
Karla sedang serius bicara dengan Zia. Karla hanya mengangguk mendengar ucapan dari Zia. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sepertinya pernikahan adikku itu sudah selesai. Aku mau mengucapkan selamat untuk Binna dan Devon."
"Zia, aku mau tanya sama kamu." Zia menghentikan langkahnya. "Apa kamu bisa di percaya?"
Zia tersenyum miring. "Tentu saja, lagian apa gunanya aku membohongi kamu, aku membantu kamu karena aku kasihan sama kamu. Kamu sangat mencintai Devon, tapi malah Binna yang merebutnya."
"Tapi dia kan adik kamu?"
"Dia bukan adikku," ucapnya singkat lalu pergi dari sana.
Di tempat pernikahan, Binna sudah duduk di samping Devon, ijab qobul pun sudah terlaksana dengan lancar, mereka sudah di sahkan sebagai suami istri. Devon mengecup kening Binna, Binna tampak tersenyum.
"Akhirnya, kalian sudah sah menjadi suami istri." Uno memeluk Binna dan Devon. "Tolong jaga adikku baik-baik, Devon, jangan membuat dia sedih, kamu juga harus sabar sama dia. Dia adik kesayanganku."
"Kamu tenang saja, Uno. Aku sudah berjanji sama kedua orang tua kamu juga untuk menjaga dan akan membahagiakan Binna."
"Yang penting ingat satu hal, kalau dia lagi cemberut dan marah-marah itu berarti sajennya kurang," celetuk Uno.
"Kakak!" seru Binna kesal.
Mereka semua tertawa di sana. Keluarga Devon saling berpelukan dengan keluarga Sabinna. Tia dan Arana terlihat sangat bahagia dengan semua ini. Acara berlangsung dengan sangat meriah.
Diandra diajak Uno mengambil minum, di stand minuman itu Diandra bertanya pada Uno tentang suasan di sana, dekorasinya, dan semuanya.
"Banyak sekali bunga yang sangat cantik di sini, tapi tetap tidak bisa mengalahkan cantiknya kamu, Sayang," bisik Uno.
"Uno! Kamu itu selalu saja merayuku. Kamu tau, Uno? Kelak jika aku menikah, aku mau mengundang semua murid-muridku di rumah musik, dan aku mau di tempat pernikahan aku, banyak di hiasi oleh origami burung. Aku suka membuat origami burung, ayah yang dulu mengajariku membuat itu."
"Kamu tenang saja, nanti pasti aku wujudkan keinginan kamu itu. Diandra, apa ayah kamu tidak bertanya tentang kalung yang aku berikan?"
"Ayah tidak bertanya, aku bilang jika mendapatkan kalung ini dari muridku yang sangat menyukaiku."
"Iya, bu guru, aku sangat menyukai ibu guru, bahkan aku sangat mencintai bu guru," celetuk Uno bercanda. Diandra mendengar hal itu.
"Hai, Mara," sapa Tommy pada Mara yang sedang menikmati hidangan di mejanya dengan mamanya.
__ADS_1
"Hai, Tom."
"Tante, apa kabar?" sapa Tommy mengecup punggung tangan mamanya Mara.
"Halo, Tom." Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Kamu datang sendirian ke sini, Mara? Mana teman pria kamu yang bernama Asta itu?" Tommy mengedarkan pandangannya. Mara terlihat agak bingung.
"Em ... Mara, Tommy, tante mau ke toilet dulu, kalian bicaralah." Mamanya Mara memberi kesempatan pada mereka untuk bicara.
Tommy tersenyum, dan duduk di sebelah Tommy. Mara agak canggung jadinya, tidak hanya itu, dia juga agak gerogi.
"Kamu sendiri tidak mengundang Nina untul datang ke acara pernikahan Binna, Tom?"
"Nina tidak bisa datang ke sini, dia harus pergi ke Singapura karena ada pekerjaan penting."
"Oh!" Mara agak bingung, dia sampai menghabiskan segelas minumannya. "Hubungan kamu dan Nina bagaimana? Aku lihat dia sangat mencintai kamu, dan sayang pada Diandra?"
"Iya, Nina mantan kekasihku dulu, dia memang wanita yang sangat baik, dia juga bilang sangat menyukai Diandra."
