengan cepat kak Devon menggendong Sabinna ala karung beras. Dan membawanya ke dalam air.
"Kak Devon! Apa yang kakak lakukan?" Binna melihat tubuhnya yang sudah basah kuyup.
Kak Devon memandang tubuh Sabinna yang membayang pakaian dalamnya, tertarik senyum di sudut bibir kak Devon. Binna yang bingung apa yang sebenarnya di lihat oleh kak Devon, melihat pada dirinya kemudian dia dengan cepat menyilangkan kedua tanganya ke depan dadanya. "Dasar mesum!" ujarnya kesal.
Kak Devon malah berjalan mendekat ke arah Sabinna. Dan Sabinna semakin bergidik ngeri. "Kakak mau apa?"
Wadidaw ... ini kenapa si kutub utara mirip si. tuan Vampire?
__ADS_1