"Aku masih merencanakan hal itu, Mara. Tapi kamu tenang saja, kalau aku menikah aku pastj akan mengundang kamu," ucap Tommy santai.
"A-aku pasti akan datang, Tom."
"Kamu sendiri kapan akan menikah dengan Asta, pria yang selama ini dekat dengan kamu?" Tommy menatap Mara lekat.
Mara bingung mau menjawab apa? "Aku belum memikirkan untuk menikah dengan seseorang, Tom."
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintainya? Jadi kamu juga tidak akan menikah sama dia?"
Mara hanya terdiam. Mara kemudian berdiri dari tempatnya. "Tom, aku mau mencari mamaku dulu, mamaku sudah lama di toilet, aku mau mencarinya."
"Tunggu!" Tommy memegang tangan Mara. Mara melihat ke arah Tommy yang masih posisi duduk.
"Ada apa, Tom?"
__ADS_1
"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, Mara?"
"Pertanyaan yang mana?" Mara pura-pura gak tau.
"Apa kamu tidak akan menikah dengan pria itu, karena kamu juga tidak mencintainya?"
"Aku masih belum memikirkan masalah pernikahan, Tom. Aku masih mau mengejar karierku."
"Karier kamu sudah sangat bagus, Mara. Aku yakin bukan itu alasan kamu menolak menikah denganku. Apa yang kamu takutkan dari sebuah pernikahan?" Tommy berdiri dan jaraknya sangat dekat dengan Mara.
"Apa maksud kamu? Aku tidak takut dengan pernikahan. Aku akan menikah, tapi tidak sekarang."
"Kalau begitu aku akan menunggu kamu."
Mara tertawa kecil. "Tidak perlu, Tom. Kamu sudah ada Nina yang siap menjadi ibu dari Diandra, jangan membuat dia kecewa." Mara berjalan pergi dari sana. Tommy hanya bisa diam di tempatnya.
Di tempatnya, Zia menemui Devon yang sedang berbicara dengan Dimitri. Binna bersama dengan teman-teman sekolahnya. Zia mengatakan jika dia ingin mengambil sesuatu di kamar Sabinna, karena ada barang milik Sabinna yang diinginkan olehnya, tapi Zia tidak bisa mengambil karena dia masih ada kesibukan, dan minta tolong supaya Devon yang mengambilkan.
"Baik, Kak. Akan aku ambilkan." Devon pergi dari sana. Dia menuju ke dalam mansion dan pergi ke kamar Binna.
Saat akan masuk, Devon mendengar ada suara isak tangis seseroang, dan kebetulan pintu kamar Sabinna tidak tertutup rapat.
"Karla, kamu kenapa masuk ke dalam kamar Sabinna?" Devon melihat Karla duduk di atas ranjang Sabinna.
"Devon!" Karla menangis lebih kencang dengan memeluk Devon.
"Hei! Jangan seperti ini." Devon berusaha melepaskan pelukan Karla. "Aku tidak mau Binna salah paham dengan semua ini. Katakan, kenapa kamu bisa ada di dalam kamar Sabinna?"
"Aku tadi mencari tempat untuk menangis yang tidak diketahui oleh siapapun, aku melihat hanya kamar ini yang pintunya di buka, jadi aku masuk ke sini, aku tidak tau jika ini kamar Sabinna."
"Kalau begitu kamu keluarlah. Jangan di sini, lagipula kamu kenapa harus menangis di hari bahagiaku, seharusnya kamu juga ikut bahagia."
"Bahagia? Apa aku harus bahagia melihat orang yang dari kecil aku cintai malah menikah dengan orang lain? Di mana perasaan kamu, Dev? Aku dari kecil bersama kamu, aku selalu mencintai kamu, tapi kamu hanya menganggap aku sahabat, bahkan saudara."
"Karla, kita memang hanya sahabat, dari kecil yang aku cintai adalah Binna sebelum aku pindah ke Belanda, dan kamu tau hal itu."
__ADS_1
Karla terduduk lemas di bawah ranjang dengan tangisan yang semakin keras. Tidak lama Devon melihat Karla mengeluarkan sebuah cutter.